My Wife Drabia

My Wife Drabia
41. Menjadi Hakim


__ADS_3

Ansel menggeleng, dia tidak mau pulang tanpa membawa Drabia." Drabia!" panggilnya lirih.


"Maaf Ansel" balas Drabia berurai air mata.


"Kenapa kamu meninggalkanku, setelah membuatku jatuh cinta?" tanya Ansel lirih.


"Aku harus meninggalkanmu demi Ayah Ansel."


Lagi, Ansel menggelengkan kepalanya," kenapa?" tanyanya lagi.


Bukan karna Ibunya 'kan?. Ansel tidak percaya alasan itu.


"Ibumu ingin membunuh Ayahku Ansel!. Ibumu tidak menyukai kami!. Apa itu kurang jelas?"teriak Drabia tiba tiba.


Sakit rasanya menerima kenyataan itu. Orang yang dekat dengan kita selama ini, ternyata musuh besar kita. Ternyata selama ini, Ibu Nimas hanya memanfaatkan Pak Ilham untuk mengurus perusahaan. Sekarang Ansel sudah besar, dia tidak membutukan Pak Ilham lagi.


Ansel diam, dan hanya bisa geleng geleng kepala. Tidak mungkin Ibunya ingin membunuh Pak Ilham. Ibunya wanita yang baik lemah lembut. Pasti Pak Ilham dan Drabia sudah salah paham dengan Ibunya. Atau ada yang mengadu domba Ibunya dengan Pak Ilham dan Drabia.


"Kamu boleh percaya sama Ibumu Ansel. Tapi apa menurutmu mereka berbohong?" ucap Ciko yang diam dari tadi.


Refleks Ansel menoleh ke arah Ciko di sampingnya." Apa Ibuku sejahat itu?."


"Maksudku, apa salahnya kamu mencari kebenarannya. Seperti katamu, mereka salah paham dengan Ibumu" jawab Ciko.


Bram!


Ansel dan Ciko kaget mendengar debuman pintu di depan mereka di tutup dengan kaut.


"Ayo kita pulang. Mereka sedang marah, mereka tidak akan bisa menerima kita saat ini. Yang penting kamu sudah tau kalau mereka ada di sini. Nanti kamu bisa mengunjunginya lagi" Ciko menuntun Ansel berjalan ke arah mobil mereka untuk pulang.


Setelah mereka masuk ke dalam mobil, supir yang membawa mereka langsung melajukan kenderaannya.


Sedangkan Drabia yang berada di dalam rumah, hanya bisa menangis di belakang pintu. Ingin hidup bersama Ansel, tapi nyawa Ayahnya jadi taruhan. Meninggalkan Ansel, juga bukan kenyataan yang mudah bagi Drabia.


Ansel, laki laki yang di dambakannya sejak dulu. Laki laki yang sangat di cintainya. Laki laki yang sudah berada di genggamannya, terpaksa harus ia lepas demi keselamatan Ayahnya.


"Maafkan Ayah Nak!" Pak Ilham menurunkan tubuhnya berjongkok di depan Drabia yang duduk di lantai.


"Aku mencintai Ansel Yah!" tangis Drabia." Tapi aku lebih mencintai Ayah" ucapnya lagi.

__ADS_1


"Ayo kita harus segera meninggalkan tempat ini. Kita cari kehidupan baru di tempat lain. Ayah yakin, di sana pasti ada cinta yang lain untuk kamu." Pak Ilham membantu Drabia untuk berdiri.


Malam itu juga, Pak Ilham membawa Drabia dan istrinya meninggalkan kampung itu. Mereka akan pergi ke daerah lain, supaya Ansel tidak dapat menemukan mereka.


**


Sampai di Jakarta, Ansel berjalan gontai masuk ke rumahnya. Rumah yang pernah di tempatinya dan Drabia. Ansel bingung harus mempercayai siapa. Ibunya atau Drabia dan Pak Ilham.


"Ansel, dari semalam kamu gak makan. Ayo makanlah!" suruh Ciko yang ikut masuk ke rumah itu.


"Aku gak lapar" balas Ansel.


Bagaimana dia merasa lapar, perutnya sudah kenyang mencerna dilema di dalam hati dan pikirannya dari tadi malam.


"Kamu bisa sakit kalua gak makan. Apa lagi kita baru perjalanan jauh. Kamu bisa masuk angin" bujuk Ciko sudah kaya Ibu ibu.


"Ayah Ilham dan Drabia orang yang sangat berarti untukku. Begitu juga dengan Ibu. Apa yang harus kulakuka sekarang Cik?, aku bingung. Rasanya tidak mungkin Mama akan menghabisi Pak Ilham. Apa alasannya Mama coba?" gumam Ansel, matanya menatap lurus ke depan dinding kaca kamarnya.


"Bagaimana jika itu benar?. Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Ciko.


Ansel terdiam sebentar.


Tidak! Ibunya tidak sekejam itu.


Ciko menghela napasnya, menatap Iba sahabatnya itu. Ia pun menepuk pelan pundak Ansel.


"Biar bagaimana pun, makanlah sedikit. Untuk mencari kebenaran, kamy juga harus sehat. Jangan memponis sebelah pihak tanpa membuktikannya dulu. Seperti katamu, mungkin ada yang memfitnah Ibumu pada Pak Ilham dan Drabia" ujar Ciko.


Ansel malah membaringkan tubuhnya ke kasur di belakangnya, lalu memejamkan matanya.


"Rasanya aku ingin menyusul Papa aja, Cik!" guman Ansel. Tak sanggup rasanya menghadapi masalah sebesar itu. Dia harus menjadi hakim di antara Ibu dan istrinya.


"Kamu bicara apa?" Ciko tak suka mendengar apa yang di katakan Ansel.


"Kalau aku mati, aku mewasiatkan semua hartaku untuk Drabia istriku, Cik. Catat itu, jangan sampai kamu lupa."


Plak!


"Jangan bicara ngaur, cepat makan" oceh Ciko setelah menampar pipi Ansel.

__ADS_1


"Sakit b*g*!" Ansel mengusap usap pipinya yang terasa panas.


"Biar kamu sadar" ketus Ciko. Dia juga sudah lelah menempuh perjalanan jauh. Malah Ansel berobah jadi anak kecil, yang makan pun harus di urus.


"Jadi aku harus bagaimana Cik?. Aku tidak bisa membayangkan jika Ibuku benar melakukan itu. Itu artinya aku akan kehilangan Drabia selamanya Cik. Aku gak mau berpisah dari istriku Cik. Jika semua itu benar, lebih baik aku mati Cik. Aku tidak akan sanggup menerima semua itu" tangis Ansel kembali.


Ciko hanya bisa diam, tidak tau harus menjawab apa.


"Selama ini Pak Ilham yang mengurusku. Mengajariku mengurus perusahaan. Apa coba alasan Mama ingin menghabisi Pak Ilham. Gak ada kan Cik!. Pasti ada yang memfitnah Mama. Pasti ada yang mengadu domba. Mama tidak sejahat itu Kan Cik. Kamu mengenal Mama kan?" rancau Ansel frustasi.


"Istirahatlah kalau kamu tak ingin makan. Jangan banyak bicara, dan tenangkanlah pikiranmu" ujar Ciko keluar dari kamar Ansel.


Ciko menuruni anak tangga ke lantai bawah rumah itu. Ia pun menghubungi Dafa, untuk menanyakan bagaimana hasil penyelidikannya, masalah rekaman cctv perusahaan yang di hapus.


"Halo Daf, bagaimana?. Apa rekaman cctv perusahaan bisa di pulihkan?" tanya Ciko langsung setelah Dafa menerima panggilan teleponnya.


"Alhamdulillah bisa" jawab Dafa dari sebrang telepon.


"Bagaimana hasilnya?, siapa yang menghapusnya?" cerca Ciko tak sabaran.


"Lagi di periksa" jawab Dafa.


"Ehem!" Ciko berdehem sebelum melanjutkan pembicaraannya dengan Dafa." Bagaimana menurutmu?, apa kamu percaya, kalau Ibu Nimas akan menghabisi Pak Ilham?" tanyanya berbisik, takut dingding rumah itu ada yang bertelinga.


Saat di perjalanan pulang dari kampung Pak Ilham. Ciko sudah menceritakan lewat pesan, alasan Pak Ilham dan Drabia pergi menjauh tanpa berpamitan pada Ansel.


Dafa terdengar menghela napas dari sebrang telepon." Kita bisa mengetahuinya jika sudah mengetahui percakapan Pak Ilham dan Drabia di ruang kerja Pak Ilham. Ini lagi sedang di coba memulihkannya" jawab Dafa.


"Baiklah, nanti kabari aku. Soalnya aku tidak bisa kesana sekarang. Ansel lagi tidak baik baik saja. Kawatir nanti dia bunuh diri kalau di tinggal sendiri" ujar Ciko.


"Hm..baiklah, nanti aku kabari."


Ciko pun mematikan sambungan teleponnya.


"Bagaimana Pak Elang?" tanya Dafa pada hecker yang bertugas melindungi situs perusahaan itu.


"Sebentar!"


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2