
"Sayang!" seru Ansel saat masuk ke dalam rumah, melangkahkan kakinya ke arah Dapur. Ansel yakin istrinya berada di dapur, karna mencium aroma masakan dari arah dapur.
Sampai di dapur, dan benar saja, istrinya itu sibuk mengaduk aduk masakannya. Ansel pun memeluk istrinya itu dari belakang, lalu memenerikan sebuket bunga mawar pada istrinya itu. Mengingat tadi pagi istrinya itu merajuk lagi Karna Ansel berbohong. Katanya hari ini gak kerja, tapi nyatanya Ansel tetap berangkat kerja.
"Maaf" ucap Ansel melihat istrinya itu cuek aja.
Drabia yang masih merajuk pun, mengabaikan Ansel. Meski sebenarnya hatinya luluh melihat bunga mawar berwarna merah muda di depannya.
"Sayang" rajuk Ansel manja, mengharap iba dari istrinya itu.
"Awas" Drabia malah menyingkirkan tangan Ansel yang melingkar di perutnya. Karna masakannya sudah matang. Marya ingin mengambil mangkok untuk tempat masakannya.
"Besok iya, janji akan libur" Ansel mengikuti langkah Drabia dari belakang.
"Terserah"
Ansel menggaruk leher belakangnya, mendengar kata terserah dari mulut istrinya. Terserah maksudnya gimana nih?, Ansel bingung.
"Janji sayang, besok aku akan libur. Akubakan menghabiskan waktu denganmu dan anak kita." Ansel kembali memeluk tubuh wanitanya itu dari belakang.
"Terserah, aku gak peduli" ketus Drabia.
"Tapi aku peduli" Ansel mengecup pipi Drabia dari samping.
"Aku gak mau menghabiskan waktu denganmu, jangan menggangguku" ketus Drabia lagi, melangkahkan kakinya ke arah meja makan dengan membawa mangkok berisi hasil masakannya.
"Aku harus mengganggu siapa lagi, kalau bukan mengganggu istriku. Masa aku hasur mengganggu istri orang, bisa habis aku dibogem suaminya" ujar Ansel.
"Gak peduli"
"Sayang!" rengek Ansel manja. Dia tidak tau lagi cara membujuk istrinya itu.
Drabia mengabaikannya, ia pun meninggalkan dapur, melangkah ke arah tangga rumah itu. masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri karna hari sudah sore.
Ansel mengikutinya, tanpa peduli istrinya yang sedang merajuk. Ansel mengangkat tubuh Drabia setelah mengunci pintu kamar mereka terlebih dahulu.
"Ansel!" pekik Drabia saat merasakan tubuhnya melayang.
"Jangan merajuk lama lama sayang. Aku gak tahan" Ansel pun membawa tubuh istrinya itu masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Keluar dari dalam kamar mandi, Ansel wajahnya sumiringah, sedangkan Drabia wajahnya semakin cemberut, tapi tetap saja terlihat berbinar.
Selesai berpakaian, Ansel mendekati Drabia yang duduk di kursi meja rias. Ia pun mengambil sisir dari tangan Drabia, lalu menyisir rambut panjang istrinya itu.
"Rambutmu sangat lembut, aku menyukainya" ucap Ansel menggerai rambut istrinya itu dengan tangannya." Trimakasih sudah menutupinya" ucapnya lagi.
"Aku melakukannya demi diriku" balas Drabia.
"Aku tau, tetap saja aku harus berterima kasih dan bersyukur" balas Ansel.
Selesai menyisir rambut Drabia, Ansel pun berusaha mengikatnya. Namun Ansel tidak bisa mengikatnya rapi. Ini pertama kalinya ia mengurus rambut wanita. Selama ini ia hanya bisa membuat rambut Drabia berantakan di atas kasur.
Melihat hasil karya suaminya, terpaksa Drabia mengikat ulang rambutnya, membuatnya serapi mungkin. Setelah selesai, Drabia berdiri dari kursi meja rias, memutar tubunya ke arah Ansel.
"Janji besok gak kerja" rajuknya manja.
Ansel tersenyum, ia pun menganggukkan kepalanya." Iya sayangku" ucapnya mencubit dagu Drabia.
"Awas kalau bohong" ancam Drabia namun tangannya melingkar memeluk tubuh suaminya itu.
"Nggak sayangku. Janji gak bohong lagi" Ansel mencubit gemas dagu istrinya itu.
Esok hari, benar Ansel tidak bohong lagi. Selesai melaksanakan shalat subuh, Ansel kembali mengajak Drabia ke tempat tidur, mengajak istrinya itu tidur kembali. Mumpung Ibu bos menyuruhnya libur, Ansel ingin puas puasin tidur.
"Ayo jalan pagi, pagi lagi gini pasti udaranya segar" ajak Drabia yang sudah berbaring kembali di atas tempat tidur.
"Ini masih gelap, nanti tunggu matahari terbit dulu. Cahayanya bagus untuk kesehatan tulang dan kulit kita" jawab Ansel bergumam dengan mata terpejam, dan mengeratkan pelukannya ke tubuh Drabia.
"Pasti nanti kamu kebablasan tidurnya sampai jam sepuluh" ujar Drabia. Setiap hari libur, Ansel memang selalu molor sampai siang.
"Gak sayang, aku sudah membuat alarm jam tujuh" balas Ansel.
"Awas nanti kalau gak bangun" ancam Drabia.
Merasakan hangat dan nyamannya pelukan Ansel ke tubuhnya, Drabia pun mengantuk kembali. Perlahan matanya pun terpejam dan akhirnya terlelap. Saat terbangun, ternyata jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Drabia belum makan pagi, membuat perutnya keroncongan karna lapar.
"Ansel, bangun, aku lapar, ini sudah jam sepuluh." Drabia menggoncang kuat lengan Ansel yang masih setia memeluknya.
Ansel langsung terbangun dan membuka kelopak matanya. Di lihatnya Drabia sudah cemberut karna kelaparan.
__ADS_1
"Maaf sayang" Ansel mendudukkan tubuhnya dan langsung turun dari atas tempat tidur. Enak ketiduran membuatnya lupa bangun. Dan yang paling parah ikut membuat istrinya terlelap sampai melewatkan makan pagi.
Ansel pun segera keluar kamar, berjalan cepat menuruni anak tangga menuju dapur untuk mencari makanan.
"Bapak mau cari makanan?. Itu sudah Bibi siapin. Bibi tau pasti Bapak dan Ibu ketiduran" ujar pembantu rumah itu, sudah hapal kebiasaan kedua majikannya itu. Jika selesai subuhan tidak keluar kamar, pasti majikannya itu keluar setelah hampir siang.
"Makasih Bi" Ansel mengulas senyumnya, lalu mengambil makanan dari bawah tudung saji yang berada di atas meja makan. Ansel pun langsung membawanya ke kamar.
Oek!
Seketika Drabia mual mencium aroma makanan yang di bawa Ansel dari dapur.
"Sayang! kamu kenapa?" Ansel meletakkan nampan di tangannya di atas meja nakas, dan langsung naik ke atas kasur." Kenapa?" tanyanya kawatir melihat wajah Drabia pucat dan menutup hidung.
"Itu makanannya bawa keluar, aromanya bau" Drabia berbicara dengan menutup hidungnya. Entah kenapa tiba tiba ia mual mencium aroma makanan, padahal beberapa hati ini penciumannya baik baik saja.
"Iya sayang, ini minum susunya" Ansel memberikan susu Ibu hamil yang dia bawa dari dapur.
Drabia menggelengkan kepalanya, melihat susu itu juga perutnya mual.
"Kenapa? kemarin suka" tanya Ansel heran.
"Gak mau lagi" rengek Drabia manja. Dia gak mau makan apa apa, dan gak mau minum susu.
"Kamu mau makan apa, biar kumasakin atau di cari di luar" tawar Ansel. Sedikit sedikit ia sudah memahani Ibu hamil setelah mendengarkan penjelasan Dokter kemarin.
"Cepat bawa keluar makanannya Ansel" rengek Drabia semakin tak tahan mencium aroma masakan yang menurutnya memakai bawang putih.
"Iya iya sayang" Ansel bergegas turun dari atas kasur dab membawa kembali makanan yang di bawanya ke luar kamar.
Drabia langsung menghembuskan napasnya kasar, lalu menjatuhkan kembali tubuhnya di atas kasur. Tak lama kemudian Ansel kembali masuk ke dalam kamar, membawa nampan berisi makanan yang berbeda. Buah manis dan asam yang di potong potong di dalam piring.
"Makan ini mau?" tanya Ansel naik ke atas tempat tidur.
Drabia menoleh lalu menganggukkan kepalanya. Ansel bernapas lega, ia pun memberikan sepiring buah potong itu pada Drabia.
Setelah mendudukkan tubuhnya, Drabia langsung mamakan buah itu satu persatu.
*Bersambung
__ADS_1