My Secret Alora

My Secret Alora
Putri Es


__ADS_3

Apa yang harus kulakukan??


.


.


.


Kondisi Alora dan Andre membaik dan bisa pulang di hari yang sama. Sikap Alora tentu saja berubah, gadis itu kembali menjadi gadis dingin yang cuek.


Andre sengaja menemui Alora dengan datang ke kamar inap Alora. Gadis itu sedang mengemas tasnya dan sudah siap untuk pulang, ia hanya tinggal menunggu tante Ina datang menjemputnya.


Andre langsung memasuki kamar Alora, membuat gadis itu menoleh karena mengira itu Lia yang sudah berjanji untuk datang juga.


Tatap gadis itu terpaku pada pemuda yang perlahan mendekatinya.


"Aku kenapa? Senyuman itu kenapa?" Batin Alora menggerutu saat melihat Andre yang tersenyum cerah padanya.


Senyuman tampan itu mampu menggoyahkan konsenterasi gadis itu. Namun Alora masih mempertahankan muka datarnya yang penuh karisma itu.


"Hai Al! Gimana? Loe mau pulang bareng gua?" Tanya Andre yang tampak ceria itu.


"Gua dijemput tante" jawaban singkat Alora lalu kembali memasukkan beberapa barang yang tertinggal ke dalam tasnya.


Andre hanya menatap Alora tanpa sepatah katapun, namun dengan senyuman masih terukir di bibirnya. Tatapan itu hangat dengan mantra memikat kuat di dalamnya. Bagaimana tidak, Andre yang terkenal dengan sosok tampan tersenyum sambil memandang seorang gadis, apa artinya? Jika gadis lain sudah meleleh dan tersipu malu.


Namun beda halnya dengan Alora, yang sudah cukup lelah dengan kehidupannya. Baginya senyuman itu tidak ada artinya, hanya karena dia tidak membalas tatapan memikat itu.


Setelah siap dengan kerjaannya, akhirnya Alora tersadar dari tadi Andre memberikan senyuman itu hanya untuknya. Sayangnya, walau jantung Alora sudah berpacu lebih cepat dari biasanya, namun amarahnya masih mampu melawan rasa itu.


"Loe sakit?" Tanya Alora membalas tatapan Andre.


"Iya nih, baru aja sembuh berkat liatin elloe!" Ucap Andre menggoda agar gadis itu tersenyum. Walau sia-sia setidaknya Andre sudah mencoba, seolah bibir Alora sudah membeku tidak bisa ditarik agar terlihat manis.


Andre mencoba jokes bapak-bapaknya, nanun tidak ada yang berhasil membuat gadis itu tersenyum.


"Garing ya? Sepertinya Putri Es balik lagi!" Andre yang akhirnya kehilangan senyumnya. Dan seperti dulu lagi, Alora hanya membalas tatap tanpa makna dan wajah tanpa ekspresi.


"Taadaaa!" Kejutan tak terduga dari Lia yang baru saja masuk dengan sebuah kotam di tangannya.

__ADS_1


"Loh ada Andre?" Gumam Lia, lalu melanjutkan katanya "Loraa gua bawain cake choco kesukaan loe!".


Lia bertingkah imut dan menghampiri Alora.


Mereka membuka kuenya lalu memakannya bertiga. Senda gurau yang terjadi antara dua gadis itu, Andre hanya sebagai penonton yang sambil melahap kue.


Alora akhirnya menoreh senyum di bibir manis itu hanya karena Lia yang ada di sana. Namun, ketiga Andre yang mencoba bertingkah lucu, tidak ada respon apapun dari Alora. Lia juga menyadari hal itu, namun Lia juga sudah tau alasan Alora.


"Tante Ina kenapa lama banget ya?" Tanya Alora pada bestienya.


"Ohiya gua baru inget! Tante Ina ada keperluan mendesak jadi nggak bisa datang, tapi the best tante udah nitip uang taksi dong sama Lia, tadaaa!" Lia mengeluarkan uang itu dari tas kecilnya.


"Ikut gua aja! Rumah kita searah, kita bisa sekalian kan pulangnya! Kak Andi bentar lagi datang kok!" Andre menawarkan untuk kedua kalinya.


"Okeh boleh deh!" Sahut Lia antusias saat mendengar nama Andi. "Iya kan Lora! Ongkos taksi ini buat kita jalan-jalan besok aja! Gimana?" Lia memberikan sejuta kode pada sahabatnya itu agar setuju. Mulut Lia bergerak-gerak seolah berteriak dalam sunyi menyebut nama "Ada kak Andi, please yaa"


Alora tersenyum melihat kelakuan gadis itu.


"Okeh Alora udah setuju!" Ucap Lia bahkan tanpa mendengar kata Alora, hanya dari saling tatap ia sudah paham apa jawaban Alora.


Ketiga remaja itu menuju ke kamar Andre. Lia yang aktif sibuk menceritakan apa yang terjadi di sekolah selama mereka di rumah sakit. Sedangkan Alora hanya mengekor di belakang.


"Detik-detik terakhir masa SMA kita nih, gua yakin banyak kenangan indah yang nggak akan bisa gua lupain di dalamnya!" Sahut Andre yang sangat menghargai kenangan.


"Lora?" Panggil Lia menunggu sahutan gadis itu.


"Masa SMA ya? Menurut gua... SMA itu hidup di mana kita dipaksa memahami banyak hal dalam waktu singkat. Dan tidak ada yang benar-benar menarik!" Jawaban Alora membuat kedua remaja itu Lesu.


"Yaudah deh, pendapat orang kan beda-beda! Kehidupan yang mereka jalani juga berbeda" sahut Lia yang tiba saja berpikir bijak.


Setelah duduk beberapa menit, Andi akhirnya datang.


...


Lagi-lagi dalam mobil itu senyap. Namun perbedaannya kali ini adalah Alora tidak ingin merespon Andre. Di sisi lain Lia yang masih mengagumi Andi, diam-diam sibuk menatap dari belakang pemuda yang sedang menyetir itu.


"Duh, kak Andi lihat nggak ya pas gua tiba-tiba nangis kemaren! Semoga enggak deh! Kenapa gua nangis sih? Malu-maluin aja! Yaah mau gimana hidup Alora sesedih itu, gua nggak bisa tahan" bukannya mencari topik untuk berbincang dengan Andi, Lia akhirnya sibuk berbicara dalam batinnya.


***

__ADS_1


Keesokan harinya, Andre sudah tiba di depan rumah Alora. Setelah mengklakson dua kali, namun tidak ada jawaban di mana Alora biasanya langsung keluar. Andre bahkan turun dari kotornya untuk memanggil, namun sepertinya Alora sudah berangkat lebih dulu ke sekolah.


...


Di sekolah, Andre berjalan menyusuri lorong sekolah dan dia dihadapkan pada pertanyaan "Andre loe udah sembuh?".


Hampir semua orang yang melihatnya menanyakan hal yang sama, bahkan yang lebih parah ada yang menanyakan kronologis kejadian yang tentu saja tidak akan dijawab pemuda itu. Semua orang-orang "kepo" tentang kehidupan orang lain.


"Orang-orang pada kenapa sih? Gua nggak mau tau urusan mereka, tapi mereka kepo banget tentang hidup gua!" Gumam Andre sembari berjalan sendirian itu.


"Eh tapi... apa Alora juga gitu ya?" Langkah Andre terhenti tepat di depan pintu kelas mereka. Matanya tertuju pada gadis yang sedang meletakkan kepalanya di atas meja sembari menatap ke luar jendela.


"Apa hanya gua yang ingin tau tentang kehidupan dia? Tapi.. dia sama sekali nggak tertarik tentang gua?" Batin Andre mengeluhkan kalimat tersebut dengan tatap sendu.


.


.


.


Tbc


Epilog


Begitu sampai di sekolah, gadis itu berjalan melewati lorong sekolah tanpa memperhatikan sekitar, di mana semua orang menatapnya sambil berbisik tentang aksi heroik yang ia lakukan karena menyelamatkan Andre.


Begitu tiba di kelas, gadis itu menjatuhkan tasnya di meja, yang kemudian dijadikan bantal saat menjatuh kepalanya di meja itu. Ia terlihaat hanya menatap pohon yang tumbuh rindang di sisi jendela. Namun siapa tahu, isi kepalanya sedang berdebat antara logika dan kata hati.


"Kenapa gua nggak bisa hapus kejadian itu dari ingatan gua?"


"Itu tandanya gua harus jauhin Andre!"


"Tapi semuanya memang kecelakaan, bajkan Andre juga hidup dalam trauma itu!"


"Tapi Andre tidak kehilangan apapun dalam hidupnya, sedangkan hidup gua berantakan!"


"Jika takdir hidup loe memang sesulit ini, loe pantes bahagia! Apa mungkin takdir mengirim Andre untuk memperbaiki semua yang terjadi di masa lalu?"


...

__ADS_1


__ADS_2