My Wife Drabia

My Wife Drabia
49.Tidak tega


__ADS_3

Seperti tersambar petir juga. Drabia terdiam menyaksikan perdebatan Ansel dan Ibu Nimas melalui laptop di depannya.


"Ansel bukan anak kandung Ibu Nimas dan Om Hendry?" gumam Drabia.


Drabia turun dari atas tempat tidur, berlari keluar kamar. Drabia ingin bertanya pada Pak Ilham. Berpikir Ayahnya mengetahui semua tentang Ansel.


Tok tok tok!


"Ayah!" panggil Drabia sembari mengetok pintu kamar orang tuanya.


Tak lama kemudian pintu kamar itu terbuka, menampakkan soso pria paru baya.


"Ada apa?" tanya Pak Ilham, matanya terlihat mengantuk.


"Apa benar Ansel bukan anak kandung Om Hendry dan Ibu Nimas?" tanya Drabia langsung. Wajahnya nampak tak sabaran menunggu jawaban dari wajahnya.


Pak Ilham menajamkan pandangannya ke wajah Drabia." Dari mana kamu tau?" tanyanya balik.


Itiu adalah rahasia yang di sembunyikan rapat rapat Pak Ilham selama ini.


Drabia pun menceritakan kalau dia menyaksika perdebatan Ansel dan Ibu Nimas melalui rekaman cctv di rumah Pak Hendry.


"Ansel pergi dari rumah Yah" ucap Drabia lagi, yang sempat melihat Ansel pergi meninggalkan rumah peninggalan Hendry sahabatnya.


"Pergi kemana?" Pak Ilham langsung kawatir, membuat mata ngantuknya menjadi melek.


"Gak tau Yah, aku akan mengechek cctv di dalam mobilnya" Drabia berlari masuk ke dalam kamarnya, di ikuti Pak Ilham dari belakang.


"Yah! Ansel pergi ke rumah lama kita" seru Drabia setelah melihat kemana Ansel membawa mobilnya.


Pak Ilham bernapas lega.


"Bagaimana Yah? Apa kita hampiri saja dia?. Kasihan Ansel Yah, dia sendirian." Drabia meneteskan air matanya melihat Ansel begitu menyedihkan.


Pak Ilham menganggukkan kepalanya. Dan mereka berdua pun bergegas meninggalkan rumah.


**


Ansel yang menjatuhkan keningnya ke setir mobil, terus menangis terisak. Dia tidak tau seperti apa hancurnya perasaannya saat ini. Ternyata dia bukan anak kandung kedua orang tuanya. Usianya sudah 28 Tahun, tapi tidak ada yang memberitahunya. Lantas siapa sebenarnya orang tua kandungnya?.


Tok tok tok

__ADS_1


Ansel menoleh ke arah kaca jendela di sampingnya. Ternyata Ibu Nimas mengikutinya.


"Ansel, buka pintunya, Mama minta maaf!" seru wanita itu dari luar.


Ansel hanya diam menghapus air matanya tanpa berniat membuka pintu mobilnya.


"Mama gak bermaksud menyakitimu. Mama menyayangimu Ansel, meski kamu bukan anak kandung Mama!" seru wanita paru baya itu lagi.


"Mama hanya kawatir, rumah peninggalan Papa kamu menjadi milik orang lain. Cuma itu satu satunya harta yang kita punya. Di rumah itu banyak kenangan kita bersama Papa kamu!" bujuk Ibu Nimas menyesal karna sudah keceplosan mengungkap kebenaran tentang Ansel.


Jika Ansel pergi, ia tidak punya tempat untuk menggantungkan diri lagi. Siapa nanti yang akan membiayai hidupnya.


"Ansel, Nak!" panggil Ibu Nimas lagi karna Ansel tidak juga membuka pintunya atau pun kaca mobilnya." Mama minta maaf!" serunya lagi.


Ansel terus menangis, dia tidak tau harus menggumamkan siapa?. Papa, Ayah, Mama, Ibu, Kakek taupun Nenek. Dia anak siapa?, keturunan siapa?.


"Mama minta maaf Ansel!. Mama menyayangimu. Tadi Mama hanya khilaf sayang!" seru wanita paru baya itu lagi.


"Nimas!"


Suara berat itu langsung mengalihkan pandangan Ibu Nimas ke arah pria dan wanita yang berjalan ke arahnya.


Ansel yang mendengar suara orang memanggil Ibu Nimas pun, menoleh ke belakang. Ansel langsung membuka pintu mobilnya dan keluar melihat Drabia dan Pak Ilham datang.


"Drabia" gumamnya berlari dan langsung memeluk tubuh istrinya itu." Kenapa lama sekali meninggalkanku?" lirihnya menangis terisak.


Drabia pun membalas pelukan Ansel, dan mengusap usap punggung pria yang sedang tak berdaya itu.


"Aku mencarimu kemana mana tapi gak ketemu. Kamu sama Ayah kemana?. Kenapa lama perginya. Aku gak memiliki siapa siapa di Dunia ini selain kalian" cerca Ansel mengeratkan pelukannya, sampai membuat Drabia sesak.


"Bersembunyi dari orang yang akan membunuh kami" jawab Drabia menatap tajam pada wanita yang berdiri di depannya.


"Aku bukan anak wanita itu" ucap Ansel.


"Itu benar, kamu bukan anaknya. Tapi kamu anak dari Papa kamu, Hendry" celetuk Pak Ilham. Sontak Ansel menghentikan tangisnya, dan melepas pelukannya dari tubuh Drabia.


"Kamu anak kandung Hendry dari wanita lain" jelas Pak Ilham.


"Apa maksudmu?" tanya Ibu Nimas bingung.


"Maksudku, Ansel anak dari wanita yang kau singkirkan dari sisi suaminya. Kau sendiri yang meminta wanita itu untuk melahirkan anak untukmu. Kau sendiri juga yang mengusirnya setelah kamu berhasil hamil. Tapi kau membuang bayimu juga, karna kamu tak yakin bayi itu anaknya Hendry" jelas Pak Ilham.

__ADS_1


Duarr!


Ibu Nimas kaget, wajahnya langsung memucat. Itu lah yang dia tidak suka dengan Pak Ilham. Semua rahasianya bisa diketahui pria itu, meski sudah menyembunyikannya rapat rapat. Lalu dimana sekarang anak yang di buangnya?. Sudah lama ia mencari keberadaan bayi itu. Namun sampai saat ini tidak bisa ia temukan.


"Maksud Ayah?" kini Ansel yang bertanya. Wanita mana yang melahirkannya?. kenapa dia tidak tau apa apa.


Pak Ilham pun menepuk pelan bahu Ansel, lalu berkata." Ibumu meninggal saat melahirkanmu Nak. Makanya Ayah membawamu ke keluarga aslimu. Membiarkanmu menjadi anak adopsi Papa kamu. Supaya kamu aman di sisi wanita itu" jelas Pak Ilham.


Air mata Ansel semakin deras mengalir, menggambarkan betapa sedihnya dirinya mendengar kabar itu. Dia tak sempat mengenal wanita yang melahirkannya.


"Kenapa Ayah baru memberitahuku sekarang?" tanya Ansel.


Kalau kebenarannya seperti itu, ia tidak perlu harus mengabdi habis habisan pada wanita yang di kiranya wanita yang melahirkannya itu.


"Ayah ingin memberitahunya, tapi Ayah tidak tega akan melihat kesedihan di wajahmu" ujar Pak Ilham.


Ansel pun menghambur memeluk tubuh Pak Ilham. Memeluk pria itu erat.


"Jadi kamu yang mencari bayi itu untuk kami?. Jadi dia anak Mutia?." Ternyata selama ini dia sudah mengasuh anak dari wanita yang berusaha menggoda suaminya.


"Iya!" Pak Ilham melepas pelukan Ansel dari tubuhnya, dan membalas tatapan Ibu Nimas," Kenapa?."


"Gak mungkin, Mutia saat itu belum hamil. Dia tidak mau hamil. Dia hanya mengiginkan Hendry dan hartanya" sanggah Ibu Nimas.


Saat mengusir wanita bernama Mutia dulu. Dia sudah memastikan Mutia belum hamil. Karna tidak suka melihat Mutia yang terus menggoda suaminya.


"Bagaimana denganmu?. Kau berselingkuh di belakang Hendry. Kau hamil anak dari pria lain. Kau membuang bayimu sendiri" balas Pak Ilham.


Sontak Drabia dan Ansel menoleh ke arah Ibu Nimas dan Pak Ilham bergantian.


Membuang bayi?, pertanyaan itu sama sama menghinggapi pikiran mereka.


"Kau Ayah dari bayi itu!" teriak Ibu Nimas sekuat tenaganya.


Pak Ilham tersenyum miring." Kau memang wanita murahan. Sudah bersuami masih saja suka di tiduri pria lain. Bahkan kamu juga menjebakku" cibir Pak Ilham.


Ibu Nimas semakin menajamkan pandangannya ke arah Pak Ilham dengan air mata berurai dan bibir bergetar.


"Ayah, apa Maksud semuanya?" tanya Drabia bingung level tinggi.


* Bersambung

__ADS_1


__ADS_2