
Sepeninggal Ansel, Drabia dan Pak Ilham. Dari tadi Ibu Nimas masih mematung di tempatnya berdiri. Drabia ternyata putrinya, dan Ansel anak Mutia dan Pak Hendry.
Dulu dia sengaja selingkuh, karena tidak tahan mendengar hinaan dari keluarga Hendry suaminya. Dia selalu di katakan mandul, sehingga berniat ingin mencobanya dengan laki laki lain. Berharap dia bisa hamil meski bukan anak dari Hendry suaminya.
Namun beberapa Bulan melakukan perbuatan kezi itu. Ibu Nimas tidak juga hamil dan membuatnya putus harapan. Karna tak tahan terus mendengar hinaan keluarga Hendry. Ibu Nimas pun meminta Mutia, pembantu di rumahnya untuk menikah dengan Hendry. Untuk melahirkan seorang anak untuk mereka, tanpa sepengetahuan keluarga Hendry.
Enam Bulan menjalani rumah tangga berpoligami. Mutia, tidak juga hamil. Dan sikap Mutia yang ingin menguasai Hendry, membuat Ibu Nimas tidak menyukainya. Sehingga terjadi pertengkaran antara Ibu Nimas dan Mutia. Sehingga membuat hubungan mereka tidak baik.
"Aku tidak menjebakmu Ilham. Tapi Mutia yang menjebak kita. Dia ingin rumah tanggaku dan Hendry hancur" lirih Ibu Nimas.
**
Ansel dan Drabia yang duduk di kursi penumpang belakang mobil Pak Ilham, sama sama diam dan termenung sepanjang jalan yang mereka lalui. Mereka masih sama sama shok dengan kenyataan diri mereka.
Apa lagi Drabia, dia tidak menyangka jika Ibu kandungnya adalah Ibu Nimas. Orang yang pernah menyayanginya dan sekaligus ingin meleyapkannya dengan sang Ayah.
Sampai Pak Ilham memarkirkan mobilnya di halaman sebuah rumah. Pasangan suami istri itu masih diam dengan pandangan kosong ke depan. Keduanya sudah seperti patung bernapas.
Melihat itu, Pak Ilham menghela napasnya. Ini yang di pikirkan Pak Ilham jika memberitahu kenyataan Drabia dan Ansel. Tapi memang melihat keduanya sudah dewasa dan bahkan sudah menikah, mereka berhak mengetahui silsilah mereka.
"Drabia, Ansel, ayo turun, kita sudah sampai" ucap Pak Ilham. Namun kedua anak manusia itu masih tak sadar dari lamunan keduanya.
Pak Ilham pun membuka pintu di sampingnya, lantas turun dan membuka pintu di samping Ansel.
"Ansel" panggilnya menepuk bahu anak muda itu.
Ansel tersadar dan langsung menoleh ke arah Pak Ilham yang membungkuk ke arahnya.
"Bawa istrimu keluar dari dalam mobil" ucap Pak Ilham lagi.
Ansel masih diam, ia memutar pandangannya ke luar kaca mobil, memperhatikan rumah yang ada di depannya. Ansel tidak tau itu rumah siapa, tapi bisa menduganya kalau itu rumah Pak Ilham dan Drabia. Kemudian Ansel menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Pak Ilham melangkahkan kakinya terlebih dahulu masuk ke dalam rumah. Dan Ansel pun keluar dari dalam mobil, berjalan ke arah pintu yang ada di samping Drabia, lalu membukanya.
"Drabia, kita sudah sampai" ucap Ansel.
Drabia menoleh ke arahnya dengan wajah masih basah dengan air mata.
Hidup mereka sama sama memyedihkan, tapi Ansel harus lebih kuat, supaya bisa menguatkan Drabia. Ansel pun mengangkat Drabia keluar dari dalam mobil. Menggendong tubuh itu masuk ke dalam rumah. Meski sebenarnya Drabia bisa berjalan, dan tidak punya masalah pada kedua kakinya.Drabia yang di gendong pun, menyandarkan kepalanya ke dada Ansel.
"Dia wanita yang kejam" lirih Drabia kembali menumpahkan air matanya. Hatinya sangat sakit, mendengar wanita yang melahirkannya itu membuangnya.
"Jangan di pikirkan lagi" balas Ansel.
Sebenarnya yang lebih sedih itu, Ansel. Dia tidak punya kedua orang tua lagi. Papa dan wanita yang melahirkannya sudah tiada sejak lama. Dan keluarga dari kedua orang tuanya, Ansel tidak tau siapa.
Mungkin karna Ansel di besarkan oleh Ibu Nimas. Membuat keluarga Papanya tidak peduli padanya. Atau mungkin keluarga Papanya tidak mengetahui, kalau dia adalah anak kandung Hendry. Sehingga Ansel tidak di anggap bagian dari keluarga.
Hanya Pak Ilham lah yang tau itu semua.
"Bawa istrimu ke kamar" suruh Pak Ilham setelah di dalam rumah.
"Di atas" jawab Pak Ilham.
Dengan bersusah payah, Ansel pun menaiki anak tangga membawa Drabia di gendongannya. Hm! berat banget, apa lagi dari dua Tahun yang lalu, sepertinya tubuh istrinya itu bertambah berisi. Sedangkan tubuh Ansel bertambah kurus.
Sampai di depan pintu kamar Drabia,Ansel terpaksa menurunkan istrinya itu, karna tak bisa membuka pintu. Setelah terbuka, mereka pun masuk. Ansel langsung menutup pintunya dan menguncinya rapat rapat.
"Drabia" panggil Ansel mengangkat kembali tubuh istrinya itu, membawanya ke tempat tidur, meletakkannya dengan sangat hati hati. Kemudian Ansel membaringkan tubunya di samping Drabia. Memeluk tubuh itu erat, seperti takut akan kehilangan. Mereka pun kembali sama sama terdiam dengan pikiran masing masing.
Pak Ilham sendiri, ia pun duduk termenung di samping istrinya yang tidur terlelap di atas ranjang. Setelah dua puluh Tahunan menyimpan rahasia itu sendiri. Kini Pak Ilham merasakan dadanya plong, setelah memberitahu kebenaran itu.
**
__ADS_1
Pagi menjelang, mendengar waktu subuh berkumandang. Drabia terbangun dari tidurnya. Meski matanya masih sangat ngantuk karna kurang tidur semalaman, ia harus tetap bangun untuk menjalankan kewajibannya sebagai hamba Allah.
Drabia membuka kelopak matanya, lalu memejamkannya kembali saat melihat samar samar wajah tampan di atas wajahnya.
"Pagi!" sapa pria yang terjaga itu semalaman.
Kembali Drabia membuka kelopak matanya, memastikan kalau pria tampan di sampingnya itu, suaminya.
Ansel mengulas senyumnya, lalu mengecup pipi Drabia dari samping. Ansel pun mengangkat satu tangannya, membelai lembut wajah cantik Drabia.
"Kita mulai semua dari awal ya. Bagaimana pun masa lalu kita, aku rasa kita tidak perlu memikirkannya lagi. Yang perlu kita pikirkan, bagaimana kita ke depannya." Ansel menjeda kalimatnya, memandang Drabia penuh cinta." Sekarang aku baru sadar, jika masa lalu itu adalah sebuah pembelajaran. Baik itu masa lalu yang buruk ataupun yang baik. Semua itu adalah proses hidup untuk mendewasakan manusia" lanjut Ansel.
Drabia diam membalas pandangan Ansel, memilih mendengarkan apa yang akan di katakan Ansel selanjutnya.
Ansel mengembil sebelah tangan Drabia, lalu mengecupnya."Trimakasih sudah kembali." Ansel mengecup punggung tangan di genggamannya itu lagi." Aku minta maaf telah pernah menyakitimu, menghinamu sangat rendah. Telah berprasangka buruk padamu. Aku minta maaf Drabia."
Drabia menganggukan kepalanya pelan, sembari tersenyum.
"Aku mencintaimu" ucap Ansel, lagi mengecup punggung tangan istrinya itu. Kali ini mengecupnya cukup lama.
"Yakin?"
Drabia masih ragu dengan cinta suaminya itu.
"Katakan, bagaimana caranya aku membuktikannya sayang" ucap Ansel, tak melepas bibirnya dari tangan Drabia.
Drabia semakin mengulas senyumnya, wajahnya nampak berbinar senang. Ini pernikahan impiannya. Dimana suami memperlakukannya dengan mesra. Hanya di panggil sayang aja, kebahagiaan di hati Drabia sudah membuncah.
Drabia mendudukkan tubuhnya, langsung di bantu Ansel. Drabia pun mendekatkan wajahnya ke wajah yang dari tadi duduk di sampingnya. Perlahan Drabia memberanikan diri mengecup bibir Ansel sekilas. Kemudian tangannya membelai wajah tampan suaminya itu.
"Jadilah Imamku, tuntun aku mendekat pada sang khalik. Jadikan aku istri yang soleha di sampingmu" ucap Drabia dengan air mata menetes dari sudut matanya.
__ADS_1
Tanpa aba aba Ansel pun mencium mesra bibir istrinya itu. Melepaskan kerinduannya selama dua Tahun ini.
*Bersambung