My Wife Drabia

My Wife Drabia
60. Seharusnya kamu menikah lagi


__ADS_3

**


Ansel yang sibuk dengan pekerjaanya dari tadi, akhirnya menutul laptop di depannya. Ia pun keluar dari ruangan itu. Sampai di parkiran mobilnya, Ansel melajukannya ke sebuah sekolah dasar.


Ansel tersenyum saat melihat seorang gadis kecil kecil berlari ke arahnya. Ansel pun turun dari dalam mobil, dan langsung menangkap tubuh gadis kecil itu membawanya ke gendongannya.


"Assalmu alaikum Ayah!" sapa gadis itu.


"Walaikum salam putri Ayah" balas Ansel lalu mengecup kedua pipi gadis berjibab itu bergantian.


"Bagaimana sekolahnya hari ini?" tanya Ansel memutari bagian depan mobilnya, untuk memasukkan putrinya ke dalam mobil.


"Sangat bagus" jawab bocah itu dengan wajah ceria.


"Pelajarannya bagaimana?" tanya Ansel lagi.


"Semua nilai seratus" jawab bocah berusia empat Tahun itu.


"Hm baiklah, Ayah percaya itu." Ansel kembali memutari bagian depan mobilnya, menyusul putrinya masuk ke dalam mobil, dan langsung melajukannya.


"Tapi ada yang tidak bagus" gadis kecil itu mengerucutkan bibirnya.


"Apa?" Ansel yang sedang mengendalikan setirnya, menoleh ke arah putri kecinya itu.


"Ayah gak mau nikahin Ibu Elsa" rajuk bocah itu.


"Salwa, Ayah kan udah bilang. Ayah gak mau nikah" ujar Ansel lembut pada putrinya itu.


"Tapi Salwa kan pengen punya Mama, kaya teman teman Salwa." Mata gadis kecil itu memerah dan berkaca kaca. Begitu juga dengan ujung hidungnya.


"Kan ada Mama Lea" bujuk Ansel.


"Mama Lea bukan Mamanya Salwa. Mama Lea kan Mamanya Inara" jelas gadis kecil itu.


Ansel terdiam, tidak bisa harus menjelaskan apa pada putrinya. Semakin besar putrinya, otaknya pun akan semakin berpikir logika.


"Mama dimana sih Yah?" tanya bocah itu lagi.


Membuat Ansel hanya bisa menarik napas dalam, lalu mengeluarkannya perlahan.


Drabia istrinya, sejak lima Tahun yang lalu berada di balik jeruji besi, karna terlibat kasus pembunuhan di sebuah ruang rawat rumah sakit. Tidak ada yang melihat kejadian itu persisnya seperti apa. Karna tidak adanya saksi mata, dan di ruang perawatan itu pun tidak ada cctv yang bisa memantau kejadian. Apakah istrinya sengaja membunuh atau membunuh untuk membela diri. Orang oranf yang berada di rumah sakit hanya mendengar keributan dari dalam ruangan itu. Dan setelah pintu ruangan itu terbuka, Drabia dan pria bernama Kevin, sama sama tak sadarkan diri.


Jika Drabia di temukan masih dalam keadaan hidup. Berbeda dengan Kevin yang sudah mati dan terluka di bagian senjatanya.


Sekuat apa pun dulu Ansel dan Pak Ilham melakukan pembelaan terhadap Drabia. Tetap saja itu tidak membantu. Pengadilan tetap menjatuhkan hukuman pada Drabia karna menyebabkan hilangnya nyawa seseorang.


Ansel menghembuskan napasnya kasar setiap kali mengingat itu.

__ADS_1


Salwa yang duduk di samping Ansel pun terdiam dengan wajah menahan tangis. Setiap ia menanyakan Mama dimana. Ayahnya tidak pernah menjawab.


"Papa antar ke rumah Mama Lea ya" ucap Ansel.


Jika sedang sibuk, atau lagi keluar kantor. Ansel selalu menitipkan Putrinya pada Lea sahabat istrinya. Dan Lea sudah menjadi sosok Ibu pengganti bagi Salwa, karna sejak lahir, Salwa sering di asuh Lea.


Salwa tidak menjawab, ia kesal dengan Ayahnya yang tidak pernah memberitahu dimana Mamanya.


'Nanti Ayah jelaskan Nak, dimana Mama kamu. Sekarang belum saatnya, karna kamu belum bisa mencerna semuanya' Ansel membatin sambil mengusap kepala putrinya itu dengan lembut.


Sampai di halaman rumah Lea dan Dafa, Ansel menghentikak laju kenderaannya. Gadis kecil yang duduk disampingnya langsung membuka pintu dan langsung turun.


"Salwa!" seru Ansel memanggil gadis kecil itu.


Gadis kecil itu menulikan telinganya terus berjalan ke arah pintu rumah di depannya.


Ansel menghela napasnya, lantas mengikuti Salwa ke arah pintu, untuk menitipkan putrinya itu pada pemilik rumah.


"Assalamu alaikum Mama Lea!" seru gadis kecil itu setelah seorang pembantu membuka pintunya.


"Walaikum salam cantik!" balas Lea menyambut Salwa.


"Salwa!" teriak anak kecil berlari ke arah Salwa yang baru masuk.


Salwa kecil langsung mengembangkan senyumnya.


"Tadi Mama malas ngantar, kata Mama Inara akan punya Adik" celetuk gadis seusia Salwa itu.


"Kamu hamil lagi?" tanya Ansel mendengar ucapan Inara.


"Iya" jawab Lea.


Ansel hanya ber Oh saja, kemudian berpamitan setelah menitipkan Salwa.


"Aku ingin mengunjungi Drabia. Semalam aku gak sempat kesana karna ada kerjaan di luar kantor" ujar Ansel.


"Salam buat dia. Aku juga pengen mengunjunginya, tapi keadaanku saat ini tidak memungkinkan" ujar Lea.


"Kalo gitu, aku pergi dulu. Titip Salwa sebentar ya" pamit Ansel sekali lagi, lalu pergi dari rumah sahabatnya itu.


Dan kini Ansel sudah berada di tempat tempat dimana istrinya di tahan. Ansel menunggu Drabia di sebuah ruangan khusus menerima tamu.


Tak lama menunggu, Drabia sudah muncul di kawal seorang polisi. Ansel lansung berdiri dari tempat duduknya menyambut Drabia dengan senyum menyedihkan. Senyum yang mengandung rindu tiada terkira.


"Assalamu alaikum" sapa Drabia menyalam tangan suaminya itu.


"Walaikum salam, apa kabarmu?" balas Ansel sekalian bertanya, dan satu kecupan pun mendarat di kening istrinya itu.

__ADS_1


Drabia mengulas senyum tulus." Alhamdulillah, baik."


"Aku membawa makanan kesukaanmu. Ayo kita makan" ajak Ansel, menuntun Drabia untuk duduk di kursi yang sudah tersedia.


"Apa kabar putri kita. Dia baik baik aja kan?" tanya Drabia.


Ansel meghela napasnya," Sekarang dia terus menanyakan keberadaanmu. Putri kita semakin pintar. Aku pusing jika dia sudah menanyakan dimana Mamanya" desah Ansel.


"Dan yang paling membuatku pusing lagi.Salwa memintaku untuk menikahi gurunya. Ada ada aja anak itu" lanjut Ansel.


Drabia terdiam menajamkan pandangannya ke wajah Ansel. Sudah lima Tahun mereka tinggal terpisah. Namun Ansel masih setia menunggunya sampai sekarang.


"Ya...memang seharusnya kamu menikah lagi. Terlalu lama jika kamu harus menungguku. Kamu pasti membutuhkan sosok istri di sampingmu. Dan juga supaya Salwa memiliki seorang Ibu."


Ansel yang hendak membuka bungkusan makanan yang di bawanya menoleh ke arah Drabia yang duduk di sampingnya. Memandangi wajah Drabia dengan tatapan yang tak bisa di artikan.


"Menungguku belasan Tahun lagi itu, pasti sangat sulit untukmu. Menikahlah, aku mengikhlaskannya" ujar Drabia tersenyum.


"Bagaimana denganmu?" Ansel menelisik ke wajah Drabia yang begitu terlihat ikhlas saat berbicara.


"Kamu menikah lagi, bukan berarti kita cerai kan?. Kecuali kamu menceraikanku" jawab Drabia.


"Hm baiklah! akan kupikirkan" balas Ansel, tidak serius.


Tiba tiba...


"Huaaa....!" Drabia menangis meraung raung.


"Hei hei hei ! sayang!" Ansel menarik Drabia ke dalam pelukannya, lalu menepuk nepuk pipinya.


"Huaaa... aku gak mau kamu menikah lagi!" raung Drabia lagi.


**


"Hei hei hei!" Ansel menepuk nepuk pipi istrinya.


"Aku gak mau kamu nikah lagi!"


"Siapa yang mau nikah lagi sayang. Bagun, kamu hanya bermimpi" ucap Ansel melap keringat istrinya dengan tissu.


Drabia yang terbaring di atas brankar, pun membuka matanya, lalu memutar mutar bola matanya.


"Ayo minum dulu, sepertinya kamu mimpi buruk." Ansel meraih botol minum dari atas nakas kalu meminumkannya pada Drabia yang suda di bantunya duduk.


Drabia pun langsung meneguk air putih itu sampai habis setengah botol. Lalu menghala napas kasar untuk menormalkan napasnya yang memburu.


"Kamu mimpi apa? Hm!" tanya Ansel membantu Drabia kembali berbaring.

__ADS_1


*Bersambung


__ADS_2