My Secret Alora

My Secret Alora
Nelangsa


__ADS_3

Alora menutup kedua matanya saat jarak wajah pemuda tampan itu sekitar 2 cm darinya. Semakin dekat, detak jantung keduanya berpacu tidak bisa ditenangkan. Bibir pemuda itu semakin dekat dengan bibirnya, 1 cm lagi dengan perlahan...


Kriiiiiiiiinggggg~


Suara alarm smartphonenya berdering. Matanya terbuka seolah kerasukan lalu menjerit.


"Aaaaaaaaa...aaaah gua mimpi apaaan ooh noooo!" Jeritannya terdengar hingga ke rumah sebelah.


Lalu ia hanya duduk termenung di atas kasurnya, di mana ingatannya mengulang adegan dari mimpinya lalu merasa geli sendiri.


"Gua udah gila! Gua udah gilaa, ayo mandi aja!" Ucapnya sembari mengambil handuk lalu masuk ke kamar mandi.


...


Di rumah lain, Andre juga membuka matanya seolah kerasukan saat dering alarm jam menusuk ke lubang telinga.


"Apaan tadi?" Ucapnya sembari bangkit dari tempat tidurnya. Dengan kening mengkerut ia terus berusaha mengingat apa yang ia mimpikan barusan.


"Kenapa jantung gua deg-degan gini, gua mimpi apaan sih tadi?"


Pemuda itu masih kebingungan lalu menuju kamar mandi untuk siap-siap ke sekolah.


...


Akhirnya gips di kaki Alora sudah bisa di lepaskan. Saat ini gadis itu sedang menggunakan sepatunya perlahan sembari menunggu seseorang yang bisa dijadikan tempat menumpang.


Tiiiiiiiiiiint~


Mendengar suara klakson itu, Alora langsung bergegas menuju jalan di mana pemuda tampan yang lengkap dengan jaketnya menghentikan motornya untuk menjemput Alora.


Beberapa minggu telah berlalu. Hubungan mereka semakin membaik. Ujian masuk telah berlalu, setelah semua yang terjadi saat in hanya tinggal menunggu hasil dari kerja keras mereka.


Sepertinya Beni akan kalah lagi dari Andre. Sejak kegiatan belajar bersama itu, Beni mulai menunjukkan sisi perhatiannya, namun Alora yang sudah kebal alias tidak peka hanya menganggap sepele apapun yang ia lihat dan dengar.


Kehidupannya mulai berjalan lancar, ia juga sudah tidak perlu bekerja lagi setelah semua uang yang ia kumpulkan untuk neneknya selama ini dikembalikan lagi untuknya, sekaligus tranfer-an uang jajan dari tante Ina.


...


Anita dan suaminya juga sudah berbaikan, mereka memutuskan Ali (anak mereka) tinggal bersama ayahnya. Anita si ibu angkat Alora itu juga sudah menikah lagi saat ini.


Beberapa kali Ayah angkat Alora mengunjunginya dan membawakan bahan makanan yang langsung diletakkan dikulkas saat Alora sudah pergi sekolah. Saat ini kehidupannya sudah lebih mapan, ia merindukan gadis kecilnya, namun rasa bersalah membuatnya tidak menemui langsung gadis itu.


Tidak lupa pula ia memasakkan makanan kesukaan Alora saat kecil. Menyiapkan meja dengan semua makanan itu lalu pergi setelah meninggalkan sebuah surat tiap kepergiannya.


Ungkapan penyesalan dalam sebuah hubungan, walau bagaimanapun kasih yang diberikannya dulu yang tanpa ia sadari terkikis saat satu-persatu masalah kehidupan menyapanya. Bukan karena sudah tidak sayang, namun kasih yang tertimbun kesedihan membuatnya keras padanya (Alora).


Selain itu, ia tetap menyayangi Alora seperti anak kandungnya. Alora yang mengisi ruang kosongnya dengan candaan imut yang berlarian menuju peluknya. Gadis kecil tanpa ingatan yang datang untuk menghangatkan kerinduannya dulu terhadap seorang anak.


Tiap membaca surat dari ayahnya yang ia dapati dari bawah tudung saji itu, Alora selalu saja tanpa sadar meneteskan cairan bening dari matanya. Ia memakan semua makanan yang disiapkan ayahnya, sambil menangis. Selain itu pria paruh baya itu juga meninggalkan uang jajan di dalam amplop di sisi surat itu.


***

__ADS_1


Pulang sekolah, Alora bersama Lia menuju Kafe di dekat sekolahnya itu. Pertama kali ia mengunjungi Kafe itu sebagai pelanggan bukan sekaligus sebagai pekerja.


Di meja itu ada 4 remaja yang sibuk dengan smartphone masing-masing. Lia sedang sibuk menatap layar ponsel di mana tertera chat terakhirnya dengan Andi lalu menghela berat nafasnya.


"Kenapa loe?" Tanya Andre melirik sebentar lalu fokus lagi pada hpnya.


"Kayaknya gua nyerah aja!" Sahut Lia dengan wajah lesu.


"Nyerah kenapa?" Tanya Alora yang tampak khawatir.


"Kak Andi! Cinta gua bertepuk sebelah tangan" sahut Lia.


"Cinta monyet gituan juga bakalan hilang nantinya" sahut pemuda dingin yang merusak suasana, ya benar Beni!


"Apaan sih loe Ben? Nggak peka jadi orang!" Sahut Alora lalu mencoba menenangkan Lia yang duduk di sisinya.


"Padahal yang nggak peka yang ngomong!" Gumam Beni yang hanya bisa didengar dirinya sendiri.


"Loe yakin bang Andi nggak suka sama loe?" Pertanyaan Andre yang masih fokus pada game onlinenya.


"Gua nggak yakin!" Sahut Lia lagi.


"Coba aja loe ungkapin perasaan loe!" Cetos Andre.


"Gua nggak bisa! Gua nggak berani, gua takut kak Andi bakalan ilfeel sama gua dan mutusin jauhin gua" sahut Lia.


"Kalo gitu perlu gua tanyain bang Andi?" Sahut Andre lagi.


"Jangan! Kalo loe tanyain nanti kak Andi bakal tau dong! Jangan, dia bakalan lebih cepat jauhin gua nanti"


Di sisi lain Beni terus saja menatap gerak-gerik Alora. Yang membuat es batu itu lebih bisa disentuh walau belum bisa dicairkan.


Di sisi lain Alora terus menghindari tatap Andre. Ketika mengingat mimpinya semalam, ia merasa malu pada Andre. Mimpi buruknya tiba saja digantikan oleh mimpi yang ia anggap aneh. Gadis itu merebahkan kepalanya di meja itu tanpa sadar.


"Loe kenapa?" Tanya Lia dan Beni bersamaan lalu saling melirik tajam.


"Gua kurang tidur semalam!" Sahut Alora yang hanya terlihat rambutnya.


"Loe mimpi buruk lagi?" Tanya Andre yang akhirnya mematikan hpnya saat mendengar Alora tidak cukup tidur.


"Bukan mimpi buruk sih, tapi.. yaudahlah yaa, gua juga udah terbiasa" Alora menjawab masih dengan posisi mukanya tertutup di atas meja itu.


Tiba saja dari arah pintu Kafe, tampak seorang gadis yang melambai lalu memanggil.


"Kak Andre!" Gadis bernama Gebi itu lagi-lagi mengikuti Andre.


Namun kali ini, Andre sudah terbiasa dengan kelakuan Gebi lalu membalas lambaian itu.


Alora sontak bangun saat mendengar suara seorang gadis memanggil Andre. Sudah jelas itu Gebi yang hampir berhasil mendekati Andre.


"Kak Andre di sini juga?" Pertanyaan basa-basi si Gebi, yang membuat Alora gemas.

__ADS_1


"Loe kan bisa lihat sendiri, ngapain nanyak!" Batin Alora segera menjawab.


"Iya nih, bareng pacar gua sama temen dan musuh gua!" Sahut Andre.


Alora sedikit menaikkan ujung bibirnya saat mendengar Andre menyebut kata "pacar". Di sisi lain, si pengamat dingin yang terus memperhatikan Alora itu langsung menyadari, bahwa Alora punya harapan pada Andre. Terlihat jelas raut wajah Alora mengungkapkan apa yang ia pikirkan. Dengan pandangan yang kehilangan fokusnya, Beni tampak sedikit merenung.


Di sisi lain, Gebi juga menyadari Beni terus menatap Alora lalu tersenyum sambil melirik kedua insan itu.


Kriiiiiiinggggg...


Bunyi alarm kebakaran yang membuat semua orang panik dan berlari untuk keluar dari Kafe. Namun terdengar seolah suara panggilan dan teriakan itu dari jauh menghantam masuk begitu saja ke telinganya.


Jeritan dan tangisan dengan panggilan "mamaaaaa..." dari seorang anak yang menangis.


Alora mencengkam kuat kepalanya dengan kedua tangannya lalu menjerit. Seolah memori lamanya menghantam kepalanya sekaligus. Bayangan buram seolah mimpi buruknya menjadi nyata, hingga membuatnya kehilangan arah. Air mata yang mengalir begitu saja saat sakit tak tertahankan itu memburunya.


Lia yang sudah berlari setengah jalan sampai ke pintu menoleh ke belakang.


"Loraa cepetan larii!" Teriak Lia di tengah asap dan semburan api yang mulai terlihat dari arah dapur.


Lia mengumpulkan keberanian dirinya untuk kembali dan menyadarkan Alora agar berlari dari balik asap itu. Namun, saat itu seseorang menggenggam dan menarik tangannya hingga ia tanpa sadar sudah di luar Kafe itu.


Lia mendapati ternyata tangan Beni yang masih menggenggam tangannya.


"Loe apaan sih narik-narik gua? Lora masih di dalam tau! Gua harus nolonging dia!" Lia mencoba berlari ke dalam namun langkahnya terhenti karena Beni belum melepas tangannya.


"Lepasin gua! Gua harus masuk!" Teriak Lia sambil mencoba membuka genggaman kuat itu dari tangannya.


"Loe gila? Loe tamat kalo masuk! Lagian ini keinginan Alora, dia selalu bilang ingin mati kan?" Ucapan Beni yang membuat Lia sangat marah.


"Ternyata julukan psycopath memang sesuai buat loe! Lepasin gua!" Lia masih berusaha sambil menagis namun Beni masih menahannya.


Api menyebar begitu saja, dan asap yang membuat tenggorokan Alora batuk hingga menyadarkan dirinya. Ia membuka mata di saat asap mengepungnya. Gadis itu mengibaskan jaket yang ia temukan di salah satu kursi untuk membuka penglihatan dan menemukan jalan keluar.


Akhirnya, ia menyadari seseorang yang juga menderita trauma yang sama sedang berjuang dalam rasa sakit itu. Andre dengan rasa takut yang sama dengan seorang anak 12 tahun yang lalu. Entah bagaimana pemuda itu hanya berjongkok dengan tatap kosong dan kedua tangan memeluk kepalanya di saat api yang semakin menjalar mengikuti Alurnya.


Alora menemukan Andre saat tidak sengaja berjalan dan menabraknya hingga gadis itu terjatuh, namun tatap Alora yang terlihat sedih namun penuh amarah saat melihat Andre yang terlihat pengecut dengan trauma itu.


"Gua ngga bisa nolong dia! Enggak! Gua nggak mau nolongin dia!" Batin Alora sambil menagis lalu bangkit untuk melanjutkan jalannya.


Seolah hatinya menjerit "ini saat yang tepat untuk mati" namun sisi lain memanggilnya lebih keras dan membuatnya berbalik lalu memeluk Andre.


Ia menyadarkan Andre dengan menamparnya, lalu membantu pemuda itu dan memapahnya dan sebelah tangan lainnya mengibaskan jaket itu untuk menyingkirkan asap agar memudahkannya menemukan jalan keluar.


Saat Lia masih berdebat dengan Beni, dan api semakin membesar, Alora keluar dari pintu itu sambil memapah Andre. Keringat membasahi kedua remaja itu sekaligus pakaian dan wajah mereka kotor hingga nafas yang sulit mereka atur karena asap yang mereka hirup memenuhi kapasitas paru-paru mereka. Alora tampak menangis dari kejauhan itu.


Langkah yang semakin berat menghentikan langkah keduanya lalu terjatuh di tanah itu hingga tak sadarkan diri.


.


.

__ADS_1


.


Tbc


__ADS_2