My Wife Drabia

My Wife Drabia
58. Padahal aku yang buat


__ADS_3

Sepeninggal Ciko, Ansel kembali ke sofa mendudukkan tubuhnya di samping Drabia.


"Stop! sayang" tolak Drabia saat Ansel ingin menyosornya lagi. Drabia mendorong dada bidang Ansel supaya menjauh.


"Dosa loh nolak suami" Ansel menyeringai, mengambil tangan Drabia dari dadanya, lalu menyerang bibir istrinya itu dengan ciuman.


"Ansel! kamu genit sekali!" seru Drabia kesal namun wajahnya tampak berbinar. Bagiamanna tidak kesal, Ansel membuka baju bagian atasnya sampai tidak ada sisa, padahal mereka lagi berada di kantor.


Ansel terbahak, hm! sekarang gilirannya yang akan terus menjahili istrinya itu. Ansel pun menjauhi Drabia kembali ke meja kerjanya.


Drabia tampak cemberut, tapi tidak merajuk.


Setelah menghabiskan waktu di ruang kerja Ansel hingga sore. Mereka pun menyudahi pekerjaan mereka. Meski Drabia tidak meminpin perusahaan lagi, tapi Drabia tetap membantu Ansel mengurus perusahaan.


"Ayo sayang, kita kemana dulu?" tanya Ansel melingkarkan sebelah tangannya ke leher belakang Drabia saat mereka akan keluar dari ruangan itu.


"Beli oleh oleh" jawab Drabia.


"Okeh!"


Setelah sampai di parkiran mobil Ansel, mereka pun masuk ke dalam mobil. Ansel langsung melajukamnya menuju salah satu pusat perbelanjaan.


"Sayang kok beli baju bayi?" tanya Ansel melihat Drabia memilih milih baju baju bayi.


Kini mereka sudah sampai di dalam sualayan yang penjual perlengkapan bayi. Ansel menduga jika istrinya itu sudah hamil.


"Lucu lucu" jawab Drabia gemas melihat baju baju bayi itu.


Ansel pun mendekati Drabia, memeluk istrinya itu dari belakang.


"Ansel jangan peluk gitu ih! kita di lihatin orang." Drabia melepas tangan Ansel dari perutnya.


"Kamu hamil ya? Gak bilang bilang samaku. Jahat kamu Yang, padahal aku yang buat" ujar Ansel terdengar merajuk.


Sudah dua bulan Ansel berusaha menghamili istrinya itu. Sudah tidak terhitung berapa energi yang di keluarkannya, dan buliran keringatpun sudah tak terhingga banyaknya. Bisa bisanya istrinya itu hamil diam diam.

__ADS_1


"Aku gak tau, aku belum ngeceknya. Lagian aku belum telat datang Bulan. Aku hanya gemas aja lihat baju baju bayi ini. Aku gak tahan untuk tidak membelinya."


Ansel mengehala napas kecewa, lantas melepas pelukannya. Drabia pun mengusap kepala Ansel dari belakang.


"Doain aku gak datang Bulan lagi, Bulan ini" ucapnya tersenyum.


"Jadi untuk apa kamu membeli itu" cetus Ansel wajahnya nampak sedih.


"Memberinya ke panti asuhan, katanya di sana ada bayi yang baru lahir, di buang orang tuanya di depan panti" jawab Drabia.


"Hm! baiklah sayang" ujar Ansel tersenyum. Tadi dia tidak benaran merajuk.


Setelah selesai membeli baju baju bayi dan anak anak, untuk anak panti. Mereka pun lanjut belanja untuk membeli buah tangan, untuk Ibu Nimas yang katanya sakit. San Untuk Ayah Ilham dan Lea.


Selesai berbelanja, Mereka langsung keluar dari dalam pusat perbelanjaan. Ansel pun melajukan mobilnya ke arah rumah Ibu Nimas.


Sampai di sana, Ansel dan Drabia langsung masuk ke kamar Ibu Nimas.


"Ma!" panggil Ansel, menggandeng tangan Drabia mendekati ranjang dimana Ibu Nimas terbaring lemah.


"Kenapa Mama gak mau di bawa berobat?" Ansel mendudukkan tubuhnya di pinggir kasur, lalu menggenggam sebelah tangan Ibu Nimas.


Ibu Nimas tidak menjawab, ia menangis diam dan mengarahkan pandangannya ke arah Drabia yang berdiri di samping Ansel.


"Maaf" lirih Ibu Nimas pada Drabia.


"Mama sakit apa?, Mama berobat ya" bujuk Ansel.


"Selama dua Bulan ini Nyonya jarang makan, Tuan. Nyonya sering duduk termenung di kamarnya" pembantu wanita itu yang menjawab.


Ansel menghela napasnya. Karna masih kecewa dengan Ibu Nimas, ia tidak pernah mengunjungi wanita itu selama dua Bulan ini, dan tidak pernah menanyakan kabarnya juga.


"Aku tidak benar benar ingin membuangmu. Aku hanya ingin menyelamatkan rumah tanggaku. Waktu itu aku ingin mengadopsimu" jelas Ibu Nimas dengan bibir bergetar." Tapi perawat yang membawamu menghilang."


"Aku sudah memaafkan Tante, tapi maaf... untuk menjadikanmu Ibu, aku gak bisa" balas Drabia.

__ADS_1


Katakanlah dia anak durhaka, tapi saat ini sakit hatinya belum hilang karna di buang wanita yang melahirkannya itu. Dan yang paling menyakitkan, wanita itu pernah ingin melenyapkannya dengan sang Ayah. Seharusnya wanita itu ada di penjara saat inj, tapi Pak Ilham lebih memilih membebaskan wanita itu.


Air mata Ibu Nimas semakin mengalir deras dari sudut matanya.


"Mama berobat ya" bujuk Ansel, meski kecewa tapi Ansel wajib bertanggung jawab pada wanita itu. Anggap saja balas budi karna sudah merawat dan membesarkannya.


Ibu Nimas menggelengkan kepalanya, dia tidak mau berobat, dia ingin mati saja. Ibu Nimas tidak sanggup hidup dalam penyesalan. Yang paling menyesalkannya lagi, dia sempat ingin meleyapkan putri yang di carinya selama ini.


"Ma" panggil Ansel dengan suara lembutnya." Lambat laun nanti Drabia pasti menerima Mama.Yang penting sekarang Mama berobat supaya Mama sembuh. Mama bisa membuktikan kepada kami, kalau Mama sudah berubah. Bukan membuktikan dengan cara menyiksa diri Ma" nasihat Ansel.


Ibu Nimas menangis terisak." Biarkan Mama mati perlahan Ansel. Mama gak mau lagi hidup di Dunia ini. Mama gak sanggup menanggung penyesalan ini Ansel. Lebih baik Mama mati."


"Aku tidak mengharapkan Tante mati. Yang kuharapkan adalah Tante bertaubat. Bukan menyiksa diri kaya gini" balas Drabia.


Hati Ibu Nimas sakit, dadanya sesak mendengar putrinya memanggilnya Tante.


"Iya Ma, Ansel masih menyayangi Mama. Aku rasa Drabia juga Ma. Hanya saja Drabia masih shok menerima kenyataannya, kalau dia putri kandung Mama. Beri dia waktu Ma" sambung Ansel lalu mengecup punggung tangan Ibu Nimas.


"Mama mencarinya selama ini Ansel, tapi Mama tidak berhasil menemukannya. Mama terus memikirkanya" isak tangis Ibu Nimas lagi.


"Ssst...!" Ansel menepis cairan bening yang terus mengalir dari sudut mata Ibu Nimas. Lalu Ansel berdiri, mengangkat Ibu Nimas dari atas tempat tidur membawanya ke rumah sakit. Karna Ansel tidak bisa membiarkan Ibu Nimas sakit begitu saja.


"Sayang! kita ke rumah sakit dulu ya. Gak apa apa kan kalau kita tunda dulu ke rumah Ayah dan Lea?" tanya Ansel setelah mereka berada di halaman rumah.


Drabia menghela napasnya lalu mengangguk. Ia pun membuka pintu mobil penumpang belakang milik Ansel.


"Trimakasih sayang, sudah pengertian" balas Ansel. Mengecup kening Drabia setelah memasukkan Ibu Nimas ke dalam mobil.


Kemudian Ansel dan Drabia pun menyusul masuk. Setelah pembantu yang menjaga Ibu Nimas menyusul masuk, baru Ansel melajukan mobilnya.


Namun baru saja Ansel melajukan mobinya, Drabia merasaka tiba tiba kepalanya sedikit pusing.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Ansel melihat Drabia mengernyitkan dahinya.


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2