
Ansel langsung terduduk mendengar Drabia mengatakan jam enam."Ini nih gara gara si otong" ucapnya memukul pelan si otong nakal.
Drabia terkikik geli, melihat tingkah Ansel yang memukul gemas si otong."Sana mandi duluan, nanti kamu telat berangkatnya" suruhnya.
Ansel menoleh ke arah Drabia," kita mandi bareng yuk!" ajaknya.
"Gak" tolak Drabia," nanti si otong nakal lagi"ucapnya tersenyum.
"Suka kan di nakalin si otong?" ujar Ansel bergurau mendekatkan tubuhnya ke tubuh Drabia.
"Sana cepat mandi duluan, adek bayinya pengen minum susu buatan Ayahnya" Drabia mendorong dada Ansel supaya menjauh dan segera pergi ke kamar mandi.
"Hm baiklah" Ansel menjauhkan sedikit tubuhnya, lalu mengangkat tubuh Drabia, membawanya turun dari atas tempat tidur.
"Ansel!" pekik Drabia Karna Ansel memaksanya mandi bareng.
"Kita mandi bareng biar cepat" Ansel ujar Ansel.
**
Selesai bersiap siap untuk berangkat kerja, Ansel dan Drabia segera keluar kamar. Pagi ini mereka akan mencari sarapan di luar, karna mereka tidak sempat menyiapkannya lagi.
"Pengen sarapan apa?" tanya Ansel, kini mereka sudah masuk ke dalam mobil.
"Sarapan lontong" jawab Drabia.
Perlahan Ansel pun melajukan kenderaannya keluar dari halaman rumah, mencari si penjual lontong keinginan istrinya itu.
Tidak terlalu jauh melaju, si penjual sarapan pagi sudah langsung di temukan. Ansel pun memarkirkan mobilnya di depan sebuah kios kaki lima di pinggir jalan, yang menjual sarapan pagi. Ansel dan Drabia pun langsung turun masuk ke dalam kios penjual sarapan.
"Bu, Lontongnya dua ya!" ucap Drabia ke si Ibu penjual sarapan.
Si Ibu Penjual sarapan mengangguk sambil tersenyum." Silahkan duduk Mbak, Mas" ucapnya ramah.
Ansel dan Drabia pun duduk di salah satu meja kosong. Tak lama menunggu lontong pesanan mereka sudah datang. Mereka pun langsung menikmatinya.
__ADS_1
"Bu, beli nasi uduknya satu, gak usah pakai telor ya Bu."
Si Ibu penjual sarapan itu mengangguk ramah.
Pandangan Ansel dan Drabia langsung beralih ke arah wanita yang berdiri di samping stand jualan Si Ibu itu, karna mendengar suara wanita itu seperti mereka kenal.Wanita itu menggendong seorang balita.
"Hafshah" gumam Ansel.
Dua Tahun tidak pernah melihat wanita itu lagi, ternyata wanita yang pernah bertunangan dengannya itu sudah memiliki anak.
"Hafshah!" panggil Drabia memastikan jika wanita itu Hafshah, calon istri idaman Ansel.
Wanita itu menoleh, wajahnya langsung gugup dan segera meninggalkan tempat itu, padahal pesanannya belum selesai.
"Hafshah!" Drabia berdiri dari tempat duduknya mengejar wanita yang menggendong seorang bayi.
"Sayang, jangan lari !" Ansel pun segera menyusul Drabia. Sepertinya istrinya itu lupa kalau dia sedang hamil." Sayang kamu sedang hamil" ucap Ansel setelah berhsil menangkap tubuh Drabia.
"Dia itu Hafshah kan?" tanya Drabia bernapas ngosngosan.
"Apa itu anaknya, kasihan sekali. Sepertinya kehidupannya tidak baik baik saja" ujar Drabia. Melihat balita yang berada di gendongan Hafshah terlihat sangat kurus, dan penampilan Hafshah pun sangat sederhana.
"Kamu hampir membahayakan anak kita sayang, angan pernah berlari. Dan juga tidak perlu kamu memikirkannya, dia itu wanita penipu, pejahat" balas Ansel. Meski sebenarnya ia jufa kasihan melihat keadaan wanita yang pernah menjadi tunangannya itu, tapi Ansel tidak mau berurusan lagi dengan wanita itu.
"Aku hanya kasihan melihat balita di gendongannya" hela napas Drabia.
"Iya sayang, nanti aku akan menyuruh seseorang mengurusnya." Ansel membawa Drabia kembali ke tempat duduk mereka tadi untuk melanjutkan sarapan mereka.
Sedangkan Hafshah yang bersembunyi di balik dinding bagunan kosong, menghela napasnya yang memburu, sesekali mengintip ke arah jalan, apakah Drabia masih mengejarnya atau tidak.
Kemudian Hafshah pun menatap wajah bayi berusia satu Tahun lebih di gendongannya itu. Bayi yang di lahirkannya tanpa jelas siapa Ayahnya. Namun meskipun begitu, Hafshah sangat menyayangi anaknya itu. Bisa saja dia memberi anak itu ke panti asuhan, namun Hafshah tidak mau anaknya mengalami nasib yang sama dengannya. Tidak mendapat kasih sayang seorang Ibu sama sekali.
"Sabar ya Nak, setelah mereka pergi, kita ambil nasi uduknya" ucapnya pada anak itu.
Setelah dinyatakan sembuh dari depresi yang dialaminya, sehingga meyebabkannya memiliki dua kepribadian. Hafshah pun meninggalkan rumah sakit tempatnya mendapat terapi fsikolog. Ia pun memulai hidup baru dengan bayi di kandunnya yang tidak tau siapa Ayahnya. Dan kini sekarang dia tinggal di permukiman kumuh masyarakat, bekerja sebagai pemulung.
__ADS_1
Dari balik dinding itu, Hafshah pun terus mengintip Drabia dan Ansel, apakah sudah pergi atau belum. Setelah melihat pasangan suami istri itu pergi, Hafshah keluar dari persembunyiannya, menghampiri penjual sarapan tadi.
"Ayah pernah bilang, kalau dia menberikan perawatan pada Hafshah" ucap Drabia yang sudah berada di dalam mobil bersama Ansel." Aku pikir dia sudah sembuh. Kalau tidak, tidak mungkin dia mau merawat anak di gendongannya. Pasti dia akan membuangnya atau menaruhnya ke panti asuhan."
Ansel mengusap kepala Drabia dari belakang. Meski istrinya itu barbar, tapi hati istrinya itu sangat lembut dan mudah tersentuh. Tidak tahan melihat orang menderita.
"Tapi sayang, tidak bagus kalau kita berhubungan langsung dengannya. Aku kawatir dia membahayakan kamu lagi. Apa lagi saat ini kamu sedang hamil" balas Ansel.
"Iya juga sih, aku hanya kepikiran mereka" desah Drabia.
"Kamu memang wanita yang baik" puji Ansel.
"Sekarang, dulu tidak" bantah Drabia, mengingat hidupnya yang pernah berada di jaman jahiliyah.
"Yang penting akhir dari proses hidup itu baik. Seburuk apa pun masa lalu seseorang itu. Jika orang itu bertaubat dengan bersungguh sungguh, Allah pasti mengampuninya" jelas Ansel. Yang pengetahuan Agamanya lebih tinggi dari Drabia, hanya saja pengamalannya yang kurang.
Drabia pun menyandarkan kepalanya ke lengan Ansel, lalu mengusap perutnya yang masih rata." Aku pengen nanti anak kita menjadi anak yang saleh atau saleha. Orang yang berilmu Agama bagus, beriman dan bertaqwa."
Ansel mengecup kilas ujung kepala Drabia. Setelah sampai di parkiran perusahaan, Ansel langsung mematikan sambungan teleponnya. Kemudian ikut mengelus perut istrinya itu.
"Doakan aku semoga bisa membimbing kalian ke jalan yang di ridhoi Allah. Semoga aku bisa menjadi Imam yang amanah untuk kalian. Aku pun harus banyak belajar" ujar Ansel.
"Sepertinya anak kita cewek. Kemarin aku bermimpi pas di rumah sakit, kita memiliki anak cewek, namanya Salwa" ucap Drabia.
"Oh ya?" Ansel mengulas senyumnya. Semoga saja jika anak mereka cewek, tidak super aktif seperti Ibunya.
Drabia menganggukkan kepalanya." Nanti kalau anak kita cewek, kasih nama Salwa ya!" tuturnya.
"Kalau cowok?" tanya Ansel
Drabia berpikir sebentar," bagianmu yang memberinya nama" jawabnya terseyum.
"Baiklah, akan kupikirkan.c
*Bersambung
__ADS_1