
"Selamat pagi Bu Bos!" sapa Ciko pada Drabia yang baru keluar dari dalam mobil.
"Selamat pagi juga, ada apa?" tanya Drabia menatap wajah Ciko sekilas.
"Calon security untuk menjadi pengawal Bu Bos, sudah berada di ruang meeting" lapor Ciko.
"Nanti saya akan mengunjungi mereka" ujar Drabia.
"Baik Bu Bos" Ciko menunduk hormat.
"Gak usah berlebihan, biasa aja" cetus Drabia melihat tingkah Ciko yang begitu hormat padanya.
"Ayo sayang" Ansel yang sudah berada di samping Drabia, meraih tangan istrinya itu masuk ke dalam gedung perusahaan.
Sampai di ruang kerja Ansel, Drabia langsung mendudukkan tubuhnya di sofa. Sedangkan Ansel lansung berkutat dengan pekerjaannya.
Satu jam bersantai di sofa, Drabia pun keluar dari ruangan Ansel. Masuk ke ruangan meeting untuk menemui calon pengawalnya. Enam orang wanita berpakaian security.
"Selamat pagi" sapa Drabia.
"Slamat pagi juga Bu" balas ke eman wanita gagah pemberani itu.
"Saya pikir kalian sudah tau apa tugas kalian, ketika menjadi pengawal saya nanti. Saya tidak perlu menjelaskan itu lagi" ujar Drabia memandangi satu persatu wajah ke enam wanita tangguh itu." Saya cuma ingin mengatakan, kalian tidak perlu memakai pakaian seragam saat bertugas. Pakailah pakaian bebas, yang penting rapi, bersih dan sopan. Pastikan kalian memakai celana panjang yang berbahan lentur. Dan bersikaplah bukan seperti pengawal, supaya tidak kelihatan mencolok jika kalian berada di sisi saya" ujar Drabia lagi.
Ke eman security wanita itu hanya diam mendengarkan dengan seksama.
"Sudah itu saja" ujar Drabia. Karna memang itu saja yang perlu dia sampaikan." Kalau begitu selamat pagi."
"Selamat pagi juga Bu" balas ke enam security wanita itu lagi.
Drabia pun langsung meninggalkan ruangan itu, melangkahkan kakinya ke arah lif untuk turun ke lantai bawah, mengambil pesan onlinenya yang sudah datang di pos security.
"Pak, mana pesanan saya?" tanya Drabia pada security yang berjaga.
"Saya Lala Bu" ucap Security bernama Lala itu memutar tubuhnya ke arah Drabia yang berdiri di depan pos satpam.
"Lala, kenapa rambutmu kamu potong pendek?. Kamu sudah persis seperti cowok" tanya Drabia, melihat rambut si Lala model potongan rambut cowok.
"Panas Bu, enakan gini, gak ribet nyisirnya" si Lala tersenyum masam.
__ADS_1
"Kamu masih normal kan?" tanya Drabia curiga. Karna si Lala belum juga menikah di usianya yang sudah pantas menikah.
"Normal dong Bu!" jawab si Lala, wajahnya berubah merah.
"Baguslah, jangan sampai kamu tidak normal" ujar Drabia langsung pergi meninggalkan pos security itu, membawa kantong plastik berisi paketan makanan yang di pesannya.
Sampai di lantai teratas gedung itu, Drabia langsung masuk ke ruangan Ansel, tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
"Sayang, apa itu?" tanya Ansel melihat besarnya kantong plasti yang di tenteng istrinya.
"Jajanan" jawab Drabia meletakkan bawaannya di atas meja sofa, lalu membukanya.
"Sebanyak itu?" Ansel melebarkan penglihatannya ke arah kantong plastik berwarna biru muda itu.
"Iya, banyakan isinya permen, untuk di bagi bagikan pada karyawan, supaya mereka tidak ngantuk" jawab Drabia.
Ansel langsung beranjak dari tempat duduknya, mendekati Drabia yang sibuk membuka lakban box di dalam plastik. Ansel menyingkirkan tangan Drabia, lalu menenteng kantong plastik itu.
"Ya ampun sayang ini berat loh!. Kamu yang nenteng sendiri dari bawah?. Emang gak ada yang bisa di minta tolongin?. Kamu lagi hamil loh, bisa bahaya sayang kalau kamu bawa bawa berat begini?" oceh Ansel panjang lebar.
"Aku masih bisa bawa, ngapain harus minta tolong orang. Lagian ini gak terlalu berat. Meski pun aku hamil, gak bagus juga terlalu di manjain" ujar Drabia, menurutnya suaminya itu terlalu berlebihan.
Tadi pagi, istrinya itu sudah berlari, sekarang malah menenteng barang berat.
"Iya iya iya, gak usah ngomel, kaya emak emak aja" cibir Drabia melihat Ansel dari sudut matanya.
"Kalau gak di omelin, kamu itu gak tau. Kamu itu dari dulu gak berubah, masih aja lasak, bertindak sesuka hati" oceh Ansel lagi.
Drabia pun memutar tubuhnya ke arah Ansel, menjinjitkan kakinya lalu mengecup bibir cerewet kaya emak emak itu.
"Iya sayang, suamiku" ucapnya tersenyum.
Ansel pun menarik pinggang Drabia sampai menempel ke tubuhnya." Aku gak mau kamu dan anak kita kenapa kenapa sayang" balas Ansel membalas kecupan Drabia di bibirnya.
"Kami akan baik baik saja, asal kamu terus mencintai kami" balas Drabia tersenyum bahagia.
"Aku tau itu" Ansel memutar tubuh Drabia, memeluk tubuhnya dari belakang, sambil mengusap usap perut istrinya itu.
Tok tok tok!
__ADS_1
Ketukan pintu itu berhasil melepaskan pelukan Ansel dari tubuh Drabia.
"Masuk!" seru Ansel sambil membawa Drabia duduk ke sofa.
Tak lama kemudian, Dafa masuk setelah pintu berhasil di bukanya.
"Ada apa?" tanya Ansel menatap tak suka sahabat penghianatnya itu.
"Aku kesepian di sana, kamu dan Ciko ada di sini" jawab Dafa mendudukkan tubunya di sofa ruangan itu.
"Sepertinya kita sudah lama gak nongkrong. Bagaimana kalau nanti malam kita nongkrong?" usul Ansel mendudukkan tubuhnya di sofa yang bersebrangan dengan Dafa.
"Boleh juga, bawa istri ya!" ujar Dafa menyetujui.
"Aku gak punya istri."Tiba tiba Ciko masuk menyanbar pembicaraan mereka.
"Makanya cari istri" ledek Drabia.
"Belum dapat" balas Ciko. Dia juga sudah lelah mencari, namun belum ketemu yang pas di hati.
"Si Lala" ujar Drabia.
"Jangan sebut nama itu di depanku sayang" sambar Ansel tak suka.
Drabia tertawa cekikikan, suaminya itu sangat sensitif dengan nama Lala. Padahal Lala yang di sebut Drabia berbeda dengan si Lala yang di maksud Ansel.
"Kamu menjodohkanku dengan wanita tidak jelas" rajuk Ciko. Sebab si Lala yang di maksud Drabia adalah security yang berjaga di pos satpam perusahaan. Gadis berkulit coklat, rambutnya pendek seperti cowok. Padahal kriteria calon istri idamannya adalah cewek berambut panjang, anggun dan lembut. Bukan wanita gagah perkasa.
"Apa yang kurang dari si Lala?. Meski penampilannya seperti itu, tapi aku rasa dia wanita yang baik. Nanti kamu tinggal menyuruh di memanjangkan rambutnya, atau menyuruhnya menutupinya. Aku rasa jika lelaki itu bisa mengambil hati istrinya, istrinya pasti nurut nurut aja sama suami" jelas Drabia.
"Aku kawatir dia itu wanita les**."
Pluk !
"Aw sakit Ibu Bos!" pekik Ciko mengusap usap lengannya yang terkena lemparan asbak rokok.
"Jangan asal bicara!" gemas Drabia melempar Ciko dengan asbak rokok.
Ansel yang mendengar apa yang di katakan istrinya, terdiam. Karna berhasil menampar hatinya yang pernah menilai orang dari penampilannya saja.
__ADS_1
*Bersambung