My Wife Drabia

My Wife Drabia
75.Kritis


__ADS_3

Apa yang terjadi dengan istrinya.' Ya Tuhan, selamatkan istriku' batin Ansel.


Ansel terus menerobos kerumunan yang datang dari berlawanan arah. Begitu juga dengan Pak Ilham, Dafa dan Ciko. Tubuh mereka sering kali terdorong mundur ke belakang, karna orang orang berebut berlari keluar dari dalam mall.


"Ansel! Drabia terluka!" teriak Lea sambil menangis. Tidak bisa melakukan apa apa selain meminta bantuan.


Ansel yang mendengar Drabia terluka, semakin kawatir. Dafa dan Ciko pun membantu Ansel untuk melewati kerumunan orang yang berdesak desakan itu. Drabia terluka, Ansel harus segera sampai di lantai empat mall itu.


"Drabia!" lirih Ansel, kekawatirannya hampir saja membuat tubuhnya lemas.


"Ayo An" Dafa menarik tanga Ansel, saat mereka hampir bisa menerobos kerumunan itu. Mereka sama sama berlari ke arah lif, namun lif di dalam mall itu sedang keadaan naik ke atas.


Ansel yang tidak sabar menunggu lif itu terbuka, memutar pandangannya ke arah skalator, ternyata di penuhi orang orang juga. Ansel pun berlari ke arah tangga darurat mall itu. Ternyata di sana juga banyak orang berlarian turun.


Tidak punya cara lain lagi, Ansel pun berlari ke arah gudang mall itu. Di sana pasti ada lif khusus untuk barang barang. Sampai di dalam gudang, Ansel langsunf masuk ke dalam lif yang kebetulan kosong.


Di lantai empat gedung itu, Ibu Nimas dan April terus berusaha menghentikan darah yang mengalir dari kepala Drabia. Sampai Ibu nimas sendiri merobek lengan bajunya untuk mengikat luka itu bekas tembakan itu.


"Drabia, bertahan, Nak" lirih Ibu Nimas.


"Iya Drabia, kamu harus bertahan demi anakmu" ucap April mengusap kepala Drabia yang berada di pangkuannya.


Duar! duar!


"Aaaaaa!" semua penghuni mall itu menjerit ketakutan.


Membuat suasana gedung yang dari tadi sudah riuh bertambah ribut dan bising bercampur tangisan anak anak yang ketakutan yang sempat lepas dari pegangan orang tuanya.


Sungguh orang yang melakukan penembakan itu, sangat tidak berprikemanusiaan. Tega memperlakukan manusia seperti binat*ng buruan.


Dua wanita menjadi korban penembankan lagi. Tidak lain adalah kedua wanita yang menjadi pengawal Drabia, yang berusaha mengejar orang yang di duga mereka sebagai pelaku penembakan. Ke dua wanita itu pun langsung tergeletak di lantai.


"Drabia, kamu harus bertahan Drabia. Ansel sudah akan sampai" tangis Lea melihat Drabia yang tak sadarkan diri dari tadi.


Keluar dari dalam lif yang berada di ruangan khusus mall itu. Ansel langsung berlari ke arah dimana Drabia berada.

__ADS_1


"Drabia!" panggil Ansel langsung meraih tubuh Drabia dari pangkuan April." Dia kenapa?" tangis Ansel bembentak.


"Tertembak" jawab Ibu Nimas.


Rahang Ansel langsung mengeras. Siapa yang tega melakukan penembakan pada istrinya?. Itu sangat keterlaluan.


"Ansel, ayo cepat kita bawa dia ke rumah sakit" ajak Lea meyadarkan Ansel yang sempat terdiam.


Ansel yang tersadar, langsung melangkahkan kakinya, membawa tubuh istrinya di dalam dekapannya. Di ikuti Lea, Ibu Nimas dan April dari belakang.


Dafa yang baru sampai, pun langsung memeluk Lea. Meski istrinya itu tidak terluka, pasti istrinya itu shok dengan kejadian itu. Apa lagi korbannya adalah sahabatnya.


"Kamu gak apa apa?"tanga Dafa mengecup ujung kepala Lea.


"Gak apa apa" jawab Lea, meski sebenarnya ia juga tidak baik baik saja. Yang jelas pasti mengalami trauma setelah kejadian ini.


"Bertahanlah demi aku dan anak kita Drabia" gumam Ansel mengecup kening istrinya itu dengan air mata mengalir sampai menetes ke wajah Drabia.


Mereka pun masuk ke dalam lif untuk turun ke lantai bawah.


Sedangkan Dafa, ia membawa Lea, Ibu Nimas dan April di dalam mobilnya.


Dan Ciko, ia bertugas mengurus kedua pengawal Drabia yang ikut di tembang.


Setelah orang orang semua keluar dari dalam mall. Gedung mall itu pun di beri garis kuning oleh pihak berwajib, supaya tidak ada lagi orang yang masuk ke dalam. Untuk sementara aktifitas mall pun di hentikan.


Sampai di rumah sakit, Ansel yang membawa Drabia keluar dari dalam mobil, langsung meletakkan tubuh istrinya itu di atas brankar. Ansel mengecup kening istrinya itu dengan bibir bergetar, sebelum brankar itu di dorong masuk ke ruang perawatan.


"Pak, kami harus segera membawa istri Bapak ke ruang operasi" ucap salah satu perawat yang siap mendorong brankar.


Ansel menjauhi brankar itu, berusaha untuk tetap berpikir positif. Istri dan anaknya pasti akan baik bail saja.


"Ayo kita menunggunya di depan ruang operasi." Pak Ilham menepuk bahu Ansel.


Ansel mengangguk, lantas melangkahkan kakinya mengikuti langkah Pak Ilham.

__ADS_1


Ansel dan Pak ilham mendudukkan tubuh mereka setelah sampai depan ruang operasi. Kedua pria beda usia itu sama sama terdiam dan menangis, sambil memanjatkan doa dalam hati, untuk kesembuhan Drabia dan bayi di kandungannya.


Tak berselang lama, Dafa dan Lea menyusul bersama Ibu Nimas dan April. Tidak ada yang berbicara, membuat suasana lorong rumah sakit itu menjadi sunyi dan terasa dingin.


Ibu Nimas yang mendudukkan tubuhnya di samping Ansel. Menarik pria itu ke dalam pelukannya.Tau, jika anak yang di besarkannya itu membutuhkan sandaran saat ini.


"Mereka pasti baik baik saja" ucap Ibu Nimas lirih, tidak kalah sedihnya dengan Ansel dan Pak Ilham. Drabia adalah putri kandungnya, dua baru mengetahuinya.


Meski selama ini Drabia berada di sekitarnya, tapi Ibu Nimas merasa, ia baru bertemu dengan putrinya yang di carinya selama ini.


Hampir menunggu selama kurang lebih satu jam. Suara samar tangisan seorang bayi dari ruang operasi berhasil membuyarkan lamunan mereka.


"Oe oe oe...!"


"Alhamdulillahi robbil 'alamin!" gumam mereka semua bersamaan dengan wajah berbinar.


"Anakku sudah lahir Ma" tangis Ansel penuh rasa haru dan sedih bercampur kawatir.


"Iya sayang" Ibu Nimas mengecup ujung kepala Ansel, merasakan hal yang sama dengan apa yang di rasakan Ansel.


Begitu juga dengan Pak Ilham, bahagia dan bersyukur medengar cucunya dapat di selamatkan.


"Pasien kritis dan kurang darah, cepat cari darah yang cocok untuk pasien!."


"Baik Dok"


Mendengar riuh keheboan dari ruang operasi, membuat Keadaan di lorong rumah sakit itu ikut menengang. Ansel sampai berdiri dari tempat duduknya, melangkah ke arah pintu ruang operasi itu, mencoba melihat keadaan istrinya yang katanya kritis.


'Ya Allah, jangan sekarang ya Allah' batin Ansel memejamkan matanya dengan wajah menengadah ke atas.


"Ansel duduklah, Nak." Ibu Nimas menaril lengan Ansel supaya duduk kembali.


"Istriku kritis Ma" tangis Ansel terisak.


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2