
Sampai di depan rumah, Ansel mendudukkan tubuhnya di sebuah bangku panjang menghadap ke taman, di ikuti Drabia duduk di sampingnya.
"Kau menghukumku sangat kejam Drabia" ucap Ansel.
Drabia memeluk sebelah lengan suaminya itu, menyandarkan kepalanya di bahu Ansel."Aku minta maaf" ucapnya.
"Saat kamu dan Ayah Ilham pergi. Aku merasa hidup sendiri di Dunia ini" ucap Ansel lagi, wajahnya sedih banget.
"Jangan sedih lagi, aku sudah ada di sini" balas Drabia.
"Tapi aku kesal, kalian mempermainkanku" rajuk Ansel manja.
Drabia mengulas senyumnya, ia pun mengecup pipi Ansel dari samping. Lalu Drabia pun berdiri dari tempat duduknya. Menarik tangan Ansel membawanya masuk ke dalam mobilnya.
"Kamu mau membawa aku kemana?"tanya Ansel.
Drabia yang duduk di kursi setir tidak menjawab, ia hanya mengulas senyum pada Ansel, lalu melajukan kenderaannya.
Sampai di depan sebuah gedung perusahaan, Drabia memarkirkan mobilnya dengan sempurna.
"Kamu bekerja di sini?" tanya Ansel melihat gedung perusahaan Citra Indah di depannya.
Drabia mengangguk sembari tersenyum, lalu membuka pintu di sampingnya dan turun berjalan ke arah pintu yang berada di samping Ansel.
"Ayo!" ajak Drabia menarik Ansel keluar dari dalam mobil, setelah membuka pintunya.
"Untuk apa?" wajah Ansel nampak berubah kesal.
Drabia bekerja di perusahaan Citra Indah. Itu artinya istrinya itu tau kalau perusahaannya di beli pemilik perusahaan itu.
"Ingin menunjukkan sesuatu untukmu" Drabia mengulas senyumnya, memaksa Ansel masuk ke dalam perusahaan miliknya.
"Kita ke sini memakai baju rumahan, apa kata orang nanti" tolak Ansel. Dia hanya memakai celana potong selutut dan kaos oblong. Dan istrinya juga hanya memakai baju tidur.
"Gak apa apa" Dengan sekuat tenaga Drabia mendorong tubuh Ansel dari belakang, yang menolak untuk masuk. Tidak peduli para karyawannya memperhatikan mereka dari kejauhan.
"Gak mau, malu sayang, kita ke sini dengan penampilan seperti ini" Ansel berusaha menahan tubuhnya, tidak mau masuk.
"Kita pakai baju, ngapain malu" kekeh Drabia, masih terus mendorong Ansel untuk masuk.
__ADS_1
"Gak gak gak, aku gak mau sayang. Lagian ngapain kamu membawa aku ke tempat kerjamu. Kamu mau buat aku malu, karna sebentar lagi aku jadi gembel. Kamu tau kan, kalau perusahaan ini akan membeli perusahaanku" cerca Ansel.
Drabia berdecak dan berhenti mendorong tubuh Ansel yang gak geser sama sekali, lalu Drabia bertolak pinggang dengan napas ngosgosan." Ayo cepat masuk, capek tau dorong kamu. Aku mau nunjukin sesuatu sama kamu" ujarnya.
"Nunjukin apa?, ini perusahaan orang. Dan juga aku tidak lagi ada janji dengan pemilik perusahaan ini" tanya Ansel.
"Ada, ayo" Drabia kembali mendorong tubuh suaminya itu masuk ke dalam gedung perusahaan miliknya.
Kali ini Ansel tidak menahan tubuhnya lagi, meski tidak percaya diri dengan penampilannya yang hanya memakai pakaian rumah.
Drabia pun membawa Ansel masuk ke dalam lif untuk naik ke lantai atas gedung itu. Setelah sampai, Drabia menarik Ansel masuk ke dalam ruangan yang di duga ruangan pemilik perusahaan itu.
Ternyata di dalamnya tidak ada orang. Ruangan itu terlihat baru, desain dan juga perabotnya. Wajar saja, gedung perusahaan itu memang masih baru.
"Mulai sekarang, kamu bekerja di sini" ujar Drabia mendudukkan Ansel di kursi yang berada di balik meja berbahan kayu jadi di ruangan itu.
"Jangan bercanda deh" Ansel berdiri dari kursi pemilik perusahaan itu. Namun Drabia langsung mendorongnya sampai tubuhnya terduduk kembali.
"Ini yang ingin ku tunjukkan sama kamu. Mulai sekarang, kamu yang akan meminpin perusahaan ini. Karna aku akan sibuk menjadi Ibu rumah tangga. Mengurus anak anak kita nanti" ujar Drabia tersenyum ke arah Ansel yang masih bingung.
"Iya, tapi ini perusahaan orang lain. Bagaimana bisa kamu menyuruhku bekerja di sini sayang?." Ansel berpikir istrinya itu sedang berhalu ria. Apa iya karna Drabia terlalu memikirkan perusahaannya yang bangkrut. Drabia tidak bisa jika harus hidup miskin.
"Perusahaan ini milik Nona Drabia Pak Ansel yang terhormat."
Ansel terdiam, ia pun mengalihkan pandangannya ke wajah Drabia. Meminta penjelasan se jelas jelasnya.
Pantas saja harga perusahaannya laku dengab harga tinggi. Dan masih mempercayakannya dan semua staf dan karyawan untuk tetap bekerja di perusahaan itu.
Pandangan Ansel pun berubah kecewa, mengingat, investor perusahaannya sempat ingin menarik saham mereka. Karna perusahaan Cintra Indah itu menawarkan harga saham yang tinggi. Ternyata Drabia, istrinya sendiri dalang di baliknya. Drabia mempermainkannya habis habisan.
"Drabia!" lirih Ansel dengan mata berkaca kaca. Sebagai suami, Ansel merasa harga dirinya di injak injak.
"Aku hanya sedikit memanfaatkanmu untuk mematahkan ke sombongan Ibu Nimas yang sudah memanfaatkan Ayah selama ini" jelas Drabia.
Ansel menggeleng gelengkan kepalanya." Tanpa memikirkan perasaanku?" lirihnya.
"Aku sampai gila merindukanmu Drabia!. Tapia kamu mempermainkanku. Aku tau aku pernah berbuat salah, aku tidak lupa itu Drabia. Aku tidak lupa, kalau aku pernah menyakitimu. Tapi apa kamu harus menghukumku sekejam itu?" tangis Ansel.
Tidak taukah mereka, bertapa setresnya Ansel setelah Drabia dan Pak Ilham menghilang. Rasanya Ansel ingin mati saja, karna tidak mampu menghapi masalah sendirian.
__ADS_1
"Aku tidak membutuhkan semua ini Drabia. Lebih baik aku hidup miskin, dari pada kaya tapi tidak punya harga diri" ucap Ansel lagi, bergegas meninggalkan ruangan itu.
"Ansel!" panggil Drabia, namun Ansel mengindahkannya.
Jika saja bermaksud membalas perbuatan Ibu Nimas. Seharusnya Drabia memberitahunya, melibatkannya untuk menyadarkan Ibu Nimas dari kesombongannya yang lupa balas budi.
'Aduh! kenapa jadi begini' batin Drabia terus mengejar Ansel yang sudah masuk ke dalam lif. Drabia pun terpaksa lewat tangga darurat gedung itu untuk mengejar Ansel yang sedang marah.
Dia tidak bermaksud mempermainkan Ansel. Hanya sedikit mengerjainya saja. Dan Juga Drabia ingin menunjukkan pada Ansel kalau dia sudah sukses. Berharap Ansel bangga padanya.
"Ansel! tunggu!" seru Drabia sambil berlari setelah sampai di depan gedung.
Ansel yang sudah keluar gerbang, menulikan telinganya. Drabia terus mengejarnya yang sudah masuk ke dalam taxi yang di hentikannya.
"Ansel! tunggu!" seru Drabia lagi mengejar taxi yang membawa suaminya itu.
"Pak! itu si Mbaknya mengejar kita sepertinya" ujar si supir taxi yang membawa Ansel. Melihat seorang wanita terus mengejar mereka.
"Biarkan aja Pak" balas Ansel.
"Ansel! tunggu!"
Bruk!
"Aw!" kemuh Drabia saat terjatuh ke aspal, karna kakinya kesandung saat berlari.
Drabia meringis kesakitan, dan kesadarannya tiba tiba menghilang.
"Drabia! awas !"
Brukk!
"Ansel!!!"
Teriak Pak Ilham, Lea dan Dafa bersamaan, melihat Ansel terserempet sepeda motor.
"Drabia!" lirih Ansel lalu menutup matanya yang terbaring di atas tubuh Drabia.
Drabia membuka matanya, di lihatnya kening Ansel luka dan berdarah. Drabia malah tersenyum, lalu menutup matanya kembali.
__ADS_1
"Ansel! Dtabia!"
* Bersambung