
Drabia yang baru sampai di rumah, langsung bergegas membersihkan diri dan mengganti pakaian kantornya. Setelah selesai, Drabia keluar kamar melangkahkan kakinya ke arah meja makan. Di sana sudah ada Pak Ilham menunggunya.
"Pagi Yah!" sapa Drabia dengan wajah ceria.
Pak Ilham mendengus malah." Siapa yang mengijinkanmu menemui Ansel?." Pak Ilham menatap putrinya horor.
"Gak ada Yah" jawab Drabia mendudukkan tubuhnya di samping sang Ayah sembari mengulas senyum.
Wanita yang duduk di sebelah Pak Ilham dari tadi menatap sinis ke arah Drabia. Wanita itu selalu cemburu melihat kedekatan suaminya dangan Drabia.
"Bagaimana?, apa hari ini jadi orang perusahaan berkunjung ke perusahaan Ansel" tanya Pak Ilham.
"Jadi Yah" jawab Drabia mulai menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Lebih cepat lebih baik, biar kamu bisa cepat kembali pada Ansel. Kasihan anak itu" ujar Pak Ilham." Lagian Ayah sudah gak sabar ingin menggendong cucu."
"Uhuk uhuk uhuk...!" Drabia langsung terbatuk baguk mendengar ucapan Ayahnya yang terakhir.
Cucu?
Drabia tidak pernah memikirkan itu selama ini. Seketika Drabia pun menjadi teringat saat Ansel menyatukan tubuh mereka, Drabia menjadi takut.
"Pelan pelan makannya"Pak Ilham menepuk nepuk punggung Drabia dari belakang, kemudian memberikannya air minum.
Selesai sarapan, Drabia pun langsung berpamitan pergi bekerja.
"Drabia berangkat dulu Yah, assalamu alaikum." Drabia meyalam Pak Ilham, begitu juga wanita di samping Ayahnya.
Meski mereka tidak pernah dekat, Drabia masih tetap menghargai wanita yang masih setia di samping Ayahnya itu.
"Walaikum salam, hati hati" balas Pak Ilham. Ibu April diam saja.
Drabia pun segera keluar rumah, masuk ke dalam mobilnya yang sudah terparkir di depan rumah, lalu melajukannya perlahan keluar dari pekarangan rumah.
**
Selesai menemani para tamu mengelilingi perusahaan. Dafa dan Ciko langsung berangkat ke rumah sakit untuk menjenguk Ansel yang masih di rawat.
"Kenapa kamu bisa sakit?" tanya Ciko konyol.
Ansel memutar bola mata malas.
__ADS_1
"Meskipun perusahaanmu bangkrut, tapi kau masih kaya" ujar Ciko lagi. Berpikir Ansel sakit karna terlalu memikirkan perusahaannya.
Tebakan Ciko memang benar, Ansel sakit karna memikirkan perusahaan. Tapi bukan karna takut miskin, tapi Ansel sedih, karna perusahaan itu adalah peninggalan sang Papa. Di tambah lagi Ansel terus memikirkan Drabia dan Pak Ilham yang tidak tau dimana sampai sekarang. Membuat Ansel tidak enak makan, tidak enak tidur selama ini.
"Mereka sepakat dengan harga yang kamu tawarkan" sambar Dafa memberikan sebuah map kepada Ansel yang duduk bersandar di kepala brankar.
Ansel menerima map itu sambil menghela napas lemah. Wajahnya terlihat sangat sedih, untuk hitungan hari ke depan, perusahaan sang Papa bukan lagi miliknya.
Dafa menepuk bahu Ansel pelan." Orang yang membeli perusahaan itu meminta kamu tetap meminpin perusahaan itu" ujarnya.
Ansel langsung mengarahkan pandangannya ke arah Dafa, bergantian ke arah Ciko yang mengangguk tersenyum.
"Kita tidak jadi pengangguran. Pembeli perusahaan itu tetap memakai semua staf dan karyawan. Hanya kepemilikannya yang berubah" jelas Ciko pelan.
Ansel mengerutkan keningnya, berpikir siapa sebenarnya orang yang akan membeli perusahaannya?. Bukankah perusahaan itu bangkrut di tangannya? Sehingga Ansel terpaksa menjualnya. Kenapa orang yang membelinya malah mempercayakan perusahaan itu padanya?.
"Apa kalian sudah mengenal pemilik perusahaan Citra Indah itu?" tanya Ansel. Tidak mengenal sama sekali pemilik perusahaan baru itu.
"Yang datang memeriksa kondisi perusahaan hanya perwakilannya" jawab Dafa.
"Mungkin nanti saat serah terima jual beli, Pemilik perusahaan Citra Indah itu akan hadir untuk tanda tangan surat jual beli" lanjut Dafa.
Ansel mengangguk pelan dengan kening mengerut. Semakin penasaran orang yang membeli perusahaannya. Lalu Ansel menghela napasnya kasar, mengingat dia akan jatuh miskin, karna harus membayar pesangon para karyawan.
"Jangan!" tolak Dafa cepat. Jangan sampai Ansel menjual rumah peninggalan Almarhum Papanya.
"Aku harus membayar pesangon karyawan Daf. Kamu tau sendiri uang pinjaman perusahaan masih banyak yang belum di lunasi. Meski ada uang sisa dari penjualan perusahaan, itu gak cukup Daf" ujar Ansel sedih, sampai tak sadar air matanya menetes.
"Iya tapi jangan di jual An. Rumah itu sangat berarti untukmu" ucap Dafa.
"Iya An, pasti di rumah itu kamu memiliki banyak kenangan" sambung Ciko.
"Kamu bisa menggadaikannya, nanti kamu bisa mencicil pinjamannya" ujar Dafa memberi solusi. Ciko mengangguk setuju.
Ansel pun terdiam memikirkan solusi yang dikatakan Dafa. Benar kata Dafa dan Ciko, rumah itu sangat berarti baginya. Di rumah itu juga banyak kenangan dengan sang Papa, Mama, dan tentunya kenangannya bersama Drabia di waktu kecil.
**
Di tempat lain
Lea masuk ke dalam ruangan Drabia, dengan membawa sebuah berkas di tangannya, wajahnya nampak sumiringah.
__ADS_1
"Drabia, semua sudah beres, tinggal tanda tangan dan serah terima jual beli" ujar Lea memberikan berkas di tangannya kepada Drabia.
"Apa Ansel mau tetap meminpin perusahaan itu?" tanya Drabia.
Lea menganggukkan kepalanya." Dia ingin menggadaikan rumah orang tuanya untuk membayar pesangon para karyawannya" ujarnya.
Drabia terdiam, dia tidak menyangka keuangan Ansel sampai seterpuruk itu.
"Bagaimana? Apa kamu ingin membantunya?" tanya Lea.
"Biarkan saja, tapi kalau dia menjualnya, kita yang akan membelinya" jawab Drabia.
"Hm! baiklah" balas Lea.
"Kapan kamu bisa melakukan pertemuan dengan Ansel?. Supaya aku tau mengatur pertemuan kalian."
"Bulan depan" Drabia mengulas senyumnya.
"Terserah kamu saja. Kalau begitu aku pulang dulu" pamit Lea.
"Trimakasih sudah banyak membantuku dari dulu. Dan sampaikan salam trimaksihku juga sama suamimu"Drabia berdiri dari tempat duduknya, mendekati Lea dan langsung memeluknya.
"Jika aku berada di posisimu. Aku yakin kamu juga pasti akan membantuku. Kita bukan hanya sekedar bersahabat, tapi kita sudah menjadi saudara" balas Lea.
Drabia mengangguk dan melepas pelukannya.
"Jangan menunda hamil lagi. Segeralah beri aku ponakan" ujar Drabia. Demi membantunya, sahabatnya itu sampai rela menunda momongan.
Lea mengangguk tersenyum." Kamu juga, harus segera memberiku ponakan" balasnya tersenyum.
"Insya Allah, doakan setelah ini, semuanya baik baik saja." Drabia menghapus air matanya yang sempat mengalir. Itu air mata bahagia, terharu dengan kebaikan Lea dan sang suami.
"Jangan menangis lagi, kamu sudah berhasil membuat Ansel jatuh cinta padamu. Bukanlah dari dulu itu yang kamu inginkan?." Lea memeluk Drabia, setelah melepasnya ia pun pergi setelah berpamitan sekali lagi.
**
Malam hari, Ansel masih dirawat di rumah sakit. Meski sebenarnya dia sudah di perbolehkan pulang. Namun Ansel masih ingin di rumah sakit. Berharap Drabia menjenguknya tengah malam secara diam diam.
Drabia yang berada di depan laptopnya, tersenyum melihat Ansel mondar mandir di dalam kamarnya. Ansel terlihat gelisah dan menahan ngantuk. Namun Ansel menahannya, dia tidak mau sampai ketiduran, dan tidak bisa menangkap basah Drabia saat datang.
'Dari dulu kamu tidak berobah Ansel. Masih bodoh, pikiranmu terlalu lurus. Kamu pikir aku akan datang lagi malam ini, setelah aku tau kamu menyadari kehadiranku tadi malam?' batin Drabia tersenyum.
__ADS_1
* Bersambung.
#Hayo coba tebak, siapakah saudara Ansel yang dibuang Ibunya saat baru lahir?.