
Ansel melangkahkan kakinya begitu gontai masuk ke ruang perawatan Drabia, dengan air mata menetes begitu deras mengalir di pipinya. Meski sempat mengatakan ikhlas jika istrinya harus pergi. Tapi itu sangat berat rasanya, dan nyatanya Ansel belum siap untuk kehilangan Drabia.
"Drabia, bukalah matamu Drabia. Lihat aku dan putri kita, Drabia. Kasihanilah kami sedikit saja. Kami membutuhkanmu Drabia. Bagunlah sayang, aku mohon. Jika pun kamu harus pergi, lihatlah kami untuk yang terakhir kalinya. Katakan sesuatu Drabia, katakan sesuatu yang bisa membuatku bahagia jika kamu benar benar ingin pergi" lirih Ansel di dalam isak tangisnya.
"Aku mohon Drabia, jangan tinggalkan kami. Apa kamu gak kasihan melihat putri kita?." Ansel menjeda kalimatnya, lalu memindahkan Salwa yang tidur di gendongannya berbaring di samping Drabia." Putri kita membutuhkan pelukan hangat darimu, Drabia."Ansel semakin menangis terisak.
"Ansel"
Tangis Ansel terhanti, mendengar suara Ibu Nimas memanggilnya. Ibu Nimas yang sudah berdiri di samping Ansel, mengusap bahunya dengan lembut. Ibu Nimas juga tak kalah sedih. Ibu Nimas juga menangis dari tadi saat mendengar Dokter untuk ikhlas melepas Drabia pergi.
"Aku belum siap kehilangannya, Ma!" tangis Ansel semakin pecah saat menghambur memeluk tubuh wanita yang membesarkannya itu.
Ibu Nimas mengusap usap pungngung Ansel dari belakang untuk menenangkannya, meski ia sendiri juga tidak kalah sedihnya dari Ansel.
"Tapi Nak, lihatlah tubuhnya. Tubuhnya sudah habis dan hanya tinggal tulang" isak tangis Ibu Nimas, kasihan melihat kondiri fisik putrinya itu yang hanya tinggal tulang.
"Gak Ma, aku belum siap Ma." Kehilangan, tidak akan ada orang yang siap untuk kehilangan. Apa lagi kehilangan orang yang di cintai, terutama kehilangan pasangan.
"Mama mengerti sayang, Mama juga gak siap. Dia putri Mama, Mama baru mengetahuinya. Mama baru menemukannya."
Akhirnya Ibu dan anak itu sama sama menangis di ruangan itu tanpa ada yang menenangkannya.
"Yah! huaaaaa...!"
Untung saja ada Salwa yang menyadarkan mereka. Tangis Salwa berhasil menghentikan tangis Ansel dan Ibu Nimas.
"Salwa, kamu bangun Nak?." Ansel yang sudah melepas pelukannya dari Ibu Nimas, langsung meraih tubuh putrinya itu. Mungkin putrinya itu terbagun karna mendengar suara bising tangis mereka. Dan juga, putrinya itu selalu ikut menangis jika melihatnya menangis.
"Pulanglah, biar Mama yang menjaganya di sini" ucap Ibu Nimas. Supaya Ansel membawa putrinya pulang, suasana rumah sakit tidak bagus untuk anak kecil.
"Gak Ma, malam ini kami mau tidur di sini. Kami ingin menghabiskan waktu bersama di sini. Kami belum pernah melakukannya Ma" tolak Ansel.
"Tapi Nak, gak bagus buat Salwa di sini. Di rumah sakit itu sarangnya penyakit, banyak virus di sini. Fisik anak kecil itu lemah" jelas Ibu Nimas.
__ADS_1
"Tolong mengerti kami Ma. Sebelum aku mengambil keputusan, biarkan kami menghabiskan waktu bersama, Ma" tolak Ansel lagi.
Ibu Nimas mendesah pasrah.
Malam itu Ansel dan putrinya pun menginap di ruang perawatan itu. Ansel membaringkan tubuhnya di samping Drabia, memeluk tubuh kurus tinggal tulang itu. Ansel sangat kangen masa masa itu. Diamana mereka tidur berdua sama sama memberi kehangatan.
"Kalau kamu pergi, selamanya aku akan kedinginan Drabia. Aku sudah sempat terbiasa dengan tubuhmu ini" ucap Ansel menempelkan wajahnya ke wajah Drabia." Duniaku akan terasa gelap tanpa kamu."
"Drabia, maafkan kesalahanku dulu yang pernah menyakitumu. Jangan menghukumku seberat ini, Drabia. Hukuman ini tidak setimpal dengan rasa sakitmu. Ini terlalu sakit, kau tidak adil."
"Katamu, kau sudah memaafkan aku. Tapi mana?, kau marah dan mendiamkanku selama ini. Aku tau, aku juga pernah mendiamkanmu, tapi tidak sekejam ini, sampai putri kita pun kau hukum. Kau jahat Drabia. Dari dulu kau tidak berubah, kau selalu berbuat semaumu. Kau selalu membuatku dalam masalah. Kau selalu melibatkanku dalam masalahmu" rancau Ansel dengan air mata bercucuran dari sudut matanya.
"Aku mohon, bangunlah."
Ansel terus berbicara mengeluarkan semua isi hatinya. Sampai lupa untuk memejamkan mata walau hanya sekejap hingga pagi menjelang.
Jika bukan karna mendengar suara putrinya yang menangis dari dalam box bayi, mungkin Ansel tidak akan tersadar dari lamunannya.
Ansel yang berbaring di samping Drabia, pun turun dari atas brankar mendekati putrinya yang berada di samping brankar.
"Kenapa menangis sayang?" tanya Ansel sambil memeriksa popok putrinya itu.
Ternyata sedang mengeluarkan sampah. Pantas saja putrinya itu menangis setela terbangun. Ansel pun membawanya ke kamar mandi yang ada di ruangan itu untuk membersihkannya. Setelah selesai, membawanya kembali keluar dari kamar mandi.
Melihat waktu sudah masuk subuh, Ansel pun memutuskan untuk menunaikan ibadah subuh di ruang perawatan itu, setelah memasukkan Salwa kembali ke dalam box bayi.
Selesai melaksanakan shalat subuh, Ansel lanjut melantunkan ayat ayat suci dalam Alqur'an di samping Drabia. Berharap istrinya itu bisa mendengarnya dan terbangun dari tidur lelapnya.
**
"Apa kalian sudah yakin untuk mencabut alat alat yang melekat di tubuhnya?" tanya Dokter yang merawat Drabia selama ini pada Ansel dan keluarganya.
"Saya sudah ikhlas Dok" tangis Pak Ilham terisak di kursi rodanya. April yang berdiri di belakangnya langsung mengusab bahunya lembut.
__ADS_1
"Saya juga sudah Ikhlas Dok" ucap Ibu Nimas menangis pilu.
"Sekarang tergantung anda Pak Ansel. Anda lebih berhak memutuskannya" ucap Dokter pria itu pada Ansel yang duduk di depan mejanya.
"Bismillahirrohmanir rohim, Astagfirullohal 'azim, Ya Allah!." Ansel memejamkan matanya, air mata pun langsung mengalir deras dari pelupuk matanya.
Setelah memikirkannya hampir satu Bulan, dan meminta petunjuk dari Allah. Dan setelah di bicarakan dengan keluar. Hari ini Ansel memutuskan untuk mengikhlaskan jika istrinya harus pergi selama lamanya.
Ansel tak bisa berucap kata apapun, tenggorokannya tercekat begitu sakit untuk mengatakan sudah ikhlas. Ansel terus menangis.
"Jika kamu belum siap, jangan putuskan apa pun" ucap Ciko menarik sahabatnya itu ke dalam pelukannya.
"Aku ikhlas ya Allah" tangis Ansel meraung di pelukan Ciko." Aku ikhlas, aku ikhlas."
Saat Ansel mengatakan sudah ikhlas, semua anggota keluarga yang ada di ruangan itu menangis terisak. Termasuk Lea yang dari tadi berada di pelukan Dafa.
"Ansel" ucap Ciko merasakan tubuh Ansel melemah di pelukannya. Ansel pingsan tak kuasa menahan sedih dan takut kehilangan istrinya.
Dokter yang duduk di depan Ansel langsung berdiri dari tempat duduknya, untuk menyadarkan Ansel yang pingsan di tempat duduknya, dengan mengoleskan minyak kayu putih ke hidungnya.
Ansel langsung sadar dan berlari ke luar ruangan Dokter itu, masuk ke dalam ruangan perawatan Drabia.
Buarr!
Tak sadar Ansel mendorong pintu ruang perawatan itu dengan kuat, sehingga menimbulkan debuman yang kuat.
Ansel berlari ke arah brankar, menghamburkan tubuhnya memeluk tubuh tak berdaya itu.
"Drabia! bangun Drabia!" teriak Ansel sambil menangis." Drabiaaaaa! Baguuuuuun!."
Ansel menangis sejadi jadinya, tak peduli suaranya menimbulkan kebisingan di rumah sakit itu.
*Bersambung
__ADS_1