
"Apa itu Alora?"
Mereka terus mendekati gadis berambut panjang yang tampak dari belakang itu. Lia menyentuh bahu gadis itu. Kibasan rambut yang dinantikan para pencari, namun gadis itu bukan Alora.
"Ah maaf mbak, saya pikir teman saya" Ucap Lia lalu memasang raut sedih.
"Ah iya gak apa" sahut gadis itu lalu tersenyum.
"Mbak ada lihat nggak perempuan lain selain mbak disini?" Tanya Andre ingin memastikan.
"Sepertinya gak ada, kalau begitu saya pergi dulu" gadis itu meninggalkan pria baruh baya dan dua remaja itu.
Helaan nafas berat ketiga insan di taman itu menunjukkan betapa khawatirnya mereka.
"Sekarang mau cari Lora dimana lagi?" Lia mengerutkan dahinya lagi dan lagi.
Di sisi lain, Andre yang masih curiga dengan Herman memutuskan bertanya.
"Pak! Kenapa bapak terlihat sangat khawatir?"
"Iya ya? Kenapa aku sekhawatir ini dan sampai mencari Alora kemari? Sebenarnya apa yang terjadi pada Annira dan anak malang itu? Kenapa aku sangat ingin menemukan anak itu?" Batin Herman terus larut dalam pikirannya.
Kedua remaja yang menunggu jawaban itu masih menatap polos pria di depan mereka itu.
"Om? Ah bukan, pak! Pak masih disitu? Cek cek" Andre yang tidak sabaran malah melantur tidak jelas.
"Loe ngapain sih?" Ucap Lia berbisik pada Andre.
"Kan saya udah bilang, Alora sudah seperti anak angkat saya" sahut Herman.
***
Burung bergemerincing seperti biasa, cahaya mulai memaksa masuk melalui celah kecil dari jendela, tirai yang berkibas dihembus angin membuat cahaya menyilaukan mata Lia yang membuatnya terbangun.
"Lora loe di mana?" Kata yang keluar dari mulut gadis cantik dengan rambut berantakan dan baju tidur berwarna biru itu begitu membuka matanya.
Pagi weekend yang terasa menyedihkan tanpa tau kabar bestie-nya hampir seminggu.
"Lia sayang! Bangun nak! Ayo sarapan!" Teriakan ibu Lia dari ruang makan.
Gadis itu langsung menghampiri wanita yang ia panggil mama itu setelah mencuci mukanya.
Melihat wajah anaknya yang tampak termenung dan sendu membuat wanita bergelar ibu itu merangkul bahu anaknya lalu mengusap-usap pelan bahu anaknya.
"Mama udah siapin bekal buat Lora juga, kamu anterin ya! Atau kamu mau sarapan bareng Lora di rumahnya?"
"Tapi Lora gak ada maah" Lia tampak lesu.
__ADS_1
"Kita nggak akan tau kalau kita nggak periksa. Ayo bawa bekal ini, siapa tau Alora udah pulang kan.." hibur wanita berhati lembut itu.
"Mama yakin?" Lia tampak ragu.
Ibu Lia mengangguk pelan lalu menyuguhkan senyum malaikat agar anaknya merasa terhibur.
...
Lia memasukkan kunci ke lubang kecil di pintu rumah Alora. "Klek" bunyi pintu terbuka bersamaan hembusan nafas berat. Lia sudah menduga rumah ini akan kosong.
Duk dubraaak...
"Aaaaak" suara jeritan seorang gadis dari kamar Alora.
Lia sontak membuka lebar matanya lalu berlari ke kamar Alora. Tampak Alora yang memeriksa kakinya duduk di lantai kesakitan.
"Loraaaaaa loe pulang huhuu" air mata Lia mengalir begitu saja, langsung memeluk sahabatnya itu. "Loe kemana aja?"
"Kaki loe kenapa?" Langsung memeriksa kaki gadis yang menguncir rambut di depannya.
"Gausah nangis gua cuman kesandung bangku!" Sahut Alora.
Lia memukul pelan kaki Alora karena kesal, lalu menyerang punggung Alora dengan pukulan kecil yang ditangkis dengan tangan Alora.
"Lu kenapa? Salah minum obat?" Tanya Alora heran melihat kelakuan sahabatnya.
"Maaf deh! Kuota gua habis gak sempat beli, makanya gua nggak hubungin loe" sahut Alora mencoba menenangkan Lia.
"Bukan karena loe gak punya uang kan? Atau gua aja yang beliin loe nanti ya, tapi loe kemana?" Lia masih melantur seperti biasa.
"Rumah orang tua angkat gua!"
"Kenapa gua gak kepikiran pas nyariin loe ya?" Gumam Lia.
"Apa? Loe nyariin gua? Kenapa?" Tanya Alora dengan tatap khawatir.
"Itu nggak penting. Trus ada apa di rumah orangtua loe?" Tanya Lia lagi.
"Mereka resmi cerai, adek gua milih ikut bokap, mama bakalan nikah lagi..."
"Lora gimana? Rumah ini nggak dijual untuk pembagian properti kan?"
"Gua akan tetap tinggal disini, ternyata rumah ini dibeli kakek gua dulu atas nama gua. Kalo kata nenek sih pemberian terakhir sebelum mereka bangkrut. Saat mereka mutusin buat nyuruh mama Anita ngadopsi gua".
Lia kembali memeluk Alora, lalu mengelus pelan punggung Alora sambil berkata
"Kamu hebat! Charesso!"
__ADS_1
"Makan yok! Nyokap gua masak enak hari ini" ucap Lia membantu Alora bangun lalu wajahnya berubah kembali menjadi Lia yang ceria dan imut. Lia senang sahabatnya kembali.
...
Saat tengah asik makan, suara ketukan pintu mengejutkan kedua gadis dalam rumah itu.
Di balik pintu ternyata pemuda yang hampir tiap hari mengunjungi rumah itu sejak Alora tidak ada, untuk memastikan Alora sudah pulang atau belum.
Setelah mengetuk pintu tanpa mendapati jawaban, Andre menyenderkan tubuhnya di dinding dan perlahan jatuh hingga duduk dengan lutut di tekuk ke atas lalu mulai mengoceh lagi.
"All loe dimana sih? Ini nggak adil! Banyak yang mau gua tanyain.. yang paling penting gua nggak mau kita putus.."
"Gua kangen muka datar loe"
"Cuman di dekat loe gua merasa nyaman dan terhibur walaupun loe diem aja".
"Semua cewe lain yang dekatin gua cuman karena pengen manfaatin gua, yah walaupun gua juga ganteng sih.."
"Tapi gua juga manfaatin loe kan?" Kata Alora yang membuat Andre sontak bangkit dari duduknya.
Ternyata Alora mendengar semua perkataan monolog Andre yang terdengar sedih saat hendak membuka pintu.
Andre menatap Alora yang berdiri di depannya itu masih tidak yakin.
"Gua juga manfaatin loe kayak cewe-cewe lain dan bahkan lebih parah gua porotin uang loe terus-menerus, bukannya gua lebih buruk dari mereka?" Tanya Alora dengan wajah datar khas nya.
"Itu..it..itu karena.." Andre terbata karena tidak ada kata yang tepat persisnya yang ingin ia ucapkan.
"Ha.. harus banget jawab nih?" Sikap pemuda itu menjadi salah tingkah.
"Harus!" Alora menekan kan dengan maju mendekati pemuda itu untuk mengintimidasi.
"Kenapa gua beda dari mereka?" Tanya Alora saat mereka berjarak 10 cm satu sama lain.
Andre menggerakkan wajahnya mendekati wajah Alora yang lebih pendek darinya lalu menatap serius.
"Itu karena gua.."
.
.
.
.
.
__ADS_1
Tbc