
Drabia membuka sepatu yang melekat di kaki Ansel. Setelah pria itu terbaring sempurna di atas kasur, lalu menyelimutinya. Drabia mengulas senyumnya memperhatikan wajah Ansel yang terlelap. Sekarang dia bisa puas memandangi wajah itu tanpa takut ketahuan.
"Kamu sangat polos Ansel, pikiranmu terlalu lurus" gumam Drabia, mengelus wajah Ansel tanpa segan. Ansel yang berada di bawah pengaruh obat tidur, tak bergerak sama sekali.
Drabia yang sempat duduk di samping Ansel, berdiri hendak berjalan pergi keluar kamar. Drabia ingin ke dapur untuk makan, karna belum jadi makan siang tadi.
Ya, tadi Drabia ke restoran dimana Ansel berada, untuk makan siang bersama Lea. Drabia sudah mengirim pesan pada Ansel untuk tidak menjemputnya. Tapi sepertinya suaminya itu belum membaca Pesannya. Sehingnga Ansel kaget melihatnya saat berciuman dengan Hafshah.
Jadi Drabia curiga, jangan jangan yang pernah di lihatnya di dalam mobil Ansel.Ansel dan Hafshah sedang berciuman. Jangan jangan Ansel hanya sok suci aja. Pikiran negatif pun menyerang kepalanya.
Saat melangkah, langkah Drabia terhenti merasakn Ansel menarik lengannya. Drabia menoleh ke belakang, melihat Ansel masih menutup matanya. Ansel menarik tanganya, sehingga Drabia jatuh ke atas tubuhnya. Jantung Drabia berdegup kencang, karna hampir saja bibir mereka bersentuhan.
"Ansel" tegur Drabia, ternyata suaminya itu sudah terbangun.
"Trimaksih sudah menyelamatkanku" Ansel bergumam. Ia terbangun saat Drabia mengelus wajahnya, namun kelopak matanya terasa berat untuk di buka, karna ngantuk berat.
"Tidurlah, aku makan dulu sebentar, perutku sudah sangat lapar." Drabia berusaha berpindah dari atas tubuh Ansel. Namun Ansel menahan tubuhnya.
Ansel membuka kelopak matanya, memandangi wajah Drabia yang sangat dekat di atas wajahnya. Perlahan menarik kepala Drabia sampai membuat bibir mereka menenpel. Membuat Drabia membeku dan memejamkan mata saat Ansel mulai menyapu bibirnya dengan lembut. Jantung Drabia pun terasa berdebar kencang. Ini ciuman pertama mereka, meski Ansel sudah sering memeluknya dan mengecup ngecup pipinya.
"Ayo cium aku Drabia, jangan biarkan wanita lain mencicipi bibirku ini. Ini milikmu sayang" ucap Ansel setelah melepas ciumannya.
Drabia yang masih membeku memandangi wajah Ansel." bagiamana dengan hatimu?" tanyanya.
" Tentu milikmu juga" jawab Ansel mengecup kembali bibir Drabia.
Namun Drabia tidak percaya. Bukankah selama ini Ansel tidak pernah menyukainya. Tidak mungkin Ansel langsung jatuh cinta hanya karna mengetahui jika ia pernah menyelamatkannya.
"Kenapa aku gak percaya?" Drabia tidak bisa merasakan kalau Ansel mencintainya. Dan mungkin saja Drabia takut kecewa mengharapkan cinta Arsen, melihat sikap bagaimana sikap Ansel selama ini yang tidak pernah menyukainya.
Ansel tidak menjawab, matanya yang ngantuk kembali terpejam dan langsung pulas.
"Ansel!" Drabia yang tadinya mulai baper kembali kesal dan memukul dada Ansel dengan tangannya.
Ansel tak bergeming, Drabia pun memutuskan untuk keluar kamar dengan wajah cemberut. Drabia lapar, dia ingin makan ke dapur.
__ADS_1
"Drabia, kata Lea kalian belum makan siang. Mama tadi masak, sana kalian berdua makan."
Drabia yang baru sampai di lantai bawah rumah itu menoleh ke arah Ibu Nimas dan Lea yang duduk di sofa ruang keluarga.
"Iya Ma" wajah Drabia nampak cemberut.
"Kenapa wajahmu cemberut?" tanya Lea, berdiri dari tempat duduknya mendekati Drabia.
"Iya sayang, ada apa?" sambung Ibu Nimas, melihat wajah Drabia muram.
Drabia menggeleng, dia tidak benaran merajuk, hanya saja sedikit kesal dengan Ansel.
Drabia dan Lea pun pergi ke dapur untuk makan. Selesai makan, Lea pun berpamitan pulang, karna dia harus mengurus toko kue milik keluarganya. Karna Drabia sudah tidak bekerja lagi.
"Aku pulang dulu ya" pamit Lea memeluk sahabatnya itu.
"Trimakasih, sudah mau di repotkan" ucap Drabia.
"Itu sudah biasa, kau memang sangat sering merepotkan" balas Lea.
Drabia hanya mengulas senyumnya.
"Ya sudah, aku pergi dulu, bay.!" Lea pun melangkahkan kakinya keluar dari rumah mertua sahabatnya itu, masuk ke dalam mobil miliknya dan langsung melajukannya.
Drabia yang melihat sahabatnya itu sudah pergi, langsung menutup pintu rumah. Drabia akan kembali ke kamar untuk melihat keadaan Ansel.
Namun langkah Drabia terhenti saat mendengar samar samar suara seseorang berbicara sangat pelan dan hati hati. Drabia mengernyitkan keningnya mencoba menguping pembicaraan orang yang berada di kamar bawah tangga rumah itu.
"Singkirkan Pak Ilham, sudah cukup aku membiarkan dia menguasai perusahaan suamiku. Kalau bisa habisi dia, untuk masalah putrinya biarkan itu menjadi urusanku."
Sontak Drabia kaget dan langsung menutup mulutnya mendengar apa yang di katakan wanita itu. Ibu Nimas, Drabia tidak percaya apa yang di katakan Ibu mertuanya pada seseorang di balik telepon.
Menyingkirkan Ayahnya dari perusahaan, oke, mungkin itu tidak terlalu masalah. Tapi sampai akan menghabisi Ayahnya. Drabia menggeleng gelengkan kepalanya. Ternyata mertuanya hanya pura pura baik dan menyayanginya.
Drabia pun mengurungkan niatnya untuk kembali ke dalam kamar, dan memilih keluar dari rumah itu. Drabia harus segera menemui Ayahnya. Dia akan memberitahu Ayahnya dengan rencana Ibu Nimas yang akan menghabisi Pak Ilham.
__ADS_1
Ternyata bukan hanya Kevin, Hafshah dan Irham yang membuat masalah di dalam hidupnya, tapi Ibu Nimas yang paling dekat dengannya juga adalah musuhnya.
Sampai di depan gerbang, Drabia langsung menyetop ojol yang kebetulan lewat, memesannya secara manual.
"Celat jalan Pak" suruh Drabia dengan napas memburu. Bukan karna berlari melainkan karna detak jantungnya yang memburu dan dadanya yang sesak, ditambah kekawatirannya kepada sang Papa.
"Kemana Mbak?" tanya si tukang ojol langsung melajukan motornya. Drabia pun menyebutkan alamat tujuannya.
Si tukang ojol pun mengarahkan motornya ke alamat perusahaan tempat Pak Ilham bekerja. Sampai di sana, Drabia langsung turun.
"Ongkosnya Mbak!" seru si tukang ojol karna Drabia lupa membayar ongkos.
Sontak Drabia menghentikan langkahnya dan menepuk keningnya."Astagfirulloh" gumamnya. Lebih parah lagi, ternyata Drabia tidak membawa dompet dan uang sama sekali.
"Sebentar Pak" tidak ada pilihan, terpaksa Drabia meminjam uang ke Pak Satpam yang berjaga di gerbang perusahaan.
"Pak minjam duit dua puluh ribu, nanti Ayah akan menggantinya dua kali lipat" ujar Drabia pada si Pak Satpam.
"Yang kemarin kemarin aja gak pernah diganti Non" ujar si Pak Satpam, namun tak berani menolak permintaan putri dari salah satu bos perusahaan itu.
Dari kecil, Drabia sering kali memalak si Pak Satpam yang satu itu, untuk membeli jajanan lewat di depan perusahaan, dan banyak alasan lainnya.
" Ck! kasihan si Pak ojeknya menunggu lama, dia mau ngejar target lagi" decak Drabia. menggeledah saku seragam si Pak Satpam yang sudah hampir pensiun itu.
"Nah! ini dia, nanti pasti kuganti" Drabia tersenyum setelah menemukan uang dua puluh ribu di saku baju si Pak Satpam, dan langsung memberikannya pada ai Bapak Ojol.
Setelah menyerahkan ongkosnya, Drabia langsung berlari masuk ke dalam gedung perusahaan menuju ruang kerja Ayahnya.
Buar!
Tanpa sadar Drabia membuka kasar ruang kerja Pak Ilham, sehingga membuat Pak Ilham hampir copot jantungnya.
Drabia menghela napas kasar, dan bernapas ngosngosan melangkah ke arah meja Pak Ilham.
"Ada apa Nak?"
__ADS_1
*Bersambung