
Milan
Cler dan kedua anaknya kini sedang berjalan menuju usaha toko roti nya yang tidak jauh dari rumah mereka.
Meskipun usaha nya tidak terlalu besar tapi itu sudah mampu memenuhi kebutuhan mereka ber 3 selama di negara orang.
"selamat pagi" sapa cler pada 3 karyawannya.
"pagi nyonya"
"Hey sudah berapa kali ku bilang jangan panggil aku nyonya" tegur cler pada salah satu karyawannya.
Mereka yang ditegur hanya tertawa.
"ana apa hari ini banyak pesanan?"
"ya, lumayan banyak kau tenang saja aku dan Riri bisa mengatasinya.
Cler punya 3 orang karyawan yang ternyata juga berasal dari indonesia, awalnya cler hanya sendiri menjalankan usaha ini lalu tidak lama dia membuka sebuah lowongan pekerjaan dan datanglah ana bersama riri ingin bekerja ditempatnya, dan ada lagi satu orang namanya zara dia memang sedikit pendiam dibanding dua temannya yang lain.
Tidak jarang cler juga sering terjun langsung kedapur membantu pembuatan kue nya.
"mom apa boleh aku bermain di taman sana?" tanya zoya pada cler.
"Boleh tapi jangan lama-lama oke"
"oke mom" lalu gadis kecil itu berjalan keluar toko di iringi oleh arkan kakaknya.
Sedangkan cler kini sudah memulai pekerjaannya melihat laporan keuangan di tokonya dan juga akan membuat resep baru untuk dia kembangkan.
πΊπΊπΊπΊ
__ADS_1
"Arkan apa kita punya daddy?"
"Memang ada apa?"
"aku melihat teman-teman kita yang lain mereka semua punya daddy"
"Bagaimana kalau kita tanya mommy lagi?" katanya lagi.
"Zoya aku ingin memberi tahumu rahasia"
"Rahasia apa?"
"Apa kau mau kita bertemu daddy?"
"Tentu aku mau"
"aku pernah melihat mommy memandangi foto seseorang di dalam dompetnya, setelah mommy tidak ada aku membuka dompetnya, disana ada foto laki-laki aku yakin itu daddy kita"
"apa kau benar"
Arkan dan zoya memang sering sekali membicarakan tentang daddy mereka, pernah mereka bertanya pada cler tapi hanya di jawab daddy tidak menginginkan mereka, setelah itu mereka tidak pernah menanyakannya lagi karena takut membuat cler sedih.
"Tapi apa daddy memang tidak menginginkan kita, apa daddy benci pada mommy?"
"tidak usah di pikirkan, setelah kita bertemu dengan daddy nanti kita tanyakan saja, aku yakin daddy orang yang baik" kata arkan menepuk pundak adiknya yang tampak sedih itu.
πΊπΊπΊπΊ
Nathan keluar dari ruangannya, seperti biasa tidak ada senyum di wajahnya bahkan semua karyawannya hampir tidak pernah lagi melihat atasannya itu tersenyum dalam beberapa tahun ini.
Hari ini nathan ada janji dengan revan untuk makan siang bersama.
__ADS_1
Setelah beberapa menit dalam perjalanan akhirnya dia sampai pada sebuah restoran, dan disana sudah terlihat revan melambaikan tangan padanya.
Nathan menghampirinya..
"Pesanlah" revan menyodorkan buku menunya.
Nathan memesan makanan yang dia inginkan, setelah selesai mereka kembali berbincang.."kau sendiri?" tanya nathan
"hem, aku sempat mengajak oliv tapi dia tidak mau, kau tau sendiri semarah apa dia padamu"
"ya aku mengerti" sahut nathan
"aku juga akan melakukan hal yang sama kalau di posisi istrimu" nathan berkata lagi.
Ya oliv saat ini masih sangat membenci nathan karena telah mengusir cler, dia bahkan sangat terkejut mendengar berita itu dari revan, semenjak itu oliv enggan bertatap muka dengan nathan.
"tapi ini tidak semua salahmu" revan menepuk bahu nathan
"menurutku kalian sama-sama korban"
Nathan hanya diam enggan menanggapi ucapan revan, jelas-jelas cler lah korban sesungguhnya pikir nathan.
"hah aku bahkan merasa bersalah setiap hari" nathan menghela nafasnya.
"apa pencarianmu tidak membuahkan hasil sama sekali?" tanya revan
"aku sudah menyuruh anak buahku untuk menyisir seluruh wilayah indonesia asal kau tau, tapi tidak membuahkan hasil"
"Aku ingin sekali tahu kabarnya, apa dia masih hidup, bagaimana keadannya" nathan kembali menahan rasa sesak di dadanya.
"kau harus lebih sabar, aku yakin suatu saat kalian akan bertemu lagi"
__ADS_1
"ya semoga saja" sahut nathan
Makanan mereka datang, nathan dan revan menghentikan pembicaraannya dan mulai menyantap makanan dengan tenang.