
Setelah mendapatkan makanan yang di inginkan Drabia. Ansel pun melajukan kenderaannya ke arah rumah Lea dan Dafa. Sampai di sana, mereka langsung masuk ke dalam rumah itu setelah pembantu membukakan pintu untuk mereka.
"Assalmu alaikum!" seru Drabia setelah berada di ruang tamu rumah itu, karna si pemilik rumah tidak kelihatan.
Tak lama kemudian, Lea pun datang dari lantai dua rumah itu bersama Dafa suaminya.
"Daf, kamu gak kerja juga?" tanya Ansel melihat sahabatnya itu masih memakai pakaian santai.
"Sebentar lagi, aku harus mengurus Lea dulu. Kalau tidak di temani makan, dia tidak akan makan" jawab Dafa.
Lea juga mengalami ngidam, sama seperti Drabia. Hanya saja, Lea masih bisa makan pagi walau sedikit, tapi harus di tamani makan oleh Dafa.
Ansel mengangguk paham, beberapa hari ini, ia juga kewalahan memgurus Drabia yang mengalami ngidam.
"Sayang, kamu juga makan ya" bujuk Ansel pada Drabia yang duduk di sampingnya.
"Sebentar lagi" balas Drabia, dia belum berselera, meski makanan yang di inginkannya sudah ada di depan mata.
Tin tin tin !!!
"Siapa sih?" sungut Ansel.
Suara klakson mobil itu sangat ribu dari luar, membuat pekak telinga yang mendengarnya.
"Palingan Ciko" jawab Dafa, sepertinya sudah mengenal suara klakson mobilnya.
Dan benar, tak lama kemudian Ciko masuk ke dalam rumah Dafa, membawa beberapa map di tangannya.
"Ini berkasnya" Ciko melempar map di tangannya ke atas meja sofa dengan kesal.
Bagaimana tidak kesal, tadi Ansel menyuruhnya mengantar berkas berkas ke rumahnya. Sampai di sana ternyata Ansel dan Drabia tidak ada di rumah. Dan sekarang ternyata berada di rumah Lea dan Dafa.
"Pekerjaanku juga banyak, pagi pagi kamu sudah menyuruhku mengukur panjang jalan" sungut Ciko.
Moodnya lagi tidak bagus, selain pekerjaannya banyak, tadi malam Lala menolak cintanya.
"Drabia mengajak keluar, baby kami pengen jalan jalan dan mencari makanan" balas Ansel sambil mengelus elus perut istrinya dengan santai.
Ciko diam tidak bisa berkata lagi, jika itu sudah bersangkutan dengan Ibu bos.
"Ya sudah, aku pergi, nanti siang kalian berdua jangan lupa, ada meeting" cetus Ciko langsung keluar dari rumah Dafa.
"Kenapa dia?" tanya Dafa.Ansel mengedikkan bahunya.
"Cintanya di tolak" jawab Drabia.
"Kok tau sayang?" tanya Ansel pada istrinya.
__ADS_1
"Lala ngasih tau aku" jawab Drabia.
"Pantasan dia sensi" ucap Ansel.
"Ibu Ciko menyampari Lala sebelumnya, menyuruh Lala untuk menolak Ciko" jelas Drabia.
Ansel, Dafa dan Lea pun sama sama menoleh ke arah Drabia.
"Masa sih?" Dafa tidak percaya. Setaunya orang tua Ciko, orang yang baik.
"Gitu kata Lala. Katanya jangan bilangin ke Ciko, kenapa dia menolak Ciko"jawab Drabia.
Ansel dan Dafa pun sama sama menghela napas mereka. Baru juga mulai suka, sudah di terpa cobaan, pikir mereka.
"Kamu sih sayang, main jodoh jodohin anak orang" ujar Ansel.
"Ya, mana kutau kalau begitu jadinya" balas Drabia.
"Gimana? kira kira udah bisa makan belum?" tanya Ansel sembari megusap perut Drabia, yang katanya adek bayinya ga suka makan pagi.
"Sedikit"
Ansel pun menusuk goreng pisang yang sudah di potong potong dengan garpu, lalu menyuapkannya ke mulut Drabia yang terbuka.
"Gimana? suka?" tanya Ansel saat Drabia menguyah makanan di mulutnya.
Akhirnya Ansel merasa lega, setelah istrinya menemukan makanan yang di sukainya.
"Makan yang banyak, biar bayi kita sehat." Ansel menyuapkan kembali gorengan pisang itu ke mulut Drabia.
"Mua itu juga?" tanya Dafa pada Lea yang memperhatikan goreng pisang di piring Drabia.
"Pengen nyicip aja" jawab Lea.
Setelah urusan perut kedua bumil itu beres. Ansel dan Dafa pun memutuskan berangkat bekerja, karna siang ini ada meeting penting di perusahaan pusat.
"Sayang, aku pergi dulu ya. Nanti selesau meeting aku akan jemput" pamit Ansel lalu mengecup kening istrinya itu.
"Jangan lama lama" manja Drabia tak ingin berjauhan lama lama dengan suaminya.
"Iya sayang" Ansel pun melangkahkan kakinya keluar rumah. Begitu juga dengan Dafa yang sudah berpamitan pada Lea.
Sepeninggal Ansel dan Dafa, Lea pun mengajak Drabia masuk ke sebuah kamar tamu untuk istirahat. Di dalam kamar, ke dia bumil itu pun sama sama naik ke atas kasur, duduk bersandar ke kepala ranjang.
"Aku gak nyangka kita akan sama sama punya anak" ujar Drabia mengelus perutnya.
"Iya, tapi nanti lebih tua anakku sedikit" balas Lea mengusap perutnya juga.
__ADS_1
"Aku bermimpi, anak kita sama sama cewek. anakku bernama Salwa, anakmu namanya Inara" cerita Drabia.
"Masa sih?" Lea menajamkan pandangannya ke wajah Drabia.
"Nanti kasih nama Inara ya namanya, kalau lahir cewek" ujar Drabia, tangannya berpindah mengelus perut Lea.
"Kalau Dafa setuju, mana tau dia sudah menyiapkan nama untuk anak kami" balas Lea.
Drabia mengangguk paham, lalu tersenyum getir.
**
"Sayang!" Ansel yang baru pulang kerja, langsung memeluk Drabia dari belakang, lalu mengusap lembut perut Drabia yang sudah tampak besar.
Wajar saja, kini kandungan istrinya itu sudah masuk usia tujuh bulan.
"Ada apa?, wajahmu terlihat bahagia sekali."
Cup!
Satu kecupan pun mendarat di pipi kanan Drabia yang nampak tembem karna mengalami kenaikan badan yang cukup banyak.
"Perusahaan kita semakin maju dan berkembang sayang. Aku yakin ini adalah rezeky anak kita ini" jawab Ansel.
Bagaimana Ansel tidak bahagia, tidak lama lagi anaknya akan lahir. Dan sekarang ini Ansel berhasil membuka cabang perusahaan mereka di daerah lain.
"Aku yakin kamu pasti mampu, makanya aku menyerahkan perusahaan itu padamu" ucap Drabia." Jika masih aku yang meminpin perusahaan itu, belum tentu aku mampu. Karna aku harus sibuk menjadi istri, dan sebentar lagi menjadi Ibu" tambahnya.
"Tapi, aku akan sering bepergian keluar kota" desah Ansel merasa berat jika harus sering sering meninggalkan istrinya itu.
"Kalau aku sudah melahirkan, kamu bisa membawa kami" Drabia melepas lingkaran tangan Ansel dari perutnya, lalu memutar tubuhnya ke arah Ansel." Aku tidak masalah, yang penting kamu setia" Drabia mengulas senyumnya.
"Kamu tau sendiri, aku tidak hoby pacaran, apa lagi main wanita. Gak mungkin aku menghianatimu" Ansel menarik pinggang istrinya itu, sampai perut Drabia menempel di perutnya.
"Awas kalau berani" ancam Drabia gemas sambil mencubit pinggang Ansel.
"Ampun sayang, aku gak berani" Ansel mengernyit kesakitan sambil mengusap usap bekas cubitan Drabia di pinggangnya.
Duk!
"Aduh sayang" keluh Ansel saat merasakan bayi di dalam perut Drabia menendang perutnya. Ansel pun menurunkan tubuhnya, berjongkok di depan Drabia, lalu mencium perut buncit yang berisi buah hatinya itu.
"Kok anak Ayah ikut ikutan ngancam" ucap Ansel pada sang anak.
Drabia tersenyum, tangannya pun terangkat mengusap kepala Ansel." Dia senang Ayahnya sudah pulang kerja"ucapnya kepada Ansel yang mendongak ke arahnya.
Ansel tersenyum, ia pun kembali mengecup perut di depannya.
__ADS_1
*Bersambung