My Secret Alora

My Secret Alora
Hidup itu..


__ADS_3

Hidup itu indah, hanya saja menjalaninya yang sulit.


-@bomy-


...


Baru sehari cerah, sore itu sepertinya langit masih merindukan bumi, semesta menangis lagi dibarengi kisah sedih lainnya yang ikut terukir. Di sana, keduanya duduk bersebelahan sembari menyeruput pelan minuman panas untuk menghangatkan tubuh mereka. Keduanya hanya duduk diam selama beberapa menit di Kafe yang agak riuh itu.


Lia dengan wajah yang sendu, begitu pula Alora yang hanya memasang ekspresi datar. Isi kepala keduanya dipenuhi ocehan tak berdasar dengan imajinasi yang menjadikan pikiran itu semakin liar.


"Lora! Gua lagi sedih!" Ucap Lia lalu menjatuhkan kepalanya ke arah sahabatnya itu.


Alora hanya membalas dengan membelai pelan rambut Lia. Di sisi lain, Lia melanjutkan kalimatnya.


"Apa jatuh cinta itu salah ya? Atau aku yang salah jatuh cinta sama orang yang nggak tepat?"


"Loe kenapa? Siapa yang loe maksud? Kak Andi?" Alora menebak.


"Iya loe bener! Gua harusnya dari awal sadar diri gua nggak pantes!" Lia yang terlihat sangat pasrah.


"Kapan gua bilang gitu? Lia! Lihat gua deh!" Alora menaikkan kedua ujung bibirnya dan terlihat manis saat Lia mengangkat kepalanya menatap sahabatnya itu, Alora melanjutkan katanya.


"Cinta nggak salah! Cuman waktu yang kurang tepat! Bagi orang biasa seperti kita, kebahagiaan adalah sebuah kemewahan. Jadi, merasa gagal dan terjatuh adalah hal yang biasa dalam hidup!"


Lia kembali merebahkan kepalanya ke bahu gadis di sisinya.


"Udah saatnya gua nyerah kali ya? Tapi kenapa dada gua rasanya sesak!" Kata Lia lalu menghela berat.


"Rasa sesak itu memang selalu menyakiti dari dalam, loe tenang aja semua akan berlalu! Nggak ada rasa sakit yang mudah kan? Sakit, ketakutan, melupakan... Walaupun sudah terbiasa melakukannya tapi selalu terasa sulit melaluinya." Alora tampak memaksakan bibirnya tersenyum walau cairan bening membendung di kedua ujung matanya.


"Okeh! Gua putuskan untuk menyerah! Orang bijak selalu tau kapan harus berhenti kan?" Lia menegakkan kepalanya seolah menemukan jalan baru.


"Gitu dong! Loe nggak cocok mode sedih! Lia harus ceria baru Lia!" Sahut Alora lalu mereka tertawa bersama.


"Oya, ada yang lebih aneh! Loe perhatiin Beni deh! Itu orang aneh banget belakangan ini nggak sih?" Lia mengerutkan dahinya saat memikirkan dan terbayang memeluknya tiba-tiba hari itu.


"Ohya? Gua nggak perhatiin sih, tapi dia jadi lebih bijak gitu nggak sih?" Alora sedikit menggaruk kepalanya yang agak gatal.


"Itulah! Yang anehnya si Beni kemarin..." kalimat Lia terhenti saat menemukan sosok yang membuatnya berdebar memasuki Kafe itu.


Pemuda itu tersenyum memamerkan wajah tampannya, dengan setelan kantornya.


"Hei Lora, Lia!"

__ADS_1


"Hai kak Andi!" Alora membalas sapaan pemuda itu. Namun Lia hanya tersenyum canggung dan berusaha tidak menatap Andi, saat jantungnya berdetak brutal.


"Tolong pelan saja wahai jantung! Gua capek! Bisa-bisa gua sesak nafas kalo gini! Kan gua harusnya lupain rasa gua! Bukan malah menjadi-jadi kayak gini!" Lia membatin sendirian tanpa menyadari Andi sudah memanggilnya dua kali.


"Lia? Loe nggak apa?" Tanya Andi.


"Huh? Ah iya!" Lia kembali tersenyum yang sebelumnya bersikap agak aneh. Namun, gadis ini langsung menghindari tatap Andi yang duduk di depannya.


"Gimana kuliah kalian?" Tanya Andi lagi.


"Yaa begitulah kak! Seperti orang-orang pada umumnya, nothing special hehe!" Sahut Alora.


"Steve gimana? Masih gangguin loe?" Andi kembali bertanya.


"Sejauh ini nggak! Lora yakin dia akan berubah. Lora kasih kesempatan terakhir buat dia untuk memperbaiki diri. Tapi.. jika memang dia tidak bisa berubah, maka Lora sendiri yang akan ambil tindakan." Gadis itu tampak serius dengan apa yang ia lontarkan.


"Lia gimana? Sampe sekarang Lia masih..." ucapan Andi langsung ditebas Lia.


"Lia udah baik-baik aja kok! Oiya panggilan darurat Lia udah balik jadi nomor Lora, Lia nggak akan ngerepotin kak Andi lagi kok!" Ucap Lia.


Namun senyum di bibir Andi seketika sirna saat pernyataan Lia itu masuk ke telinganya.


"Lora akan bahas itu juga sama Andre! Tapi Andre sibuk banget jadi nggak pernah sempat deh!" Sambung Alora lalu meminum kopi miliknya.


"Dari mana aja loe? Gua nunggu hampir satu jam! Loe niat belajar nggak?" Ucap Lia yang melampiaskan kesalnya pada Beni.


"Kita cuti aja hari ini! Mulainya minggu depan aja!" Sahut Beni yang merasa bingung padahal mereka tidak ada janji ketemu atau belajar. Setelahnya, Beni mengeluarkan hp nya lalu sibuk bermain mobile game.


Lia menyeruput air dati gelasnya namun tiba saja keselek hingga batuk. Andi langsung mengambil tisu untuk di berikan ke Lia, namun sayang malah keduluan sama Beni dengan gerakan secepat kilat langsung membantu Lia menyapu mulutnya yang terkena minumannya. Tentu hal itu sengaja dilakukan Beni untuk membuat Andi cemburu.


Namun di sisi lain, Lia yang juga merasa pergerakan Beni yang sangat tiba-tiba itu membuatnya ikut bertanya-tanya. Kenapa pemuda ini tiba-tiba sangat baik padanya.


"Loe minum aja blepotan gini! Pelan-pelan aja!" Ucap Beni setelah menyapu bibir Lia dengan tisu lalu fokus kembali pada game-nya dengan sedikit seringai kemenangan di bibirnya.


Andi yang hanya bisa menonton, langsung menurunkan tangan dengan tisu yang ia pegang kemudian diremasnya kuat lalu dilempar agak kasar ke lantai dari bawah meja itu.


...


Setelah 30 menit kemudian, akhirnya Andre juga sampai di Kafe itu, tentu untuk menjemput Alora dan mengantar pacarnya pulang.


"Loe dari mana aja?" Tanya Alora setelah Andre duduk di depannya.


"Biasa, tugas kelompok! Ohya gimana hari ini?" Sahut Andre.

__ADS_1


"Baik kok! Aman aja!" Sahut Alora lagi.


...


Tak lama, mereka memutuskan pulang karena hari hampir gelap.


Andi melirik Lia yang menghindari tatap pemuda itu. "Lia pulangnya..." kalimat Andi dipotong Beni.


"Lia loe bareng gua aja! Rumah kita searah, sekalian kita bisa bahas bisnis kita!" Pemuda ini tampak puas mempermainkan Andi.


"Okey!" Lia mengangguk pelan lalu melirik Andi yang menatapnya sembari mengikuti Beni menuju mobilnya.


Alora pulang bersama pacarnya dengan mobil Andre, sedangkan Andi harus pulang sendirian dengan mobilnya sendiri.


Di sisi lain, Fathia yang terus memerhatikan Alora sejak ia datang ke Kafe itu,  kali ini juga melirik gadis itu dengan circle pertemanannya.


"Enak banget jadi Alora! Dikelilingi cowo kaya gitu! Coba hidup gua sedikit lebih baik!" Remaja itu menghela berat nafasnya lalu kembali ke ruang staf.


"Sadar Fathi! Loe harus kerja yang bener jangan sampe si Ben ikut campur lagi! Gua nggak sudi!" Batin Fathia menggerutu sendirian.


***


Herman yang duduk di kursi kerjanya di rumahnya tiba saja mendapat chat dari pegawainya tentang Fathia yang disuruh selidiki hari itu. Tentu saja matanya terbuka lebar saat melihat foto mantan istrinya dan menemukan fakta bahwa gadis itu adalah anaknya yang dulu dibawa oleh istrinya.


"Gadis itu adalah anakku? Fathi kecilku!"


Cairan bening itu tiba saja membendung, entah bagaimana rasa rindu dan haru bahwa anak gadisnya harus se-menderita itu dan fakta bahwa ia tumbuh dengan baik juga membuatnya perannya sebagai ayah tak ia jalankan.


Herman langsung menuju kamar Beni, namun pemuda itu belum pulang ke rumah. Setelah beberapa kali mengetuk pintu kamar pemuda itu tanpa jawaban, Herman memutuskan untuk masuk dan melihat-lihat. Ia tidak pernah membayangkan kamar yang terlihat begitu gelap itu adalah milik anaknya. Kamar yang berantakan namun kosong, dan berantakan namun terkelola, semua terletak di tempatnya walau tak rapi.


Herman menuju meja belajar Beni, di mana terlihat selembar kertas putih yang telah diremas.


"Apa Beni tau Fathia adalah adiknya? Kok bisa dia menemukan Fathia begitu saja?" Pertanyaan yang keluar dari balik mulut pria paruh baya itu saat menemukan sebuah foto ketika mereka masih sangat kecil.


Akhirnya mata pria itu mengarah ke kertas kecil itu, Herman membuka kertas itu ternyata itu adalah bukti pembayaran biaya rumah sakit. Sebuah potongan teka-teki lainnya bagi Herman.


"Beni sakit? Tapi kenapa tagihannya banyak banget? Kenapa anak itu tidak pernah mau terbuka sama aku," pria berperan ayah itu akhirnya keluar dari kamar itu lalu duduk di sofa ruang tamu menunggu anaknya pulang seperti yang biasa ia lakukan.


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2