
"Loe mau mati?" Beni menaikkan nadanya mendengar Alora melantur aneh.
"Iya!..." Alora ikut menaikkan suaranya. "Loe mau banget gua mati ya? Huh?"
"Kalo loe mau hidup tenang jauhin bokap gua!"
"Gua bahkan nggak ngapa-ngapain, gua nggak ngapa-ngapain! gua cuma kerja salah gua di mana?" Alora mulai emosi.
"Loe tau nggak rumor yang beredar..." kata Beni terpotong.
"Gua tau! Gua tau Ben, tapi harus banget gua nanggepin semua omongan orang lain? Gua capek banget!" Suara Alora terdengar keras hingga beberapa staf yang mendengarnya mengintip di pintu belakang.
"Trus loe mau biarin aja? Padahal ini melibatkan orang yang nolongin loe!"
"Kenapa gua harus jelasin tentang diri gua ke semua orang, saat gua lelah sama hidup gua sendiri?" Alora tidak mampu menurunkan suaranya. Cairan bening membendung di ujung kedua mata gadis itu.
Beni tampak tertekan mendengar kalimat terakhir gadis itu. "Padahal gua pengen loe jauh dari bokap gua, agar gosip begituan gak target-tin loe lagi, kenapa jadi begini?" Batinnya.
Alora akan sangat emosi jika terus di pancing, ia memutuskan untuk pergi agar tidak melampiaskan kemarahannya. Terlalu banyak yang ditahan dan di pendam lalu memutuskan untuk diam saja.
Biarkan waktu yang membuktikan, namun apakah waktu akan bekerja sama?
***
Keesokan harinya, Alora kembali berangkat bersama Andre namun tatap nya dan dirinya terlihat lelah.
Sesampainya di parkir sekolah, Alora merapikan kunciran rambutnya.
"Loe nggak apa kan?" Tanya Andre yang tampak khawatir.
Alora menghela berat lalu menggelengkan kepalanya.
Bel berbunyi, siswa ketiga kelas juga sudah mengganti seragam olahraga mereka dan berkumpul di lapangan.
"Hari ini kita gabungan ya, kelas 12 IPS 1, 12 IPS 4, sama kelas 11 Mia 2" kata pria paruh baya berbadan kekar yang menjabat sebagai guru olahraga.
"Kenapa digabung pak?" Tanya Bisma si ketua kelas.
"Pak Wahyu berhalangan hadir di kelas 11, sama saya minta ganti jam di kelas IPS 4 karna saya harus berangkat ke luar kota setelah jam pelajaran ini usai" jelas Pak Ihsan kepada seluruh muridnya.
"Saya harap kalian Akur dan bisa bekerja sama" sambung guru olahraga itu.
"Pak karena kita udah ngumpul per kelas, gimana kalau kita tanding aja pak?" Usul ketua kelas IPS 4.
"Bagus juga ide kamu, ada yang mau kasih saran? Pertandingannya apa aja? Kita punya waktu 160 menit, artinya 2 jam 40 menit" tanya pak Ihsan.
"Futsal buat tim cowo dan volley buat tim cewe pak" teriak salah satu cowo dari kerumunan itu.
"Okey berarti gini aja, pertama kita tanding futsal satu set 20 menit, berarti kita mainnya 3 set, yang menang di set 1 dan 2 maju ke final, untuk tim volley kita akan bagi setnya nanti setelah futsal, okey setuju ya semua?"
"Setuju pak" teriakan semangat dari para siswa.
Reno ikut serta dalam tim kelasnya memasuki lapangan futsal dengan tujuan tebar pesona, namun bukannya Alora yang terpesona malah gadis-gadis lain histeris. Alora tampak banyak pikiran dan larut dalam dunianya sendiri.
Di tim kelas 12 lainnya ternyata ada Beni, sejak tadi tidak ada yang menyadari bahwa Beni ada dalam kerumunan itu, pemuda itu memang agak misterius.
Kedua tim dari set pertama sedang berbaris saling berhadapan di tengah lapangan. Entah bagaimana takdir mempertemukan Andre berada tepat di hadapan Beni, kedua pemuda itu saling menatap tajam sampai suara peluit terdengar keduanya menjadi fokus pada posisi nya masing-masing.
Selama sepuluh menit permainan sengit antara kedua tim, namun belum ada gol yang tercetak. Andre sedang berlari dengan bola di kakinya dan sesekali melirik Alora untuk memastikan apakah Alora melihatnya atau tidak.
Begitupun Beni yang mengambil kesempatan saat Andre lengah dan berhasil mencuri bola pantauan Andre. Beni mengoper ke teman nya lebih dekat dengan gawang kemudian bola itu dioper lagi hingga gol, Beni berhasil mencetak gol lalu sorot matanya mengarah pada lawan mainnya, tentu saja Andre sasarannya dengan melempar senyum sinis dan raut wajahnya seolah meremehkan Andre.
Tidak hanya itu, Beni ternyata juga melirik Alora, seolah ia ingin Alora menyaksikannya mencetak gol. Namun mengingat kejadian perdebatan semalam, pasti Alora bahkan tidak akan terusik hatinya bahkan jika Beni menang.
__ADS_1
Dibalik Beni yang agak melamun di tengah permainan, ada tim Andre yang berusaha keras untuk mencetak gol di detik-detik terakhir. Akhirnya bola kembali berada di kaki Andre, saat Beni lengah Andre hampir sampai di depannya.
"Ben jaga posisi!" Teriak kapten tim IPS 4.
Beni langsung menghadang Andre, tapi di saat-saat penting kaki Andre malah tidak stabil, dan tiba saja "dubraakk".
Kaki Andre malah terkilir dan menabrak Beni hingga keduanya terjatuh di tanah dengan rerumputan tipis itu.
"Prrriiiiiiiiit" suara peluit di tiup pak Ihsan sebagai wasit menandakan waktu pertandingan sudah usai.
"Skor pertadingan 1:0 untuk tim IPS 4" pengumuman wasit dimeriahkan oleh para penonton yang bersorak di pinggir lapangan.
Sesi kedua pertandingan antara kelas 12 IPS 1 dengan 11 Mia 2, namun pada sesi ini Andre tidak ikut serta lagi. Pemuda itu khawatir sejak tadi pagi Alora tampak kusut. Ia ingin menghibur gadis itu.
Pada saat set ke-2 di mulai, Andre mulai mencari Alora yang sudah tidak ada di tempatnya. Namun tiba saja seorang gadis menghadangnya.
"Kak Andre kan?" Tanya Gebi yang tersenyum lebar, namun telah merubah penampilannya. Gadis itu sudah tidak memakai kacamatanya dan rambutnya yang sebahu dibiarkan terurai membuat wajahnya terlihat cantik.
"Iya, kenapa?" Andre menjawab dengan menatap gadis itu sebentar.
"Ini kak!" Gadis itu menyerahkan handuk kecil untuk mengelap keringat pemuda itu.
Kembali menatap gadis itu Andre bertanya "kenapa loe ngasih ke gua?"
Gebi tampak berpikir sebentar lalu menjawab "ini dari panitia kak"
"Oh ya? Makasih ya" Andre mengambil handuk itu dan melangkah pergi.
"Tunggu!" Gebi meraih tangan pemuda tampan itu untuk menghentikan langkahnya.
Andre berbalik menatap gadis itu lagi "kenapa lagi?"
"Penampilan aku menurut kakak gimana? Dulu aku pake kacamata, kalo pakek lensa kayak gini bagus gak?"
"Mm.. itu.. karna aku mau tau pendapat kakak"
"Bismaa!" Andre memanggil ketua kelasnya yang lewat di depannya.
"Iya Ndre?" Sahut Bisma sambil menghampiri Andre.
"Menurut loe dia gimana? (Menunjuk Gebi) Tolong jawab bentar ya, gua sibuk" ucap oknum bernama Andre itu lalu pergi mencari Alora ke kelas.
"Menurut gua loe cantik kok" ucap Bisma sambil tersenyum malu.
"Beneran?" Gebi tampak malas merespon.
Bisma mengangguk yakin.
"Tapi kenapa Andre gak mau lama-lama sama gua sih?" Gebi terlihat kesal.
"Ya karna dia punya pacar lah! Masa itu aja loe gatau"
Gebi menggerutu sambil memukul-mukul kecil Bisma lalu pergi.
"Cuman gua yang paling normal di dunia ini" ucap Bisma yang sering berurusan dengan manusia aneh berkedok teman-temannya.
...
Sesampai kelas, Andre tidak menemukan Alora di sana.
Drrrrrrrrrrttttttt drrrrrtttt
Hp-nya tiba saja bergetar. Ia menemukan panggilan dari nomor tidak dikenal, namun tetap dijawab karena siapa tau penting. Setelah menggesek tombol terima, ia menempelkan hp di telinganya.
__ADS_1
"Halo? Siapa ya?"
"Saya Dita rekan kerjanya Lora, kamu Andre kan?"
"Iya, ada apa ya?"
"Kamu tolong hibur Lora ya!"
"Kenapa?"
"Lora dituduh selingkuh sama big bos Kafe, semua orang gosipin dia, semalam juga dia berantem hebat sama Beni, jadi tolong hibur dia ya"
"Okey, makasih ya udah ngasih tau aku"
"Iya"
Andre menutup telponnya.
"Beni bener-beber keterlaluan" gumam Andre.
Bukannya mencari Alora, Andre malah mengubah targetnya menjadi Beni. Ia sangat marah mendengar kabar Alora berdebat hebat dengan Beni, karena menurut Andre apapun masalahnya pasti Beni yang cari gara-gara duluan.
Andre kembali ke lapangan dan menemukan Beni yang santai bersama rekan se-tim-nya.
"Loe! Ikut gua bentar ada yang mau gua omongin" ucap Andre langsung ketika sampai di sana.
"Nggak!" Sahut Beni santai.
"Okey, kalo gitu gua akan nanya di sini" Andre melirik kanan kiri memastikan Alora tidak ada.
"Kenapa loe berantem sama Alora semalam? Loe apain dia?" Tanya Andre sembari menahan amarahnya.
"Cih.. si pacar pengecut sok pahlawan nih ceritanya?" Lontar Beni asal.
Andre semakin panas mendengar kalimat Beni tapi tetap menahan diri.
"Loe gak sadar? Yang pengecut itu loe! Jadi lawan loe cewe sekarang? Nggak gentel banget sih" ucap Beni lalu tersenyum untuk meledek. Setelah dua detik senyum itupun langsung kandas.
Beni langsung panas lalu mencengkam kerah baju Andre dengan kedua tangannya.
"Gua gak kayak loe, gua bisa nahan emosi gua, cowo pengecut itu cuman bisa main fisik tapi gak bisa main cerdas" sambung Andre hingga akhirnya satu genggaman melayang ke pipi kiri Andre hingga keluar darah dari hidungnya.
Memang benar, Beni sama sekali tidak bisa menahan amarahnya, hingga melayangkan pukulan itu.
Di sisi lain, Alora yang habis dari UKS karena perutnya tadi sempat sakit kembali ke lapangan lalu mendapati keributan di pinggir lapangan. Pak Ihsan masih sibuk menjadi wasit.
Alora tadinya tidak ingin ikut campur, tapi karena sudah di lapangan ia melihat-lihat apa yang terjadi dan mendekati sumber keributan.
Ternyata Beni dan Andre yang saling menatap tajam dengan tangan Beni mencengkam kerah Andre, sedangkan Andre hanya menggunakan mulutnya untuk menyadarkan Beni.
"Jangan pernah nyakitin cewe gua! Loe bukan siapa-siapa tapi sok tau tentang kehidupan dia? Najis loe!" Ucap Andre dengan darah dari hidung yang mengalir hampir memasuki mulutnya.
"Kurang aj*r, nguji kesabaran gua loe?" Pukulan lainnya yang hendak di layangkan di mana pipi kiri Andre kembali menjadi targetnya.
"Stop! Berhenti!" Teriak Alora.
.
.
.
tbc
__ADS_1