
"Ansel, Salwanya gak usah di bawa kerja ya. Kan ada Mama yang menjanganya" ujar Ibu Nimas melihat Ansel menggendong putrinya keluar dari dalam kamarya. Bayi itu sudah terlihat cantik dengan bando warna pink di kepalanya.
"Putriku sudah tidak mendapat kasih sayang dari Ibunya Ma. Aku gak mau kalau dia juga tidak mendapat perhatian dan kasih sayang dariku. Biarkan dia kubawa kerja Ma" balas Ansel tak terbantah.
Ibu Nimas menghela napasnya kasar. Setelah Ansel mulai aktif bekerja kembali. Ansel selalu membawa putrinya itu bekerja. Kecuali jika hari itu ada jadwal meeting di luar kantor. Dan itu pun sering kali Ansel menyuruh Ibu Nimas untuk mengantar putriny ke kantor.
"Kalau begitu, kami berangkat dulu Ma" pamit Ansel menyalam tangan Ibu Nimas, kemudian menyuruh putrinya menyalam tangan sang Nenek.
"Hati hati!" seru Ibu Nimas saat Ansel melangkah keluar rumah.
"Iya Nek!" balas Ansel.
Sampai di halaman rumah, Ansel pun masuk ke dalam mobil duduk di kursi penumpang belakang bersama Salwa kecil. Dan Pak supir yang dari tadi menunggu, langsung melajukan kenderaannya.
Ya, semenjak kembali bekerja, Ansel memilih menyewa supir pribadi karna harus menggendong putinya, membuatnya tak bisa menyetir.
Sampai di ruang kerjanya, Ansel langsung meletakkan Salwa di dalam tempat khusus yang sudah di sediakan Ansel di ruangan itu. Salwa kecip akan aman di dalamnya, karna sudah terlindung dari benda benda keras.
"Ayah kerja dulu ya, Nak!. Salwa main sendiri dulu" ucap Ansel lalu mencium kening putrinya itu.
Salwa kecil langsung melangkahkan kakinya berjalan dengan memegangi dinding tempat khusus bermainnya, sambil tersenyum dengan menampakkan gigi gigi yang baru tumbuh beberapa biji.
"Bagaimana ayah bisa tidak membawamu bekerja, Nak. Kalau kamu tidak ada di sini, Ayah tidak semangat kerja" guman Ansel memperhatikan Salwa yang terus berjalan, sesekali berjongkok mengambil mainannya lalu melemparnya keluar. Lama kelamaan ruangan itu pun berantakan dengan mainan Salwa.
"Ya ampun Salwa, ini baru pagi tapi ruangan Ayahmu sudah kamu berantakin" seru Ciko masuk ke ruangan itu.
Bayi kecil itu tersenyum ke arah Ciko. Terbiasa melihat Ciko setiap hari, membuat Salwa kecil bisa mengenalinya. Ciko pun mengumpulkan mainan yang berserak di lantai, memasukkannya ke dalam kandang bayi menggemaskan itu.
"Bagaimana kabar istrimu?" tanya Ciko saat mendudukkan tubunya di kursi yang berada di depan Ansel.
"Belum ada kemajuan" desah Ansel terdengar pasrah.
"Istrimu pasti akan sembuh, yang sabar saja" ucap Ciko menenangkan.
"Aku gak tau Cik, kadang aku sudah pasrah" desah Ansel lagi.
__ADS_1
Wajar saja ia putus asa dengan kesembuhan istrinya itu. Sudah sembilan Bulan, namun istrinya itu belum ada sedikit pun menunjukkan tanda tanda akan sadar dari koma.
"Hust! kamu gak boleh putus asa. Itu sama saja kamu mengingkari nikmat Allah" nasihat Ciko.
"Bagiaman aku gak putus asa Cik?" lirih Ansel, mengarahkan pandangannya ke arah putrinya yang sibuk bermain sendiri." Bahkan Salwa sudah hampir bisa berjalan, Drabia masih belum bangun juga."
Ciko pun ikut mengarahkan pandangannya ke arah putri dari sahabatnya itu.
"Aku takut Cik, aku sangat takut dia tidak bangun lagi, Cik. Dia belum melihat putrinya, Cik. Dia belum mengenalnya" ucap Ansel lagi dengan suara tercekat.
"Aku mengerti perasaanmu An. Tapi tetap saja, kita tidak boleh putus asa" balas Ciko, suaranya pun ikut tercekat.
**
Di tempat lain
Ibu Nimas yang baru turun dari dalam mobil yang mengantarnya, melangkah masuk ke rumah Pak Ilham. Ada yang perlu ingin dia bicarakan tentang Ansel.
"Ibu Nimas, silahkan duduk" ucap April ramah saat melihat Ibu Nimas di ruang tamu.
"Ada apa ya?" tanya April.
"Pak Ilham mana?, aku ingin membicarakan soal Ansel." Ibu Nimas menghela napas beratnya." Aku kawatir dengan Ansel yang terus membawa Salwa ikut bekerja. Padahal ada kita yang siap merawat Salwa."
April ikut menghela napas berat. Akhir akhir ini Pak Ilham sering sakit sakitan, dan tidak pernah ke luar kamar.
"Pak Ilham juga lagi tidak sehat. Sepertinya dia terlalu kepikiran dengan Drabia" jawab April.
"Jadi apa yang harus kita lakukan. Aku kasihan melihat Ansel dan Salwa. Dan sepertinya Ansel lagi tidak baik baik saja." Ibu Nimas menjeda kalimatnya sebentar." Dia bersikap sangat posesif dengan Salwa. Hampir seratus persen dia yang mengurus Salwa. Mulai dari memberi makan, mengganti popok, menidurkamnya. Semua dia yang melakukannya, kecuali menyiapkan keperluan Salwa. Padalah ada aku dan baby sister di rumah" ucap Ibu Nimas lagi.
"Dia sudah seperti janda beranak satu aja" desah Ibu Nimas lagi.
"Apa yang bisa kulalukan, aku tidak dekat dengan Ansel. Tidak mungkin rasanya dia mau mendengarkanku bicara. Jika mau dan Pak Ilham saja pun, dia tidak mau mendengarkan" balas April.
"Dia selalu merasa putrinya bernasip sama dengannya dan Drabia. Mereka sama sama tidak merasakan kasih sayang dari Ibu kandung mereka" ucap Ibu Nimas lagi.
__ADS_1
"Jangan terlalu kawatir, aku yakin Ansel pasti mengurus Salwa dengan baik. Kita biarkan saja dia mencurahkan semua perhatian dan kasih sayangnya pada putrinya" balas April.
Akhirnya kedua wanita paru baya itu pun sama sama terdiam, memikirkan Ansel dan Salwa.
**
"Salwa, sudah ngantuk ya, Nak?." Ansel beranjak dari tempat duduknya mendekati Salwa yang sudah menguap di dalam kandangnnya. Ansel meraih tubuh Salwa, membawanya kedekapannya. Sepertinya putrinya itu sudah ingin tidur.
Setelah mendudukkan tubuhnya kembali ke kursi kerjanya, Ansel pun memberi Salwa minum susu, lalu mengusap usap kepalanya, supaya putrinya itu cepat tertidur.
Dan benar saja, baru lima menit di pangkuannya, bayi cantik itu sudah ketiduran. Dan Ansel pun memindahkannya ke dalam ayunan bayi yang di sediakannya di ruangan itu, supaya tidur putrinya nyaman dan tidurnya tambah lelap.
"Kamu memang anak Ayah yang pintar" gumam Ansel mengecup pipi cabi putrinya itu Kemudian kembali ke tempat dudunya tadi untuk melanjutkan perkerjaannya.
Siang hari, setelah Salwa terbangun dari tidur lelapnya. Ansel pun memberi putrinya itu makan, dengan makanan yang di bawanya dari rumah.
"Aa...pintar putri Ayah" ucap Ansel saat Salwa menerima suapannya.
Salwa kecil pun tersenyum setelah menelan makanan di mulutnya, sampai menampakkan giginya yang tumbuh empat biji. Membuat Ansel gemas tak tahan untuk tidak mencium pipi putrinya itu, kemudian menyuapinya lagi dengan bekal yang di bawanya.
Pas jam empat sore, Ansel memutuskan untuk keluar ruangannya bersama putrinya di gendongannya. Setiap pulang kerja, Ansel dan Salwa selalu mengunjungi Drabia ke rumah sakit.
Sampai di rumah sakit, Ansel terlebih dahulu masuk ke ruangan Dokter yang merawat istrinya itu selama ini, untuk menanyakan bagaimana perkembangan kesehatan istrinya.
"Bagaimana keadaan istri saya Dok?" tanya Ansel kepada Dokter yang duduk di depannya.
Dokter laki laki itu menghela napas Panjang dan dalam sebelum menjawab pertanyaan Ansel.
"Istrimu bisa di katakan sudah mati. Hanya saja alat alat yang menempel di tubuhnya yang membuatnya masih bertahan. Jika alat alat itu di cabut..." Dokter itu tidak tega untuk melanjutkan kalimatnya melihat wajah Ansel memerah menahan tangis.
"Saranku, ikhlaskan dia pergi" lanjut Dokter itu menyentuh tangan Ansel yang berada di atas meja.
Dug dug dug dug...!
Jantung Ansel berdetak begitu kencang, mendengar Dokter menyuruhnya mengikhlaskan Drabia pergi. Sudah tidak ada harapankah?, pikir Ansel.
__ADS_1
*Bersambung