
"Kamu mimpi apa? Hm!" tanya Ansel membantu Drabia kembali berbaring.
"Aku masuk penjara dan kamu menikah lagi tangis Drabia kembali.
Lalu ia teringat dengan kejadian di sebuah ruang perawatan di rumah sakit itu. Dimana pria bernama Kevin itu menyuntik lengannya, kemdian Drabia menarik jarum suntik itu, dan menusukkannya ke senjata pria itu.
"Ssst! kamu gak akan masuk penjara sayang. Dan aku gak akan menikah lagi apa pun yang terjadi" ucap Ansel menghapus air mata istrinya itu.
Drabia menghentikan tangisnya, ia pun teringat dengan mimpinya, mereka memiliki anak cewek.
"Aku mimpi kita punya anak cewek" Drabia berbicara manja dengan bibir atas disembunyikan.
Ansel mengulas senyumnya sambil tangannya merapikan jilbab bagian depan Drabia.
"Masa sih?"
Drabia mengangguk anggukkan kepalanya bersedih karna hanya berada dalam mimpi. Ansel pun mengecup kening Drabia tanpa bisa melunturkan senyumnya.
"Kamu kenapa senyum senyum?. Padahal nasibku sedang terancam." Drabia memandang wajah Ansel, cemberut.
Dia kan sudah membunuh seseorang, pasti setelah ini dia akan berurusan dengan polisi dan pengadilan. Apa iya, suaminya itu senang dia masuk penjara, lalu suaminya itu menikah lagi seperti di dalam mimpinya.
"Masa aku gak boleh senyum?" tanya balik Ansel, tersenyum dengan wajah berbinar cerah. Lalu mengecup ngecup pipi Drabia yang tidur di sampingnya.
"Kamu senang kan aku masuk penjara?" Drabia kembali menangis.
"Hei! siapa yang akan memenjarakanmu?." Ansel menarik dagu Drabia supaya melihat ke arahnya.
"Aku sudah membunuh orang" ucap Drabia dalam tangisnya.
"Kevin masih hidup, hanya saja si otongnya di pastikan sudah tidak berpungsi lagi. Dan dia malah yang akan masuk penjara. Kamu melukainya untuk melakukan perlawanan membela diri" jelas Ansel, menepis cairan bening dari pipi istrinya itu.
"Benaran?" Drabia ikut menghapus air matanya. Ansel menganggukkan kepalanya.
"Ayah? bagaimana dengan Ayah dan Mama April?." seketika raut wajah Drabia berobah kawatir.
Ansel mengerutkan keningnya," Emang Ayah kenapa?."
Karna Drabia pingsan begitu juga dengan Kevin. Mereka berdua belum bisa di mintai keterangan. Penyidik dan pihak rumah sakit masih mengandalkan dugaan mereka terkait obat bius yang di suntikan Kevin ke tubuh Drabia.
__ADS_1
"Kevin menyandra Ayah dan Mama April. Untuk mengancamku supaya aku meninggalkanmu. Kalau aku gak mau ikut dengannya, dia akan membunuh Ayah sama Mama" jawab Drabia.
Ansel terdiam memandangi wajah Drabia. Begitu gilanyakah Kevin mencintai Drabia?. Hati Ansel terasa terpukul mengingat dia pernah ingin membuang Drabia dari hidupnya. Namun ada laki laki lain yang menggilai istrinya.
" Ansel tolong selamatkan Ayah" mohon Drabia.
Ansel tersadar dari lamunannya, lalu mengangguk. Ansel pun segera meminta batuan Ciko dan Dafa. Karna Ansel harus menjaga Drabia di rumah sakit.
Di ruang perawatan lain, Kevin menangis berteriak teriak melihat si otonngnya di bungkus perban. Ukurannya terlihat sangat besar. Sepertinya mengalami pembengkakan setelah operasi.
"Rasain! makanya jangan serakah sama perempuan. Istri orang pun ingin kamu embat" ujar Arsyfa, mantan istri Kevin.
"Seharusnya aku menikahi Drabia dari dulu. Tapi kamu menjebakku, supaya aku menikahimu" balas Kevin, tangannya tidak lepas memegang senjatanya yang besar.
"Aku menjebakmu? gak salah?" Arsyfa tidak terima." Kau yang megejar ngejarku. Kamunya aja yang serakah ingin bisa memiliki semua perempuan."
"Itu karna kamu enggan melayaniku" bela Kevin.
Arsyfa berdecih," seharusny kamu koreksi diri, bukan malah mencari kesalahanku. Tapi ya sudahlah, gak perlu di bahas lagi. Karna kita bukan suami istri lagi. Sekarang rasain resiko perbuatanmu" ujar Arsyfa.
"Mungkin kalau tidak seperti ini, kamu tidak akan bertaubat. Tapi sayang, senjatamu diponis tidak bisa berpungsi normal lagi. Siapa wanita yang mau sama kamu lagi?" tambah Arsyfa.
Pintu ruangan itu tiba tiba terbuka dari luar. Kevin dan Arsyfa sama sama menoleh ke arah pintu. Ternyata Ansel dan Drabia yang datang.
"Selamat malam Pak Kevin?" Sapa Ansel tersenyum melihat Kevin terdiam.
Ansel menyunggingkan bibirnya ke samping." Itu hukuman yang pas untuk penjahat k*lamin sepertimu."
Kevin masih membeku, amarah dan dendam semakin bergemuruh di dadanya, karna Drabia sudah membuat senjatanya lumpuh. Namun saat ini dia tidak bisa berbuat apa apa. Ingin balas dendam, nasibnya belum tau seperti apa.
"Dimana kau menyandra Ayahku?" tanya Drabia tanpa basa basi. Memang maksud tujuan mereka mendatangi Kevin untuk menanyakan hal itu.
Kevin tersenyum miring," aku tidak akan memberitahunya."
"Oke!" Drabia mengambil tiang infus di samping brankar, siap memukulkannya ke si otong.
Kevin pun refleks melindugi si otong dengan tangannya.
"Kasih tau dimana?" ancam Drabia, mengangkat tinggi tiang infus di tangannya, siap memukulkannya ke si otong.
__ADS_1
"Iya iya iya" Ternyata wanita cantik itu sangat seram ketika marah." Di rumahnya di dalam gudang" jawab Kevin.
Ansel segera menghibungi Ciko, menyuruh Ciko untuk memastikannya ke sana.
"Cik, periksa gudang di rumah Ayah" ujar Ansel pada sahabat yang selalu siap membantunya.
"Oke" balas Ciko dari sembrang telepon.
Ansel pun langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Kamu menyandra orang tau mereka?" Arsyfa tidak percaya apa yang dilakukan mantan suaminya itu.
"Hanya sedikit membuat ancaman" jawab Kevin.
Arsyfa menggeleng gelengkan kepalanya, tidak percaya." Kamu tidak memikirkan apa imbas perbuatanmu sama anak kita?. Dia pasti malu memuliki Ayah penjahat sepertimu."
Arsyfa mengehela napasnya kasar." Padahal saat kamu di penjara, aku sudah menyembunyikan aibmu pada anakmu. Tapi malah perbuatanmu semakin tidak bermoral" tambahnya.
Drabia terdiam mendengar penuturan mantan istri dari Kevin itu. Teringat mimpinya yang mempunyai putri. Drabia dan Ansel menyembunyikan keberadaannya yang berada di penjara, supaya anaknya tidak malu.
Tiba tiba handpon Ansel yang masih di genggamannya berbunyi. Ansel langsung menerina panggilan telepon dari Ciko itu.
"An! Pak Ilham dan Ibu April kondisinya tidak baik. Orang yang menyandra mereka tidak memberiny makan dan minum selama dua hari" jelas Ciko." Begitu juga dengan pembantu dan satpam rumah ini" tambahnya.
Plak!
Akhirnya tiang infus di tangan Drabia pun jatuh mengenai kepala Kevin.
Kevin meringis kesakitan. Tidak menyangka jika gadis yang di cintainya itu sangat barbar. Meski penampilannya sudah berubah anggun.
"Masih berani kau menggangguku atau keluargaku. Kuhabisi kau" ancam Drabia berbicara merapatkan gigi giginya. Lalu memukul sekali lagi kepala Kevin.
"Jangan main main dengan istriku, dia itu tidak selemah itu untuk kamu tindas" tambah Ansel menyeringai.
Meski tidak dekat dengan Drabia setelah mereka besar. Tapi Ansel mengenal seperti apa ke barbaran istrinya itu. Sangat kasar dan pemberani. Ansel aja bisa kewalahan menghadapinya, jika Drabia sudah mengeluarkan taringnya.
"Ayo sayang, kita pergi, sebentar lagi Ciko akan mengantar Ayah ke rumah sakit ini" ajak Ansel melingkarkan lengannya di leher belakang Drabia, lalu mengiringnya keluar dari ruang perawatan Kevin.
"Rasain!" ucap Arsyfa melangkahkan kakinya keluar ruangan itu. Membiarkan Kevin sendirian.
__ADS_1
*Bersambung.