
Andre tiba dirumahnya dengan motor miliknya, sejak ia menjauh dari Alora, pemuda itu memilih untuk berangkat sendiri. Namun pemandangan tidak enak membentang di depan matanya. Mila dengan seragam ketatnya sembari merapikan rambutnya ia duduk di kursi depan rumah pemuda itu.
Jeni yang merupakan ibunya Andre keluar dari pintu membawakan Mila jus segar. Setelah turun dari motor, Andre langsung berjalan masuk, sampai akhirnya dihentikan oleh ibunya itu.
"Jangan masuk dulu temenin Mila dulu di sini!" Ucap Jeni pada anaknya.
"Males ah mah!" Ketika hendak melangkah, tangan Andre kembali diraih ibunya untuk menghentikannya.
"Kalo gitu, kamu masuk ganti baju lalu anterin Mila pulang ya!" Kata wanita paruh baya itu.
"Nggak ah mah, asal mama tau dia ini tukang buli di sekolah, jadi nggak usah baik-baikin dia!" Sahut Andre kesal.
"Maksud loe apa Ndre? Kok nuduh-nuduh gua gitu?" Akhirnya Mila bersuara.
"Iya kamu jangan nuduh Mila gitu dong!" Jeni mencoba membela.
Namun Andre tersenyum tak percaya, lalu menjawab "ini orang sengaja labrak Alora yang kakinya lagi sakit, dia nendang tongkat Alora sampe Alora jatuh beberapa kali dan malah membuat tulang Alora yang tadinya bakalan cepat sembuh malah makin retak!"
"Alora?" Tanya Jeni pada anaknya itu. Di sisi lain Mila tampak panik mencari alasan agar ia terbebas dari tuduhan itu.
"Iya! Kalo mama nggak percaya tanya bang Andi!" Ucap Andre lalu masuk ke dalam rumah.
"Nggak gitu tante, Mila nggak sengaja nabrak Alora, soalnya waktu itu Mila lagi fokus main Hp" Mila dengan jawaban ngelesnya.
"Yang bener kamu? Jangan bohong sama tante, kalo ketahuan kamu memang bohong, tante bakalan bilang semuanya sama orang tua kamu" ucap Jeni merasa curiga.
"Yaudah kamu pulang dulu sana!" Tante Jeni mengusir secara halus.
"Tante percaya kan sama Mila?" Mila tampak merengek agar menarik iba wanita itu.
"Tante pengennya sih semua ini nggak bener, tapi Andre nggak pernah bohong sama tante, gimanapun juga Andre anak tante, tante akan pastiin dulu semuanya, kamu pulanglah!" Ucap Jeni lalu memasuki rumahnya.
"Alora? kayak pernah dengar namanya" batin Jeni.
Di sisi lain, Mila mengerutkan alisnya dan memasang sorot mata tajam. Ia merasa kesal dan berpikir pasti Alora mengadukannya pada Andre agar lebih menarik perhatian pemuda itu.
***
.
.
Alora turun dari bus yang sebelah fungsi kakinya digantikan oleh tongkatnya. Lia harus pergi les sehingga gadis itu harus pulang sendirian.
Dengan bertumpu pada tongkat yang dijadikan pegangan, gadis itu perlahan berjalan pulang ke rumahnya. Hampir setengah jalan sampai, gadis itu malah berbalik untuk ke mini market terdekat. Ia harus belanja bahan makanan yang sudah tidak ada yang bisa dimasak lagi.
Untuk berhemat, tentu saja gadis itu membeli mie instan dengan beberapa varian rasa dan telur. Selain itu dia hanya membeli satu minyak goreng untuk menggoreng telur. Sedangkan mie instan memenuhi kantung plastik besar dan 10 butir telur.
Berjalan pulang dengan kaki pincang, tangan kiri yang juga memegang tongkat sekaligus menjinjing plastik berisi telur, sedangkan bawaan yang lebih berat sebelah kanan membawa sekantung besar mie instan.
__ADS_1
Perlahan dan pasti, gadis itu mendekati rumahnya walau masih agak jauh. Tidak bisa dihindari, keringatnya mengalir dibawah terik jernih matahari menyinari bumi.
"Duh harusnya gua beli beberapa aja tadi, jangan sebanyak ini" suara yang keluar bersamaan dengan hembusan nafas.
Andre yang juga menuju mini market terdekat menggunakan sepedanya, mendapati Alora yang fokus pada jalan agar tongkatnya tidak terpeleset. Awalnya dia mencoba mengabaikan dan bersikap tidak acuh, lagi pula Alora tidak menyadari Andre lewat.
Tiba saja barang bawaan Alora diambil Andre lalu disangkut di setang sepeda sport-nya. Ternyata Andre berbalik arah untuk membantu gadis itu. Bagaimanapun pemuda itu tidak tega melihat Alora yang kesulitan berjalan itu tampak seperti menyiksa dirinya.
"Biar gua aja yang bawa! Loe bisa naik di depan sepeda gua nggak?" Ucap Andre.
"Nggak apa gua jalan sendiri aja!" Sahut Alora dan Andre mengikuti sembari mendorong sepedanya.
"Loe yakin?"
"Iya, gua kuat kok.. aww!" Alora tidak menyadari ada batu yang menghalangi tongkatnya, hampir saja ia terjatuh jika tidak bersandar pada Andre.
"Tuh kan! Loe udah capek banget, sini gua gendong aja! Siniin tongkat loe!" Andre kembali menyangkut tongkat Alora di setang sepedanya.
Lalu duduk dengan sebelah lutut menopang di jalan itu agar Alora dengan mudah naik ke punggungnya.
"Ayo cepetan naik!"
"Tapi gua berat tau! Nggak apa gua jalan sendiri aja" Alora mencoba meraih tongkatnya kembali.
"Naik aja cepet! Atau gua tinggalin loe sendirian tanpa tongkat!"
"Gua berat kan? Barang gua juga banyak! Loe serius nggak apa-apa?" Alora merasa tidak enak.
"Berat apanya? Pasti tiap hari loe cuman makan mie instan ya? Sejak gua nggak jajanin loe, loe makin kurus"
"Mie instan sebanyak ini, nggak bagus buat kesehatan loe! Pantes aja kadang-kadang loe pingsan dan cepat sakit. Lain kali kalau mau belanja ajak gua aja, biar gua pilih makanan yang lebih bergizi" sambung Andre sambil terus berjalan.
Alora yang berada di punggung Andre tersenyum karena senang rasanya pemuda ini se-perhatian ini padanya.
Sesampainya di rumah Alora, Andre ikut masuk dan membawa barang Alora ke dalam rumah. Saat Alora berada di kamar untuk mengganti pakaiannya, Andre beristirahat di ruang tamu kecil itu, ia mendapati buku yang tampak mirip dengan buku diari.
Setelah mengambil dan membukanya, memang benar buku tersebut milik Alora dan benar pula seperti kata Lia, yang tertulis di buku ini adalah kata-kata menyedihkan seolah hidup ini tidak akan mengenal kata bahagia.
Saat Alora keluar dari kamarnya, Andre langsung menyembunyikan buku itu di bawah meja.
"Loe mau makan mie nggak? Biar gua buatin!" Tanya Alora yang bergerak menuju dapur.
"Nggak!" Sahut Andre lalu bangkit dari duduknya. "Biar gua aja yang buatin!" Pemuda itu langsung menuju dapur lalu membuat mie rebus yang di campur telur.
Ketika mie sudah matang, Andre membawa wadah mie tersebut ke meja makan yang juga sudah disiapkan oleh Alora. Keduanya duduk saling berhadapan di meja makan itu.
Namun, tatap Andre tidak berpindah dari Alora sejak ia duduk di kursi itu. Setelah membaca beberapa tulisan Alora di buku itu, Andre seolah menyadari sesuatu.
Alora makan dengan lahap mengingat perutnya yang juga lapar dan fisiknya yang kelelahan.
__ADS_1
"Enak kan buatan gua? Perdana nih gua masak buat seseorang!" Tanya Andre.
"Iya lumayan lah! Untuk seseorang yang baru perdana masak!" Ucap Alora lalu tersenyum.
"Loe masih bisa senyum Al? Setelah semua kalimat sedih yang loe tulis di buku diari loe" batin Andre sembari memaksakan senyum.
"Gua seneng lihat loe senyum gini Al!"
"Senyum?" Alora kembali mengukir lekukan bibir indah itu. "Senyum itu nggak susah kok, kenapa loe harus senang cuman karena lihat gua senyum"
"Karena senyum loe berharga! Tiga hari kadang loe nggak senyum sekalipun, kadang-kadang seminggu, kalo memang senyum segampang itu senyum dong jangan masang muka datar gitu"
"Emang gua jarang senyum ya? Perasaan gua sering senyum kok"
"Ciaaelah dianya nggak nyadar jarang senyum, meng-capek!"
"Senyum mulu juga capek tau! senyum terus-menerus membuat sudut bibir gua pegel"
"Emang loe pernah senyum lama-lama?"
"Pernahlah! Pas kerja kan gua harus senyum, ramah sama custumer"
"Yaudah deh loe menang" Andre menerima alasan gadis itu dengan pasrah dan tidak mampu berkata-kata lagi.
"Yaudah karena loe suka lihat gua senyum, gua bakalan senyum tiap ketemu loe"
"Tapi loe nggak perlu senyum kalo terpaksa, karena gua bisa nerima loe apa adanya tanpa harus berpura-pura baik-baik aja di depan gua!"
"Loe juga boleh marah ataupun nangis, yang penting loe mengekspresikan diri loe jangan terlalu lama menahannya, gua bakalan nerima apapun yang loe lampiaskan" lanjut Andre lalu mengalihkan pandangannya untuk memakan mie yang hampir dingin di depannya.
Di sisi lain, Alora yang tadinya hanya fokus makan, saat ini menatap pemuda itu. Dua kalimat terakhir Andre membuat gadis itu sedikit tercengang. Seolah kata-kata yang ingin dia dengar terucap begitu saja melalui bibir pemuda itu.
.
.
.
Tbc
Epilog
Buku diary yang tergeletak terbuka di lantai, yang di halaman sebelah kiri tertulis kalimat:
Aku lelah memaknai setiap tatap yang orang-orang lempar padaku..
Membuatku terpuruk, hanya dengan kata yang muncul acak dari prasangka terlintas dalam benak di malam yang larut.
Namun dibalik semua itu, aku harus tersenyum menutupi pahitnya rasa racun yang perlahan menjalar ke seluruh tubuhku.
__ADS_1