My Wife Drabia

My Wife Drabia
56. Cewek bekasan


__ADS_3

Lea yang di nyatakan positif hamil, membuat Ansel semakin menggebu ingin membuat Drabia hamil.


"Ansel, ah! sabar dulu" seru Drabia.


Sepeninggal Lea dan Dafa tadi. Ansel langsung membawa Drabia ke dalam kamar, dan langsung membuka kain yang menutup seluruh tubuh istrinya itu.


"Biar kamu cepat hamil sayang" ucap Ansel beralasan, padahal si otongnya yang pengen lagi.


"Ish! mana ada seperti itu." Drabia menutup tubuhnya dengan selimut.


Ansel tertawa cekikikan, lalu ikut masuk ke dalam selimut.


**


Ansel memarkirkan mobilnya di depan pintu masuk gedung perusahaan Citra Indah. Hari ini, perusahaannya dan perusahaan Drabia akan melakukan jual beli perusahaan secara resmi.Tidak masalah bagi Ansel jika perusahaannya menjadi milik Drabia. Seperti Pak Ilham dulu yang mengabdi. Ansel juga akan mengabdi di perusahaan yang di dirikan istrinya itu.


Ansel keluar dari dalam mobil, melangkahkan kakinya ke arah pintu yang di samping Drabia. Lalu membuka pintu itu membantu Drabia keluar.


"Trimakasih" ucap Drabia tersenyum.


"Sama sama cintaku" balas Ansel.


Mereka berdua pun sama sama melangkah masuk ke dalam gedung dengan bergandengan tangan.


Sampai di ruangan Drabia, disana sudah ada Lea, Dafa dan Ciko menunggu mereka.


"Ciko! mana berkas berkasnya?" tanya Drabia mendudukkan tubuhnya di sofa kosong, di ikuti Ansel duduk nyender ke bahunya seperti anak kecil yang ingin minta jajan.


"Ini Ibu bos" Ciko pun menyerahkan beberapa map kepada Drabia selaku pemilik perusahaan.


Drabia menerimanya dan lansung membuka map itu, membaca isinya. Ansel pun ikut membacanya.


Surat jual beli, dan surat pemindahan hak milik perusahaan. Dan surat penyerahan jabatan pada Ansel.


Meski perusahaan itu milik Drabia. Tapi Drabia akan menyerahkan kepeminpinan perusahaan itu pada Ansel suaminya.


Setelah melakukan meeting bersama petinggi petinggi perusahaan, beserta para penanam saham kedua perusahaan. Kini perusahaan yang di dirikan Hendr, Ayah kandung Ansel, resmi menjadi milik Drabia. Meski ada perasaan sedih, tapi Ansel bersyukur, Drabia yang membeli perusahaan peninggalan sang Papa. Sehingga tidak hilang begitu saja dari tangannya.


"Ansel!" tegur Drabia melihat wajah Ansel bersedih.


Ansel menoleh ke arah Drabia. Kini tinggal mereka berlima tinggal di ruang meeting itu. Drabia, Ansel, Dafa, Lea dan Ciko.


"Perusahaan Papa Hendry akan menjadi milik cucu cucunya kelak" ujar Drabia mengulas senyumnya.


Ansel ikut tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Iya Ansel, perusahaan itu masih ada di genggamanmu" sambung Ciko.


"Iya, apa yang kamu sedihkan?" tambah Dafa, meski Ansel sempat marah padanya, tapi mereka masih bersahabat. Dan Ansel tidak benaran marah, hanya kesal saja.

__ADS_1


Ansel menghela napasnya,"aku bersedih karna gagal menjaga amanat Papa"ucapnya. Itu yang ia sedihkan, perusahaan itu hancur di tangannya.


"Sekarang jangan bersedih lagi. Mulai sekarang kamu bisa membangkitkan perusahaan itu lagi." Drabia mengusap kepala Ansel dari belakang.


Semenjak malam itu, Ansel memang terkesan manja pada Drabia. Seperti anak kucing yang baru mengenal induknya.


Ansel menganggukkan kepalanya, berusaha mengusir kesedihannya. Benar, perusahaan sang Papa masih ada di tangannya. Hanya nama pemiliknya saja yang berganti.


"Sekarang ayo kita makan, ini sudah siang" ajak Drabia.


Mereka pun keluar dari ruang meeting, kembali masuk ke ruangan pemilik perusahaan itu. Di sana sudah terhidang makan siang untuk mereka. Tentu itu Drabia yang memesannya.


"Wih! makan enak kita" seru Ciko melihat banyaknya makanan di atas meja sofa. Dia yang paling bersemangat jika di suguhkan makanan.


Berbeda dengan Dafa yang biasa saja melihat makanan. Dan makannya pun porsinya selalu diatur. Sedangkan Lea, dia sama sekali tidak berselera melihat makanan di atas meja. Hamil muda membuatnya susah makan.


Dan Ansel memilih bermanja manja di lengan istri yang menyiapkan makanan untuknya.


"Ayo makan" suruh Drabia memberikan piring yang sudah di isinya dengan makanan pada Ansel.


"Suapin sayang!" rengeknya.


"Cih! bucin lo" cibir Ciko memutar bola mata.


Ansel gak peduli di katain bucin. Memang dia bucin. Terlebih Drabia selalu memanjakannya, memperhatikannya dan mengurusnya dengan sangat baik. Meski sibuk mengurus perusahaan, Drabia tetap berusaha menomor satukannya.


Melihat Dafa begitu lembut membujuk Lea supaya makan. Ciko jadi sebel sendiri, karna tak punya pasangan.


"Makanya cari pasangan" celetuk Ansel melihta ruat wajah Ciko sedikit cemberut.


Ciko tubuhnya agak gempal karna kuat makan. Sehingga dia kurang diminati para wanita.


"Ini makan yang dibayakin" ledek Ansel lagi setelah menelan makanan di mulutnya.


"Aku ada cewek buat Ciko. Kalau dia mau" sambung Drabia.


"Siapa?" tanya Ansel.


Dafa dan Lea juga Ciko menoleh ke arah Drabia.


"Lala" jawab Drabia tersenyum.


Ansel terdiam memandangi wajah Drabia. Sekelebat teringat Lala pemilik baju yang berada di dalan tasnya. Yang membuatnya di keluarkan dari sekolah karna di tuduh mencuri baju Lala yang di dalamnya ada pakaian dal*m.


"Lala siapa?" tanya Lea. Lea tidak mengenal Lala, karna waktu SD mereka tidak satu sekolah.


"Lala, security di depan" jawab Drabia tersenyum.


"Cocok tu sama Ciko. Meski kulitnya agak gelap, tapi manis orangnya." Lea menyetujui Lala di jodohkan dengan Ciko.

__ADS_1


"Kaya gak ada cewek lain aja." Ansel tidak suka jika Ciko di jodohkan dengan Lala. Entah kenapa, Ansel sangat tidak menyukai orang bernama Lala semenjak kejadian itu.


"Ceweknya baik loh, tangguh lagi" Drabia mengulum senyumnya, mengetahui jika Ansel sangat sensitif dengan nama Lala.


"Gak sayang" bantah Ansel.


"Kenapa?" tanya Drabia sambil menyuapkan makanan ke mulut Ansel.


"Gak suka" cetus Ansel terdengar kumur kumur karna mulutnya penuh makanan.


"Kan buat Ciko" ujar Drabia.


"Cari cewek lain aja" balas Ansel.


"Kalian kenapa malah berdebat?" tanya Ciko yang diam mendengarkan pembicaraan Ansel dan Drabia.


"Sepertinya Ansel punya masa lalu dengan Lala" ujar Lea, melihat raut wajah Ansel yang terlihat sebel.


"Waktu SD, Lala pernah naksir sama Ansel...."


"Karna kamu gak suka, kamu menjebakku sayang. Kamu memasukkan baju Lala ke dalam tasku. Supaya Lala membenciku, yang berhujung aku di keluarin dari sekolah" omel Ansel gemas,memotong kalimat Drabia.


Drabia tertawa terbahak bahak. Benar dia pelakunya. Tapi Drabia menyuruh orang lain. Dan saat itu Drabia tidak menyangka jika gara gara itu Ansel di keluarin dari sekolah.


"Benaran, kamu pernah di keluarin dari sekolah?" tanya Ciko tidak percaya. Karna Ansel terlihat pria yang baik dan tidak neka neko.


"Gara gara ini" Ansel menunjuk Drabia di sampingnya dengan dagunya.


"Habis kamu juga suka sama Lala" ujar Drabia.


"Benaran?" Ciko semakin gak percaya.


"Gak ya" elak Ansel.


"Parah istrimu An. Masa aku mau dikasi cewek bekasanmu" seru Ciko tidak terima jika mantan gebetan Ansel di jodohkan sama dia.


"Kami masih SD b*g*. Gak mungkinlah aku pacaran. Asal kamu tau, aku gak pernah pacaran sama sekali" balas Ansel.


Drabia terdiam, senyumnya perlahan luntur setelah mendengar kata cewek bekasan. Meski dia wanita yang bisa menjaga kesuciannya. Namun Drabia adalah wanita yang hoby pacaran. Dan saat masuk club dulu, tidak sedikit cowok cowok main colek padanya.


"Sayang!" tegur Ansel melihat wajah pias Drabia.


Drabia menoleh.


"Ada apa?" tanya Ansel, Drabia menggeleng.


Lea, Dafa dan Ciko hanya diam memandangi Drabia dan Ansel.


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2