
"Istriku kritis Ma" tangis Ansel terisak.
Ceklek
Pintu ruang operasi itu pun terbuka, seorang perawat keluar membawa bayi di dekapannya. Ansel dan yang lainnya langsug berdiri mendekati perawat itu.
"Ayah bayinya ikut ke ruang bayi ya!" ucap perawat perempuan itu tersenyum ramah.
Ibu Nimas mengusap lengan Ansel yang terdiam memandandangi wajah bayi miliknya itu. Tanpa sadar meneteskan air matanya, melihat betapa indahnya karunia yang Tuhan berikan padanya. Ansel pun mengangguk lalu mengikuti langkah bayi itu.
"Bayinya perempuan ya, Pak." Perawat itu membuka bedong yang membungkus tubuh bayi itu, supaya Ansel melihatnya. Tidak ada yang kurang, semuanya lengkap. Hanya saja tubuh bayi itu terlihat kecil. Wajar saja, bayi itu seharusnya belum waktunya lahir.
Ansel pun mengambil bayi itu dari gendongan perawat wanita itu, membawanya ke dekapannya. Mengecup kening bayi itu dengan bibir bergetar dan di iringi air mata.
Oe oe oe !
Sonta saha bayi itu menangis, merasakan sentuhan lembut sang Ayah di kulit wajahnya. Ansel tersenyum, lalu menggoyangkan sedikit tubuhnya, menimang bayi itu.
"Kenapa kesayangan Ayah menangis?" tanya Ansel dengan suara lembutnya.
Setelah bayi itu tenang, Ansel pun mengazhankannya di telinga kanan. Kemudian mengembalikannya pada perawat yang menunggu di ruangan itu, supaya bayinya mendapatkan perawatan.
Keluar dari ruangan bayi, Ansel kembali ke depan ruangan operasi. Ansel mendudukkan tubuhnya di samping Ibu Nimas, menyandarkan kepalanya ke lengan wanita paru baya itu.
"Bayi kami perempuan, Ma. Dia sangat canti." Ansel tersenyuk getir. Merasakan bahagia, sedih dan kawatir menjadi satu.
"Ibunya cantik, tentu putri kalian juga cantik" balas Ibu Nimas menahan tangisnya.
Setelah lama menunggu, akhirnya pintu ruang operasi itu terbuka. Seorang Dokter keluar dengan wajah lelahnya.
Ansel, Pak Ilham, Dafa, Ibu Nimas, April, Lea dan Ciko sama sama berdiri dari tempat duduk masing masing, mendekati Dokter itu.
"Bagaimana keadaan istri saya Dok?" tanya Ansel tak sabaran.
"Operasinya berjalan lancar," Dokter itu menghela napasnya dalam." Tapi keadaan pasien sangat kritis.Berdoa saja, semoga istri Bapak mendapat mukjizat dari Tuhan."
Semua berbapas berat mendengarkan penjelasan Dokter itu. Terutama Pak Ilham sebagai Ayah pasien itu. Keadaan Drabia sangat Kritis, itu artinya Drabia berada di antrara hidup dan mati.
"Kalau begitu saya permisi" pamit Dokter itu melangkahkan kakinya meninggalkan pintu ruang operasi.
Mereka semua pun kembali duduk ke tempat duduk masing masing tadi. Menunggu perkembangan Drabia yang belum di keluarkan dari ruang operasi.
__ADS_1
**
Di luar sana, seorang pria melajukan kenderaannya dengan tenang melaju di jalan raya. Senyum puas sangat terlihat di wajah pria itu, karna telah berhasil melakukan tugasnya. Sekarang dia akan menghilangkan jejaknya supaya tidak tertangkap polisi.
"Irham!" teriak seorang wanita.
Irham yang baru menghentikan laju motornya langsung menoleh ke arah wanita itu.
"Hafshah" guman Irham, melihat wanita yang berhasil mengikutinya itu adalah Hafshah.
"Kenapa kamu membunuh Drabia?." Meski Irham bukan pria yang baik, Hafshah tidak menyangka jika temannya selama ini tega melakukan tindak kekerasan.
"Bukankah seharusnya kamu senang?. Kamu mencintai Ansel kan?. Mulai sekarang kamu bisa mendekatinya" tanya balik Irham.
"Aku memang mencintai Ansel. Tapi Pak Ilham pernah menolongku. Dia yang membiayi perawatanku" jawab Hafshah.
"Aku butuh uang, makanya aku melakukannya. Dan juga aku ingin melampiaskan rasa sakit hatiku, pada Pak Ilham, Ansel dan Ibu April."
Hafshah menggeleng gelengkan kepalanya, sembari menangis.
"Kamu jahat Irham."
Tanpa Irham sadari, dua orang pria siap membekuknya dari belakang.
Irham langsung membeku, dan menajamkan pandangannya ke arah Hafshah yang tersenyum ke arahnya.
"Aku juga butuh uang" ucapnya.
Irham meronta ingin mendekati Hafshah, namun kedua polisi itu sudah memborgol kedua tangannya ke belakang. Menyeretnya masuk ke dalam mobil berwarna hitam.
**
Kini Drabia sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Semenjak kejadian itu, Drabia belum pernah membuka matanya.Dan bahkan Drabia sudah di nyatakan koma.
Ansel yang duduk di kursi yang ada di samping brankar, terus memandangi wajah Drabia tanpa melepas tangan yang di genggamnya dari tadi.
"Ansel, ayo makan dulu, Nak!" ucap Ibu Nimas menyentuh bahu Ansel dengan lembut.
Ansel menggelengkan kepalanya.
"Dari semalam kamu makan baru sekali, itu pun hanya sedikit" ucap Ibu Nimas. Lagi, Ansel menggelangkan kepalanya.
__ADS_1
"Makanlah walau sedikit, Nak. Lakukan demi putrimu. Kalau Drabia sakit, kamu juga ikut sakit. Bagaimana dengan putri kalian?" bujuk Ibu Nimas, berharap Ansel mau makan.
Ansel menganggukkan kepalanya setelah berpikir. Selain memikirkan istrinya yang terbaring koma, Ansel juga harus memikirkan putrinya yang baru lahir.
Ibu Nimas mengulas senyumnya, lalu menyuapi Ansel dengan makanan yang di bawanya.
"Setidaknya kamu harus bersemangat demi putrimu" ujar Ibu Nimas sambil menyuapkan makanan ke mulut Ansel.
Ansel menerima makanan itu, mengunyahnya perlahan tanpa melepas pandangannya dari wajah sang istri.
Ceklek!
"Assalamu alaikum"
Ciko melangkag masuk ke ruangan itu sembari mengucap salam.
"Irham pelakunya, Poisi sudah berhasil menangkapnya dengan bantuan Hafshah" lapor Ciko setelah berdiri di sisi brankar Drabia sebelahnya.
Ansel mengeraskan rahangnya, marah, ingin rasanya menghabisi pria itu.
"Kevin yang menyuruhnya, karna tidak terima senjatanya tidak berpungsi sama sekali. Kevin membayarnya sangat mahal" lapor Ciko lagi menjelaskan sesuai yang di katakan polisi padanya.
"Kenapa dia tidak terima, dia yang mengganggu istriku, dan sampai menyandra Ayah Ilham" geram Ansel.
Ibu Nimas mengusap lembut punggung anaknya itu. Supaya Ansel tidak terbawa emosi. Dan Ansel tidak perlu memikirkan Irham dan Kevin. Karna sudah ada yang mengurusnya.
"Dia tidak akan memikirkan kesalahannya. Karna hatinya sudah dipenuhi rasa dendam dan amarah" balas Ciko.
"Lihat saja, aku tidak akan membiarkan mereka bisa keluar dari penjara." Ansel berbicara dengan merapatkan gigi giginya."Berani mereka keluar, aku yang akan mengurung mereka. Membiarkan mereka membusuk dengan sendirinya."
Dada Ansel terlihat naik turun, menandakan betapa emosinya dia melihat istrinya menjadi korban ketidak warasan Kevin.
"Tenang An, tahan emosi" ucap Ciko melihat wajah merah Ansel dan urat lehernya hampir saja lepas sangking tegangnya.
"Istigfar Nak" ucap Ibu Nimas mengelus lengan Ansel.
"Astagfirullohal 'azim" gumam Ansel lalu menarik napasnya dalam dan mengeluarkannya perlahan, sambil mengusap dadanya.
"Ayo minum dulu." Ibu Nimas memberikan botol air minum pada Ansel yang di raihnya dari atas nakas.
Ansel menerimanya lalu meneguknya perlahan.
__ADS_1
Selesai makan, Ansel kembali duduk termenung, memandangi wajah Drabia yang begitu pulas. Entah sudah berapa lama ia duduk di kursi itu menunggu Drabia sadar. Ansel tidak merasa lelah sama sekali, dan Ansel tahan tidak tidur tidur sudah hampir dua hari.
*Bersambung