My Secret Alora

My Secret Alora
Peluk Hangatmu


__ADS_3

Setelah beberapa kali melirik dua insan itu, Alora akhirnya memutuskan untuk angkat suara.


"Kalian mau sampe kapan tatapan gitu? Awas entar jatuh cinta loh!" Ucap Alora lalu berusaha untuk bangun.


Andre dengan sigap membantu Alora duduk, tapi Alora ingin berdiri. Dalam prosesnya gadis itu mencoba menahan sakit saat menurunkan kakinya ke lantai.


Karena kaki Alora diturunkan dari ranjang sisi Beni, pemuda itupun ikut memegangi Alora.


"Loe mau ke mana sih? Baru bangun juga!" Ucap Andre.


"Ah aaw!"  Desis gadis itu yang merasakan sakit saat sudah berdiri.


"Biar gua aja yang bantu!" Ucap Beni yang memapah sisi kiri gadis itu.


"Nggak boleh, jangan sentuh pacar gua! Gua aja yang bantu!" Andre ikutan menghampiri dan memapah sisi kanan Alora.


"Udah biar gua aja! Ke mana nih?" Beni bersikeras dengan sedikit mendorong Andre.


"Loe apaan sih?" Andre tak goyah sedikitpun.


"Udahlah biar gua sendiri aja!" Sahut Alora.


"Nggak boleh!" Sahut kedua pemuda itu bersamaan.


"Yaudah cepet jalan kalo gitu!" Balas Alora lagi.


Keduanya memapah gadis itu hingga sampai pintu toilet.


"Udah sampe sini aja!" Ucap Alora lalu membuka pintu dan perlahan masuk.


"Loe bisa sendiri? Mau gua bantu?" Sahut Andre yang merasa khawatir saat melihat gadis itu mengernyit menahan sakit.


"Trus loe mau ikut masuk? Jangan ngada-ngada deh!" Jawab Alora lalu menutup pintu.


Tinggalnya dua pemuda itu yang masih perang saraf.


Tak lama Lia kembali masuk dan dikejutkan dengan penampakan Beni.


"Loh? Kok loe bisa di sini Ben?"


"Itulah, ngapain dia ke sini coba?" Sambung Andre.


"Lora mana?" Tanya Lia lagi setelah meletakkan makanan yang ia bawa.


Mereka menunjuk ke toilet. Lia pun langsung berdiri di depan pintu toilet saat melihat Alora membuka pintu. Gadis itu memapah Alora hingga kembali ke ranjangnya.


"Lora udah makan? Ada gua bawa snack nih!" Ucap Lia sembari membagikan ke seluruh manusia di ruangan itu.


Setelah itu terjadi kecanggungan dalam ruang yang agak sempit itu. Seakan suara jangkrik lewat jernih ditelinga.


"Gua baik-baik aja, gausah khawatir pulang aja!" Ucap Alora acak hingga semua mengalihkan pandangan mereka menatap Alora.


"Yok kuliah bareng gua!" Ketiga oknum lainnya menatap Beni yang juga mengeluarkan kalimat acak itu di waktu yang tidak tepat.

__ADS_1


"Gua janji nggak akan repotin, maksa, atau perilaku buruk lainnya lagi sama loe! Asal loe mau belajar bareng gua dan siapin ujian masuk sama-sama" ucapan Beni yang terdengar dewasa namun juga agak memaksa.


"Kalo Alora gak mau berarti loe bakalan.." kata Andre terpotong oleh Alora yang menyambung kalimat Andre.


"Bunuh gua?"


Andre tiba saja terpikirkan kalimat cerpen Lia tentang "bunuh diri" di sekolah tadi saat mendengar kata Alora.


"Okeh gua akan terima! Tapi loe harus lulus, kalo loe nggak lulus gua juga nggak akan bisa kuliah" ucap Alora, namun Andre merasa aneh mendengarnya.


"Kenapa Alora harus ngomong gitu? Ada apa sih sebenarnya? Kok cuman gua yang nggak tau apa-apa" Batin Andre.


"Kalo gitu gua juga ikut belajar bareng kalian!" Ucap Andre.


"Apaan nih? Gua bahkan belum seberapa usaha udah setengah berhasil aja!" Lia tampak tersenyum kecil mengingat jika Beni lulus ujian masuk maka Alora akan ikut kuliah.


***


Setelah hari itu, Beni tidak pernah datang lagi, selain agak aneh kalau tiba-tiba dia ada di sana, pemuda itu juga butuh alasan untuk berada di sana.


Berbeda dengan Andre yang memegang status sebagai sang pacar. Pemuda yang satu ini datang hampir tiap hari untuk merawat Alora. Dia tidak butuh alasan untuk berada di sana dan bersikap sesukanya.


Saat ini pemuda tampan itu sedang mengupas apel yang dibawa untuk Alora. Dan Alora yang terlihat sibuk dengan android-nya, namun sebenarnya ia sedang berpikir bagaimana cara menanyakan kepada Andi tentang ingatannya yang hilang. Dia tidak punya nomor kak Andi dan akan canggung juga untuk memulai menanyakan.


"Loe mau jeruk? Biar sekalian gua kupasin" tanya Andre pada Alora.


"Nggak apa nanti gua kupas sendiri aja!" Sahut Alora.


Alora meletakkan hp nya lalu mengbil sepotong apel dam memakannya.


"Gimana? Manis nggak?" Tanya Andre.


"Hmm.. manis, loe beli di mana?"


"Loe suka? Biar besok gua beliin lagi"


"Jangan! Besok jangan bawain gua apapun!"


"Kenapa?"


"Besok gua udah boleh pulang!"


"Syukurlah, ini loe berarti udah bisa jalan?"


"Bisa dong! Dari umur 2 tahun gua bisa jalan haha" Alora menertawakan candaannya sendiri yang terdengar garing.


Andre ikut tertawa, pemuda itu tampak tersenyum tulus menatap Alora yang tampak tanpa beban itu. Wajahnya yang jauh lebih bersinar dari sebelumnya, perlahan satu-persatu masalah teratasi, sedikit demi sedikit kebahagiaan muncul di benaknya, saat orang-orang di sekitarnya dapat ia andalkan kehidupannya pun sedikit berubah.


Kehangatan cinta yang ia terima tanpa disadari merubah es kutup mencair perlahan.


Suara pintu itu terdengar lagi, lalu masuklah pemuda tampan lainnya. Andi kembali menjenguk Alora di tengah kesibukannya, pemuda itu sangat bertanggungjawab. Begitu masuk ia mendapati adiknya yang sedang tertawa bersama gadis itu.


Menatap mereka bersama membuat raut wajahnya sedikit berubah dari yang tadinya ceria.

__ADS_1


"Apa benar mereka saling suka? Kalau mereka tau apa yang telah terjadi, apa yang akan terjadi dengan mereka?" Batin Andi yang merasa khawatir.


"Hei hei! Keasikan pacaran sampe nggak nyadar abangnya udah di sini!" Ucap Andi sembari tersenyum.


"Eh kak Andi silakan duduk" sahut Alora.


"Loe tau kami lagi pacaran ngapain masuk?" Andre ikut memainkan peran sambil tertawa. Dan semua orang ikut tertawa.


"Alora keadaan kamu gimana?" Tanya Andi.


"Udah lebih baik kak! Kaki Lora juga udah mudah digerakin nggak seberapa sakit lagi" sahut Alora.


"Nih, kalo ada apa-apa nanti hubungin aku aja, di situ ada nomor aku. Jangan sungkan hubungin aja karna aku akan bertanggung jawab penuh" kata Andi sembari menyerahkan kartu namanya untuk Alora.


"Makasih banyak kak Andi"


"Harusnya aku yang makasih, dan minta maaf sama kamu"


"Udah Lora maafin kak, maafin Lora juga ya kak"


Andi mengangguk sebagai balasan sembari tersenyum. Sedangkan Andre hanya menyimak sambil memakan apel yang ia potong tadi.


Melirik jam di tangannya sebentar lalu Andi berpamitan karena harus balik ke kantor. Hingga kedua remaja itu kemvali tinggal berdua.


"Nih makan lagi apelnya! Atau loe pengen makan apa? Biar gua beliin!" Oceh pemuda yang duduk di sisi ranjangnya itu.


Sekali lagi Alora menyadari sesuatu, "gua selalu lupa ada seseorang seperti Andre dalam hidup gua, seseorang yang tulus dan selalu bantuin gua, walaupun kadang ngeselin tapi dia baik dan senyuman hangat itu selalu berhasil buat gua nyaman dan tenang" batin Alora sembari terus menatap Andre yang sedang mengupas jeruk lalu memberikannya pada Alora. Pemuda itu akhirnya juga menatap Alora hingga keempat manik itu bertermu.


"Kenapa? Gua ganteng banget ya?" Tanya Andre yang percaya diri luar biasa.


"Apaan sih loe!" Alora tertawa mendengar Andre memuji diri sendiri.


"Trus loe liatin gua dari tadi kenapa? Kalo bukan karna gua ganteng?"


"Karna loe memang ganteng! Puas? Gua bahkan nggak bisa bilang loe jelek dengan ukiran wajah loe yang sedemikian rupa"


"Ahaha akhirnya loe akuin juga!"


"Loe mau nggak meluk gua?" Pertanyaan acak keluar begitu saja dari mulut gadis itu. "Aah maksud gua bukan itu..." kata Alora terhenti.


Tiba saja Andre langsung mendekat lalu memeluk Alora dalam dekapan hangatnya begitu mendengar kalimat gadis itu.


"Loe boleh kapan aja meluk gua! Lain kali kalo mau dipeluk bilang aja ya!" Ucap Andre dalam pelukannya dengan senyuman indah terukir di bibir manis itu.


.


.


.


.


tbc

__ADS_1


__ADS_2