My Wife Drabia

My Wife Drabia
57. Mimpi Indah


__ADS_3

Malam hari, Ansel terus memandangi wajah istrinya yang sudah tertidur pulas di sampingnya. Wajahnya terlihat teduh dan menenangkan.


Semenjak tadi di kantor, istrinya itu berubah pendiam, semenjak ucapan Ciko soal 'cewek bekasan'. Ciko tidak bermaksud menyinggung Drabia. Hanya saja istrinya itu teringat masa lalunya yang suram.


Cup!


Satu kecupan Ansel berikan di kening istrinya itu. Ansel menyesal sudah pernah menghina Drabia, tanpa memikirkan betapa sakitnya hati istrinya itu di awal awal pernikahan mereka.


"Astagfirullohal 'azim" gumam Ansel.


Sekarang Ansel baru sadar, jika seorang istri juga adalah titipa bagi seorang suami. Buka Pak Ilham yang menitipkan Drabia padanya, tapi Allah. Pak Ilham hanyalah perantara.


"Ansel kamu belum tidur?" gumam Drabia, saat Ansel mengecup pipinya.


Ternyata istrinya itu terusik dengan kecupan di pipinya.


"Belum, tidurlah" Ansel menarik Drabia ke dalam pelukannya, dan kembali mengusap usap kepala istrinya itu.


"Udah jam berapa?, kenapa belum tidur?."


"Aku masih ingin memandangi wajahmu" jawab Ansel.Drabia membuka kelopak matanya, Ansel tersenyum." Kenapa baru sekarang aku menyadari kalau ternyata kamu sangat cantik" gombalnya.


Drabia memejamkan mata ngantuknya kembali dan menyembunyikan kepalanya ke bawah ketiak Ansel.


"Karna kamu hanya melihatku dengan penglihatanmu saja, makanya kamu hanya bisa melihat luarku saja" jawab Drabia bergumam.


"Lalu aku harus melihatmu pakai apa?" Ansel menautkan kedua alisnya. Mata untuk melihat, apa masih ada indra penglihatan lain di tubuh manusia selain mata.


"Dengan cinta" jawab Drabia.


Ansel menjatuhkan satu kecupan lagi di ujung kepala istrinya itu." Kalau begitu, mari kita bercinta" ujarnya tersenyum.


Oh! ternyata suaminya itu tak bisa tidur karna menginginkan sesuatu yang nikmat.


Drabia tidak menjawab, ia pun semakin menyembunyikan wajahnya di bawah ketiak. Sehingga membuat Ansel terkekeh melihat tingkah malu malu istrinya itu. Mereka sudah sering melakukannya, istrinya itu masih malu malu mau.


Satu dua tiga, Ansel pun menutup tubuh mereka dengan selimut. Mencumbu istrinya itu dengan tak sabaran.


"Oh my God Ansel!" ucap Drabia matanya kembali melek.


Hampir satu jam berlalu, Ansel akhirnya menghempaskan tubuhnya di samping Drabia, dengan napas begitu memburu. Begitu juga dengan Drabia yang terbaring lemah tak berdaya di sampingnya. Ansel mengusap perut Drabia sambil melapazkan doa dalam hati, semoga ****** ***** mereka menjadi buah cinta.

__ADS_1


"Trimakasih sayang!." Ansel mengecup pipi Drabia dan menarik tubuh itu ke dalam pelukannya.


Drabia mengangguk, ia pun membalas pelukan Ansel.


**


Pagi hari yang cerah, Drabia menggeliatkan tubuhnya saat terbangun dari tidur lelapnya. Wajahnya nampak berbinar bahagia, mengingat mimpi indahnya di setiap malam. Ansel berada di sampingnya, Ansel mencintainya, Ansel menyayanginya, Ansel memperlakukannya dengan sangat baik.


Drabia membuka kelopak matanya saat meraba kasur di sampingnya sudah tidak ada Ansel. Saat menoleh ke arah dinding kaca kamar itu. Ternyata matarahi sudah terik di luar rumah. Ansel tidak membangunkannya yang ketiduran setelah pergulatan mereka selesai subuh tadi.


Melihat selembar kertas kecil di atas nakas, Drabia pun meraihnya dan membaca tulisan di dalamnya.


*Di dapur, aku sudah menyiapkan sarapan untukmu*


Drabia mengulas senyumnya membaca isi kertas sederhana itu. Padahal tidak ada kata kata yang indah di dalamnya, tapi perhatian kecil seperti itu, mampu mengembangkan senyum di bibirnya.


Drabia turun dari atas tempat tidur setelah melilit tubuhnya dengan selimut, melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selsai Drabia langsung keluar dan segera memakai pakaian lalu keluar kamar. Sampai di dapur, Drabia melihat makanan di atas meja makan di tutup dengan tudung saji. Drabia pun menikmati makanan yang di siapakan Ansel untuknya.


Sebagai balasan, Drabia pun memasak untuk makan siang mereka. Drabia akan membawa hasil masakannya itu ke perusahaan.


Sampai di perusahaan, Drabia langsung masuk ke ruangan Ansel yang menggantikannya meminpin perusahaan.


"Sayang!" panggil Drabia merekahkan senyumnya saat tangannya berhasil mendorong pintu ruangan itu." Aku membawa makan siang untukmu" Drabia menunjukkan kotak makanan di tangannya.


"Kenapa gak istirahat aja, bukankah kamu kelelahan?" ujar Ansel setelah mengecup kening istrinya itu. Tadi pagi istrinya itu mengeluh tubuhnya lelah, makanya Ansel membiarkan istrinya itu tidur kembali, dan tidak membangunkannya saat akan berangkat kerja.


"Tadi, sekarang gak lagi" Drabia menyegir.


"Jangan jangan dedek bayinya udah jadi" Ansel mengelus perut Drabia yang masih rata, berharap apa yang di ucapkannya, benar. Ansel sudah tidak sabaran ingin memiliki anak, sehingga ia mengajak Drabia berusaha setiap ada waktu dan tempat.


"Amin, mudah mudahan aja" balas Drabia.


Mereka pun berjalan ke arah sofa, mendudukkan tubuh mereka di sana, untuk menyantap makan siang yang di bawa Drabia dari rumah.


"Sayang, kita jenguk Mama ya. Kata pembantu di rumah Mama. Mama lagi sakit" ujar Ansel saat menyuapkan makanan ke mulut istrinya itu.


Drabia terdiam sejenak dan menatap tajam pada Ansel, lalu menganggukkan kepalanya.


Ansel mengusap kepala Drabia, dan kembali menyuapi istrinya itu makanan.


Meski Ibu Nimas pernah menyakiti mereka. Tapi Ibu Nimas juga pernah melakukan kebaikan pada mereka. Sebagai seorang anak, mereka tetap harus berbakti kepada orang tua, itu yang di pikirkan Ansel.

__ADS_1


"Tapi di sana kita sebentar aja" ujar Drabia.


"Iya sayang" balas Ansel cepat.


"Nanti kita ke rumah Lea ya" ajak Drabia. Semenjak menyerahkan pekerjaan padasuami suami mereka. Drabia dan Lea sudah jarang bertemu. Apa lagi saat ini kondiri Lea ngidam parah.


"Iya sayang" balas Ansel lagi.


"Udah itu baru ke rumah Ayah, kita makan malam di sana."


"Iya sayang"


Drabia mengerucutkan bibirnya dengan mata memicing ke arah Ansel. Karna suaminya itu menjawab tanpa melihatnya dan sibuk membaca pesan di hapenya. Dan parahnya lagi, Ansel menabrakkan sendok ke hidungnya saat menyuapinya.


"Ansel Arshaka Budiman."


Sontak Ansel menoleh ke arah Drabia, lantas tersenyum melihat hidung Drabia di lumuri kuah ayam kecap.


"Kamu mah gitu" rajuk Drabia cemberut.


Ansel malah tertawa cekikikan," maaf gak sengaja." Ansel mendekatkan wajahnya ke wajah Drabia, membuat Drabia refleks menjauhka wajahnya. Namun Ansel langsung menahan tekuknya dari belakang dan melap ujung hidung Drabia dengan sapuan lidah dan bibirnya. Dan sapuan itu pun berlanjut ke bibir manis istrinya itu.


"Permisi!"


Bruk!


"Aw!" keluh Ansel saat tubuhnya mendarat di lantai." Sayang kok aku di dorong?."


"Ck ck ck..!" Ciko yang masuk sembarangan ke ruangan itu berdecak decak." Apa di rumah aja gak cukup, sampai masih lanjut ke sini?."


Wajah Drabia merona, ia pun sibuk memperbaiki kancing baju dan jilbabnya.


"Yang halal mah bebas" balas Ansel berusaha berdiri dari lantai." Ada apa kau ke sini?" cetusnya kemudian.


Ganggu aja, pikir Ansel.


Ciko berdecak," bukankah kau yang menyuruhku mengantar berkas ini?." Ciko memberikan berkas di tangannya pada Ansel.


"Sayang, tunggu sebentar ya" Ansel membawa berkas itu ke meja kerjanya.


"Tunggu apa lagi, apa yang tadi Nanggung?" tanya Ciko mengikuti Ansel ke meja kerjanya.

__ADS_1


Drabia yang duduk di sofa menunduk malu malu.


*Bersambung


__ADS_2