
"Sayang, kita jemput Lala ya" ucap Drabia sambil merias wajahnya di depan cermin.
Malam ini mereka akan pergi ngumpul ngumpul bareng Dafa, Lea dan Ciko. Supaya Ciko ada pasangan, Drabia pun mengajak Lala, untuk di jodohkan dengan Ciko.
"Iya Sayang" patuh Ansel dengan wajah terlihat kesal.
Drabia tertawa kecil melihat ruat wajah Ansel dari pantulan kaca di depannya."Ini Lala nya beda loh" ujarnya.
"Tetap aja aku gak suka yang nama Lala" cetus Ansel. Masih tidak bisa melupakan gadis kecil bernama Lala dulu.
"Lala yang ini, wanita baik, meski penampilannya seperti cowok" jelas Drabia sambil melipat jilbab segi empatnya menjadi segi tiga, lalu menutupkannya ke kepala. Setelah itu di bawah dagu di satuin lalu di kasih jarum pentul. Kemudian bagian depan jilbab di lilit ke belakang di buat serapi mungkin.
"Iya, terserah sayang aja" melihat Drabia sudah selesai bersiap, Ansel pun berdiri dari punggir kasur. Medekati Drabia memeluk wanita itu dari belakang, lalu mengecup wajah cantiknya.
"Cantik banget sih kamu, rasanya gak rela di lihatin orang kalau keluar rumah" celetuk Ansel.
"Aku milikmu, tak perlu kawatir" balas Drabia mengecup pipi Ansel yang berada di samping wajahnya.
Ansel pun melepas pelukannya, meraih pinggang wanita itu, mengiringnya berjalan ke luar kamar.
Sampai di depan rumah, Ansel membukakan pintu untuk Drabia, membantu wanita itu masuk ke dalam mobil. Setelah menutup pintunya Ansel memutari bagian depan mobilnya, menyusul masuk ke dalam.
Saat mulai melajukan kenderaannya, Ansel pun meraih satu tangan Drabia, menggenggam tangan itu, membawanya ke bibirnya, mengecup ngecupnya berulang kali.
"Kenapa kamu yakin menjodohkan wanita itu dengan Ciko?" tanya Ansel menoleh sebentar ke arah Drabia.
"Gak tau, di coba aja, mana tau mereka cocok" jawab Drabia.
Ansel tidak bicara lagi, ia lebih sibuk memperhatikan jalan di depannya, dan menikmati aroma tangan Drabia yang tidak di lepasnya dari tadi.
Sampai di depan rumah Lala, Ansel menghentikan kenderaannya. Drabia langsung turun untuk memanggil Lala ke depan pintu rumah. Sedangkan Ansel, ia lebih memilih untuk menunggu di dalam mobil.
Ansel menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi dengan menaruh kedua telapak tangannya di belakang kepala, dengan memandang lurus ke depan. Namun tiba tiba Ansel mengerutkan keningnya melihat orang yang melintas tidak jauh di depan mobilnya.
"Hafshah, Irham" gumamnya.
Penasaran dengan orang yang di lihatnya, Ansel pun membuka pintu di sampingnya dan langsung turun. Ansel terus memperhatikan kedua orang yang pernah menyamar menjadi kakak beradik itu.
__ADS_1
"Kenapa kemarin tidak mengikuti mereka?. Aku sudah lelah mencari alamat tempat tinggal mereka, tapi gak ketemu" ujar Irham.
"Untuk apa kau mencarinya, tidak mungkin kan kita meminta bantuan mereka?" tanya Hafshah.
"Kita coba aja, mana tau mereka mau membantu kita. Lihat anakmu, apa kamu gak kasihan melihatnya yang seperti kurang gizi."
"Ini anakku, apa pedulimu?. Jangan mempengaruhiku lagi. Aku sudah nyaman hidup seperti ini. Gara gara kamu juga hidupku menjadi hancur. Kau yang menjadikanku jadi p*lac*r. Aku yang lelah berusaha di atas kasur, kamu enak enak ikut menikmati uangnya. Sekarang pun kamu gak mau bertanggung jawab menjadi Ayah bayi ini."
"Dia bukan anakku."
"Iya, tapi kau menjualku sehingga bayi ini lahir."
"Kau sendiri juga menikmati pekerjaanmu. Kenapa malah menyalahkanku?. Ah sudahlah, bantu aku mencari alamat baru Ansel dan Darbia."
"Untuk apa?."
"Untuk apa lagi?. Ansel itu sepupuku. Aku akan meminta bagian harta Kakek kami yang di wariskan Pada Paman."
Duarr!
Seperti di sambar petir, Ansel begitu kaget mendengar apa yang di katakan Irham barusan.
"Semenjak Paman menikah dengan wanita bernama Nimas. Nenek membuang Paman Hendry dari keluarga. Nenek tidak menganggap Paman Hedry sebagai anak lagi. Nenek dan Ayahku memutuskan hubungan dengan Paman Hendry. Sampai Paman Hendry meninggal, Nenek pun tidak pernah peduli dengan Ansel. Dia tidak menyukai Ansel yang terlahir dari wanita bernama Nimas. Apa lagi sebelum Paman Hendry meninggal, ia membuat bangkrut perusahaan Papaku. Sehingga kami semua jatuh miskin. Nenek meninggal karna terserah jantung, Papa dan Mama bercerai, sampai aku menjadi korban, telantar di jalanan."
Ansel membeku dengan raut wajah sedih bercampur marah. Tak terasa air matanya pun menetes mengingat sang Papa yang sudah meninggal. Dan yang paling membuat Ansel sedih, ternyata Irham saudara sepupu kandungnya, tapi tega menipunya.
"Aku membencinya, karna Paman Hendry membuat perusahaan Papa bangkrut. Sekarang aku ingin balas dendam pada Ansel dan Drabia. Karna Pak Ilham juga adalah dalang di balik bangkrutnya perusahaan Papa" ujar Irham lagi.
"Kau sudah mengenal mereka semua sebelumnya?" tanya Hafshah tidak percaya.
"Iya" mata Irham terlihat kilat dendam kemarahan.
"Karna mereka Papa sakit sakitan. Dan yang paling membuatku marah. Ibuku malah menikah dengan Pak Ilham."
Duarrr!
Ansel bertambah shok mendengar penjelasan Irham barusan.
__ADS_1
"Ibu April" gumam Ansel.
"Sayang! ayo! lihatin siapa?."
Ansel yang tersadar dari lamunannya, langsung masuk ke dalam mobil sambil menghapus air matanya.
"Gak ada sayang" jawab Ansel tersenyum ke arah Drabia yang sudah duduk disampingnya." Aku hanya memperhatikan anak anak yang bermain di pinggir jalan. Jadi aku teringat dengan kamu waktu kecil" tambahnya. Untung saja Hafshah dan Irham sudah pergi, jadi Drabia tidak melihatnya. Kalau sempat Drabia melihatnya, Drabia pasti mendekati kedua orang itu.
"Perasaan kita sama sama kecil deh. Malah tuaan aku lagi usianya" Drabia mengerucutkan bibirnya.
"Cuma satu Bulan juga" balas Ansel bernada mencibir.
"Se-selamat malam Pak Ansel" sapa Lala yang duduk di kursi penumpang belakang sendirian.
"Selamat malam juga" balas Ansel memaksakan senyumnya.
"Aw! sakit sayang!" keluh Ansel tiba tiba karna Drabia mencubit pinggangnya.
"Senyumnya yang tulus sayang" bisik Drabia ke telinga Ansel.
"Selamat malam juga Lala" ucap Ansel sekali lagi dengan senyum yang lebih lebar.
"Tulus, bukan lebar" bisik Drabia lagi.
"Tulus kok" bantah Ansel.
Hanya butuh perjalanan lima belas menit, mereka sudah sampai di sebuah restoran. Ansel pun memarkirkan mobilnya dengan sempurna di parkiran yang tersedia. Lalu turun, melangkah ke arah pintu di samping Drabia, untuk membukakan pintu untuk sang istri tercinta.
"Trimakasih" ucap Drabia tersenyum. Ansel begitu baik dan romantis sekarang.
"Sama sama sayangku" balas Ansel.
Lala yang duduk di kursi penumpang belakang pun membuka pintu di sampingnya setelah memeriksa kembali riasan di wajahnya menggunakan kaca kecil yang di bawanya. Kemudian turun, mengikuti langkah Drabia dan Ansel dari belakang setelah memutup kembali pintu mobil itu.
Lala Menarik napas dalam lalu mengeluarkannya perlahan. Gugub dan gerogi karna akan bertemu dengan Ciko. Menjadi pasangan Ciko untuk makam malam bersama malam ini.
"Wah kalian sudah sampai" ucap Drabia setelah sampai di meja yang mereka pesan sebelumnya. Di sana sudah ada Dafa dan Lea. Drabia pun melepas tautan tangannya dari Ansel, lalu memeluk Lea melakukan cipika cipiki.
__ADS_1
"Dimana Ciko?" tanya Drabia melihat Ciko belum datang.
*Bersambung