
Di dalam penjara, Kevin tersenyum setelah mendengar Drabia koma di rumah sakit. Rasanya dendamnya sudah terbalaskan meski Drabia tidak sampai mati.
"Betah juga nyawanya di badan" gumam Kevin konyol.
Meski hukumannya bertambah seumur hidup lagi, tak masalah bagi Kevin. Penjara itu sudah menjadi tempat ternyaman baginya. Karna jika pun dia bebas, hidupnya sudah tidak berarti. Dia tidak bisa lagi menikmati wanita wanita di luaran sana. Mending di menghabiskan waktu di penjara saja.
"Masuk!"
Suara lantang itu berhasil mengalihkan pandangan Kevin ke arah pintu masuk ruangan tahanan itu.
"Hei bro! Kenapa kamu menyusulku ke sini?" tanya Kevin tertawa kecil melihat Irham di dorong masuk ke ruangan itu. Wajah Ilham terlihat babak belus tak berbentuk. Sepertinya Irham baru mendapat bogeman dari pihak polisi.
"Ini semua gara gara kau!" geram Irham.
Kevin malah tertawa terbahak bahak." Kau saja yang bodoh" ucapnya.
Mau maunya pria itu di manfaatkan, hanya karna di tawarkan uang yang banyak. Apakah dia pikir setelah melakukan penembakan, dia akan bisa lolos dari kejaran polisi.
"Kenapa kau tertawa?"
Kevin menghentikan tawanya mendengar pertanyaan bodoh Irham.
"Ah! iya. Kenapa aku tertawa juga?" tanya balik Kevin dengan wajah sumiringah.
Kevin pun mendekati Irham, melingkarkan tangannya ke leher belakang pria itu." Kalau sudah sampai di sini, mau kamu kemanakan uang yang kuberikan?. Itu sangat tidak berguna di sini" ucap Kevin masih tidak bisa melunturkan senyumnya.
"Kau hanya memanfaatkanku, kan?" tanya Irham menatap berang ke wajah Kevin.
"Kata siapa? Sudahlah! kita di sini saja" jawab Kevin santai. Seolah olah mereka berada di tempat yang nyaman.
Bukh! bukh! bukh!
"Aw!"
Kevin yang sudah tersungkar ke lantai akibat serangan mendadak Irham ke wajah dan perutnya, mengeluh sambil mengusap darah yang mengalir dari sudut bibirnya.
__ADS_1
"Percuma kau memukuliku, kau tidak akan bisa bebas lagi dari tempat ini." Kevin berdiri dari lantai sembari tersenyum manis, seolah olah Irham adalah seorang wanita.
Irham yang geram, pun kembali memukul Kevin dengan tinjunya. Namun Kevin sama sekali tidak membalasnya. Ia malah tersenyum meski sudah merasa kesakitan. Sepertinya pria itu memang sudah tidak waras, akibat si otong yang bobok tak pernah bangun lagi.
"Hei! kenapa kalian berkelahi?" suara menggelegar itu berhasil menghentikan tangan Irham meninju Kevin.
"Aku menyalahkanku" jawab Kevin merubah ruat wajahnya kesakitan.
Polisi itu pun menarik Irham, memindahkannya ke ruangan tahanan lain.
Kevin tersenyum puas.
**
Seminggu sudah setelah melakukan operasi, Drabia belum juga sadar dari komanya. Munkin seperti itulah cara Tuhan melindunginya dari rasa sakit, dengan cara mencabut kesadarannya. Membiarkannya istirahat dengan begitu terlelap.
Selama seminggu itu juga, Ansel tidak pernah pulang dari rumah sakit, dan tidak pernah keluar dari ruang perawatan Drabia.
"Sayang, bangunlah! apa kamu tidak ingin memberi asi pada anak kita?. Dia membutuhkanmu sayang" ucap Ansel mengecup punggung tangan Drabia yang di gengganmnya dari tadi.
"Ansel, kata Dokter anak kamu sudah boleh di bawa pulang."
"Ma, tolong rawat bayi kami ya Ma. Aku harus menemani Drabia di sini. Nanti dia bangun gak ada yang melihatnya" ujar Ansel memohon pada Ibunya.
Ibu Nimas mengangguk sembari tersenyum. Tentu ia tidak akan keberatan merawat bayi itu, apa lagi bayi itu adalah cucunya.
Namun, sudah berbulan bulan Drabia terbaring di atas brankar rumah sakit itu. Marya belum juga membuka kelopak matanya.
"Assalamu alaikum Mama!, Salwa datang!" seru Ansel masuk ke ruang perawatan istrinya itu membawa bayi yang sudah berusia delapan Bulan di gendongannya. Bayi perempuan itu hanya tersenyum menampakkan giginya yang baru numbuh.
"Ayo sayang, cium Mamanya." Ansel yang sudah berdiri di samping brankas Drabia, mendekatkan wajah bayi itu ke wajah Drabia. Seperti sudah paham, bayi itu pun menempelkan bibirnya ke pipi kurus wanita yang masih enggan membuka mata itu.
"Doain Mama supaya cepat sembuh ya, Nak" lirih Ansel mengecup pipi putrinya itu dengan mata berkaca kaca.
Sembilan Bulan sudah, istrinya itu masih tidak ingin bangun. Entah apa yang di mimpikan istrinya sampai enggan untuk membuka mata.
__ADS_1
"Ma!" ucap bayi itu bertepuk tangan dengan girang.
Ansel tersenyum, mendengar putrinya itu mengucapkan kata, Ma. Mungkin karna Ansel sering mengatakan kata Mama. Sehingga putrinya itu tau mengucapkan kata, Ma. Dan setiap Ansel mengunjungi Drabia, Ia selalu membawa Salwa.
"Ma ma" bayi itu menunjuk ke arah Drabia.
"Dia Mama kamu sayang" ucap Ansel mengajari anaknya itu untuk mengenal Drabia.
"Ma, Ma ma" ucap Salwa kecil lagi.
Entah dia mengerti apa itu kata Ma, atau Ma ma. Ansel juga tidak tau.
"Putri Ayah main di sini dulu ya." Ansel memasukkan putri kecilnya itu ke dalam kereta bayi yang berbentuk bulat. Salwa kecil pun langsung melangkahkan kakinya di bawah, membuat kereta bayi itu berlari kesana kemari sehingga menimbulkan kebisingan di ruangan itu. Di tambah lagi mainan yang berbunyi krincing krincing di depannya yang terus di pukul pukulnya.
Ansel merekahkan senyumnya. Di saat merasa sedih seperti ini, Salwa selalu berhasil menghiburnya dengan senyum tawa dan keceriaan di wajahnya.
"Lihat putrimu Drabia, di persis sepertimu. Apa kamu tidak ingin melihatnya?" lirih Ansel. Tenggorokannya terasa sakit saat berbicara.
Ansel pun melangkahkan kakinya masuk ke kamar mandi ruangan itu, untuk mengambil berwudhu.Setelah selesai, langsung keluar, kembali ke sisi brankar Drabia setelah mengambil Alqur'an dari dalam laci meja nakas. Ansel mendudukkan tubuhnya di kursi yang berada di samping brankar. Lalu membaca kitab suci di datangannya, memohon pada Ilahi robbi supaya istrinya di beri kesembuhan.
Selama ini, istrinya itu sangat rajin mengaji hampir di setiap harinya. Tapi semenjak sembilan Bulan yang lalu, istrinya tak bisa melakukan itu lagi. Dan selama ini, Ansel melakukan itu untuk istrinya yang tak bisa beribadah lagi. Berharap istrinya itu mendengar kalam Allah yang begitu indah dan merdu keluar dari bibir Ansel.
Setelah mengakhiri mengajinya, Ansel pun menyimpan kembali kitab suci di tangannya ke dalam laci. Kemudian mendekati Drabia lalu mencium keningnya di iringi air mata mengalir di pipinya.
'Tuhan, Aku sangat mencintainya. Tapi jika kematian itu yang terbaik untuknya, aku ikhlas ya Allah. Tapi aku mohon, ampuni segala dosanya dan tempatkan dia di surgamu kelak' batin Ansel.
Bukan bermaksud mendoakan istrinya mati. Tapi jika istrinya bertahan hidup hanya untuknya, dan hanya bisa berbaring lemah tanpa bisa melakukan apa pun. Itu bukanlah yang lebih baik menurut Ansel.
Ansel menangis terisak tak dapat menahan kesedihan dan rindu yang mendalam di hatinya lagi.
"Pergilah Drabia, pergilah kalau kamu ingin pergi. Jangan kawatir, aku tidak akan menikah lagi. Aku hanya milikmu Drabia, selamanya kamu akan menjadi istriku" isak tangis Ansel menempelkan pipinya di pipi kurus sang istri.
"Yah ! huaaaaaa....!"
Tangisan Salwa kecil berhasil menghentikan tangis Ansel. Ansel pun menjauhi tubuh Drabia sambil menghapus air matanya. Lalu mengangkat putrinya yang menarik kain celananya.
__ADS_1
"Kenapa menangis, sayang?." Ansel mengecup pipi putrinya itu sambil mengusap usap kepalanya.
*Bersambung