
"I-i-itu anak siapa?" gugub Drabia, melihat bayi laki laki itu mirip dengan Ansel.
"Anak kita" Ansel mengecup pipi bayi laki laki di gendongannya di iringi cairan bening mengalir dari sudut matanya.
"Maksudmu?" tanya Drabia.
"Iya, apa Maksudmu Ansel?" sambung Pak Ilham.
"Bayi ini anak kandung kita Drabia. Dokter Demian menukarnya dengan bayi yang lain" jelas Ansel.
Ansel berjalan ke arah tv, memutar kembali vidio proses cesar Drabia," Perhatikan."
Drabia, Pak Ilham dan semua orang yang ada di ruangan itu sama sama mengarahkan pandangan mereka ke arah layar tv.
"Bayi yang keluar dari rahimmu, berjenis kelamin laki laki, bukan perempuan. Aku juga mengetahuinya setelah kebusukan Dokter sialan itu ketahuan" jelas Ansel.
"Bukankah saat di USG, bayi kita perempuan?" tanya Drabia masih tidak percaya.
"Tapi kenyataaannya, anak kita lahir laki laki, sayang" jawab Ansel, lalu memberikan bayi laki laki itu pada Drabia.
Drabia menerimanya, membawa bayi laki laki itu ke dalam pelukannya, mengecup kening bayi itu sambil menangis.
"Lalu, Salwa anak siapa?" tanya Lea.
Semua pandangan langsung beralih ke arah Ansel, meminta pria itu penjelasan.
"Aku tidak tau, dan tidak ingin mau tau. Yang jelas, Salwa juga anakku sejak pertama kali aku menyentuhnya. Dia juga anak kami." Ansel mengambil Salwa dari gendongan Ibu Nimas, mendekap bayi itu sambil menangis terisak. Ansel sangat takut kehilangan Salwa, takut Salwa di ambil orang tuanya yang sebenarnya.
Meski kenyataannya Salwa bukan anak kandungnya. Tapi bagi Ansel, Salwa adalah putri kandungnya. Dia yang merawatnya sejak bayi itu lahir.
"Putri Ayah" tangis isak Ansel. Tidak bisa membayangkan jika Salwa lepas dari tangannya.
"Yah ! huaaaaa!" Salwa ikut menangis.
"Iya sayang, kamu putri Ayah, selamanya. Kamu putri kandung Ayah, kamu darah daging Ayah."Ansel menciumi seluruh wajah putrinya itu.
Pak Ilham mengehela napasnya melihat putri dan Ayah itu sama sama menangis, karna takut di pisahkan.
"Ansel, berhentilah menangis. Putrimu jadi ikut menangis." Ibu Nimas mengusap lembut bahu Ansel.
"Salwa putriku Ma" tangis Ansel.
"Salwa putrimu, tidak akan ada yang mengambilnya darimu" ujar Ibu Nimas menenangkan.
"Ya Tuhan, kami langsung di karuniai dua orang anak" gumam Ansel terharu sambil menghapus air matanya.
"Jadi, siapa nama cucu laki laki kami itu" tanya April mendekati Drabia lalu mengambil bayi laki laki itu dari gendongan Drabia.
__ADS_1
"Orang tua yang mengasuhnya sudah memberinya nama, Murtado. Aku hanya ingin menambahkannya saja, menjadi Murtado Shaka Budiman, di pangggil Shaka" jawab Ansel.
Pak Ilham mengangguk setuju, begitu juga dengan Drabia dan yang lainnya.
**
Selesai acara ulang Tahun Salwa dan Tado, kini Drabia dan Ansel beserta ke dua anak mereka sudah berada di dalam kamar.
"Benaran kan, salah satu dari mereka bukan anakmu dari wanita lain?" tanya Drabia memicingkan matanya ke arah Ansel yang sibuk mengganti popok Salwa di dalam box bayi.
Ansel menghela napasnya, kemudian mendekati Drabia yang masih duduk di kursi rodanya.
"Aku bersumpah sayang, aku gak pernah menyentuh perempuan mana pun, selain kamu" ucap Ansel setelah menurunkan tubuhnya di depan Drabia.
"Siapa yang tau" Drabia mengerucutkan bibirnya.
Cup!
"Mungkin kalau aku mau, aku sudah memiliki sebelas istri" ucap Ansel setelah mengecup bibir Drabia kilas." Karna mencintaimu, aku tidak melakukannya."
"Lalu Salwa anak siapa?" Drabia menajamkan pandangannya ke wajah Ansel.
Ansel menghela napasnya, meski sudah di jelaskan tetap saja istrinya itu curiga. Wajar aja sih, karna istrinya itu baru bangun.
"Hanya Dokter sialan itu yang tau. Tapi aku malas untuk menanyakannya" jawab Ansel." Jangan mencurigai suaminya terus, nanti bisa jadi doa loh!." Ansel mengulas senyumnya.
Ansel berdiri kembali, lalu mengangkat tubuh Drabia, memindahkannya ke atas kasur. Kemudian ikut berbaring di samping istrinya itu, membawa Drabia ke dalam pelukan hangatnya.
"Aku gak bohong sayang" gemas Ansel manarik hidung istrinya itu." Kamu sudah cukup bagiku, aku tidak butuh wanita lain lagi." Ansel membuka jilbab yang menutup kepala istrinya itu, lalu melemparnya ke sembarang arah." Aku merindukanmu!" ucap Ansel lagi memandang wajah Drabia, mendamba.
Drabia membalas tatapan Ansel, mengulurkan tangannya menyentuh wajah tampan suaminya itu.
"Aku juga"balas Drabia tersenyum.Ansel mengambil tangannya yang menempel di wajah pria itu, lalu mengecupnya.
"Akan ku buktikan saat ini juga, kalau aku sangat mencintaimu. Dengan memberikan seluruh cintaku padamu." Ansel mengecup kening Drabia, turun ke hidung dan kedua pipinya, terakhir ke bibirnya.
Ansel menarik selimut untuk menutup tubuh mereka, dan lanjut....
Oe oe oe....!
"Oh Tuhan!" ucap Ansel menghela napasnya.
Drabia yang berada di bawah Ansel, tertawa cekikikan melihat wajah frustasi Ansel yang kepalang tanggung.
"Sepertinya Salwa pub." Drabia mendudukkan tubuhnya setelah Ansel turun dari atas tempat tidur.
Oe oe oe...!
__ADS_1
Mendengar Salwa menangis, Shaka menjadi terbangun dan ikut menangis. Membuat Ansel menjadi kewalahan mengurusnya.
"Sayang, tolong bantuin ya" ucap Ansel mengambil Shaka dari dalam box bayi memberikannya pada Drabia. Drabia menerimanya dan langsung memeriksa popoknya apakah kotor atau tidak.
"Sepertinya dia pengen mimi" ucap Drabia setelah melihat popok baby Shaka ternyata masih bersih.
"Sebentar, aku ganti popok Salwa dulu" balas Ansel sambil membuka popok Salwa yang kotor, lalu menggantinya dengan yang baru.
Setelah selesai, Ansel memindahkannya ke atas kasur, membaringkannya di tengah tengah, dan langsung meninggalkannya untuk membuatkan susu untuk kedua anak mereka.
"Yah!" tangis Salwa merangkang ke pinggir kasur.
"Sebentar sayang" ucap Ansel sama putrinya.
Drabia yang memegangi baby Shaka menjadi kewalahan menjaganya. Di tambah lagi keadaan tubuhnya yang belum pulih total, membuatnya tidak bisa bergerak aktif menjaga kedua bayi itu.
"Ansel!" panggil Drabia, tidak bisa menahan tubuh Salwa yang hampir terjatuh.
Ansel yang melihatnya langsung berlari ke arah kasur, dan langsung mengangkat tubuh Salwa.
"Ayah kan di sini sayang, kan ada Mama" ucap Ansel pada Salwa yang sudah ada di gendongannya.
Salwa menangis dan mengarahkan pandangannya ke arah Drabia dan baby Shaka, dan malah menunjuk baby Shaka.
"Sepertinya Salwa cemburu pada Shaka" ucap Drabia tersenyum.
"Itu Abangnya Salwa, jangan cemburu ya, Mama juga sayang sama Salwa" bujuk Ansel mencoba menjelaskan.
"Ma!" Salwa masih menunjuk ke arah baby Shaka dan Drabia.
Drabia pun meletakkan baby Shaka di sampingnya, lalu mengulurkan ke dua tangannya ke arah Salwa.
"Sini sayang" ucap Drabia.
Ansel pun memberikan Salwa kepada Drabia. Mendekap tubuh kecil itu ke dalam pelukannya, lalu mengecup kedua pipinya bergantian.
"Dia itu Shaka, saudara kamu sayang. Jangan cemburu ya!, kalian sama sama kesayangan Mama sama Ayah" ucap Drabia, meski bayi itu tidak mengerti apa yang dia katakan, tetap saja Drabia berusaha memberikan putri mereka itu penjelasan.
Selesai membuatkan dua botol susu, Ansel kembali ke atas kasur, memberikan satu botol ke tangan Drabia, dan satunya lagi meminumkannya ke baby Shaka.
"Masih kecil, Salwa sudah tau cemburu." Drabia membaringkan Salwa di sampingnya, kemudian memberinya minum susu.
Setelah kedua bayi itu kembali pulas, Ansel dan Drabia sama sama bernapas lega. Ansel pun meminsahkan kedua bayi itu ke dalam box masing masing.
"Lanjut yuk!" ajak Ansel berbaring di samping Drabia dan memeluknya erat.
Drabia mengangguk sembari mengulas senyumnya.
__ADS_1
*Bersambung