My Wife Drabia

My Wife Drabia
64. Rayuan pulau kelapa


__ADS_3

"Sayang!" panggil Ansel saat berhasil membuka pintu kamar mereka. Di lihatnya Drabia tertidur pulas di atas ranjang. Ansel melangkahkan kakinya, mendekati ranjang sembari tersenyum.


Sudah waktunya makan siang, namun istrinya itu terlelap. Padahal katanya tadi pagi akan memasak makan siang untuk mereka, sehingga Ansel pulang ke rumah untuk makan siang bersama.


"Sayang" panggil Ansel dengan suara lembutnya sambil mengusap kepala istrinya itu lalu mengecup keningnya.


Drabia yang terganggu menggeliatkan tubuhnya, lalu membuka mata." Ansel" gumamnya.


"Sudah makan?" tanya Ansel.


Drabia menganggukkan kepalanya."Tadi Lea ke sini, dia membawa makanan. Siap makan tadi aku ngantuk banget" jawab Drabia memejamkan mata ngantuknya kembali.


"Udah Shalat?" tanya Ansel lagi memastikan istrinya itu susah shalat zuhur atau belum.


Drabia kembali membuka mata," jam berapa?"tanyanya.


"Jam tengah satu, ayo shalat bereng" ajak Ansel. Drabia mengangguk lalu menguap lebar.


"Kalau menguap di tutup mulutnya sayang" ujar Ansel, karna napas bau Drabia masuk ke rongga hidungnya. Ansel pun membantu Drabia duduk dan turun dari atas tempat tidur, berwudhu ke kamar mandi.


Usai melaksanakan shalat, mereka pun keluar kamar. Meski tadi sudah makan, Drabia tetap ikut ke dapur menemani Ansel untuk makan siang.


"Ini makanan yang di bawa Lea?" tanya Ansel melihat makanan yang di hidangkan pembantu di atas meja.


"Iya" jawab Drabia mendudukkan tubuhnya di samping Ansel, lalu mencomot daging ayam balado hijau dari piring Ansel.


"Katanya tadi udah makan" ucap Ansel, melihat Drabia sepertinya belum kenyang.


"Pengen makan ayamnya lagi" Balas Drabia mencomot kembali ayam di piring Ansel.


Ansel pun mengusap kepala Drabia, membiarkan istrinya itu memakan ayam di piringnya. Gak apa apa, biar dia makan nasi sama sambalnya aja. Yang penting istrinya itu kenyang dan hatinya senang.


"Aku sudah merekrut enam security wanita untuk jadi pengawalmu."


"Uhuk uhuk uhuk !" Drabia langsung terbatuk batuk mendengar apa yang dikatakan Ansel.


"Untuk apa?" tanya Drabia setelah Ansel memberinya minum.


"Untuk menjagamu" jawab Ansel.


"Banyak sekali, aku rasa satu atau dua cukup" ujar Drabia. Dia juga setuju jika memiliki pengawal, tapi tidak sebanyak itu. Drabia tidak bisa membayangkan ramenya orang yang mengikutinya jika bepergian.


"Mereka akan bekerja tiga shif.Gak mungkin kan mereka sanggup bekerja dua puluh empat jam menjagamu" jelas Ansel.


"Oh!" baru Drabia paham.


Selesai makan, Ansel pun kembali ke perusahaa, untuk lanjut bekerja. Sedangkan Drabia, ia kembali ke dalam kamar. Meski tidak ke perusahaan, tapi bukan berarti Drabia tidak bekerja. Dia tetap membantu Ansel mengurus perusahaan. Hanya saja Drabia tidak mau terlalu sibuk. Dia ingin bekerja santai biar tetap bisa menjalani perannya sebagia istri.


**

__ADS_1


Ansel yang baru pulanga bekerja, memarkirkan mobilnya langsung ke garasi. Langsung turun dan masuk ke dalam rumah. Hari sudah larut malam, dia baru pulang pertemuan dengan rekan bisnisnya.


"Ansel"


Ansel menghentikan langkahnya, saat melintas di ruang tamu, Ia tidak menoleh ke arah sofa. Jadi tidak melihat Drabia ada di sana.


"Kenapa belum tidur?" tanya Ansel pada Drabia yang berjalan mendekat ke arahnya.


"Aku menunggumu, kenapa lama baru pulang?" tanya balik Drabia, meraih tangan Ansel lalu mengecupnya. Namun tiba tiba Drabia mengerutkan keningnya.


"Ada apa?" tanya Ansel melihat raut wajah Drabia berubah. Drabia menatap tajam wajah Ansel dengan wajah datarnya.


"Kamu dari mana?" tanya Drabia.


"Menemui rekan bisnis sayang. Jangan memandang aku curinga seperti itu. Aku tidak akan menghianati kamu." Ansel membelai rambut Drabia dengan sayang.


Bagaimana Drabia tidak curiga, saat mencium tangannya, Drabia mencium bau farpum wanita.


"Siapa?"


Ansel berdecak melihat wajah Drabia yang menahan emosi dan cemburu.


"Pak Arsen, adiknya Pak Elang" jawab Ansel.


"Pasti kamu bohong kan?. Itu tangan kamu bau farpum wanita" sanggah Drabia.


Ansel meletakkan tasnya di atas meja sofa, lalu mengangkat tubuh Drabia, membawanya duduk di sofa.


"Kau bagaikan Bulan purnama di malam hari, memberiku penerangan di kala kegelapan. Kau adalah matahariku, penghangat tubuhku di kala kedinginan. Kamu adalah bintangku, menemaniku di kala kesunyian."


Drabia terkekeh geli mendengar rayuan pulau kelapa Ansel kepadanya.


"Bilang aja, kaulah Bulanku, kaulah bintangku, gara gara kau banyak hutangku" ucap Drabia.


"Ah itu benar sekali sayang. Bukan banyak hutang lagi, malah bangkrut" balas Ansel.


"Ehem! kembali ke topik, tadi itu bau farpum siapa?" Drabia menatap wajah Ansel penuh selidik.


"Tadi Pak Arsen menawarkan produk baru perusahaannya. Aku mencobanya, aku pikir istriku ini menyukainya. Jadi aku membelinya untukmu. Tapi dia memberi itu gratis" jelas Ansel pelan tanpa melepas netranya dari wajah Drabia.


"Mana farpumnya?"


"Di dalam tas, sayang"


Drabia langsung meraih tas kerja Ansel dan menggeledah istrinya. Dan benar, dia menemukan dua botol farpum yang berbeda.


"Dua" ucap Drabia.


"Satu untukku istriku sayang" Ansel mengecup gemas pipi istrinya itu.

__ADS_1


Drabia pun menyemprotkan ke dua farpum itu bergantian ke tangan kiri dan kanannya. Lalu menghirup aroma farpum itu bergantian.


"Ini lebih wangi" ucap Drabia setelah mencium aroma farpum di tangan kirinya.


"Tapi itu farpum cowok, sayang" ucap Ansel.


"Tapi aku lebih suka aroma yang ini. Ini untukku dan ini untukmu." Drabia memberikan botol farpum aroma wanita itu pada Ansel.


"Iya sayangku, terserah istriku ini aja. Sekarang ayo ke kamar, suami mu ini sudah mulai ngantuk" ajak Ansel.


"Gendong!" manja Drabia melingkarkan ke dua tangannya ke leher Ansel.


"Baiklah istriku" meski lelah, demi menyenangkan hati si belahan jiwa. Tak apa apa, Ansel rela melakukannya.


Sampai di dala kamar, Ansel meletakkan istrinya itu dengan sangat hati hati di atas tempat tidur. Kemudian Ansel masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai langsung keluar. Di lihatnya Drabia sudah tidur.


"Sayang" panggil Ansel, meski tubuhnya lelah tapi ada sesuatu yang meminta jatahnya.


"Aku sudah ngantuk Ansel" gumam Drabia. Ansel mengulas senyumnya, lalu menyibak selimut yang menutup tubuh istrinya itu.


"Si otong sayang" ucap Ansel meraih tangan Drabia membawanya ke tempat si otong berada.


"Suruh bobo dia dulu" suruh Dtabia.


"Dia gak mau" ujar Ansel.


"Tapi aku ngantuk" gumam Drabia.


"Otongnya lagi ngamuk sayang" rajuk Ansel cemberut.


"Ya udah, otong main sendiri aja ya" pasrah Drabia.


"Okeh!" Wajah Ansel langsung sumiringah.


Lalu apa yang terjadi, si otong benar benar main sendirian. Tapi itu hanya sebentar, karna kawan si otong, ngantuknya hilang.


"Trimakasih sayang muah muah muah muah!" Ansel mengecupi wajah Drabia setelah si otong puas bermain.


Pagi hari


"Ansel bangun, ini sudah pagi, kita kesiangan" seru Drabia melihat jam di dinding sudah menunjukkan jam eman pagi.


"Astagfirullohal 'azim" gumam Drabia karna telah melewatkan waktu subuh. Semua gara gara si otong.


Ansel pun terbangun," udah jam berapa?" tanyanya, matanya masih ngantuk banget.


"Jam eman" jawab Drabia.


Ansel langsung mendudukkan tubuhnya.

__ADS_1


*Bersambung


__ADS_2