My Wife Drabia

My Wife Drabia
54.Dunia akhirat


__ADS_3

Ansel membuka perlahan kelopak matanya, lalu memutar pandangannya ke setiap sudut ruangan yang nampak serba putih itu. Mencium aroma menyengat obat obatan, Ansel yakin dia sedang berada di rumah sakit.


"Drabia!" ucapnya langsung mendudukkan tubuhnya yang terbaring entah sejak kapan, Ansel tidak tau.


"Kamu sudah bangun!"


Ansel mengarahkan pandangannya ke arah sofa yang ada di ruangan itu. Terlihat Ciko berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekatinya.


"Dimana Drabia?" tanyanya." Diamana Pak Ilham, Dafa dan Lea" tanyanya lagi sebelum Ciko sempat menjawab pertanyaannya yang pertama.


"Di ruang mayat" jawab Ciko


Ansel langsung terdiam, tanpa di perintah air matanya luruh begitu saja.


"Drabia, istriku" lirihnya kemudian menangis terisak.


Gegas Ansel menarik jarum infus yang tertancap di tangannya, dan langsung turun dari atas tempat tidur keluar dari ruang perawatannya.


"Drabia!" raungnya berlari ke arah kamar mayat rumah sakit itu.


"Drabia sayang, maafkan aku. Seharusnya aku gak ngebiarin kamu berlari mengejarku!" raung Ansel lagi dengan suara beratnya sambil berlari.


Sampai di depan kamar mayat, Ansel mendorong pintu ruangan itu dengan kasar sampai terbuka. Di dalam kamar mayat, tidak ada satu pun mayat atau siapa siapa.


Ansel memutar tubuhnya ke arah belakang, saat ada yang menepuk pundaknya.


"Ngapain kamu di sini?" tanya Pak Ilham.


"Ayah!" gumam Ansel." Drabia mana Yah?."


Pak Ilham mengerutkan keninganya." Di ruang perawatan. Kalian satu ruangan, masa kamu gak melihatnya?."


Ansel pun terdiam, rahangnya mengeras. Dia pasti sudah di kerjai Ciko temannya.


'Kurang ajar' batin Ansel melangkahkan kakinya kembali ke ruang perawatannya. Dan bodohnya dia, kenapa bisa tidak melihat Drabia di ruangannya tadi.


Sampai di ruang perawatannya, benar, Drabia ada di ruang perawatan yang sama dengannya. Drabia nampak tertidur pulas di atas brankar yang berada di samping brankarnya.


"Istrimu berbaring di ranjang sebelahmu, masa kamu gak lihat" decak Ciko geleng geleng kepala. Akhir akhir ini, otak sahabatnya itu memang sering gak pokus.


Ansel mengabaikan Ciko, memilih mendekati Drabia yang tidur di atas brankar.


"Maaf" ucap Ansel menyentuh tangan Drabia, lalu mengecup keningnya.

__ADS_1


Drabia mengulas senyumnya dan melingkarkan ke dua tangannya ke punggung Ansel.


"Jangan marah lagi" balas Drabia.


Ansel memandangi wajah Drabia yang tersenyum ke arahnya. Ternyata istrinya itu mengerjainya lagi.


"Drabiaaaa!" gemas Ansel, dadanya terlihat naik turun menahan amarah.


"Katanya cinta sama aku" rajuk Drabia berbicara dengan bibir mengerucut, namun wajahnya terlihat berbinar.


"Tapi kamu mempermainkanku Drabia sayang" Ansel tidak tau mau diapakan istrinya itu yang terus terusan mengerjainya. Drabia selalu berhasil membuatnya sebal, kesal, geram, gemas, marah, kawatir sekalian.


"Aku membangun perusahaan itu untuk kita, untuk anak anak kita. Dan juga supaya Ibumu tidak memandang remeh kami lagi" jelas Drabia." Aku pikir kamu akan bangga memiliki istri sepertiku" tambahnya, merajuk.


"Iya aku bangga, tapi tolong berhentilah mengerjaiku" kesal Ansel.


Tentu dia bangga melihat istrinya berhasil sukses, bahkan mampu bersaing dengannya. Tapi yang tidak di sukai Ansel, Drabia terus saja mengerjainya dari jaman mereka anak anak.


Drabia mengulas senyumnya, bagaimana lagi, dia sangat menyukai wajah kesal Ansel.


"Gak janji hehehe.." cengir Drabia.


"Awas aja, aku akan menghukummu kalau kamu jahil lagi" ancam Ansel menarik gemas hidung Drabia.


**


Waktu berlalu, setelah di rawat sehari semalam di rumah sakit. Ansel dan Drabia sudah pulang ke rumah. Karna luka mereka tidak ada yang parah, dan mereka berdua juga sudah baik baik saja.


"Kalian tinggallah di rumah ini. Ayah akan kembali ke rumah lama. Rumah itu sayang kalau tidak di tempati" ujar Pak Ilham pada Drabia dan Ansel yang sedang menyantap makan malam mereka dari piring masing masing.


"Senyaman Ayah aja, Drabia gak masalah, kalau Ayah dan Mama tinggal di sini. Malah Drabia senang" balas Drabia.


Ansel hanya diam saja tanpa berkomentar. Karna rumah itu bukan rumahnya. Dia juga nompang di rumah sang istri.


"Malam ini Ayah dan Mama kamu akan pindah." Pak Ilham meneguk air putih dari gelasnya setelah menghabiskan makanan di mulutnya.


"Kenapa gak besok aja?, ini sudah malam." kenapa Ayahnya itu buru buru sekali ingin pindah?, pikir Drabia.


"Baru jam delapan malam" jawab Pak Ilham, bukan larut malam.


"Ayah bebas mau tinggal dimana saja. Terserah Ayah saja" balas Drabia.


"Kamu Ansel"

__ADS_1


Ansel yang di sebut namanya langsung menoleh ke arah Pak Ilham yang duduk di ujung meja.


"Jangan kau sakiti putriku lagi, baik hatinya ataupun fisiknya. Karna aku tidak pernah menyakitinya. Jika dia melakukan kesalahan, atau melakukan hal yang tidak kamu sukai. Tegur dia dengan baik, ingatkan dia, didik dia, bimbing dia. Karna dia adalah tanggung jawabmu Dunia akhirat. Jika suatu saat kamu tidak mencintainya lagi, atau sudah tidak mampu membimbingnya, kembalikan dia baik baik sama Ayah. Jangan kau pukul atau kau siksa perlahan" nasehat Pak Ilham pada menantunya itu.


"Iya Yah, aku tidak akan mengulangi kesalahanku lagi" balas Ansel terdengar tulus.


"Ayah berharap, kalian saling menyayangi, dan saling menghargai" ucap Pak Ilham lagi. Kemudian mengarahkan pandangannya ke arah Drabia.


"Dan kamu Drabia"


"Iya Yah!"


"Tetap ingat kodratmu sebagai istri. Meski uang dan hartamu lebih banyak. Dan jabatanmu di perusahaan lebih tinggi. Ansel tetap peminpinmu di dalam rumah tangga. Dia imammu, jangan sekali melawan atau membantah perintahnya, selagi itu tidak menyimpang dari ajaran Agama" nasehat Pak Ilham lagi pada putrinya.


"Iya Yah" patuh Drania menunduk.


"Hm kalau begitu, Ayah dan Ibumu pergi dulu." Pak Ilham berdiri dari tempat duduknya, di ikuti April wanita yang setia berada di sampingnya meski tidak menyukai putrinya.


Drabia dan Ansel pun ikut berdiri, mengikuti langkah Pak Ilham dan April dari belakang, mengantarnya ke depan pintu.


"Ayah dan Mama kamu pergi dulu" Pamit Pak Ilham.


" Hati hati Yah" ucap Drabia menyalam Pak Ilham dan April.


Begitu juga dengan Ansel, melakukan hal yang sama dengan Drabia.


Sepeninggal Pak Ilham dan April. Tanpa aba aba, Ansel langsung mengangkat tubuh Drabia setelah menutup pintunya.


"Coba dari dulu kamu memperlalukan aku seperti ini. Mungkin anak kita sudah dua" ujar Drabia melingkarkan kedua tangannya ke leher Ansel.


"Makanya aku tidak ingin menundanya lagi. Aku ingin membuatmu hamil anakku" balas Ansel. Meski bersusah payah, Ansel tetap menggendong Drabia menaiki anak tangga ke lantai dua rumah itu.


"Kita baru selesai makan" ujar Drabia. Jangan bilang suaminya itu ingin memakannya sekarang.


"Justru itu, biar pembakaran di dalam perut kita semakin cepat" balas Ansel menyeringai." Buka pintunya sayang" suruhnya setelah sampai di depan pintu kamar.


Drabia memutar knop pintu kamar mereka. Mendadak jantung Drania berdegup sangat kencang. Inikah saatnya Ansel akan menunaikan haknya.


"Tapi aku takut Ansel" wajah Drabia terlihat memucat saat Ansel meletakkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Ansel mengulas senyumnya, menjatuhkan satu kecupan di kening Drabia, mengecupnya cukup lama.


* Bersambung

__ADS_1


#Mana semangatnya buat otor?.


__ADS_2