My Secret Alora

My Secret Alora
Day-3


__ADS_3

D-3


Pagi menyapa seperti biasa, suasana hening di meja makan itu, di mana orang-orangnya sibuk dengan makanan sendiri. Hilman melirik kedua anaknya yang duduk di depannya saling berhadapan. Tidak ada semangat maupun senyuman, wajah datar yang dibalut duka sendu di baliknya.


Begitupun seterusnya, keduanya tampak saling diam dan tidak menatap satu sama lain. Ali yang masih dengan egonya dan Alora yang memegang teguh tekadnya. Dan Hilman yang khawatir dengan apa yang menunggu di depannya.


"Pah, Lora keluar bareng Lia ya hari ini!" Ucap gadis itu setelah menyelesaikan makannya.


"Kamu mau ke mana?" Tanya Hilman yang berusaha menyembunyikan kekhawatirannya.


"Ada hal yang perlu Alora akhiri pah!" Sahut Alora lalu memaksakan senyum yang terlihat polos itu di depan ayah angkatnya itu.


"Akhiri? Apanya yang perlu di akhiri?" Kalimat tanya pria paruh baya itu juga sedikit mengalihkan pendengaran Ali yang bersikap tidak peduli namun mendengarnya dengan baik dan memasang senyum sinis sekitar dua detik.


"Biasalah pah, masalah anak muda! Lora pergi sekarang ya!" Ucap Alora lalu masuk ke kamarnya untuk mengambil tas lalu keluar dan pergi.


Di sisi lain, Hilman masih bingung apa yang harus dia lakukan, ia tidak mungkin bertanya pada Ali untuk menghentikan keputusan tidak masuk akal kakaknya. Dalam kasus lain, Alora adalah anak nekat yang selalu ingin mengakhiri hidupnya kapanpun ada kesempatan. Alhasil, pria itu membasuh mukanya dengan angin lalu berusaha membujuk Ali.


"Kalian lagi berantem? Papah lihat dari tadi asem banget muka kalian!" Ucap Hilman namun tidak ada jawaban.


"Papah ngerti kamu lagi marah sama papah, tapi kakak kamu nggak salah! Kalo kalian berantem jangan lama-lama, papah sedih lihatnya! Cepat baikan ya!" Tambah Hilman.


"Terserah papah aja! Ali nggak peduli!" Sahut Ali lalu bangkit dari kursinya.


"Ali!" Panggil Ayah yang membuat Ali dengan terpaksa menghentikan langkahnya.


"Kakak kamu, dia nggak seperti anak normal lain, dia berbeda! Lora terlahir dengan penderitaan mendominasi hidupnya sejak usianya 5 tahun. Kehilangan orang tua bukanlah hal yang mudah, kamu juga tau saat mama kamu ninggalin kita!" Jelas Hilman pada anaknya itu.


Namun, Ali hanya mendengar lalu pergi.


...


Di sisi lain, Alora pergi saat dijemput pacarnya lalu berangkat ke Kafe tempat mereka ketemuan. Suasana hening seperti biasanya dalam mobil Andre itu, tentu saja Andre paling suka saat Alora diam saja sejak gadis itu menjabat sebagai pacarnya. Gadis yang terlihat tenang, saat gadis lain berisik dan berlomba-lomba menempel padanya. Andre tersenyum saat melirik Alora di sisinya lalu kembali fokus menyetir, tanpa tahu Alora sedang berperang saraf antara logika dengan nuraninya.


"Sayang! Loe tau kan gua sayang banget sama loe!" Ucap Andre sambil tersenyum.


"Iya gua tau! Bagi loe gua cewe tercantik kan? Walaupun gua lagi burik-buriknya!" Sahut Alora dengan wajah datar.


"Siapa bilang? Loe itu bener banget! Hihi!" Sahut Andre lagi.


Percakapan itu hanya berjalan selama 10 detik lalu hening kembali mendominasi.


"Besok kita jalan yuk! Ada yang mau gua ceritain sama loe!" Ucap Alora lalu menatap pacarnya yang sedang mengendalikan setir kemudi itu.


"Hayuk! Gua siap kapanpun buat ibuk bos gua!" Andre tersenyum hangat saat melirik Alora selama tiga detik, begitupun Alora yang juga tergerak hatinya untuk ikut tersenyum.


...

__ADS_1


Sesampainya di Kafe, di sana sudah ada Lia bersama Beni yang tiba saja jadi rajin belajar, mereka duduk di sudut seperti biasa. Lia yang saat ini sibuk dengan Hp nya dan Beni yang mencoba mengerjakan soal.


"Nggak cocok loe Ben! Jadi rajin banget aneh banget!" Ucap Alora begitu tiba di sana dan duduk.


"Diam loe! Gua butuh fasilitas hidup gua!" Tentu saja, semua dilakukan Beni agar ia tidak kehilangan fasilitas mewahnya, menjadi miskin adalah hal yang buruk setelah mencobanya sekali, sepertinya si Psyco kapok.


"Biarin dia belajar! Jangan loe ganggu, gua udah nerima honornya nih! Jangan di suruh pengembalian dana nanti mampus gua!" Sahut Lia sambil tersenyum.


"Oya! Loe mau ajak gua kemana Lora? Lora-nya Lia lagi butuh healing ya? Ayuk jalan-jalan!" Tambah Lia dengan senyum cerianya.


"Emm... ke panti yok!" Ucap Alora.


"Panti? Maksudnya loe mau ke panti asuhan bunda?" Tanya Lia memastikan.


Alora membalas dengan anggukan, lalu melirik Andre yang mendengarkan.


"Sayang ikut?" Tanya Alora setelah menatap Andre yang duduk di sisinya.


"Boleh deh! Pasti seru!" Dahut Andre lalu tersenyum.


"Loe Ben? Oiya loe lagi belajar, gua nggak mau ganggu..." kalimat Alora terhenti.


"Ekhem! Gua udah selesai!" Beni memotong kalimat Alora segera sembari menutup cepat bukunya. Alora sedikit tersenyum gemas melihat tingkah Beni.


"Kenapa dia harus ikut juga sih Yang?" Tanya Andre, namun Alora hanya tersenyum lalu mengangguk pelan ke arah pacarnya.


"Mau balikin honor loe?" Tanya Beni dengan tajam dibalut deep voice yang menekan itu.


...


Akhirnya mereka berangkat menggunakan mobil Andre. Sesampainya di sana, para gadis tampak bersemangat dan di sambut anak-anak panti yang ceria. Alora selalu bahagia saat bersama anak-anak itu, seolah menemukan keluarganya yang hilang.


"Anak-anak di sini mengingatkan ku, bahwa tidak semua orang di dunia ini terlahir bahagia. Kisah sedih akan selalu menyertai karena menurut gua, hidup ini selalu tentang berjuang tanpa garis finish, jika ingin menentukan garis finish itu, maka garis itu adalah kematian! Apa kali ini aku akan kembali bertahan hidup?" Diary Alora yang terbuka di atas meja belajar dalam kamarnya.


Mereka bermain menghabiskan waktu bersama anak-anak sembari gelora tawa mendominasi lapangan panti itu. Keempat insan itu tampak menikmati apa yang mereka lakukan.


Namun di tengah semua itu ada dua orang yang terus melirik Alora dengan pemikiran yang berbeda. Dua orang itu adalah Andre dan Beni.


"Apa yang tuh cewe pikirin ya?" Batin Beni sembari menggendong salah satu anak laki-laki di pundaknya.


"Seneng deh liat Al bahagia gitu!" Batin Andre sembari menendang bola bersama anak-anak di lapangan itu.


Setelah hampir 30 menit ketiga remaja itu kelelahan dan beristirahat, namun Alora masih dengan stamina full bermain kejar-kejaran dengan anak-anak di saat teman-temannya duduk meneduh di pinggir lapangan itu bersama Bunda yang mengurus anak-anak panti.


"Lora semangat banget! Biasanya kalo setelah beberapa menit langsung istirahat, cape banget katanya," ucap Bunda itu.


"Iya bunda, tau deh, katanya pengen ke sini dan semangat banget pas sampe!" Sahut Lia lalu tersenyum.

__ADS_1


Alora tampak terus mencoba memeluk satu persatu anak yang ia temui sambil tersenyum dengan tatap sendu.


"Dek-adek! Ini salam perpisahan dari kakak ya!" Batin Alora sembari terus tersenyum menyembunyikan kesedihannya dan terus memeluk dan mencium anak-anak itu.


Di sisi lain, penonton seolah merasa janggal, Alora yang pendiam terlalu berisik hari ini.


"Kok saya ngerasa aneh ya?" Ucap Bunda tiba-tiba, tentu saja semua mata tertuju pada Bunda menantikan kalimat selanjutnya.


"Lora nggak lagi sedih kan? Kalo diperhatiin, Lora terlihat senang banget dan juga agak sedih? Gimana ya? Dia cuman agak berbeda!" Sambung Bunda yang membuat semua orang memikirkan hal yang sama.


"Karna lagi capek aja tuh pasti!" Sahut Beni memecah pemikiran itu.


"Bundaa!" Panggil Alora yang berlari kecil dari taman bermain itu lalu memeluk wanita paruh baya itu.


"Lora apa kabar?" Tanya Bunda.


"Lora baik-baik aja! Bunda gimana?" Sahut Alora lalu melepas peluk itu.


"Sama! Bunda juga baik!" Sahut Bunda lalu memamerkan senyum manisnya.


"Lia udah kasih kan oleh-olehnya?" Tanya Alora pada sahabatnya itu.


"Udah dong bestie! Iya kan Bunda?" Sahut Lia yang ceria itu.


"Iya! Padahal Bunda selalu bilang kalo datang, datang aja! Jangan repot-repot!" Sahut Bunda lagi.


Setelah bermain dengan anak-anak, mereka membantu bersih-bersi dan gotong royong bersama anak-anak di sana juga. Setelah itu mereka menikmati hidangan yang sudah mereka pesan sebelumnya bersama seluruh anak yang ada di sana. Tanpa sadar saat mereka disibukkan aktivitas yang padat, hari sudah menunjukkan jam sore. Mereka pun pamit lalu menuju mobil sembari berjalan mundur untuk terus melambaikan tangan kepada para anak di sana.


"Bye semuanyaaa!" Ucap Alora yang penuh dengan senyuman.


Akhirnya mereka naik ke mobil itu dan Andre siap menyetir mengambil langkah pertama yaitu membelokkan mobil itu.


"Guys! Mumpung lagi ngumpul... kita ke pantai yuk!" Ajak Alora penuh semangat.


"Loe nggak capek?" Tanya Andre, namun Alora menjawab dengan menggeleng kepalanya dengan ekspresi imut dan polos.


"Yaudah gimana Lia? Loe sanggup? Kita gas?" Tanya Andre.


"Lets go lah! Kapan lagi bisa gini kan? Gaaas!!" Sahut Lia dengan semangat 45.


"Apa ini ucapan perpisahan? Lora tolong jangan pergi!" Batin seseorang mengeluh karena tahu apa yang Alora pikirkan.


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2