My Wife Drabia

My Wife Drabia
62. Narsis


__ADS_3

Sepeninggal Ansel, Drabia dan Arsyfa. Kevin memandangi si otong penuh ke sedihan. Apa gunanya sekarang, jika si otong tidak bisa menunjukkan ke jantananny lagi.


"Lebih baik aku mati, lebih baik aku mati ! Aaaa..!!!" Kevin berteriak seperti orang tidak waras, tidak terima dengan nasib si otong.


Mendengar teriakannya sampai ke meja piket perawat. Para perawat yang berada di meja piket, langsung berlarian ke ruangan Kevin. Lansung menyuntik Kevin dengan bius, melihat Kevin ingin bunuh diri. Kemudian mengikat kedua kaki dan tangan Kevin ke pinggir brankar.


**


Di ruang perawatan lain. Setelah Dokter selesai memeriksa kesehatan Pak Ilham dan April. Kini Drabia menyuapi sang Ayah memakan bubur yang yang di siapkan pihaj rumah sakit.


Pak Ilham memang tak kenapa kenapa, hanya lapar dan haus aja, begitu juga dengan April.


"Ayah kenapa bisa lalai seperti itu?" tanya Drabia sambil menyuapi Pak Ilham.


"Ayah pas lagi tidur, semua pembantu tidur. Terbangun, kami sudah berada di gudang semua" jawab Pak Ilham.


Drabia mengehela napasnya kasar. Kevin selalu mengandalkan obat bius untuk melumpuhkan mangsanya.


Selesai menyuapi Pak Ilham makan. Drabia pun berpindah ke brankar sebelahnya, untuk menyuapi April. Drabia mengulas senyumnya saat akan menyuapkan bubur ke mulut April.


"Ma, makan ya" ucap Drabia lembut.


Perlahan April pun membuka mulutnya menerima suapan dari Drabia. Dan air mata pun luruh tak terbendung dari sudut matanya. Drabia masih mau mengurusnya, padahal selama ini dia tidak pernah peduli dengan anak sambungnya itu.


"Maaf" lirih April.


"Drabia yang salah sama Mama. Drabia telah membuat Mama kehilangan adik Drabia sendiri, karna kecerobohan Drabia" balas Drabia.


April menghapus air matanya, lalu mengangguk.Drabia mengulas senyumnya, kemudian menyuapi April lagi dengan bubur.


**


Setelah keadaan Pak Ilham, April dan pembantu rumah mereka membaik. Kini mereka sudah pulang ke rumah masing masing.


"Hati hati jalannya Drabia" ucap Ansel melihat Drabia berjalan cepat ke arah pintu.


Drabia menghentikan langkahnya menoleh ke arah Ansel yang baru menutup pintu mobilnya.


"Kenapa? memang jalanku seperti ini kan?" tanya Drabia. Perasaannya jalannya biasa aja, seperti itu dari dulu.


Ansel mendekati Drabia, menuntun wanita itu berjalan seperti orang sakit." Mulai sekarang kamu harus berjalan pelan lelan, okeh!" Ansel mengulas senyumnya pada Drabia.


Drabia menaikkan kedua alisanya, bingung." Kamu memperlakukanku seperti orang sakit" ujarnya.

__ADS_1


Ansel tidak menjawab, malah mengangkat tubuh Drabia, membawanya berjalan menaiki tangga rumah itu. Drabia senang, ia pun merekahkan senyumnya ke wajah Ansel, Ansel sangat romantis.


Sampai di dalam kamar, Ansel pun membaringkan tubuh Drabia di atas kasur dengan sangat hati hati. Kemudian menyusul, lalu menyingkap baju gamis istrinya itu ke atas, lalu mengecupi perut istrinya itu tanpa aba aba.


"Ikh ! Ansel" Drabia mendudukkan tubuhnya, heran dengan sikap aneh suaminya itu.


"Baring aja, aku hanya ingin mencium cium perut kamu" ujar Ansel tersenyum.


"Iya, awalnya perut, lama kelamaan nanti merambat kemana mana" ujar Drabia. Tubuhnya terasa lelah karna menjaga Pak Ilham dan April di rumah sakit. Drabia pengen istirahat sebentar sebelum sore menjelang.


Ansel pun berhenti menciumi perut istrinya itu dan kembali merapikan baju Drabia yang tersingkap. Kemudian berpindah mengecupi seluruh wajah istrinya itu sampai habis.


"Ansel, kamu kenapa sih?" heran Drabia.


Kenapa suaminya itu, sikapnya aneh banget. Dari rumah sakit, senyum senyum terus.


"Kenapa emang?" tanya balik Ansel, terus mengecup ngecup pipi Drabia.


"Kamu aneh" jawab Drabia, meski sebenarnya ia senang dengan keanehan suaminya itu.


"Aneh gimana? Hm!" Ansel berpindah mengecup ngecup bibir Drabia.


"Dari kemarin senyum senyum terus. Nyampe di rumah nyium nyium perutku. Sekarang nyium nyium wajahku."


"Gak boleh sayangku?"


"Aneh aja, gak biasanya begitu" jawab Drabia.


Ansel kembali mendudukkan tubuhnya, membiarkan Drabia dibatas pangkaunnya. Lalu membuka kain yang menutup kepala istrinya itu.


"Aku lagi sedang jatuh cinta" ucap Ansel.Drabia mengulas senyumnya." Aku jatuh cinta sama kamu Drabia." Ansel menarik tangan Drabia, meletakkan telapak tangan itu di dadanya." Dari kemarin jantung di dalamnya berdegub sangat kencang sayang. Hati ini jatuh cinta sama kamu. Aku baru merasakan ini Drabia. Seumur hidupku, jantung ini tidak pernah berdetak kencang seperti ini. Dada ini tidak pernah sesak seperti ini" ungkap Ansel.


Drabia terdiam memandangi wajah Ansel begitu intens. Ansel mengaku jatuh cinta padanya, setelah pernikahan mereka berusia hampir tiga Tahun.


"Apa yang membuatmu jatuh cinta padaku Sekarang?. Jadi selama ini kamu tidak mencintaiku?" tanya Drabia.


"Aku mencintaimu, tapi saat ini aku sedang jatuh cinta sama kamu" jawab Ansel lalu mengecup bibir Drabia sekilas.


Drabia pun mengangkat kedua tangannya, meletakkannya di kedua sisi wajah Ansel. Lalu mendekatkan wajahnya, mencium benda kenyal yang menggoda itu dengan rasa cinta. Ansel pun refleks memejamkan matanya, perlahan membalas sapuan lembut di bibirnya.


**


"Sayang! kok kamu memasak?" tanya Drabia yang bari masuk ke dapur. Tadi pas bangun tidur, Ansel sudah tidak ada di sampingnya. Gak biasanya suaminya itu bangunnya cepat sekali. Dan sekarang malah suaminya itu menyiapkan sarapan pagi pagi buta.

__ADS_1


"Duduklah, biarkan aku yang menyiapkan makan pagi untuk kita" ujar Ansel sibuk memasukkan bumbu dan bahan masakan ke dalam kuali anti lengketnya.


"Masak apa?" tanya Drabia mendekati kompor.


"Ikan mas arsik kesukaanmu" jawab Ansel.


"Kamu tau bumbunya?" air liur Drabia langsung berdesir melihat ikan yang rasanya asam, pedas gurih di dalam kuali. Padahal kompornya belum di hidupin. Tapi Drabia sudah bisa membayangkan ikan mas itu, sudah masak.


"Nanya Ayah" jawab Ansel.


"Makasih suamiku" Drabia memeluk tubuh Ansel.


"Senangkan punya suami tampan, dan pintar masak" balas Ansel memuji diri sendiri.


"Narsis" ledek Drabia.


Ansel pun mengangkat tubuh Drabia, mendudukkannya di samping kompor yang sudah menyala.


"Kenyataannya seperti itu" ucap Ansel tersenyum tampan.


"Hm baiklah, kamu benar. Suamiku memang tampan, tapi kalau pintar masak aku belum yakin" balas Drabia.


"Kita buktikan saja nanti" ujar Ansel mengecup bibir istrinya itu.


Masakannya tidak perlu di aduk aduk, jadi mereka bisa bermesraan menunggu ikan mas arsik itu matang sampai mengering.


"Aku butuh air hangat, akhir akhir ini perutku terasa tidak enak" ucap Drabia.


"Aku sudah menyiapin susu untukmu" Ansel meraih gelas susu yang tidak jauh dari jangkauan tangannya, lalu meminumkannya pada Drabia.


"Susu apa ini, kenapa rasa mangga. Emang ada?" tanya Drabia setelah meminum susu yang di berikan Ansel.


"Buktinya ini ada" Ansel mengulum senyumnya.


"Siapa yang beli?" tanya Drabia heran.


"Siapa lagi kalau bukan aku" Ansel meminumkannya lagi susu di tangannya ke mulut Drabia." Enak?" tanyanya melihat Drabia menyukai susunya.


"Lumayan" jawab Drabia, Ansel pun menyesep sedikit susu itu.


"Baguslah kalau kamu suka"ucap Ansel, tangannya mengusap lembut perut Drabia.


*Bersambung

__ADS_1


#Baca karya baruku juga ya. berjudul di bawah ini.



__ADS_2