
Setelah puas mengecupi perut buncit istrinya itu. Ansel kembali berdiri.
"Aku mandi dulu, siapin bajuku ya sayang" ucap Ansel dan langsung melangkahkan kakinya masuk ke kamar mandi.
Drabia pun menuruti permintaan suaminya dengan senang hati. Mengambil baju atasan dan pakaian lainnya.
Selesai mandi, Ansel langsung keluar dari kamar mandi, hanya memakai handuk di lilit di pinggangnya. Di lihatnya Drabia sudah rapi dengan gamis dan jilbab yang bagus. Soalnya, sore ini mereka akan pergi berbelanja perlengkapan bayi mereka.
"Ayo!" ajak Ansel setelah selesai bersiap sipa. Ansel pun mendekati Drabia, membantu istrinya itu berdiri dari pinggir kasur.
"Kita jemput Mama ya, katanya tadi dia ingin bantuin belanja" ucap Drabia setelah mereka keluar kamar.
"Iya sayang" balas Ansel.
Beberapa Bulan ini, hubungan Drabia dengan Ibu Nimas memang sudah membaik. Perlahan lahan Drabia mulai bisa menerima Ibu Nimas sebagia wanita yang melahirkannya.
"Ayah sama Mama April mau ikut juga katanya" ujar Drabia lagi, menuruni anak tangga dengan sangat hati hati, karna anak tangga di bawahnya hampir tidak bisa di lihatnya."Kata Ayah mereka langsung ke mall" ucap Drabia lagi.
Ansel yang sibuk membantu istrinya menurini anak tangga, diam saja mendengarkan.
"Lea juga katanya mau belanja" ucap Drabia lagi saat kakinta menapak di lantai bawah rumah itu.
"Kita ajak Ciko ya!" ucap Drabia lagi, kasihan si jomblo sejati yang di tolak cintanya itu jika tidak ikut kumpul bareng.
"Gak usah sayang, Ciko kan gak ada gandengannya. Masa iya, mau gandengan sama Mama" tolak Ansel. Kasihan sahabat jomlonya itu jika harus jalan tanpa gandengan.
"Iya juga sih, tapi kan lumayan buat dorong troli kalau dia ikut."
"Kamu benar sayang" kalau di pikir pikir, benar juga yang di katakan istrinya itu.
Ansel pun mengeluarkan handphon dari saku jaketnya. Lalu mendial tombol panggilan, menghubungi nomor Ciko.
"Halo Cik!" sapa Ansel setelah panggilannya di terima.
"Iya, ada apa?"
Ternyata sampai sekarang, pria yang belum beruntung itu masih berbicara cetus. Tapi bukan karna marah pada Ansel, melainkan pada Ibu bos yang menjodohkannya pada Lala.
"Nongkrong yuk!" ajak Ansel berbohong.
"Dimana?" Langsung segar otak Ciko di ajak Nongkrong. Pasti makan gratis, pikirnya.
"Di mall aja. Dafa udah berangkat bersama istrinya" jawab Ansel tersenyum.
"Kamu dan si Ibu bos udah dimana?."
"Ini segera berangkat, sudah di dalam mobil, tinggal jalan."
"Okeh! aku akan siap siap."
__ADS_1
Tlut!
Panggilan telepon itu pun lansung terputus, Ciko pelakunya.
Ansel pun melajukan perlahan kenderaannya keluar dari pekarangan rumah, menuju rumah Ibu Nimas. Untuk menjemput wanita paru baya itu.
Sampai di mall, di sana sudah ada Dafa, Lea, Pak Ilham dan April menunggu mereka. Sedangkan Ciko, katanya masih di perjalanan.
"Assalamu alaikum Yah, Ma" sapa Drabia menyalam ke dua orang tuanya.
"Walaikum salam" balas Pak Ilham dan April bersamaan.
Ansel pun melakukan hal yang sama pada kedua mertuanya itu. Sedangkan Ibu Nimas, hanya menanyakan kabar tanpa bersalaman dengan Pak Ilham.
"Apa kabar?"
"Baik" jawab Pak Ilham terdengar sedikit ketus. Membuat Ibu Nimas tersenyum masam.
Kemudian Ibu Nimas berpindah, menyalan April dan melakukan cipika cipiki yang biasa mereka lakukan setiap bertemu selama ini.
"Apa kabar?" tanya April.
"Alhamdulillah, baik dan sehat" jawab Ibu Nimas.
April mengangguk sembari tersenyum.
Mereka semua pun masuk ke dalam mall bersama sama. Mendatangi sebuah kios yang menjual perlengkapan bayi. Sampai di dalam kios, Kamu perempuan langsung mendekati grobak baju baju bayi. Sedangkan kamu pria mendudukkan tubuh bereka di kursi yang di sediakan, membiarkan para wanita itu memilah milah sesuai selera mereka.
"Terserah kamu saja. Kan kamu yang bayar" ucap Lea. Sahabatnya itu sudah janji, akan membiayai semua perlengkapan bayinya.
"Tenang aja, buat kamu apa sih yang gak. Dan juga itu ponakanku, dia juga sudah ku anggap anakku" balas Drabia.
Kurang apa lagi pengorbanan Lea padanya. Rela menikah dengan Dafa, meski tak di cintainya dulu. Supaya Dafa mau membantu Drabia dan Pak Ilham bersembunyi dari Ansel dan Ibu Nimas. Dan rela menunda kehamilan demi bisa membantu Drabia membangun perusahaan.
"Baiklah Ibu bos" Lea pun menerima baju baju yang di pilih Drabia, dan memasukkannya ke dalam troli di sampingnya.
"Bedongnya kalian maunya warna apa?" tanya Ibu Nimas, menunjukkan beberapa warna bedong pada Drabia dan Lea.
"Ambil aja semuanya Ma" jawab Drabia.
"Baiklah" Ibu Nimas pun memasukkan beberapa bedong di tangannya ke dalam troli.
Selesai berbelanja perlengkapan bayi yang banyaknya memenuhi beberapa troli. Para kaum laki laki pun berdiri dari tempat duduk mereka, siap mengantarkan belanjaan itu ke parkiran mobil. Sedangkan kamu perempuan, memutuskan untuk pergi ke sebuah tempat makan di dalam mall, di ikuti dua security wanita yang khusus mengawal Drabia.
"Lea kita makan dimana?, kamu pengen makan apa?" tanya Drabia sambil melangkah.
"Gak tau, kamu sendiri pengen makan apa?" tanya balik Lea.
"Mama, sama Mama April pengen makan apa?" pandangan Drabia beralih ke arah dua wanita paru baya yang berjalan di sampingnya.
__ADS_1
"Kami ngikut kalian aja" jawab Ibu Nimas tersenyum, sambil tangannya mengusap kepala Drabia dari belakang.
"Iya, yang perlu itu kalian dan cucu cucu kami" sambung April.
"Kita makan nasi padang aja ya, biar cepat. Adeknya sudah sangat lapar" Drabia mengelus elus perutnya. Sebenarnya dari tadi dia sudah pengen makan nasi padang. Hanya saja dia berpikir, mungkin Lea dan kedua wanita paru baya itu, pengen makan yang lain.
Tiba tiba
Duarr!
"Aaaa!!!!" Suara teriakan semua pengunjung langsung bergemuruh dan langsung berlarian, kocar kacir kesana kemari.
Bruk!
"Drabia !!" seru Lea, Ibu Nimas dan April bersamaan.
"Selamatkan anakku" lirih Drabia lalu matanya terpejam.
"Tolong!, tolong! tolong!" teriak Lea berdiri.
Namun semua dalam keadaan panik begitu, siapa yang mendengarnya. Semua sibuk berlari keluar mall.
"Ayah, apa yang terjadi, kenapa semua orang berlari keluar?" tanya Ansel langsung panik.
"Ayah gak tau, ayo kita masuk mencari mereka" ajak Pak Ilham.
Ansel mengangguk dan langsung berlari menerobos kerumunan. Namun itu tidaklah mudah, karna mereka melawan arus berlawanan.
"Drabia!" tangis Ibu Nimas, melihat Drabia pingsan di pangkuannya, darah terus mengalir dari kepalanya, meski pun Ibu Nimas berusaha menekannya.
"tolong!!" Teriak Lea, saat ini meraka berada di lantai empat mall itu. Mereka tidak bisa membawa Drabia. Selain tidak mampu mengangkatnya, lif dan tangga skalator di penuhi pengunjung.
"Tolong!!" teriak Lea sekuat tenaga, melihat darah yang mengalir dari tubuh Drabia sudah mulai mengalir di lantai.
"Lea!" sahut suara Dafa dari pintu masuk mall itu.
Lea melihatnya, betapa susahnya Dafa, Ansel dan Pak Ilham menerobos kerumunan.
"Drabia!" teriak Lea menangis.
Deg
Mendengar Lea meneriakkan nama Drabia, jantung Ansel langsuk berdetak kencang. Perasaannya mendadak tidak enak.
"Tolong Drabia!!" teriak Lea lagi.
"Drabia!" lirih Ansel, air matanya mengalir begitu saja dengan sangat deras.
Apa yang terjadi dengan istrinya.'Ya Tuhan, selamatkan istriku' batin Ansel.
__ADS_1
*Bersambung