My Wife Drabia

My Wife Drabia
70. Munafik


__ADS_3

Ansel melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah sakit, setelah selesai melakukan pemeriksaan dan mendapatkan vitamin untuk Ibu hamil yang duduk di sampingnya.


Dari tadi Drabia menyender manja di lengan Ansel dan tidak pernah berhenti mengelus elus perutnya dari tadi. Meski Ansel mengatakannya sudah hamil beberapa hari ini. Setelah periksa tadi, baru Drabia begitu yakin.


Ansel yang sibuk menyetir pun mengecup ujung kepala istrinya itu.


"Kamu di antar ke rumah kita atau ke rumah Lea?" tanya Ansel. Munkin istrinya itu nanti akan bosan sendiri di rumah, pikirnya.


Drabia menoleh ke arah Ansel sebentar." Aku mau sama kamu, tunda aja ya pertemuanya" bujuknya manja. Hari ini ia ingin menghabiskan waktu bersama sang suami. Drabia ingin bermanja manja.


"Mana bisa sayang" tolak Ansel dengan suara lembutnya.


Drabia mengerucutkan bibirnya dan menjauh dari tubuh Ansel. Ia ingim menikmati moment bahagianya bersama Ansel. Tak ingin Ansel pergi kemana mana hari ini.


"Merajuk dia" gumam Ansel.


Ini pertama kali Drabia merajuk, Ansel jadi bingung menghadapinya. Ansel pun mengaruk kepalanya sampai sisiran rambutnya berantakan.


"Janji, besok aku gak akan kemana mana sayang." Ansel mencoba membujuk Drabia.


"Aku maunya sekarang" balas Drabia masih setia memandang kaca di sampingnya.


"Besok ya" tawar Ansel.


"Ya sudah, pergilah" cetus Drabia.


Ansel menggaruk kepalanya yang tidak gatal lagi. Bingung harus membujuk Drabia bagaimana.


Setelah Ansel menghentikan laju kenderaannya di depan pintu masuk rumah mereka. Drabia langsung turun, melongos masuk terlebih dahulu ke dalam rumah.


Ansel langsung mengejarnya, memeluk wanita itu dari belakang." Aku pergi dulu sayang. Janji, besok aku akan menemanimu seharian, muah." Setelah sempat mengecup pipi istrinya itu, Ansel langsung pergi terlihat buru buru.


"Kalian jaga istriku kemana pun dia pergi" ujar Ansel pada dua security wanita yang befjaga di depan pintu rumah.


"Baik Pak" patuh kedua security wanita itu.


Mereka pun masuk ke dalam rumah, menjaga Drabia di depan pintu kamarnya. Pekejaan yang sangat membosankan, tapi demi uang mereka rela melakukannya.


Sedangkan Ansel yang sudah berada di dalam mobilnya. Melaju dengan kecepatan tidak terlalu tinggi menuju sebuah lokasi yang di kirimkan Dafa padanya. Lokasi itu ada di pinggiran kota. Dengan menempuh perjalanan lebih dari satu jam Ansel sudah tiba di lokasi.

__ADS_1


Ansel memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah yang terlihat seperti tak berpenghuni.


'Apa ini rumah mendiang Kakek?' batin Ansel memandangi rumah tua berlantai tiga di depannya.


Rumah itu terlihat sangat tidak terawat. kaca rumah itu terlihat berlimut dan ada yang sudah pecah sebagian. Halamannya sudah di tumbuhi ruput dan pohon yang rimbun. Atapnya juga sudah ada yang patah dan di tumbuhi rumput dan lumut juga. Seram, Ansel sampai merinding si bulu romah memperhatikan keadaan rumah yang terlihat angker itu.


Brum!


Mendengar deru suara mobil berhenti di belakang mobilnya, Ansel langsung nenoleh. Ternyata Dafa yang datang. Tak lama kemudian Ciko dan Pak Ilham pun menyusul.


"Ayo kita masuk" ajak Pak Ilham.


Mereka pun melangkah masuk ke rumah kosong itu. Ternyata di dalam sudah ada Irham di ikat di sebuah bangku.


Ansel mendekatinya, membalas tatapan tajam Irham kepadanya." Assalamu alaikum calon kakak ipar" sapa Ansel bernada mencibir.


Ternyata jika Pak Ilham sudah turun tangan, tidak sulit baginya untuk menyelesaikan masalah. Pak Ilham langsung bertindak cepat untuk menangkap Irham. Tentu dengan bantuan Dafa sebagia orang kepercayaan Pak Ilham.


"Kenapa kalian menangkapku lagi?. Bukankah aku sudah tidak pernah mengganggu kalian?" tanya Irham, wajahnya terlihat marah dan menyedihkan karna tidak bisa berbuat apa apa.


"Tapi kamu berencana balas dendam padaku, istriku dan juga Ayah" jawab Ansel.


"Kamu bukan anak kandung Herman dan April. Kamu hanya anak angkat" jelas Pak Ilham.


Irham terdiam dan menajamkan pandangannya ke wajah Pak Ilham.


"Dan juga, aku dan Hendry tidak membuat perusahaan Pak Herman bangkrut. Dia aja yang bodoh, tidak berhati hati memilih rekan bisbis Jadi jangan menyalahkan saya, Hendry ataupun Ansel. Kami sudah lama putus hubungan dengan mereka" jelas Pak Ilham lagi.


"Soal April, aku menikahinya setelah dia resmi bercerai dengan Herman. Jadi saya rasa, saya tidak melanggar hukum apa pun" tambah Pak Ilham lagi.


"Dan kamu bukan sepupuku" timpal Ansel.


Irham berdecih," saya juga tidak menganggapmu sepupu" balasnya.


"Jadi, saya peringatkan. Jangan mengusik hidup kami. Jika kamu masih ingin bisa hidup dengan bebas" ancam Ansel.


Ansel pun melangkahkan kakinya keluar dari rumah kosong itu. Begitu juga dengan Pak Ilham, Dafa dan Ciko.


"Woi ! lepaskan!" teriak Irham melihat ke empat pria itu pergi begitu saja tanpa membuka ikatan tali yang melilit tubuhnya.

__ADS_1


Ke empat pria itu sama sama menulikan telinga mereka, dan masuk ke dalam mobil masing masing, melaju meninggalkan rumah tak berpenghuni itu.


"Aaakh! sialan! awas kalian!" teriak Irham lagi.


**


Malam hari


Ansel yang baru pulang ke rumah, lansung masuk ke dalan kamar. Di lihatnya Drabia sudah bergulung di bawah selimut, padahal jam baru menunjukkan pukul tengah delapan malam. Rasanya tidak mungkin kalau istrinya itu sudah mengantuk dan tertidur. Sepertinya istrinya itu masih merajuk.


"Drabia" panggil Ansel menyentuh lengan istrinya itu. Dan yang benar saja, istrinya itu langsung menepis tangannya dengan siku.


'Dia masih merajuk' batin Ansel.


Ansel pun diam sambil berpikir keras, gimana caranya meluluhkan hati istrinya itu. Perlahan Ansel mengulas senyumnya saat menemuka ide cemerlang untuk mengobati hati istrinya yang sedang meradang itu.


Ansel pun naik ke atas kasur, merangkak di atas tubuh istrinya itu. Lalu memeluk tubuh itu dan menciumi seluruh wajah Drabia. Dan yang benar saja, perlahan senyum istrinya itu pun mengembang.


"Ansel! awas, aku lagi merajuk!" seru Drabia berusaha mendorong dada Ansel supaya menjauh dari atas tubuhnya.


"Cieeee mana ada orang merajuk mengaku terang terangan." Ansel mencolek dagu Drabia, lalu mengecup bibir itu sampai bengkang.


"Awas!"


Susah di cium lama, ternyata istrinya itu belum sembuh hatinya, masih merajuk. Ternyata sudah juga membujuk istri kalau sudah merajuk. Mau di sogok uang, istrinya itu lebih banyak uang.


"Sayang, udah dong merajuknya" bujuk Ansel manja.


"Sana pergi! kenapa pulang?" usir Drabia.


Ansel kembali memeluk istrinya itu." Karna rumahku di sini" jawabnya, menunjuk dada Drabia.


"Di dalam sini ada aku, bagaimana aku gak pulang ke sini. Di sini ada tempat untukku" ucap Ansel lagi begitu manis." Trimakasih sayang, sudah memberiku tempat di sini" ucapnya lagi. Berhasip membuat hati Drabia luluh.


"Perasaan!" cibir Drabia tidak mengakui kalau dia memberi tempat di hatinya untuk Ansel. Padahal sudah jelas jelas Ansel tau hal itu.


"Gak usah munafik deh" cibir Ansel. Menjatuhkan tubuhnya di samping Drabia, lalu memeluk tubuh itu erat. Mengusap usap perut Drabia dengan lembut." Ini buktinya" ucapnya.


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2