My Wife Drabia

My Wife Drabia
69. Anugrah terindah


__ADS_3

"Aku pikir kamu akan kelihatan lebih cantik dengan rambut panjang" ucap Ciko saat akan melajukan kenderaannya.


Lala menoleh sebentar ke wajah Ciko, lalu mengalihkannya lurus ke depan." Aku tidak akan memanjangkannya demi pria manapun. Kecuali pria yang berhak atas diriku" balasnya.


"Baiklah, aku akan menikahimu secepatnya jika kamu setuju" ucap Ciko tanpa enteng.


"Aku tidak setuju" balas Lala.


Ciko menoleh sebentar ke arah Lala, kemudian kembali pokus dengan jalan di depannya.


"Kenapa?"


"Bapak belum mengenalku" jawab Lala.


"Aku tau, kita akan berkenalan setidaknya minimal tiga Bulan" balas Ciko.


"Aku ini wanita miskin, tidak seperti Bapak" ujar Lala.


"Kamu pikir aku ini anak orang kaya?. Jika bukan bekerja dengan Ansel, aku tidak akan memiliki jabatan yang tinggi. Orang tuaku juga orang sederhana" ungkap Ciko.


"Setidaknya kamu sudah suksek, sedangkan aku tidak."


"Itu tidak jadi masalah" potong Ciko cepat.


Lala pun diam mengalihkan pandangannya ke kaca di sampingnya. Ciko juga begitu, tidak tau harus berbicara lagi. Sehingga suasana di dalam mobil itu menjadi hening sampai mobil itu terparkir di depan rumah Lala.


**


Ansel mengecup kening Drabia yang terlelap di sampingnya. Kemudian turun perlahan dari atas tempat tidur. Setelah mengambil ponselnya dari atas nakas, Ansel keluar kamar menuruni anak tangga ke lantai bawah. Ansel keluar rumah melalui pintu samping rumah itu, untuk menelephon seseorang.


"Halo Yah!" sapa Ansel setelah pemilik nomor yang di hubunginya menerima panggilannya.


"Ada apa?" tanya pria paru baya dari dalam telepon.


"Ayah, siapa Ibu April?" tanya Ansel tidak sabaran menunggu esok hari untuk menangakan itu pada Pak Ilham.


Terdengar Pak Ilham menghela napas kasar dari dalam telepon." Apa yang ingin kamu dengar?" tanyanya balik.


"Tentang Ibu April" jawab Ansel.


"Aku rasa kamu sudah tau tanpa Ayah kasih tau kamu. Kamu hanya ingin memastikan apa yang kamu ketahui" jawab Pak Ilham.


"Kenapa bisa Yah?" Ansel semakin penasaran. Kenapa istri dari Pamannya bisa menikah dengan Pak Ilham.

__ADS_1


"Nanti Ayah ceritakan, tidurlah, ini larut malam. Ayah sangat mengantuk" jawab Pak Ilham lalu terdengar menguap.


"Ayah"


"Herman bukan paman kandungmu. Aku menikahi April karna dulu dia adalah kekasihku. Kami pernah saling mencintai, hanya saja hubungan kami harus berakhir karna dia di jodohkan orang tuanya dengan Herman" jelas Pak Ilham.


Ansel pun terdiam mencoba mencerna apa yang di jelaskan Pak Ilham. Kemudian Ansel pun menceritakan apa yang dia dengar, tentang Irham yang akan balas dendam pada mereka.


"Aku kawatir dengan keselamatan Drabia Yah. Meski aku sudah menyewa pengawal untuknya" ucap Ansel mengatakan apa yang di pikirkannya dari tadi.


Pak Ilham terdengar menghela napas kasar." Kita hanya bisa berdoa dan berusaha. Semua Allah yang menentukan Nak"desahnya pasrah.


Ansel pun terdiam.


"Ya sudah Yah, Ansel tutup teleponnya. Assalamu alaikum Yah" ucap Ansel. Setelah Pak Ilham membalas salamnya baru Ansel mematikan sambungan teleponnya.


Ansel kembali masuk ke dalam rumah, melangkah ke arah dapur untuk mengambil air minum, karna merasakan tenggorokannya tiba tiba kering.


"Ansel"


Ansel langsung menoleh ke arah Drabia yang berjalan di belakangnya." Kenapa bangun?" tanya Ansel lembut.


"Tadi tiba tiba pengen pipis, aku terbangun gak ada kamu" jawab Drabia." Kamu ngapain ke dapur?" tanyanya memperhatikan wajah Ansel.


Drabia menaikkan alisnya, gak biasanya suaminya itu suka memakan mie instan.


"Tumben" ucapnya.


"Gak tau, tiba tiba aja" Ansel pun mengambil panci kecil, lalu mengisinya dengan air dan meletakkan panci di atas kompor, tidak lupa menghidupkan api kompornya.


"Masakin untukku juga ya" ucap Drabia mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan.


Ansel mengangguk, ia pun mengambil dua bungkus mie instan dari lemari penyimpanan bahan makanan.


Hanya butuh waktu kurang lebih sepuluh menit, mie instannya sudah matang. Ansel pun memindahkannya ke dalam mangkok. Satu untuknya, satu untuk Drabia.


"Telornya mana?" tanya Drabia melihat semangkok mie instan yang di letakkan Ansel di depannya, tidak pakai telor atau sayuran, hanya polos aja.


"Enakan begini, original" ucap Ansel.


"Mana enak" rajuk Drabia manja." Masakin telornya" bujuknya manja. Supaya Ansel memasak telor untuknya.


"Jangan manja gitu Yang suaranya. Ada yang meronta nih" ujar Ansel. Apa lagi ini waktu masuk dini hari, udara semakin terasa dingin. Ada yang ngamuk minta di manja,apa lagi mendengar suara manja, makin gak tahan tuh si otong.

__ADS_1


"Masakin telor" Drabia semakin menjadi manjanya.


Ansel yang duduk di sampingnya pun, menjepin dagu Drabia dengan jari jempol dan telunjuknya, Lalu mengecup gemas bibir mengerucut itu sekilas.


"Tapi janji selesai makan mie, manjain si otong ya" ucapnya tersenyum lalu mengedipkan mata pada Drabia.


"Genit" cibir Drabia malu malu tapi mau.


"Jadi gak nih dimasakin telornya?" tanya Ansel sekalian mengancam.


"Jadi" jawab Drabia dengan suara manjanya.


Telor mata sapi yang di masak Ansel pun sudah berpindah ke mangkok Drabia. Istrinya itu langsung melahap mie dengan rakus. Sedangkab Ansel yang tidak terlalu menyuaki mie instan, memakan mie nya dengan lambat.


"Tambah" ujar Drabia mengengir melihat mie di mangkok Ansel masih banyak.


Ansel langsung memberikan mangkoknya dengan rasa sukur. Karna sebenarnya ia tidak bisa menghabiskan mie di mangkoknya. Tadi yang tiba tiba pengeb memakan mie instan adalah hanya alasannya saja, supaya Drabia tidak banyak bertanya kenapa ia berada di sapur tengah malam.


"Besok kita ke Dokter ya, aku belum melihat adik bayinya" ujar Drabia setelah menghabiskan mie instan milik Ansel.


"Iya sayang, tapi pas istirahat makan siang ya. Soalnya sore aku ada rapat di luar." Ansel mengusap kepala Drabia dengan lembut.


Drabia menganggukkan kepalanya, meski tidak tau benar atau tidak besok sore suaminya itu ada pertemuan atau tidak.Drabia memilih lebih percaya ketimbang curinga.


" Sudah, ayo kembali ke kamar. Pagi masih lama" ajak Ansel setelah menaruh kedua mangkok itu ke atas whastapel.


Ansel pun meraih pinggang Drabia dari belakang, mengiringnya berjalan menaiki anak tangga menuju kamar mereka.


**


"Ansel sayang, benaran aku hamil, Ya Allah" tangis Drabia terharu melihat calon si buah hato di layar monitor yang menempel di dinding ruang periksa kandungan itu.


"Iya sayang" Ansel mengulas senyumnya sambil menghapus air mata Drabia yang keluar dari sudut matanya.


Ansel sudah terlebih dahulu mengalami menangis terharu, saat Dokter yang memeriksa Drabia mengatakan kalau istrinya sedang keadaan hamil. Bahkan saat itu tak sadar Ansel meraung raung sendiri. Untuk pada saat itu Ada Dafa dan Ansel yang menenangkannya, sehingga tangis harunya bisa ia hentikan.


"Tuhan mempercayakan kita seorang anak. Sebentar lagi kita akan menjadi orang tua" lorih Ansel, ia pun tak dapat menahan air matanya untuk tidak keluar. Rasa haru itu masih tidak bisa ia bendung. Ia terlalu bahagia sampai saat ini.


"Trimakasih Ansel, kamu sudah mencintaiku" ucap Drabia terisak. Mendapatkan cinta dari seorang Ansel adalah salah satu anugrah terindah bagi Drabia.


"Ssst ! jangan berkata seperti itu, kamu memang pantas mendapatkannya. Dan kamu juga mencintaiku" balas Ansel mengecup kening istrinya itu penuh perasaan.


*Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2