
Sore hari, Ansel sudah rapi dengan pakaian di tubuhnya. Dia sudah siap berangkat mencari istri dan mertuanya. Meski bingung harus mencari kemana lebih dulu. Dengan tekat yang bulat, ia yakin akan bisa menemukan istri dan mertuanya.
Ansel menghela napasnya sambil memandangi photo nikahnya dengan Drabia. Yang baru dia gantung di dinding semenjak dua hari yang lalu.
"Drabia, kamu kemana?. Kenapa gak berpamitan?. Kamu masih marah sama aku?. kamu menghukumku Drabia?" lirih Ansel.
Ansel pun keluar dari dalam kamarnya menuruni tangga ke lantai bawah. Sampai di lantai bawah, Ansel melangkah ke arah kamar Ibunya untuk berpamitan.
"Ma!" panggil Ansel sambil mengetok daun pintu di depannya.
Tak lama kemudian, pintu itu terbuka dari dalam, Ibu Nimas keluar.
"Aku pergi dulu Ma. Doain supaya aku berhasil menemukan mereka. Mama jaga diri baik baik ya" Ansel menyalam tangan Mama Nimas, lantas memeluknya.
"Iya sayang, pasti mama doain. semoga kamu cepat menemukan mereka" balas Ibu Nimas dengan mata berkaca kaca.
"Ansel pergi dulu Ma, Assalamu alaikum" pamit Ansel setelah melepas pelukannya dari sang Ibu.
Di depan rumah, Ciko sudah menunggunya di dalam mobil. Ansel langsung masuk ke dalam mobil, duduk di kursi penumpang depan. Dan Ciko langsung melajukannya.
"Kamu yakin mencari mereka ke kampung Pak Ilham?" tanya Ciko yang sibuk mengendara.
Ansel menghela napasnya, dia juga tidak yakin. Tapi tidak salah dia memastikannya ke sana.
Ciko menepuk pelan baru Ansel." Yakinlah, Tuhan akan membantu hambanya yang bersungguh sungguh" ucapnya menenangkan.
"Mungkin ini hukuman untukku, yang pernah tidak menerima Drabia sebagai istriku, dan pernah menginginkan dia pergi dari hidupku" lirih Ansel.
"Aku yakin mereka tidak sedang menghukummu. Mereka pergi pasti ada alasannya"balas Ciko.
Sampai di bandara, Ciko memarkirkan mobilnya dan langsung keluar dari dalam mobil, di ikuti Ansel keluar dari pintu sebelahnya. Mereka akan terbang ke kampung halaman Pak Ilham.
Setelah menempuh perjalanan udara kurang lebih dua jam. Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka dengan menggunakan kenderaan darat selama sepuluh jam.
"Jauh kali, kamu yakin Pak Ilham berasal dari desa ini?" tanya Ciko memutar pandangannya ke luar kaca mobil yang membawa mereka, setelah berhenti di depan sebuah rumah sederhana.
"Yakin" jawab Ansel membuka pintu di sampingnya dan langsung turun.
Dia mendapatkan alamat kampung halaman Pak Ilham, dari biodata Pak Ilham yang tersimpan di arsip perusahaan. Ansel yakin,alamat tempat tanggal lahir yang tertera di dalam berkas yang di lihatnya tidak salah lagi.
__ADS_1
Ansel mengarahkan pandangannya ke arah rumah di depannya. Rumah sederhana yang tidak begitu besar, tapi terlihat nyaman dan sejuk. Karna di sekitar rumah di tumbuhi bunga, dan beberapa pohon buah buahan. Ada jeruk, jamu air, jambu biji, belimbing, mangga dan rambutan. Dan di samping kiri kanan dan belakang rumah terdapat hamparan sawah yang luas.
Ansel yakin alamat yang di tujunya tidak salah lagi. Karna Ansel sempat mendengar cerita dari Pak Ilham, kalau Pak Ilham memiliki sawah yang luas di kampung halamannya.
Dengan langkah penuh harapan, Ansel pun melangkahkan kakinya ke arah pintu rumah itu. Rumah itu terlihat sunyi, sepertinya tidak ada orang. Sampai di depan pintu, Ansel mengetok pintu di depannya sambil mengucap salam.
"Assalamu alaikum"
"Ansel sepertinya rumah ini kosong" ucap Ciko yang menyusul Ansel ke teras rumah itu.
"Rumah ini terlihat bersih dan terawat. Aku yakin rumah ini ada penghuninya. Mungkin keluarga Pak Ilham. Kita bisa bertanya apakah mereka mengetahui dimana Pak Ilham dan Drabia berada" balas Ansel.
"Assalmu alaikum!"
Ansel dan Ciko langsung menoleh ke arah seorang Ibu yang menghampiri mereka.
"Walaikum salam!" balas Ansel dan Ciko bersamaan.
"Ise do hamu?, inda halak ison hamu huida " tanya Ibu itu memakai bahasa daerah.
(siapa kalian?, saya lihat kalian bukan orang sini).
"Ah maaf Bu, kami gak ngerti bahasa di sini"ucap Ansel tersenyum hambar ke arah Ibu itu.
"Kalian dari mana?" tanya si Ibu itu memakai bahasa persatuan Indonesia.
"Dari Jakarta Bu!" jawab Ciko.
"Jauh jauh dari Jakarta, kalian mau cari siapa Nak?" tanya Ibu itu lagi.
Ansel mengulurkan tangannya ke arah si Ibu itu. Si Ibu itu pun langsung menerima uluran tangan Ansel.
"Kenalkan Bu, saya Ansel" ucapnya.
"Saya Ciko Bu" Ciko pun ikut memperkenalkan dirinya.
"Kalian mau cari siapa?" tanya Ibu itu.
"Apa benar ini rumahnya Pak Nawir, Bapaknya Pak Ilham yang tinggal di Jakarta?" Ansel balik bertanya.
__ADS_1
"Benar, tapi Pak Ilham sudah lama sekali gak pernah pulang" jawab Ibu itu.
Ansel terdiam, berarti Pak Ilham tidak pulang ke kampung halamannya. Ansel tersenyum getir, tak bisa menebak kemana Pak Ilham dan Drabia pergi.
"Jadi yang menempati rumah ini siapa Bu?" tanya Ansel lagi.
"Gak ada, Nak!."
Ansel menghela napasnya pelan dari hidung." Kalau begitu kami permisi Bu, trimakasih" ucap Ansel.
"Sama sama Nak" balas Ibu itu.
Ansel dan Ciko pun kembali masuk ke dalam mobil yang membawa mereka.
"Kita kemana lagi?" tanya Ciko setelah duduk bersandar di dalam mobil.
Ansel tidak langsung menjawab, ia menarik rambutnya yang berada di ubun ubun. Kepalanya sakit, dia juga bingung harua mencari kemana Drabia dan Pak Ilham.
"Aku gak tau, tapi gak tau kenapa, perasaanku mengatakan mereka ada di kampung ini" jawab Ansel.
"Tapi sekarang kita kemana?, istirahat dimana?. Tidak mungkin kita langsung putar balik ke bandara. Itu sangat jauh, dan si Pak supir juga butuh istirahat" tanya Ciko lagi.
"Jalan Pak, cari penginapan" suruh Ansel pasa supir yang membawa mereka.
"Baik Pak" Supir itu langsung melajukan kenderaannya membawa tamu jauhnya untuk mencari penginapan yang tidak jauh dari kampung itu.
Sepeninggal Ansel dan Ciko, Ibu tadi melangkahkan kakinya ke arah belakang rumah.
"Mereka sudah pergi Pak" ucapnya pada sosok pria paru baya yang duduk di kursi santainya menghadap persawahan.
"Suruh orang tetap mengawasinya, dan memberi infomasi kalau mereka datang lagi" perintah Pak Ilham.
Yang ternyata bersembunyi di bagian belakang rumah itu. Membiarkan bagian depan rumah itu tertutup seperti lagi tidak ada orang di dalam.
"Baik Pak Ilham" patuh Ibu itu.
Drabia yang berada di dalam kamar, menghapus air matanya yang sempat tadi mengintip Ansel dari celah horden.
'Maaf Ansel, bukan maksudku untuk meninggalkanmu. Tapi aku rasa ini yang terbaik untuk kita. Aku meninggalkanmu demi Ayahku' batin Drabia.
__ADS_1
*Bersambung
**