My Wife Drabia

My Wife Drabia
81. Dengan rasa sayang


__ADS_3

"Drabia!" panggil Ansel melihat Drabia kembali memejamkan matanya."Drabia! buka matamu sayang." Ansel menggoyang dagu Drabia untuk membangunkannya.


Drabia mengerjabkan kelopak matanya tanpa mampu membukanya kembali. Selain tubuhnya lemah, matanya terasa begitu berat dan sangat mengantuk. Drabia pun mencoba membuka mulutnya yang sangat terasa kering.


"Haus" ucapnya sangat pelan dan hampir tak terdengar.


"Sayang" Ansel menangis terharu melihat Drabia membuka mulutnya. Ansel pun meraih botol minum dari atas meja nakas. Setelah menuangkannya ke dalam gelas, Ansel meminumkannya ke mulut Drabia dengan menggunakan sendok, lalu mencium pipi istrinya dengan penuh rasa sayang.


Pak Ilham dan yang lainnya pun ikut menangis terharu melihat Drabia sudah benar benar terbangun dari tidur lelapnya.


Di ruangan lain, Seorang pria yang memakai almatera kebanggaannya. Menggebrak mejanya dengan emosi, marah terhadap dirinya sendiri.


"Saat memberikan obat nanti, suntikkan ini ke obat infusnya, dan setelah itu kaburlah" Dokter itu memberikan obat berupa cairan pada perawat wanita yang berdiri di belakangnya.


"Ta- tapi...."


"Lakukan perintahku!" tegas pria itu memutar tubuhnya ke arah perawat itu." Aku sudah membayarmu mahal selama ini. Kalau kau tidak mau, aku bisa menjual ginjalmu sekarang" ancam Dokter itu.


Perawat itu terdiam menunduk, tak barani membantah. Selama ini dia butuh uang yang banyak, sehingga ia terpaksa menuruti permintaan Dokter yang menaruh dendam pada pasien koma itu.


"Aku harus membunuh wanita itu tanpa membuat tanganku ternoda" ucap Dokter itu menatap nanar perawat di depannya." Karna wanita itu sudah membuat masa depanku tidak bisa berpungsi dengan baik, sampai istriku menggugat cerai" geram Dokter itu.


"Dia pernah menendang masa depanku, dan menginjak injaknya." ucapnya lagi.


"Tapi Dok, aku tidak bisa melakukannya, jika harus menghabisi pasien itu dengan tanganku."


Brank!


Pintu ruang perawatan itu tiba tiba terbuka dengan kasar. Dokter pria dan perawat di ruangan itu langsung menoleh ke arah pria yang masuk dengan wajah merah menahan amarah.


Padahal pintu itu di kunci dari dalam, namun pria yang masuk itu berhasil mendopraknya hanya sekali tendangan saja.

__ADS_1


"Jelaskan, apa yang sudah kalian perbuat dengan istri sahabatku?." pria bertubuh sedikit gemuk itu merapatkan gigi giginya saat berbicara.


"Apa yang kami perbuat?" tanya balikDokter mengerutkan keningnya, tak paham.


"Baiklah" Ciko mengendurkan otot otot tubuhnya yang sempat menegang." tadi pasien sudah sadar dan sempat membuka matanya. Tapi setelah infus di pasang kembali, perlahan pasien kembali tak sadarkan diri lagi" jelas Ciko.


"Mungkin pasien mengantuk karna perngaruh obat yang di masukkan melalui infus. Keadaan pasien sudah membaik, pasien hanya istirahat saja" jelas Dokter itu begitu tenang.


Bukan tanpa alasan Ciko mencurigai Dokter dan perawat itu. Semenjak sebulan yang lalu, Dokter itu terus menyarankan untuk membuka alat alat yang melekat pada tubuh Drabia. Dan juga tadi, saat alat alat di lepas dari tubuh Drabia, tubuh Drabia sempat meronta ronta seperti mencari udara untuk bernapas. Namun bukannya Dokter itu menanganinya, tapi malah membiarkannya. Dan juga saat akan di pasang infus kembali, Ciko melihat Drabia menggeleng pelan ke arah Ansel. Hanya saja Ansel yang terlalu bahagia, tidak bisa memahami maksud Drabia yang menggeleng.


"Dokter yakin?" Ciko memicingkan matanya ke arah Dokter pria yang berusia empat puluhan itu.


"Apa yang anda curigai, kalau saya ingin berbuat jahat, atau ingin menghabisi nyawa pasien, mudah bagi saya melakukannya. bisa saja saya menghabisi nyawa pasien itu di meja operasi. Tapi saya tidak melakukannya" jelas Dokter itu.


"Baiklah kalau begitu. Jika kecurigaan saya benar. Siap siaplah menanggung resikonya." Ciko langsung keluar dari ruangan itu, melangkah kembali masuk ke ruang perawatan Drabia.


"Ansel, pindahkan Drabia dari rumah sakit ini. Lebih baik kamu merawatnya di rumah saja" ucap Ciko tegas, membuat Ansel, Dafa, Pak Ilham dan yang lainnya mengernyit heran melihatnya yang datang entah dari mana.


"Kalau gak, pindahkan Drabia ke rumah sakit lain" ujar Ciko lagi tak ingin menjawab pertanyaan Dafa.


"Kenapa?" kini Ansel yang bertanya.


"Aku mengenal Dokter yang bagus dari luar Negri untuk membantu kesembuhan istrimu. Tapi Dokter itu tidak mau jika harus datang ke rumah sakit ini" jelas Ciko berbohong." Dokter itu sudah sangat berpengalaman menangani kasus pasien koma" tambah Ciko meyakinkan Ans dan yang lainnya.


"Kalau begitu, uruslah prosedur pemindahannya" ujar Pak Ilham. Ansel yang pikirannya lagi blang mengangguk patuh saja.


"Hm baiklah, kalian siap siaplah" ujarnya lalu pergi untuk mengurus pemindahan dan administrasi pengobatan Drabia.


Setelah selsai, Drabia pun di bawa pindah dari rumah sakit itu, ke rumah sakit yang lebih kecil.


"Apa apa an kamu Cik?, kenapa malah memindahkan istriku ke rumah sakit ini?"tanya Ansel saat mereka sampai di depan sebuah rumah sakit kecil, dan terlihat sederhana.

__ADS_1


"Yang penting istrimu segera sembuh, itu yang perlu kamu pikirkan" jawab Ciko saat turun dari dalam mobil yang mengantar mereka.


Ansel menghela napasnya lalu mengikuti brankar Drabia yang mulai di dorong masuk ke dalam sebuah ruang perawatan rumah sakit itu.


Setelah memindahkan Drabia ke atas barankar di ruang perawatan kelas VIV rumah sakit itu. Tak lama menunggu, Dokter yang di dari laur Negri itu pun datang, bersama seorang Dokter yang bertugas di rumah sakit itu.


"Dokter Wildan" Ciko menyalam tangan Dokter pria seusianya itu. Dokter Wildan adalah temannya saat sekolah menengah pertama dulu.


Dokter bernama Wildan itu langsung mengambut tangan Ciko dengan tersenyum." Perkenalkan, Dokter hebat ini adalah Dosen saya dulu, namanya Dokter Ricard."


Setelah melepas tautan tangan mereka, Ciko pun menyalam pria yang berdiri di samping Dokter Wildan.


"Ciko" ucap Ciko tersenyum ramah.


"Ricard" balas Dokter yang tidak lagi muda itu.


Dan Ciko pun memperkenalkan Ansel suami dari pasien yang terbaring di atas brankar, pada Dokter Wildan dan Dokter Ricard. Tidak lupa juga memperkenalkan Pak Ilham dan Dafa, Ibu Nimas, April dan Lea yang masih setia menemani Drabia.


"Sudah berapa lama pasien mengalami koma?" tanya Dokter Ricard yang tidak punya banyak waktu untuk bersantai. Apa lagi dia ke Indonesia untuk bertugas, bukan untuk bersantai.


"Sepuluh Bulan Dok" jawab Ansel. Lalu menceritakan kejadian di rumah sakit sebelumnya. Drabia yang sempat sadar dan bahkan meminta minum, namun tak lama kemudian terlelap kembali tanpa bisa dibaguni.


Dokter Ricard pun memeriksa keadaan Drabia dengan di bantu oleh Dokter Wildan dan seorang perawat perempuan.


"Pasien sedang tidur, tapi sepertinya terpengaruh obat tidur sehingga Pasien tidur terlelap sulit untuk terbagun. Tapi untuk mengetahui lebih jelasnya, harus di lakukan uji lab" Jelas Dokter Ricard.


"Iya Pak Ansel, sepertinya istri anda selama ini terpengaruh obat tidur secara terus menerus. Sehingga istri Anda sulit untuk bangun" tambah Dokter Wildan.


"Maksud Dokter?" Ansel mengerutkan keningnya ke arah Dokter Wildan.


"Kita tunggu hasil labnya, untuk memastikan diagnosa kami Pak Ansel" balas Dokter Wildan tersenyum.

__ADS_1


*Bersambung


__ADS_2