
Langit dipenuhi awan hitam yang mencegah matahari mengirim cahaya sepenuhnya ke bumi. Seorang pemuda angkuh sampai lebih pagi dari biasanya, tampaknya suasana hatinya sedang tidak baik. Begitu masuk kelas, ia langsung menuju bangku terakhir lalu merebahkan kepalanya ke meja. Di mana pipi kanannya menempel pada meja itu sehingga ia menatap langit yang tampak dari jendela kaca lantai 2 itu.
Seseorang menarik kursi di samping pemuda itu, tentu menghalangi pandangan Beni yang sedang menikmati langit itu. Pemuda itu menegakkan kepalanya lalu mengambil ponselnya dan fokus pada itu.
"Hai Ben!" Sapa Key yang baru duduk di samping Beni itu.
Seperti yang kita tahu Beni tidak akan mengopen apa yang menurutnya tidak penting. Namun, Key menatap serius pemuda di sampingnya
"Ben, loe..." lalu kembali memasang raut wajah dengan senyum cerah. "Loe keren banget hari itu! Gua cuman lihatin dari pintu sumpah gua kaget banget pas loe angkatin kursi dan Alora di atasnya! Dan killing partnya pas loe nendang kursi buat naruh kursi Alora!" Key menggelengkan kepalanya dengan seluruh raut mukanya mengekspresikan kekaguman sambil bertepuk tangan.
Akhirnya Key berhasil menarik perhatian pemuda itu yang menoleh lalu berkata,
"Psyco loe?"
"Huh? Kenapa loe bilang gitu? Gua cuman suka cara loe nyelamatin dengan cara yang berbeda, kalo cowo lain pasti buat keributan dengan cara ngelabrak dan banyak ngomong! Tapi loe beda! Loe langsung bertindak dari pada berkata-kata!"
"Tapi apa loe nggak merasa aneh dengan cara gua?" Tanya Beni.
"Nggak tuh! Gua suka gaya loe!" Sahut Key tak lupa senyuman di wajahnya.
...
Tak lama setelah percakapan di atas, Alora datang dengan wajah lesu langsung memilih kursi di tengah-tengah tanpa memperhatikan sekitar.
"Kok Lora sombong banget sih?" Gumam Key yang terdengar oleh Beni.
"Hey Alora! Kok loe sombong banget sih nggak nyapa gua!" Key sedikit membesarkan suaranya hingga beberapa mahasiswa lain di kelas itu melirik Alora.
"Sorry! Tubuh gua sakit semua semalam gua lembur! Gua nggak merhatiin loe ada di situ!" Sahut Alora setelah menoleh lalu membalikkan lagi tubuhnya semula dan merebahkan kepalanya dengan posisi yang sama seperti Beni tadi.
"Oh! Gua kira sombong beneran! Sorry gua cuma becanda!" Sambung Key.
"Okey!" Alora melambai tangan mengisyaratkan tidak apa-apa.
__ADS_1
Namun ia melupakan satu hal, hari ini adalah hari kamis. Tentu manusia bernama Steve udah terlihat batang hidungnya di pintu. Pemuda itu melirik Beni yang sibuk dengan ponselnya seolah memberinya kesempatan untuk duduk di sisi Alora. Pemuda itu langsung menuju Meja Alora lalu duduk di samping Alora yang menutup matanya itu. Seolah sangat menikmatinya pemuda itu bahkan berpangku tangan di atas meja itu menopang dagunya dan hanya menilik wajah Alora.
Alora sepertinya setengah tertidur hingga tidak menyadarinya. Namun Beni yang telah mengunci tatapnya melihat pemuda mencurigakan sedang menyeringai ke arah gadis itu.
"Gua nggak nyangka kalo dilihat-lihat loe cantik juga walau cuman pakek baju murahan gitu!" Kata Steve yang langsung masuk ke lubang telinga Beni. Namun Alora tampaknya sudah benar-benar tertidur.
"Apaan nih? Loe cuekin gua?" Ucap Steve lagi pada gadis yang tertidur itu lalu tersenyum sinis.
Steve mulai tertarik melakukan hal lainnya, tangan Steve bergerak menuju wajah Alora dengan senyum seringai yang tidak lepas itu. Tiba saja, Beni yang biasanya membiarkan dulu seseorang bertindak pada Alora baru kemudian ia memberantas orang itu, namun kali ini tangan gesit Beni menghentikan Steve menyentuh wajah Alora.
"Lepasin gua!" Ancam Steve yang hanya sia-sia saja karena mengancam orang yang salah.
"Lepas!" Steve berdiri dan membentak dengan nada meninggi hingga Alora terkejut dan terbangun dan mendapati kedua pemuda itu sedang bersiteru di depannya.
"Loe siapa? Pacar ni cewe miskin?" Nada sudah tinggi memang susah untuk diturunkan.
Beni melepas Steve saat mendapati Alora terbangun. Tindakan Beni selanjutnya, dengan wajah kusut itu ia mengambil tas nya lalu meletakkan di samping Alora dan menabrak pemuda itu dengan bahunya untuk menarik kursi dan duduk di sana.
Di sisi lain, Alora malah tersenyum melihat aksi Beni. Gadis itu bahkan sudah menduganya sebelum hal ini terjadi. Ia tidak lupa ada benteng berharga yang berkedok penggagu di kehidupannya.
...
Walalu hanya satu kelas untuk hari ini, Alora masih belum bisa pulang karena harus menyelesaikan kerja kelompoknya. Saat ini Alora bersama teman kelompoknya sudah berada di perpustakaan memilih buku untuk dijadikan referensi karya ilmiah yang akan mereka kerjakan. Namun, tanpa sengaja Alora melirik ke arah ruang khusus belajar di mana ia mendapati sosok Andre sedang bersama para gadis di dalamnya, tentu Ziva tidak pernah ketinggalan jika menyangkut Andre.
Alora mengambil ponsel dari kantung celananya, lalu menelpon Andre dengan sorot mata yang masih mengarah pada pacarnya. Mendapati telpon dari sang pacar, Andre langsung mengangkatnya karena Alora tidak pernah menelpon duluan kecuali penting.
"Halo sayang!" Suara Andre terdengar dari ponselnya.
"Kamu di mana?" Alora yang to the point dengan wajah cemberut.
"Aku di perpus sayang! Kenapa? Ada tugas kelompok lagi yang harus gua selesaikan hari ini! Yaah ..." kata Andre terhenti.
"Siapa Ndre? Fix ya kita pakek judul ini? Loe juga setuju kan?" Kalimat itu juga terdengar dari seorang gadis di ponselnya Alora.
__ADS_1
Dari kejauhan Andre tampak mengangguk.
"Sayang! Rekan kerja gua yang lain cewe sih! Loe nggak apa kan? Kalo loe cemburu boleh juga sih! Loe nggak usah khawatir gua akan jaga jarak dari mereka, nanti gua telpon lagi ya!" Suara Andre yang terdengar ceria.
Setelah menutup telpon, Alora masih melirik Andre namun saat ini terlihat Ziva dengan setelan minimnya sangat mendekat ke arah Andre hingga tanpa sengaja menyenggol bahu Andre.
"Semoga Andre serius sama ucapannya!" Alora mengalihkan pandangan.
Alora dengan wajah datar itu, serius mencari buku dengan judul materi yang menjadi tugas mereka. Sebuah buku yang jauh di rak paling atas membuat Alora berjinjit tapi tetap tidak sampai. Tiba saja seorang meraih buku itu dengan gampangnya.
"Makasi..." kata Alora terhenti ketika hendak mengambil buku dari tangan orang itu.
Pemuda itu menyerahkan buku itu dengan seringai di wajahnya dan berdiri sangat dekat dengan Alora. Mata Alora melebar dan waspada melirik kanan kiri untuk meminta bantuan, namun tidak ada seorangpun di lorong rak yang itu, semua rekan kelompoknya sudah berkumpul di meja sudut untuk mulai meringkas.
"Kenapa loe gelisah gitu? Loe masih ingat waktu itu?" Pemuda bernama Steve itu seakan memperoleh kesempatan bagus untuk menghina gadis ini.
"Minggir!" Alora berusaha mendorong Steve agar bisa lepas dari hadangan pemuda itu. Namun, tenaganya tidak seberapa dibanding dengan seorang pria.
Dubrak!!
Steve terjatuh keras akibat dorongan kuat yang terjadi pada tubuhnya. Seperti hantaman kuat menyerangnya, dorongan orang itu berhasil menyingkirkan niat jahat yang akan menimpa gadis itu.
"Loe siapa lagi?" Bentak Steve yang mengerang kesakitan dengan dahi yang mengernyit.
"Gua pacarnya Alora!"
.
.
.
Tbc
__ADS_1