
Ansel melangkahkan kakinya gontai masuk ke dalam mobilnya, duduk termenung terus berpikir apa yang membuat Drabia dan Pak Ilham pergi tanpa memberi alasannya. Sehingga tak sadar hari beranjak pagi, Ansel masih berdiam diri di dalam mobilnya dengan pandangan kosong.
Pasti ada penyebab Pak Ilham dan Drabia pergi, itu yang ada di pikiran Ansel.
Saat matahari mulai memancarkan sinarnya, Ansel baru melajukan kenderaannya dari pekarangan rumah Pak Ilham. Ansel tidak pulang ke rumah, memilih pergi ke perusahaan. Mungkin dari sana dia bisa mendapatkan jawaban kenapa Pak Ilham pergi.
Sampai di perusahaan, Ansel langsung masuk ke ruang kerja Pak Ilham. Namun dia tidak menemukan apa apa di sana, selain properti perusahaan.
Ansel menghela napasnya lantas keluar dari ruangan itu, dan masuk ke dalam ruangannya. Sampai di ruangannya, Ansel langsung membuka laptop di meja kerjanya. Ingin melihat rekaman cctv di ruangan Pak Ilham. Mungkin Ansel bisa menemukan petunjuk di sana.
Namun sayang, rekaman cctv di ruangan Pak Ilham terhapus. Itu artinya ada yang menghapusnya, Siapa?.
Ansel beranggapan pasti yang menghapusnya adalah Pak Ilham, untuk menghilangkan jejak suatu masalah.
"Apa yang terjadi Drabia?" gumam Ansel mencoba untuk tenang supaya bisa tetap berpikir jernih untuk mencari alasan kenapa Drabia dan Pak Ilham menghilang, meski hatinya terasa perih, di tinggal saat sayang sayangnya.
"Ansel, apa yang terjadi?"
Ansel langsung menoleh ke arah Dafa dan Ciko yang baru masuk ke ruangannya.
Tadi sebelum berangkat ke perusahaan, Ansel mengubungi kedua sahabatnya itu, menceritakan Pak Ilham dan Drabia yang pindah tanpa berpamitan.
"Aku juga gak tau alasan kenapa mereka pergi. Makanya aku mau meminta tolong sama kalian untuk mencari mereka tanpa sepengetahuan siapa pun" ucap Ansel.
"Masa iya gara gara kamu berciuman dengan si Riska, Drabia dan Pak Ilham marah dan langsung pergi menghilang?" ucap Ciko dengan pikirannya.
"Kamu udah menghubungi Lea?. Mungkin dia tau kemana Drabia pergi"tanya Dafa. Mengingat Lea adalah sahabat Drabia.
"Itu akan percuma, meskipun Lea tau, dia tidak akan memberitahunya" desah Ansel pasrah.
Dafa dan Ciko pun sama sama diam, membantu Ansel berpikir. Kira kira apa yang membuat anak dan Ayah itu kabur. Dan kemana kira kira mereka kabur?.
"Rekaman cctv ruangan Pak Ilham terhapus. Ada yang menghapusnya" ucap Ansel berhasil membuat Dafa dan Ciko menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Coba periksa rekaman cctv diseluruh gedung ini" usul Ciko.
Ansel langsung melakukannya, tadi pikirannya tidak sampai kesana. Ternyata semua rekaman cctv semalam terhapus.
"Semua rekaman cctv semalam di hapus" ucap Ansel." Tolong kalian cari tau apa yang terjadi di perusahaan ini, cari siapa yang menghapus jejak rekaman cctv di setiap sudut ruangan ini" perintah Ansel.
"Istirahatlah, tenangkan pikiranmu, kami pasti membantumu mencari tau alasan Pak Ilham dan Drabia menghilang. Kami juga akan membantumu mencari mereka" ujar Dafa.
"Iya, kami akan membantumu" sambung Ciko.
"Aku pulang dulu, aku titip perusahaan" pamit Ansel berdiri dari tempat duduknya. Kepalanya pusing, dia tidak akan bisa bekerja dengan pikiran yang kacau balau.
Dafa dan Ciko pun mengikuti Ansel keluar dari ruangan itu.
Sampai di rumah, Ansel melangkahkan kakinya gontai masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu sudah ada Ibu Nimas menunggunya dari tadi.
"Bagaimana, Drabianya di sana?" Ibu Nimas menghampiri Ansel yang baru masuk, bertanya dengan raut wajah cemas.
"Mereka pergi Ma, tidak akan kembali lagi" jawab Ansel lantas menghambur memeluk Ibunya, Ansel menangis." Seharusnya aku gak pernah menyakiti Drabia Ma. Mungkin mereka masih sakit hati atas sikap Ansel" isak tangis Ansel di dalam pelukan Ibu Nimas.
'Bagus deh mereka pergi sendiri. Aku rasa semalam Drabia mendengar pembicaraanku. Dan bagus juga Ansel mengira, mereka pergi karna masih sakit hati' batinnya.
Ansel melepas pelukannya dari tubuh Ibu Nimas dan menghapus air matanya." Aku harus mencari mereka Ma. Aku gak mau kehilangan Drabia dan Pak Ilham. Mereka sudah baik sama kita Ma."
"Iya sayang" balas Ibu Nimas.
"Aku ke atas dulu Ma. Nanti sore aku akan berangkat mencari mereka"pamit Ansel. Ia butuh istirahat sebentar, supaya nanti ia punya tenaga mencari Drabia dan Pak Ilham.
"Jangan sendiri, bawa temanmu setidaknya satu orang" seru Ibu Nimas dari bawah tangga.
"Iya Ma" balas Ansel yang masih di pertengahan tangga.
Meski tidak tau kemana Drabia dan kedua orang tuanya pergi, Ansel akan mencarinya sendiri sampai ketemu.
__ADS_1
Ibu Nimas menyunggingkan bibirnya ke samping. Lalu membuka layar ponselnya, mengirim pesan pada seseorang.
Sampai di kamarnya, Ansel membaringkan tubuhnya di atas kasur, dan langsung memejamkan matanya, tapi langsung membukanya saat mendengar handphonnya berbunyi dari dalam saku celananya. Ansel mengeluarkan handphonnya dan langsung menerima panggilan telepon tersebut.
"Halo Cik!" sapa Ansel, ternyata temannya Ciko yang menelepon.
"An, aku menemukan informasi dari Pak Munir, Satpam yang berjaga. Semalam Drabia datang ke perusahaan dengan wajah panik dan terburu buru. Tak lama kemudian, Drabia dan Pak Ilham sama sama meninggalkan perusahaan, dan tidak kembali lagi" lapor Ciko.
Ansel terdiam menelaah apa yang di katakan Ciko. Pak Ilham dan Drabia meninggalkan perusahaan siang hari. Berarti itu artinya semalam Drabia meninggalkannya saat tidur, untuk pergi ke perusahaan. Ada apa? bukankah mereka lagi tidak ada masalah?. Kenapa Drabia pergi tanpa mengatakan apapun padanya?.
"Cari tau informasi lainnya. Nanti sore kita berangkat. Temani aku mencari Drabia dan Pak Ilham" ujar Ansel lemah.
Dia harus menemukan orang yang berarti buat hidupnya itu. Sampai ke hujung Dunia sekali pun, Ansel akan mencari Drabia.
"Baklah, nanti aku kabari lagi" balas Ciko, mematikan sambungan teleponnya.
Ansel kembali memejamkan matanya untuk istirahat meski sulit untuk tertidur.
**
Di dalam kamar lantai bawah rumah itu. Ibu Nimas sedang berbicara lewat telepon kepada seseorang. Ibu Nimas tidak akan membiarkan Ansel mencari Drabia. Ia pun menyuruh seseorang untuk menghalangi Ansel.
"Lakukan sesuatu yang membuat Ansel tidak mencari Pak Ilham dan Drabia. Halangi jalannya, tapi ingat! jangan melukai putraku" ujar Ibu Nimas.
"Baik bos!" patuh orang itu.
"Hm! nanti sore dia akan berangkat, ikuti dia kemana pun pergi" ucap Ibu Nimas lagi.
"Siap, yang penting bayarannya dulu" pria di balik telepon menyeringai.
"Okeh, nanti saya transfer uang mukanya. Kalau pekerjaan kalian beres, baru saya lunasi sesuai kesepakatan" tegas Ibu Nimas berbicara merapatkan gigi giginya. Belum melakukan apa apa, suruhannya itu sudah meminta uang.
Sambungan telepon pun terputus, Ibu Nimas yang melakukannya.
__ADS_1
"Dari dulu, seenaknya kamu mengatur hidupku dan anakku. Sekarang tidak lagi, aku akan menyingkirkan kalian dari kehidupanku dan anakku" gumamnya menegaskan pandangannya, seolah olah Pak Ilham dan Drabia ada di depan matanya.
*Bersambung