My Wife Drabia

My Wife Drabia
40. Tanyakan sama Ibumu


__ADS_3

Malam hari, Ansel dan Ciko kembali datang ke rumah Pak mendiang Apak Nawir. Terlihat rumah itu gelap di bagian dalamnya, hanya lampu luar yang hidup.


Lantas siapa yang menghidupkan lampu depan rumah itu?. Ibu tadi mana?, seharusnya mereka menanyakan di mana rumah si Ibu yang menghampiri mereka tadi pagi.


"Apa kita hanya akan memandangi rumah itu aja?" tanya Ciko pada Ansel yang hanya diam memandangi rumah di depan mereka.


"Setidaknya aku tau apa alasan Drabia dan Pak Ilham meninggalkanku Cik!" lirib Ansel.


"Iya, tapi mereka gak ada di sini" Ciko menepuk pelan baru Ansel yang berdiri di depannya.


"Aku yakin mereka ada di dalam" Ansel melangkahkan kakinya ke arah pintu rumah itu.


"Drabia! buka pintunya!. Aku tau kamu ada di dalam!" teriak Ansel tiba tiba sambil menggendor pintu rumah itu. Sehingga mengundang perhatian para warga yang kebetulan lewat.


Melihat itu, Ciko langsung mendekati Ansel." Ansel, jangan membuat keributan di sini. Bisa bisa kita nanti kena marah para warga" ucap Ciko matanya melirik ke arah orang orang yang melihat mereka.


"Aku gak peduli" Ansel menepis tangan Ciko yang menarik tangannya." Drabia!" teriaknya lagi.


"Buka pintunya Drabia!, aku tau kamu ada di dalam!. Aku melihat kamu mengintip tadi pagi Drabia!" teriak Ansel lagi.


Buar buar buar!


Ansel terus memukul mukul pintu di depannya dengan tangan. Tadi pagi Ansel sempat melihat sekilas horden kaca rumah itu sedikit bergerak.


"Drabia! aku mohon, buka pintunya!. Katamu kamu mencintaiku Drabia!. Tapi kenapa kamu malah meninggalkanku?" teriak Ansel lagi frustasi.


"Drabiaaaaa!"


"Maaf! kalian siapa ribut ribut di sini?."


Ansel dan Ciko langsung menoleh ke arah Pria paru baya yang berdiri di belakang mereka.


"Maaf Pak, kami dari Jakarta. Teman saya ini mencari istrinya dan Pak Ilham yang kemungkinan pulang ke kampung ini" jelas Ciko pada pria berpakaian baju koko lengkap dengan sarungnya itu.

__ADS_1


"Kalian siapanya Pak Ilham?. Dan juga Pak Ilham tidak ada pulang ke sini" tanya pria yang di perkirakan Pak RT itu.


"Saya menantunya Pak" jawab Ansel.


Pria itu pun mengarahkan pandangannya menelisik ke wajah Ansel." Tapi mereka tidak ada pulang ke sini, rumah ini kosong" ucapnya.


"Jangan berbohong Pak, tadi pagi saya sudah ke sini. Saya melihat ada orang mengintip dari dalam" sela Ansel tidak percaya.


"Terserah percaya atau tidak. Tapi tolong jangan membuat keributan di sini. Apa lagi sampai mengganggu ketenangan para warga" ucap si Bapak itu.


Ansel mengindahkan perkataan si Bapak itu, Ia pun kembali memanggil Drabia dengan suara kerasnya.


"Drabia! Sayang, buka pintunya sayang!" teriak Ansel lagi. Dia tidak peduli jika harus menjadi pusat perhatian para warga.


"Aku mencintaimu Drabia, buka pintunya. Kenapa kamu meninggalkanku?, beri aku alasannya Drabia!" teriak Ansel lagi.


Drabia yang berada di balik pintu, hanya bisa menangis. Apa lagi mendengar kata cinta dari Ansel. Jika pun Drabia mengatakan alasannya pergi, Ansel tidak akan percaya. Dan Drabia juga tidak mau jika sampai Ansel dan Ibunya bertengkar. Apa lagi sampai Ansel membenci Ibu Nimas.


"Setidaknya beri tahu dimana kesalahanku Drabia. Supaya aku bisa memperbaiki diri" Lirih Ansel lelah berteriak teriak." Setidaknya aku tau apa alasan kalian pergi meninggalkan aku."


Tiba tiba pintu rumah itu terbuka dari dalam. Hampir saja Ansel yang bersandar di pintu, terjatuh.


"Tanyakan sama Ibumu. Pasti dia tau jawabannya kenapa kami pergi. Dan mulai sekarang, jangan mengganggu putriku lagi. Mulai sekarang, kita bukan siapa siapa lagi."Yang membuka pintu bukan Drabia, melainkan Pak Ilham.


Ansel terdiam, begitu juga dengan Ciko yang berdiri di samping Ansel.


"Maksud Ayah?" tanya Ansel menghapus air matanya yang sempat mengalir.


"Tanyakan sama Ibumu!" jawab Pak Ilham tak ingin menjelaskan apa pun pada Ansel.


"Aku gak paham Yah!" bingung Ansel.


Pak Ilham menghela napasnya kasar. Seharusnya Pak Ilham tidak pulang ke kampung itu, sehingga Ansel bisa menemukan mereka. Kepergian mereka yang mendadak dan buru buru, membuat Pak Ilham bingung, dan akhirnya memilih pulang ke kampung terlebih dahulu, baru mereka akan memikirkan kemana mereka akan memulai hidup baru.

__ADS_1


"Pulanglah Nak, suatu saat kamu pasti tau kenapa kami pergi, tanpa kami harus menjelaskan apapun padamu" ucap Pak Ilham berwajah sedih dan nampak raut kecewa di wajahnya.


"Tapi Yah, kenapa?. Drabia istriku Yah, kenapa Ayah membawanya?. Jika Ayah sudah lelah bekerja, Ayah bisa pensiun. Gak apa apa, biar Ansel aja yang bekerja, Ayah istirahat aja menikmati hari tua. Ansel sudah bisa kok mengurus perusahaan Yah" cerca Ansel.


Bagaimana bisa Ansel jika harus kehilangan Pak Ilham. Pak Ilham sudah sangat baik padanya, sudah menyanyanginya seperti anak.


"Tapi Yah, jangan bawa Drabia" bujuknya dengan wajah sedih. Wajah itu mengingatkan Pak Ilham waktu Ansel baru tersadar dari koma, di saat itu Ansel baru mengetahui sang Papa sudah tiada.


"Pulanglah Nak, kamu tidak perlu memikirkan kami lagi" ucap Pak Ilham lagi.


Ansel menggeleng gelengkan kepalanya."Drabia istriku Yah, dia harus ikut denganku."


"Tapi hidupnya tidak bisa tenang dengan manjadi istrimu Nak. Sudahlah Nak, mungkin jodoh kalian sampai di sini saja. Sekuat apa pun kalian memaksa untuk tetap bersama, Kalau alam tidak merestuinya, kalian tidak akan bahagia."


"Aku janji Yah, aku akan membuatnya bahagia" bujuk Ansel. Jika Pak Ilham tidak ingin pulang, tapi Ansel harus bembawa Drabia pulang bersamanya.


"Jika aku masih bersamamu, Ibumu akan menghabisi Ayahku Ansel. Ibu Nimas menyuruh orang untuk menghabisi Ayah, jika kami tidak menjauh dari kalian!." Sambar Drabia yang dari tadi bersembunyi di balik dinding.


"Apa maksudmu Drabia?" Ansel menggeleng gelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang di katakan Drabia.


Drabia tersenyum getir," kamu tidak akan percaya Ansel. Kamu tidak akan percaya dengan apa yang kukatakan. Tapi itulah kenyataannya. Jika menurutmu yang kukatakan adalah kebohongan atau fitnah. Itu terserah kamu Ansel. Tapi itulah alasan kami pergi menjauh" jelas Drabia.


"Gak mungkin Ibuku melakukan itu. Ibuku sangat menyayangimu." Tentu Ansel tidak akan percaya apa yang di katakan Drabia, mengingat selama ini Ibunya sangat menyayangi Drabia. Bahkan saat Ansel menolak menikahi Drabia, Ibu Nimas membujuknya.


Drabia menghela napasnya." Itulah yang membuatku pergi tanpa berpamitan padamu. Karna kamu tidak akan percaya, dan akan percuma jika pun aku mengatakannya. Kamu tidak akan percaya Ansel."


"Pulanglah, lebih baik kita hidup masing masing aja. Kami tidak perlu membuatmu percaya, makanya kami pergi tanpa berpamitan. Sekarang kamu sudah tau apa alasan kami pergi. Bapak rasa tidak perlu di perjelas lagi " sambung Pak Ilham.


"Aku yakin, kalian hanya salah paham dengan Ibuku. Pasti ada yang menghasud kalian. Ibuku tidak mungkin menyuruh orang untuk menghabisi Ayah" sangkal Ansel lagi, tidak percaya jika Ibunya sejahat itu.


"Terserah kamu bagaimana menilai kami Ansel. Tapi kami tidak ingin berurusan dengan kamu dan Ibumu lagi. Dan pulanglah, ini sudah malam, kami juga mau istirahat" usir Pak Ilham untuk yang kesekian kalinya.


Ansel menggeleng, dia tidak mau pulang tanpa membawa Drabia." Drabia!"panggilnya lirih.

__ADS_1


*Bersambung


__ADS_2