My Wife Drabia

My Wife Drabia
48. Jangan sok berkuasa


__ADS_3

Melihat jam sudah larut malam, Ansel yang berbaring di atas brankar dari tadi, akhirnya memejamkan matanya karna sudah sangat mengantuk. Dia berharap, dalam tidur lelapnya Drabia mendatanginya lagi di alam mimpi maupun di alam nyata.


Drabia yang melihatnya dari kamera tersembunyi yang sempat di selipkannya di ruang perawatan Ansel, mengulas senyum.


**


Ansel yang mulai tertidur lelap, mengerjabkan matanya. Terbangun karna mencium aroma farpum wanita menusuk masuk ke lobang hidungnya.


"Drabia!" panggilnya dan langsung memeluk bayangan orang yang dilihatnya samar. Ansel membuka matanya lalu memperhatikan tubuh yang di peluknya itu. Ternyata sebuah boneka panda berukuran besar.


"Ikh !" Ansel bergidik ngeri lalu membuang boneka itu sambil duduk.


Ansel pun memutar pandangannya ke setiap sudut ruangan itu sembari mengusap leher belakangnya yang terasa merinding. Kamar rawat itu mendadak seram, tidak ada orang yang datang, lalu siapa yang menaruh boneka itu di atasnya. Ansel tak betah di dalam. Malam itu juga, Ansel memutuskan untuk pulang ke rumah.


Ansel keluar dari kamar rawat itu dengan melangkah cepat, tanpa berani menoleh ke belakang lagi. Hm! berharap Drabia yang datang, malah setan datang menakut nakuti.


Drabia yang bersembunyi di dalam kamar mandi langsung keluar sambil tertawa tawa, setelah mendengar Ansel pergi. Ia pun mengitip Ansel yang berjalan di lorong rumah sakit dari pintu. Lalu mengikuti Ansel secara diam diam dari belakang.


Sampai di parkiran, Ansel langsung masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya keluar dari pekarangan rumah sakit. Begitu juga dengan Drabia, ia pun masuk ke dalam mobil, melajukannya dengan senyum yang tak luntur dari bibirnya, karna sudah mengerjai Ansel.


Tadi Drabia tidak ingin ke rumah sakit. Namun melihat Ansel tertidur lelap. Drabia tak tahan untuk tidak mengerjai Ansel yang takut sama hantu.


**


Pagi hari, Ansel yang sudah sampai di ruang kerjanya di perusahaan. Setelah duduk, Ansel langsung menjatuhkan kepalanya ke meja. Tadi malam, hampir ia tidak tidur, membuatnya masih ngantuk berat.


Ceklek!


"Daf, bagaimana pencarian istriku?" tanya Ansel bergumam, tanpa melihat siapa yang membuka pintu ruangannya. Ansel tau kalau yang masuk itu Dafa sahabatnya, dari aroma farpum pria itu.


"Belum ada informasi apa apa" jawab Dafa.


"Aku kangen banget sama Drabia Daf" gumam Ansel lagi. Gara gara berharap Drabia datang dalam tidurnya, Sampai sampai Ansel di teror sama boneka panda.


'Sebentar lagi Drabia akan datang An' batin Dafa menatap Iba pada Ansel.' Setelah semuanya beres. Setelah dia berhasil menguasai hartamu. Setelah Ibu Nimas bertekuk lutut padanya An' batin Dafa lagi.


"Kalau kalian memang masih berjodoh, Drabia akan datang sendiri padamu An, bersabarlah" ucap Dafa menenangkan.


"Aku bisa gila kalau aku gak bisa menemukannya Daf" gumam Ansel lagi. Menikah selama dua Tahun lebih. Seharusnya kami sudah memiliki anak dua" rancaunya. Membayangkan betapa bahagianya hidupnya jika ada istri dan anak di sampingnya.


Dafa pun terdiam. Sudah setahun menikah, ia pun belum memiliki anak. Dafa juga sudah mengharapkan karunia itu di pernikahannya dengan sang istri.

__ADS_1


"Kamu sudah setahun menikah. Apa Lea belum hamil juga?."Ansel mengangkat kepalanya dari meja, mengarahkan pandangannya ke arah Dafa yang sudah duduk di depannya.


"Belum" jawab Dafa menghela napasnya.


"Daf, apa kamu yakin, Lea gak tau dimana Drabia berada?. Atau jangan jangan kalian bersekongkol tidak ingin memberitahuku." Ansel menatap Dafa penuh selidik.


"Kenapa kamu mencurigaku?" tanya balik Dafa.


"Lea sahabat Drabia. Selama dua Tahun ini aku gak yakin Lea dan Drabia tidak pernah saling berkomunikasi" jawab Ansel.


"Kenapa kamu gak menyuruh Pak Elang untuk meretasnya?" tanya Dafa lagi dengan wajah setenang mungkin, sampai Ansel tidak bisa membaca raut wajahnya. Kalau selama dua Tahun ini, dialah yang membantu Drabia dan Pak Ilham bersembunyi.


"Ah! kamu benar. Aku sudah melakukan itu. Tapi Pak Elang tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Tidak ada obrolan atau pesan yang tersambung pada Drabia."


'Iyalah, Pak Elang tidak menemukan apa apa. Aku sudah terlebih dahulu meretas semua komunikasi mereka. Sebelum Pak Elang meretasnya' batin Dafa.


"Karna aku menikahi Drabia, kau jadi mencurigaiku" dengus Dafa.


"Aku gak tau lagi Daf, bagaimana caranya mencari Drabia dan Pak Ilham, supaya aku bisa menemukan mereka. Hanya mereka keluargaku Daf. Aku merasa hidupku gak berarti tanpa mereka" lirih Ansel.


'Sebentar lagi, kamu akan menemukan mereka An. Bahkan Drabia sendiri yang akan datang padamu' batin Dafa.


Ansel dan Dafa langsung menoleh ke arah Ciko yang baru masuk ke ruang kerja Ansel.


"Apa lagi yang dia sedihkan selain Drabia" jawab Dafa.


"Aku sudah menemukan calon pembeli rumahmu. Tapi dia meminta harganya di turunkan" ucap Ciko mendudukan tubuhnya di sofa ruangan itu.


"Berapa?" tanya Ansel.


"Dua persen" jawab Ciko.


Ansel diam berpikir sebentar."Lepas aja, di rumah itu terlalu banyak kenangan buruk bersama Drabia. Aku tak ingin mengingatnya lagi" ujar Ansel.


"Baiklah"


Melihat jam sudah masuk jam kerja, Ciko dan Dafa pun keluar dari ruangan Ansel dan masuk ke ruang kerja masing masing.


**


"Ansel, Mama gak setuju kamu menggadaikan rumah ini."

__ADS_1


Ansel yang baru pulang kerja langsung di cerca Ibu Nimas di ambang pintu.


"Ini rumah peninggalan Papa kamu Ansel. Kamu nanti menebusnya pakai apa? Sedangkan kamu sudah tidak bekerja lagi nantinya."


Ansel menghela napasnya, ia baru pulang kerja. Apa Ibunya tidak bisa membiarkannya istirahat sebentar dulu.


"Biar nanti Ansel yang memikirkannya Ma. Mama tenang aja, dan mending Mama pikirkan bagaimana cara supaya Mama bisa melenyapkan Pak Ilham dan Istriku. Biar hidup anakmu ini semakin menderita" gemas Ansel melihat Ibu Nimas.


Semua hancur karna Ibunya itu, tapi wanita yang berdiri di depannya, belum sadar juga. Entah terbuat dari apa hatinya, sehingga begitu keras.


"Mama sedang tidak membicarakan mereka Ansel. Semakin lama kamu semakin tidak menghormati Mama gara gara kedua orang itu" geram Ibu Nimas.


"Sudahlah Ma, aku gak ingin ribut sama Mama. Dan ingat Ma!..." Ansel menjeda kalimatnya." Akulah ahli waris Papa, bukan Mama" lanjut Ansel langsung berlalu dari hadapan Ibunya.


"Kurang ajar!" Ibu Nimas mengepalkan kedua tangannya, tidak terima dengan apa yang di katakan Ansel terhadapnya.


"Dan kamu juga bukan ahli waris suamiku!. Kamu itu anak pungut!" teriak Ibu Nimas.


Duarr!


Bagai di sambar petir, langkah Ansel langsung terhenti di pertengahan tangga. Ansel pun memutar tubuhnya ke arah Ibu Nimas yang berdiri di depan tangga.


"Suamiku mengadopsimu, karna kami kehilangan anak kami yang baru lahir" ungkap Ibu Nimas.


Ansel terdiam, tanpa sadar meneteskan air matanya. Lantas siapa orang tua kandungnya?. Kenapa tidak ada yang memberitahunya?.


"Jadi jangan sok berkuasa. Mama lebih berhak atas harta peninggalan suami Mama dari pada kamu" ujar Ibu Nimas lagi.


"Kalau begitu, trimakasih sudah merawatku" ucap Ansel berbicara getir.


Buru buru Ansel berlari masuk ke dalam kamarnya. Sampai di dalam kamar, Ansel langsung menyusun berkas berkasnya memasukkannya ke dalam tas, dan segera keluar setelah selesai.


Sampai di lantai bawah, Ibu Nimas masih berada di ruang tamu. Ansel pun mengembalikan surat rumah itu kepada Ibu Nimas.


"Sekali lagi trimakasih Ma. Aku pergi mencari orang tua kandungku" pamit Ansel, langsung berlalu.


Ibu Nimas terdiam, telah menyesali perbuatannya yang telah terlanjur memberitahu siapa Ansel sebenarnya.


Kalau Ansel pergi, siapa yang akan memenuhi kebutuhannya?. Apa lagi sekarang perusahaan peninggalan suaminya sudah hancur.


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2