My Wife Drabia

My Wife Drabia
46. Berhalusinasi


__ADS_3

Mendengar Ansel keluar kamar perawatan. Ibu Nimas kembali bangun dan menyusul Ansel ke lorong rumah sakit.


Sedangkan Drabia yang bersembunyi di balik horden jendela, keluar dari ruang perawatan itu dengan cepat. Drabia pun melangkahkan kakinya ke arah berlawanan dengan Ansel dan Ibu Nimas.


"Drabia! jangan pergi lagi Drabia!. Aku tau itu kamu!. Drabia! jangan tinggalin aku lagi!" seru Ansel melihat seorang perawat keluar dari ruang perawatannya. Ansel yakin, itu Drabia yang menyamar menjadi perawat rumah sakit.


"Drabia!" Ansel menarik jarum infus di tangannya, kemudian mengejar perawat yang di duganya istrinya.


"Drabia!" panggil Ansel lagi.


Mendengar Ansel mengejarnya, Drabia pun mencari tempat persembunyian. Belum waktunya ia bertemu langsung dengan Ansel. Drabia masih ingin membalas perbuatan Ibu Nimas yang sudah memanfaatkan kebaikan Ayahnya selama ini lewat Ansel.


"Drabia, jangan pergi lagi" lirih Ansel menangis saat langkahnya kehilangan jejak Drabia.


"Ansel, sudah Ansel. Kamu hanya berhalusinasi, Drabia tidak ada di sini. Ayo kembali ke ruanganmu" Ibu Nimas yang berhasil mengejar Ansel. Menuntun anaknya itu kembali ke dalam kamar perawatan.


"Lihatlah, darahmu sudah bercecer di lantai, karna kamu menarik jarum infusmu" ujar Ibu Nimas, melihat darah menetes berserak di lantai lorong rumah sakit.


Ansel diam saja, dia malas berbicara banyak pada Ibunya. Kalau sudah menyangkut Drabia, perdebatan mereka nanti tidak akan ada solusinya.


Dulu Ibu Nimas menyetujui permintaan Pak Ilham untuk menikahkan Ansel dan Drabia. Berpikir jika Ansel tidak akan jatuh cinta pada Drabia. Mengingat hubungan Ansel dan Drabia tidak baik. Bahkan Ansel sangat tidak menyukai Drabia. Ibu Nimas berpikir, jika pernikahan Ansel dan Drabia hanya akan bertahan sebentar, ternyata Ibu Nimas salah. Akhirnya Ansel mencintai Drabia. Meski pernah jatuh talak, tapi pernikahan mereka akhirnya terselamatkan.


Sehingga Ibu Nimas tidak memiliki cara lain untuk menyingkirkan Drabia dari hidup Ansel. Selain dengan harus menyingkirkan dan ingin Pak Ilham dan Drabia.


Tapi Ibu Nimas lupa, Pak Ilham bukanlah orang yang bodoh dan mudah untuk di musnahkan. Sebagai pebisnis, tentu Pak Ilham memiliki banyak mata mata di sekitarnya. Banyak orang orang tersembunyi untuk menjaga keselamatannya.

__ADS_1


Ansel kembali membaringkan tubuhnya ke atas brankar. Setelah sehat, ia akan mencari Drabia. Perawat yang di panggil Ibu Nimas pun memasang kembali infus di tangan Ansel.


Drabia keluar dari persembunyiannya setelah merasa aman. Drabia tidak langsung pulang, ia malah masuk ke salah satu kamar perawatan yang di pesannya sebelumnya. Ia akan istirahat di rumah sakit, menunggu pagi akan tiba, baru Drabia pulang ke rumah.


"Trimakasih!" ucap seorang Dokter yang membantunya.


Hm! pantas saja saat Ansel berteriak teriak, tidak satupun perawat, Dokter atau orang pengunjung rumah sakit yang keluar. Lorong rumah sakit terlihat tetap sunyi, meski Ansel sudah ribut ribut. Ternyata Drabia sudah bekerja sama dengan pihak rumah sakit.


"Sama sama" balas Dokter wanita itu mengulas senyumnya.


**


Esok hari, Ansel memeriksa cctv rumah sakit itu. Ingin memastikan kalau tadi malam dia tidak sedang bermimpi atau berhalusinasi. Kalau Drabia benar datang menemuinya, perawat yang di kejarnya itu adalah istrinya. Namun sayang, wajah perawat berhijab itu, menutup wajahnya dengan masker. Sehingga Ansel tak dapat mengenali wajah wanita berpakaian perawat itu.


Namun saat melihat wanita itu masuk ke salah satu kamar rawat di rumag sakit, itu. Ansel terus memantaunya cctv yang berada di lorong tersebut. Hingga mendekati waktu sekarang Ansel memantau cctv itu, wanita itu tak kunjung keluar dari ruang perawatan itu.


Buarr!


"Drabia!" panggil Ansel setelah membuka pintu ruangan itu dengan kasar. Ternyata ruang perawatan itu kosong, tidak ada siapa pun di dalamnya.


Ansel menghela napasnya, menatap sedih ruangan itu. Tadi dia begitu yakin, di ruangan itu ada istrinya, ternyata tidak. Mungkin Ibunya benar, tadi malam dia hanya berhalusinasi. Wanita yang di kejarnya tadi malam juga sepertinya hanya bayangan halusinasinya.


"Drabia" lirihnya lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.


Ansel kembali ke dalam kamar perawatannya. Rasanya demamnya bertambah lagi, karna tak menemukan istrinya di rumah sakit itu.

__ADS_1


"Kamu dari mana Ansel?. Mama terbangun kamu sudah tidak ada. Kamu juga mencabut jarum infusmu lagi. Kalau seperti itu, gimana kamu bisa sembuh" oceh Ibu Nimas.


Saat terbangun pagi ini, Ansel sudah tidak ada di atas brankar, hanya tinggal infus yang tergantung di tiangnya.


Ansel diam tidak menjawab, baginya mendengarkan Ibunya bicara, itu tidak penting. Yang di butuhkannya saat ini adalah sang istri ada di sampingnya. Ansel sudah sangat merindukan wanita itu. Wanita yang pernah di sakitinya, dan masih mau memaafkannya.


"Drabia" Ansel menangis lirih.


Ibu Nimas menghembuskan napasnya kasar. Sudah dua Tahun, ternyata Ansel tidak bisa move on dari Drabia. Malah anaknya itu semakin tidak waras memikirkan wanita itu. Ibu Nimas yakin, Ansel tidak beres mengurus perusahaan karna terlalu memikirkan Drabia. Itu sebabnya perusahaan peninggalan suaminya hancur ditangan Ansel. Bukan karna Pak Ilham menarik sahamnya.


Dari jaman dulu, Ibu Nimas tidak menyukai Pak Ilham. Karna dari dulu, Pak Ilham juga slalu mengatur suaminya. Memang Ibu Nimas akui, Pak Ilham orang yang sangat pintar dalam berbisnis. Pak Ilham lah yang orang yang berada di balik kesuksesan mendiang suaminya bisa mendirikan perusahaan. Pak Ilham lah otak di balik kesuksesan suaminya. Sedangkan suaminya, hanya memiliki modal saat itu, tapi tidak begitu lihai dalam berbisnis.


Tapi yang membuat Ibu Nimas tidak menyukai Pak Ilham. Pak Ilham mengetahui perselingkuhannya dengan seorang pria. Pak Ilham pernah mengancamnya, jika masih berhubungan dengan kekasih gelapnya. Sehingga hubungannya dengan kekasih gelapnya, berakhir.


Bahkan, Pak Ilham juga tau, Ibu Nimas pernah membuang anak yang dilahirkannya. Dan menggantinya dengan bayi yang sudah meninggal. Karna curiga bayi yang di lahirkannya bukan anak dari Pak Hendry suaminya. Ibu Nimas tidak mau sampai Pak Hendry mengetahui perselingkuhannya karna anak itu.


Namun Pak Ilham menyembunyikannya, karna tak Ingin merusak rumah tangga sahabatnya, yang sangat mencintai Ibu Nimas. Pak Ilham tidak tega, jika harus melihat perasaan sahabatnya itu hancur.


Sekarang, Ansel sudah dewasa. Ibu Nimas berpikir, sudah waktunya menjauhi Pak Ilham. Dan tidak ketergantungan hidup dengan pria itu. Ibu Nimas merasa tidak membutuhkan pri itu untuk mengurus perusahaan, sudah ada Ansel.


Tapi tidak di sangka, Ansel sudah ketergantungan dengan Pak Ilham yang sudah di anggapnya Ayah selama ini.


"Mama panggil perawat dulu" ucap Ibu Nimas melangkahkan kakinya keluar dari ruang perawatan Ansel.


Sampai di ruang perawatan, Ibu Nimas mendudukkan tubuhnya di kursi tunggu sambil menghela napas kasar. Sebenarnya hati kecilnya kasihan melihat Ansel begitu terpuruk selama dua Tahun ini.

__ADS_1


*Bersambung


__ADS_2