My Secret Alora

My Secret Alora
Isi Hati Para Jomblo


__ADS_3

Andi yang langsung pulang setelah melihat kejadian di Kafe tampak termenung di tempat tidur miliknya. Pikirannya terus menerawang ke ingatan yang tadi.


Andi POV:


"Boleh nggak gua peluk loe sekali aja?" Pertanyaan Lia yang sukses membuat bola mata Beni melebar.


"Loe kenapa lagi?" Tanya Beni, namun Lia langsung melingkarkan tangannya di tubuh Beni dan membiarkan kepalanya bersandar pada dada pemuda itu.


"Gua kangen sama kak Andi!" Sahut Lia.


"Terus kenapa loe peluk gua kalo kangen sama Andi? Salah sasaran nggak?" Tanya Beni lagi yang merasa aneh.


"Loe pernah bilang kan? 'Datang ke pelukan gua kalo Andi ninggalin Loe!' Ini gua datang karena masih gagal sama perasaan gua!" Sahut Lia menjelaskan dengan tepat.


"Apa udah saatnya gua nyerah sama kak Andi? Cinta sepihak gini nyakitin hati gua banget!" Kalimat Lia terdengar sendu dan masih memeluk Beni, walau pemuda itu hanya diam saja tanpa balasan.


...


Sampai di kalimat sana, Andi langsung keluar lagi dari Kafe menuju mobilnya lalu pulang.


"Apa gua terlihat mempermainkan perasaan Lia ya? Padahal gua cuman belum nemuin waktu yang tepat buat ungkapin perasaan gua!" Batin Andi lalu membalikkan tubuhnya yang tidur di ranjang itu ke arah kanan.


"Apa Lia terluka ya? Kenapa dia ngiranya cinta sepihak? Padahal kita saling merasakan hal yang sama!" Batin Andi lagi, lalu ia membalikkan lagi tubuhnya ke kiri.


"Apa yang harus gua lakuin sekarang? Gimana kalo Lia beneran nyerah sama gua? Gua sibuk banget lagi dalam minggu ini! Duh masak gua akan kehilangan dia gitu aja?" Batin monolog Andi masih berlanjut, kini pemuda itu membalikkan lagi tubuhnya ke kanan.


"Apa gua hubungin aja dia sekarang? Terus ngomong deh! Aaah... bakal aneh, dia juga lagi sedih gitu juga!" Masih dengan monolog dan membalikkan lagi tubuhnya, namun kali ink karena kesal dengan dirinya sendiri, ia bangkit dan duduk sembari mendesis dan mengacak-acak rambutnya.


"Aaarrrgghh! Gua bisa gila!" Pemuda itu frustasi.


***


Cuaca cerah dengan matahari yang bersinar terang, tampak dua oknum yang duduk di kantin sembari mengipas diri dengan buku karena cuaca yang panas.


"PanasĀ  banget ya!" Ucap Lia.

__ADS_1


"Iya nih!" Sahut Alora lalu menyeruput minuman dingin di depannya.


"Lora, gua udah putusin bakal nyerah aja sama kak And!" Ucap Lia yang mengeluarkan curahan hatinya.


"Kenapa? Bukannya loe suka banget sama kak Andi? Gua lihat kak Andi sering juga deketin loe!" Sahut Alora.


"Iya gitu deh! Kak Andi nggak jelas, terlalu banyak tarik ulur kayak nggak minat,gua nggak mau terlalu berharap yang ada nanti gua sakit hati. Masak dia jadiin gua pelarian? Berarti gua nomor dua dong, bukan yang pertama!" Lia menceritakan dengan semangat dan sedikit kekesalan.


"Kalo itu pilihan loe, gua dukung kok! Apapun pilihan loe termasuk kali tiba-tiba loe malah milih Beni, gua juga dukung! Xixi!" Sahut Alora lalu terkekeh sendiri.


"Apaan? Cowo yg itu terlalu dingin untuk dihadapin!" Lia menggelengkan kepalanya pelan.


"Tuh kan loe jadi ikutan dia, 'Apaan?' (Alora menirukan gaya Beni) Eh tapi, Beni yang sekarang jauh lebih baik, coba aja dia datang lebih dulu dengan versi yang sekarang mungkin keadaannya akan beda!"


"Iya juga sih! Sikap dingin dia itu kadang yang buat jantung kita berdebar nggak sih, random banget cara dia memberikan perhatian ke orang."


"Love languange nya act of service tuh kayaknya. Loe perhatiin juga nggak dia selalu ada di waktu yang tepat, gua heran gimana caranya ya?" Sambung Alora lagi.


Tiba saja, oknum yang mereka bicarakan malah menuju ke arah mereka. Pemuda itu datang dan langsung duduk di depan kedua gadis itu. Alora masih canggung karena kejadian kemarin di saat Beni melakukan pelukan angin.


"Apanya yang gimana?" Sahut Alora yang bingung.


"Love language nya lah! Gua penasaran aja barang kali bisa gua bandingin sama kakaknya, yaah walau mereka keliatannya beda sih! Yang satu terang-terangan yang satu lagi tarik ulur nggak aja nggak tau deh kapan penerangannya." Lia selalu curhat kapapun dia bisa selipkan itu kedalam kalimatnya.


"Iya Lia udah! Kalo Andre love languange nya sama sih act of service juga, dia memang gak terang-terangan bertindak tapi dia lakuin semua di belakang kita dan kadang dia word of afirmation juga, karna dia selalu ngungkapin rasa sayangnya." Jelas Alora lalu melirik Beni sebentar yang sibuk memainkan jemarinya di hp miliknya.


"Loe Ben?" Tanya Lia.


"Gua nggak ikutan kalian lanjut aja!" Sahut Beni.


"Nggak itu, maksudnya mau pesan apa? Ini mbak-mbak nya udah nungguin!" Sambung Lia dengan sedikit menyiratkan senyum di bibirnya begitun Alora.


Beni melirik ke samping mendapati seorang waiter yang menunggu pesanannya.


"Teh dingin aja mbak!" Ucap Beni lalu mbak-nya pergi.

__ADS_1


Pemuda itu melirik dua gadis di depannya sedang cengengesan menertawakan dirinya.


"Jangan ketawa kalian!" Kata Beni dengan tegas membuat kedua gadis itu diam sebentar lalu malah tertawa lebih keras setelahnya.


"Loe Lia! Gua potong honor loe nanti!" Ancam Beni namun tak mempan.


"Potong aja! Gua ikhlas lagian kontrak kita udah berakhir dan honor gua udah full masuk ke rekening gua, hahah!" Sahut Lia dengan santai.


"Udah berakhir?" Tanya Beni dengan nada cool nya


"Iya dong! Udah sepuluh kali pertemuan dan udah kita siapin juga semua soalnya! Gua juga punya bukti, sebentar..." Lia merogoh tasnya lalu mengambil hp nya, setelah di gesek layar beberapa kali, ia menunjukkan hp nya ke arah Beni.


"Nih! Tiap pertemuan gua selalu selfie! Lihat aja udah sepuluh lembar fotonya di tanggal yang berbeda, bajunya gua beda!" Lia memperkuat argumennya.


"Coba Liat!" Alora yang penasaran juga ikut melihatnya. "Wih kerena loe! Pinter banget!"


"Iya dong bestie! Kita itu harus think smart! Dengan begitu nggak akan ada perdebatan lanjutan kalo kita punya bukti!" Lia tampak memamerkan dirinya.


Beni yang terdiam kini menjawab, "yaudah! Good job kalo gitu! Gua jadi sendirian lagi!" Ucap Beni di mana kalimat seru yang terakhir malah ikut terucap, yang mana harusnya diucapkan dalam batinnya.


"Loe bisa hubungin gua kok!" Sambung Lia setelah berpikir sebentar.


"Apanya?" Tanya Beni dimana deep voice itu terdengar merdu.


"Kalo loe butuh teman, gua juga jomblo! Dan lagian Alora bakal sering sama Andre gua juga sendirian! Sesama jomblo kita bisa nongkrong aja sesekali kalo lagi bosen!" Jelas Lia agar tidak adanya kesalahpahaman.


"Terserah loe deh!" Beni bangkit dari kursinya lalu pergi.


"Loe lihat sendiri, udah kayak jelangkung aja datang nggak diindang pulang nggak diantar, main pergi aja tuh cowo!" Ucap Lia lalu menyeruput minumannya.


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2