My Wife Drabia

My Wife Drabia
59. Apa kabar cantik


__ADS_3

"Kamu kenapa sayang?" tanya Ansel melihat Drabia tiba tiba mengeryitkan keningnya.


"Sedikit pusing aja, sepertinya masuk angin"jawab Drabia.


Ansel menarik kepala Drabia supaya bersandar ke dadanya, lalu mengecup ujung kepalanya sambil pokus menyetir.


"Nanti aku pijatin ya"ucapnya lembut. Bagaimana istrinya itu gak masuk angin, hampir setiap malam Ansel memgajaknya begadang.


Sampai di rumah sakit, Ansel menghentikan laju mobilnya tepat di depan ruang UGD. Segera turun untuk membuka pintu penumpang belakang, dimana Ibu Nimas dan seorang pembantu berada.


Petugas UGD yang melihatnya pun langsung datang mendorong brankar melihat Ansel menggendong Ibu Nimas keluar dari dalam mobil.


Ansel langsung meletakkan Ibu Nimas di atas brankar. Kedua perawat yang bertugas, langsung membawa Ibu Nimas masuk ke dalam ruang UGD.


"Sayang, masih pusing?" Ansel menghampiri Drabia yang masih duduk di dalam mobil.


"Gak lagi, tapi nanti janji pijatin. Badanku rasanya pegal semua" jawab Drabia.


"Iya sayang, ayo turun. Aku harus memindahkan mobilnya." Ansel membantu Drabia keluar dari dalam mobil, lalu menutup pintunya.


Setelah Ibu Nimas mendapatkan tindakan, baru di pindahkan ke ruang rawat. Ansel dan Drabia menunggunya di ruang rawat. Meski kecewa dan sakit hati pada Ibu Nimas. Tapi wanita paru baya itu, pernah melakukan kebaikan pada mereka. Anggap saja mereka berdua sedang balas budi.


"Ansel"


Suara lirih itu berhasil mengalihkan pandangan Ansel ke arah brankar.


"Bawa istrimu pulang Nak, Drabia juga lagi gak enak badan kan. Nanti istrimu tambah sakit" ucap Ibu Nimas menatap Drabia yang tidur di pangkuan Ansel, sambil di pijat pijat kepalanya.


"Kami akan menunggu Mama di sini. Mama istirahatlah, biar cepat sembuh" balas Ansel.


Meski ada pembantu yang akan menjaga Ibu Nimas. Sebagai anak, Ansel merasa berkewajiban untuk menemani Ibunya yang sedang sakit.


"Tapi istrimu kurang sehat Nak" ujar Ibu Nimas lagi.


"Aku gak apa apa Tante, hanya sedikit masuk angin aja" kini Drabia yang menjawab.


Ibu Nimas terdiam menatap teduh putri yang di lahirkannya itu. Meski Drabia tidak menjauhinya, tapi Drabia tidak bisa menganggapnya Ibu. Posisinya sudah di gantikan wanita lain bernama Hana.


Ruangan itu pun menjadi hening, tidak ada yang berbicara lagi. Mereka bertiga sibuk dengan pikiran masing masing. Hingga Ibu Nimas terlelap karna pengaruh obat.


"Sayang, aku antar kamu pulang aja ya"Ansel berpikir Drabia tidak akan nyaman tidur di sofa. Lebih baik istrinya itu tidur di rumah, ia saja yang menjaga Ibu Nimas.

__ADS_1


"Aku mau tidur sama kamu" suara Drabia terdengar manja dengan senyum manis di bibirnya.


"Jangan menggodaku Drabia, kita lagi di rumah sakit." Ansel gemas, ia pun menarik hidung Drabia.


Drabia tertawa kecil, Ansel memang tidak tahan jika mendengar suara manjanya. Drabia memang sengaja menggoda suami tampannya itu.


"Cari makan yuk!" aja Drabia, hari memang sudah lapar, mereka belum makan malam.


"Tapi gak ada yang jaga Mama" balas Ansel, pembantu tadi Ansel suruh pulang. Supaya besok bisa menggantikan mereka menjaga Ibu Nimas di rumah sakit.


"Biar aku aja yang cari" Drabia menengadahkan tangannya ke arah Ansel, meminta duit. Padahal dia punya uang sendiri. Tapi itulah istri sangat suka menghabiskan uang suami.


"Kamu itu!" Ansel mengeluarkan dompetnya, lalu memberikannya pada Drabia.


Drabia mengambil dompet itu, lalu mengecup bibir Ansel kemudian berlalu dari kamar itu.


Hap!


"A..!"


Drabia kaget dan langsung memekik, namun pekikannya tertahan karna mulutnya langsung di tutup orang yang tiba tiba menangkap tubuhnya dan menyeretnya masuk ke dalam salah satu kamar mayat yang berada di lorong itu.


Pria itu mendorong tubuh Drabia ke lantai setelah mengunci pintu kamar perawatan itu.


Pria bernama Kevin itu menyerigai menakutkan.


"Apa kabar cantik?"


Drabia menggeser mundur tubuhnya di lantai melihat Kevin berjalan mendekatinya.


"Aku mencintaimu, tapi malah kamu memenjarakan aku. Kamu pikir aku tidaj bisa keluar Hah!" bentak Kevin tiba tiba, membuat Drabia terlonjak.


"Ayolah Drabia, ini bukan Duniamu. Tapi oke, aku tidak masalah dengan pakaianmu. Asal kamu mau saja memamerkan tubuhmu di depanku. Aku meyukai tubuhnya yang indah itu. Okh ! seharusnya malam itu aku menikmatimu. Ah ! itu kebodohanku" oceh Kevin seperti orang tidak waras.


Drabia berusaha berdiri dari lantai, Namun Kevin mendorongnya kembali sampai terjatuh.


"Aw!"Drabia meringis merasakan sakit di bagian tangannya yang terhempas ke lantai


"Tinggalkan Ansel atau aku akan membunuh Ayahmu" ancam Kevin.


Drabia mengeleng gelengkan kepalanya. Pantas saja dia sangat merindukan Ayahnya tadi. Ternyata Ayahnya sedang terancam bahaya.

__ADS_1


"Lihat ini" Kevin menunjukkan vidio dimana Pak Ilham dan April sedang di sandra di sebuah gudang.


"Ayah!" lirih Drabia tanpa sadar meneteskan air matanya.


Kevin menyimpan ponselnya kembali." Terserah kamu, lebih peduli dengan siapa. Pilihan ada di tanganmu sekarang. Ikut aky atau Ayahmu mati.


"Saya beri kamu waktu lima menit untuk berpikir" ujar Kevin melangkahkan kakinya ke arah brankar dan membaringkan tubuhnya di sana.


Drabia berdiri dari lantai menghampiri Kevin, dan langsung meninju senjata pamungkas pria itu sekuat tenaga.


"Aw!" Kevin memekik kesakitan dan langsung memegangi juniornya.


"Sebelum Ayahku mati, aku akan membunuhmu terlebih dahulu kepar*t" geram Drabia mengambil tiang infus lalu memukulkannya pada Kevin.


Namun yang namanya perempuan, tetap kalah tenaga di banding laki laki. Kevin menarik Drabia dan langsung menusukkan sesuatu ke lengannya.


"Aw!" teriak Drabia langsung mencabut jarum suntik itu dari lengannya dan...


"Aaaaa....!!" teriakan panjang menggema dari kamar rawat kosong itu.


Kesadarah Drabia pun perlahan mulai menghilang.


Di luar pintu, perawat dan pengunjung rumah sakit langsung berkerumun. Termasuk Ansel berada di antara orang orang itu. Penasaran apa yang terjadi di dalamnya. Pintu kamar rawat itu terpaksa di doprak karna di kunci dari dalam.


Semua berbisik bisik, bertanya, ada apa?, siapa dia dalam?, apa yang terjadi?.


Bruarr!


Akhirnya seorang perawat laki laki berhasil membuka pintu ruangan tempat berasal suara ribut ribut dan teriakan itu.


"Ha!" semua kaget dan tutup mulut melihat dua orang tak sadarkan diri di ruang perawatan itu. Yang membuat mereka bergidik ngeri adalah darah yang mengalir dari tubuh laki laki yang terbaring diatas brankar.


" Menjauh menjauh menjauh !" ucap perawat rumah sakit itu.


Tidak ada yang berani menyentuhnya, mereka harus melibatkan polisi untuk kejadian itu.


Ansel yang melihat pakaian wanita yang terjatuh ke lantai, melangkahkan kakinya untuk masuk. Dia mengenal pakaian wanita itu.


"Drabia" gumamnya setelah melihat wajah wanita itu ternyata istrinya.


Ansel langsung mengangkat tubuh Drabia membawanya keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


"Dia istriku, tolong!, dia masih hidup" lirih Ansel wajahnya nampak sangat kawatir, meski air matanya tidak tumpah.


*Bersambung


__ADS_2