
"Apa artinya ini??"
Gadis tangguh itu kembali berdiri normal, sambil berkata "bagus deh loe gak apa-apa" lalu berbalik menuju mejanya.
Andre yang diserang oleh kecepatan detakan jantungnya seakan terdengar jelas suaranya, matanya menilik punggung baju Alora yang tampak hitam dikenai penghapus terbang itu.
...
Se-pulang sekolah usai membereskan barangnya Alora mengancingkan tasnya lalu bangkit dari kursinya menuju pintu kelas bersama bestie-nya.
"Loe kerja lagi hari ini?" Tanya Lia namun hanya dibalas anggukan lesu dari Alora.
"Gimanapun juga gua harus jalanin hidup kan! Loe les lagi hari ini? Udah mutusin mau masuk kemana?" Tanya Alora.
"Iya, gua mau masuk kedokteran, yaah.. walaupun susah sih tapi gua mau belajar biar bisa lolos ujiannya"
"Semangat yaa bestie!"
Alora menyentuh belakang bahunya yang terasa sakit akibat hantaman penghapus terbang. Tiba saja tangan Alora yang sedang mengelus rasa sakitnya ditutupi oleh jaket kulit.
Ternyata Andre yang memakaikan jaketnya untuk Alora agar kotor akibat hantaman penghapus papan di belakang baju gadis itu tidak terlihat.
"Pakai ini ya! Jangan dilepas!" Ucap Andre.
"Apaan nih? Apa perlu gua bilang so sweet?" Tanya Lia dengan wajah polos nya.
"Timing! Timingnya lewat, kan harusnya loe bilang 'so sweet' pas gua pakein jaketnya, dasar Lia!" Sahut Andre bercanda.
"Iya iya, makin lama loe makin bawel. Yaudah gua titip bestie gua, loe jagain awas kalo kenapa-napa, gua harus berangkat les"
"Okey"
"Loraa sampai jumpa di rumah ya!" Lia berangkat duluan. Lalu di susul kedua remaja lainnya yang menuju tempat parkir.
Di sisi lain ada pemuda lainnya yang sedari tadi hanya memantau berdiri di depan kelasnya lalu mulai mengikuti mereka.
__ADS_1
"Itu sakit ya?" Tanya Andre tampak khawatir.
"Lumayan"
"Kenapa loe nutupin gua tadi? Harusnya kan gua yang protect elloe!"
"Karna rasa tanggung jawab! Gua nggak bisa biarin sumber pendapatan gua kenapa-napa"
"Jadi bagi loe, gua cuman sumber pendapatan? Walau kita udah pacaran beneran?"
"Trus loe anggap gua apa?" Alora melirik pemuda tinggi di sisinya.
"Gua anggap loe pacar gua!" Ucap Andre sembari menatap Alora yang berjalan di sisinya.
Deg deg deg, jantung Alora tiba saja berpacu cepat, seolah kata yang ingin ia dengar, dan suasana hatinya menjadi lebih baik. Bibir manisnya tidak mampu menahannya yang sangat ingin tersenyum sambil menundukkan kepalanya.
"Kok loe diam?"
"Karna gua nggak tau harus ngomong apa" ucap Alora berusaha menenangkan dirinya agar kembali fokus dan kurangi berharap pada harapan semu.
Namun beriringan dengan genre thriller, pemuda psyco yang sering dipanggil Beni itu sedari dari memantau mereka dengan wajah datar namun tatap pemuda itu tetap terlihat menakutkan, entah apa yang ia pikirkan. Tangannya meremas roti beracun yang di taruh Mila di perpustakaan tadi, ternyata ia mengambilnya seusai Mila meninggalkan perpustakaan.
...
Gadis yang tidak bisa tidur sejak semalam, walaupun ia tertidur di perpustakaan namun tidak nyenyak, saat ini malah ketiduran diruang ganti staf Kafe.
Beni yang mencarinya dari tadi, akhirnya menemukan oknum yang dicari tertidur di kursi panjang tepi sudut dinding, kepalanya tersandar di dinding. Pemuda itu membungkukkan sedikit badannya laku memiringkan sedikit kepalanya untuk menatap Alora lebih dekat. Tanpa sadar terlukis senyum kecil di bibir Beni.
Pemuda yang hanya dikenal psyco tersenyum tulus untuk pertama kalinya. Setelah beberapa menit ia tersadar dan kehilangan senyum itu, lalu meraih tangan Alora dan diletakkan salap memar di genggaman gadis itu.
Ternyata Beni mendengar percakapan Alora dan Andre di sekolah tadi. Oleh karena itu, pemuda yang wajahnya tidak kalah tampan dari Andre itu lebih dulu ke apotik membelikan salep sebelum ke Kafe.
"Semoga loe cepat sembut" suara bisikan yang dominan nafas menyentuh telinga Alora yang kemudian membuka matanya.
Wajah pemuda tampan bertubuh kekar terpampang nyata di depan mukanya.
__ADS_1
"Ini mimpi baik atau buruk?" Tanya Alora lalu kembali menutup matanya karena mengantuk.
Beni agak terkejut dengan segera kembali berdiri tegak lalu keluar dari ruangan itu. Kemudian berpura-pura masuk dan memanggil Alora.
"Alora! Loe ngapain di sini?" Ucap Beni dengan lantang.
Alora tersentak bangun saat suara itu menembus telinganya.
"Yang lain sibuk, loe asik-asikan tidur, siap-siap cepetan keluar!" Perintah Beni, lalu pemuda itu keluar dari ruangan.
Akhirnya Alora menotice salep di tangannya dan hanya menatap bingung. Karena sudah ditangan tentu saja ia langsung mengoleskan pada bagian sakitnya.
Alora mulai melakukan tugasnya mulai dari membersihkan, menerima pesanan lalu mengantar pesanan.
"Al, ini pesanan meja 9 ya!" Ucap salah satu staf dapur.
Alora mengangguk lalu memutar lengannya sebelah punggungnya yang sakit dan menjulurkan tangan untuk mengangkat pesanan dengan porsi besar itu.
Tiba saja Beni mengambil Alih dengan cepat mengangkat pesanan itu lalu mengantarnya untuk pelanggan. Beni melakukan hal serupa beberapa kali hingga Alora terpaksa bertanya.
"Biar gua aja yang antar, ini tugas gua" ucap Alora
"Loe cuci puring sana!" Cegah Beni lalu pergi mengantar pesanan.
"Itu orang salah makan? Makin kesini makin aneh" Batin Alora lalu menuju dapur untuk mencuci piring.
Akankah si psyco kasar jadi lembut dan perhatian?
.
.
.
tbc
__ADS_1