
Sampai di halaman rumah Lea dan Dafa. Setelah memarkirkan mobilnya dengan sempurna, Ansel langsung turun dari dalam mobil, melangkahkan kakinya ke arah pintu di samping Drabia.
"Pelan pelan aja sayang" ucap Ansel saat membantu Drabia keluar dari dalam mobil dan membantunya duduk di kursi roda.
Lea yang baru keluar rumah setelah mendengar ke datangan mereka, langsung menghampiri, mengambil Salwa dari gendongan Ansel membawanya masuk ke dalam rumah, di ikuti Drabia dan Ansel dari belakang. Sampai di ruang tamu, Ansel membantu Drabia untuk duduk di sofa.
"Sayang, aku tinggal di sini sebentar dulu ya. Aku dan Dafa ada urusan di luar sebentar" pamit Ansel, setelah melihat Dafa menuruni anak tangga rumah itu.
"Kemana?" Drabia menajamkan pandangannya ke waja Ansel.
Ansel pun mengulurkan tangannya mengusap lembut kepala Drabia." menemui orang yang menawarkan kerja sama sama kita sayang."
"Oo" Drabia membulatkan bibirnya sambil mengangguk.
"Daf, ayo!" ajak Ansel.
"Sebentar" Dafa melangkahkan kakinya ke arah Lea membawa dua bayi di gendongan kiri dan kanannya." Sayang aku pergi dulu ya" pamitnya, setelah mengecup kedua pipi bayi itu, tidak lupa Dafa mengecup pipi Lea.
"Hati hati Papa!" balas Lea setelah membalas mengecup pipi Dafa.
Dafa dan Ansel pun meninggalkan rumah itu. Drabia dan Lea yang di tinggal bersama putri mereka bercengkrama, bercerita banyak hal tentang kehidupan mereka.
Hampir tengah malam Ansel dan Dafa baru kembali. Ansel masuk ke kamar tamu rumah Dafa. Di lihatnya Drabia sudah tertidur pulas sambil memeluk Salwa di sampingnya. Ansel mengecup kening istrinya itu, membuat Drabia langsung terbangun.
"Ansel, kenapa lama?" tanya Drabia bergumam, kembali memejamkan mata ngantuknya.
"Maaf, sayang" Ansel membaringkan tubuhnya di samping Drabia, membawa wanita itu ke dalam pelukannya.
"Kita gak pulang?." Drabia kembali membuka matanya melihat Ansel malah ikut berbaring di sampingnya.
"Besok pagi aja" gumam Ansel dengan mata terpejam karna sudah mengantuk. Drabia pun kembali memejamkan matanya menikmati pelukan hangat Ansel ke tubuhnya.
**
__ADS_1
Esok hari, Drabia dan Ansel kembali ke rumah mereka bersama Salwa.
"Ayo buka pintunya sayang" ucap Ansel.Saat ini mereka sudah berada di depan pintu rumah mereka.
Drabia pun langsung mendorong pintu di depannya dengan kedua tangannya. Dan Ansel langsung mendorong masuk kursi rodanya.
Buyaaarrrrrr!
Drabia memejamkan matanya, saat merasakan sebuah cairan kental mengguyur tubuhnya. Drabia langsung melap cairan kental itu dari wajahnya.
Ansel yang berdiri di belakangnya, tertawa cekikikan, melihat tubuh Drabia berlumur lumpur berwarna pink.
"Ansel, kamu mengerjaiku?." Drabia mengerucutkan bibirnya cemberut. Jadi tadi malam, ini yang di kerjai suaminya sampai meninggalkannya di rumah Lea sampai larut malam. Dan bahkan mereka sampai menginap di rumah sahabat mereka itu.
Ansel tidak menjawab, ia pun mendorong kursi roda Drabia masuk ke dalam rumah, ke arah ruang tamu rumah itu.
"Ansel!" gumam Drabia melihat sesuatu di ruang keluarga itu. Sebuah layar tv yang menayangkan vidio saat Drabia menjalani opersi cesar, sehingga lahirlah buah hati mereka yang kini berada di gendongan Ansel.
"Aku tau kamu pasti ingin melihat bagaimana proses Salwa lahir dari rahimmu. Untuk itu aku berterimakasih sudah mempertaruhkan nyawamu untuk melahirkan buah cinta kita ini." Ansel membelai pipi tirus istrinya itu dengan lembut." perjuanganku membesarkannya sendiri, itu tidak seberapa di bandingkan perjuanganmu. Aku minta maaf yang sebesar besarnya karna sudah pernah menyakitimu."
"Ansel, aku sudah memaafkanmu sejak lama. Tidak perlu kamu harus membuat moment untuk meminta maaf seperti ini. Sampai membuatku kotor, dan menghias seluruh ruangan rumah ini. Aku tidak sedang ulang Tahun, dan aku rasa hari ini juga bukan hari ulang Tahun pernikahan kita."
"Aku tau" Ansel mengulas senyumnya." Tapi haru ini adalah hari Ibu, tepat hari ulang Tahun Salwa yang pertama." Ansel memberikan Salwa kepada Drabia." Trimakasih sudah berjuang melahirkannya" ucap Ansel lagi, mengecup kening Drabia dengan penuh rasa sayang.
Drabia mengulas senyumnya dengan mata berkaca kaca." Melahirkan sudah menjadi kodrat seorang istri. Kamu tidak perlu berterima kasih" balas Drabia mengulurkan tangannya menyentuh wajah Ansel.
"Tapi aku ingin melakukannya. Sebelum mengucapkan selamat kepada putri kita. Terlebih dahulu aku harus mengucapkan trimaksih padamu." Ansel mengambil tangan Drabia yang menempel di pipinya, lalu mengecupnya.
"Kamu membuatku terharu, lalu mana hadiah untuk kami" ucap Drabia akhirnya menjatuhkan cairan bening dari sudut matanya.
"Tentu aku sudah menyiapkannya." Ansel pun memetik jari telunjuk dan jempolnya sampai mengeluarkan bunyi.
Ibu Nimas, Pak Ilham, April, Lea, Dafa dan Ciko masuk ke ruangan itu bersama anak anak dari panti asuhan, dengan memakai pakaian putih.
__ADS_1
"Mama, Ayah, Mama April" ucap Drabia.
Ibu Nima mendekati Drabia, menurunkan tubuhnya di depan putri yang di lahirkannya itu.
"Mama minta maaf" lirih wanita itu menangis.
"Aku sudah memaafkan Mama" balas Drabia menarik wanita yang tak lagi muda ituke dalam pelukannya.
"Sungguh Mama tak ingin membuangmu waktu itu. Mama hanya menitipkanmu untuk sementara waktu" isak tangis Ibu Nimas." Maafin juga kesalahan Mama yang pernah berniat untuk membunuhmu." Tangis Ibu Nimas semakin pecah mengingat kesalahan terbesarnya.
Drabia melepas pelukannya dari Ibu Nimas, kemudian menghapus air mata wanita paru baya itu dengan tangannya.
"Mama juga pasti bertaruh nyawa melahirkanku saat itu. Pasti sangat sakit rasanya" ucap Drabia mengulas senyumnya."Selamat hari Ibu Ma" ucapnya dengan mata berkaca kaca.
"Trimakasih sayang" balas Ibu Nimas menangis terisak.
"Sudah sudah sudah, hari ini hari bahagia Salwa. Nanti dia bisa menangis karna melihat kalian terus menangis. Sekarang ayo kita rayakan hari ulang Tahunnya bersama kakak kakaknya." April mendekati Ibu Nimas lalu menarik tubuh wanita itu untuk berdiri kembali.
Ibu Nimas menghapus air matanya, melangkahkan kakinya ke arah meja yang sudah terhidang makanan di atasnya. Ada kue tar, nasi tumpang, dan berbagai macam kue lainnya.
Ansel pun mendorong Drabia ke arah meja yang penuh dengan makanan itu. Acara pun mereka mulai dengan memanjatkan Doa yang di khususkan untuk Salwa. Selesai berdoa bersama anak anak dari panti, Mereka pun melayani anak anak dari panti untuk menikmati hidangannya, di iringi dengan lagu salawat dari sebagian anak anak panti.
Meski acaranya sederhana, tapi itu berhasil membuat Salwa kecil kegirangan karna melihat banyak kakak kakaknya di ruangan itu. Seolah mengerti, saat itu adalah hari bahagianya.
Selesai acara, kini tiba saatnya Ansel memberikan hadiah pada kedua wanita tersayangnya itu.
Bukan uang atau barang, apa lagi tiket liburan. Melainkan hadiah istimewa yang tak ternilai harganya.
"Ayo buka matamu sayang" suruh Ansel, yang dari tadi menyuruh Drabia menutup matanya. Drabia langsung terdiam dan mengerutkan keningnya bingung, melihat seorang bayi laki laki berada di gendongan Ansel.
"I- i- itu anak siapa?" gugup Drabia. Melihat bayi laki laki itu mirip dengan Ansel.
*Bersambung
__ADS_1