
Pulang kerja, Ansel yang baru memarkirkan kenderaannya di depan rumah, membuka pintu di sampingnya dan langsung ke luar setelah meraih buket bunga dari kursi sebelahnya.
Wajah Ansel terliha berbinar bahagia saat melangkah masuk ke dalam rumah itu. Bukan karna rumah itu besar dan mewah. Tapi Ansel bahagia karna di dalam rumah itu ada seorang bidadari surga.
"Assalamu alaikum!" Ansel berseru saat tangannya berhasil membuka pintu masuk rumah itu.
"Walaikum salam" balas seorang wanita dari sebuah kursi roda.
Langkah Ansel pun langsung tertuju pada wanita cantik yang duduk di kursi roda itu. Ansel menurunkan tubuhnya setelah tepat berada di depan wanita itu, memberi satu kecupan di keningnya setelah memberikan buket bunga di tangannya ke tangan wanita itu.
"Love you!" ucap Ansel dengan suara lembutnya.
Drabia mengulas senyumnya, lalu mengecup singkat bibir pria yang mengucapkan cinta itu.
"Love you too" balasnya.
"Putri kita mana?" Ansel memutar pandangannya ke setiap sudut ruang tamu itu, mencari putri kecilnya.
"Bermain bersama Ayah di taman belakang" jawab Drabia.
"Aku sudah kangen banget sama dia." Ansel kembali berdiri, lalu memutar kursi roda Drabia, mendorongnya ke arah pintu taman belakang rumah itu.
Biasanya Ansel selalu membawa putrinya itu bekerja. Tapi semenjak Drabia pulang dari rumah sakit, Salwa kecil tidak di bawanya lagi.
Sampai di taman belakang, Salwa yang melihat Ansel langsung menangis. Sepertinya putrinya itu juga sudah sangat merindukannya.
"Kenapa menangis sayang, kangen sama Ayah ya." Ansel meraih tubuh putrinya itu dari gendongan Pak Ilham. Bayi berusia sepuluh Bulan itu langsung berhenti menangis.
Selama ini mereka terlalu dekat, hampir menghabiskan waktu 24 jam perharinya. Baru beberapa hari ini mereka tidak selalu bersama.
"Dia selalu mencarimu" ucap Drabia melihat kedekatan Ansel dengan putri mereka. Ansel bukan hanya sebagai Ayah, tapi berhasil berperan sebagai Ibu untuk Salwa.
"Salwa selalu ku bawa bersamaku, kecuali jika aku ada jadwal meeting di luar perusahaan" balas Ansel, mendudukkan tubuhnya di bangku yang tersedia di taman itu.
__ADS_1
"Kamu pasti kerepotan mengurusnya, karna kamu juga harus mengurus perusahaan. Lihatlah, tubuhmu terlihat kurus dari sebelumnya. Aku yakin kamu pasti kurang istirahat" ucap Drabia menatap kasihan pada Ansel.
"Kamu bicara apa sayang, mengusur anak itu juga tanggung jawab suami, bukan hanya mencari nafkah saja" balas Ansel.
"Sekarang pun aku belum bisa mengurus Salwa. Tengah malam kamu masih harus bangun untuk menggantikan popoknya. Aku kasihan melihatmu."
Ansel mengusap kepala istrinya itu."Jangan memikirkan apa apa selain kesehatanmu. Aku sudah terbiasa melakukannya. Dan itu bukanlah beban berat bagiku. Setelah kamu sembuh nanti, kamu bisa membantuku. Jangan bersedih apa lagi merasa bersalah. Karna yang kulakun juga hitungannya adalah ibadah. Jadi aku tidak merugi sama sekali"ucap Ansel tersenyum.
"Baiklah kalau begitu, sekarang ayo masuk ke rumah, aku belum mandi sore." Mungkin inilah hikmah di balik kejadian yang menimpanya. Drabia mendapatkan cinta sepernuhnya dari Ansel.
Lihatlah perubahan sikap pria itu. Yang dulu sangat membencinya. Sekarang sangat menyanyanginya dan mencintainya.
"Okeh istriku, aku juga belum mandi." Sambil menggendong Salwa di tangan kirinya, Ansel pun mendorong kursi rodah Drabia dengan tangan kanannya.
Sampai di dalam kamar, Ansel langsung membawa Drabia ke dalam kamar mandi, meletakkan istrinya itu di dalam bathtub. Kemudian keluar lagi, membawa Salwa ikut mandi rame rame.
Membuat Salwa kegirangan.
Selesai mandi, Ansel pun memakaikan baju lada kedua wanita itu secara bergantian. Tidak lupa untuk mengoleskan bedak yang sama ke wajah kedua wanita itu, membuat keduanya menjadi cantik dan segar.
"Kamu adalah Mamanya Salwa" balas Ansel lalu mengecup kedua pipi Salwa yang duduk di atas kasur.
"Trimakasih!" ucap Drabia lagi.
"Aku mencintaimu" balas Ansel.
Setelah menggendong Salwa, Ansel pun mendorong kursi roda Drabia, membawanya keluar kamar.
"Kita mau kemana?" tanya Drabia melihat Ansel membawanya ke luar rumah.
"Aku tau kamu pasti bosan di rumah. Kita akan pergi ke rumah Lea dab Dafa." Setelah sampai di halanan rumah, Ansel membantu Drabia masuk ke dalam mobil, kemudian mendudukkan Salwa di pangkuan istrinya itu. Salwa langsung saja tertawa kegirangan, tau jika mereka akan bepergian.
"Dia sangat suka kalau di bawa jalan jalan" ucap Ansel yang sudah duduk di samping Drabia, siap mengemudikan kendaraannya.
__ADS_1
"Sama sepertiku, suka di bawa jalan jalan" balas Drabia. Ansel langsung mengusap lembut kepalanya sambil sibuk menyetir.
"Kalau begitu, kita jalan jalan dulu sebelum ke rumah Lea dan Dafa" ujar Ansel.
"Hore! trimakasih Ayah!" seru Drabia membuat tangan Salwa bertepuk tangan.
Sore itu, Ansel pun melajukan kenderaannya dengan kecepatan rendah, menikmati pemandangan kenderaan lain yang melewati mereka, sambil memperhatikan pedagang kaki lima yang berjualan di pinggir jalan.
Senyum terus terukir di bibir Ansel tanpa bisa menyurutkannya karna terlalu bahagia. Ansel pernah putus harapan atas kesembuhan Drabia, tidak menyangka jika Tuhan masih memberikan kesempatan padanya untuk hidup bersama Drabia, istri yang pernah di hina, dikiti hati beserta fisiknya.
Mulai saat ini Ansel berjanji, akan menerima baik buruk dan ke kurangan istrinya yang belum bisa berjalan normal. Ansel berjanji akan merawat istrinya dengan tangannya sendiri, sebagai balasan untuk Drabia yang begitu mencintainya sejak dulu.
"I love you!" ucap Ansel tiba tiba ke arah Drabia.
Drabia tersenyum lalu tertawa cekikikan."Dari tadi kamu sudah mengatakannya dua kali" ucapnya.
"Setiap hari aku semakin mencintaimu, aku gak bisa memendamnya lagi" balas Ansel.
"Hm baiklah, sekarang istri tercintamu ini pengen makan jajanan itu." Drabia menunjuk ke salah satu grobak penjual ketoprak.
"Okeh cinta" Ansel langsung menepikan mobilnya di pinggir jalan dan langsung turun untuk membeli makanan yang di inginkan Drabia. Setelah mendapatkannya, Ansel langsung kembali masuk ke dalam mobil, dan memberikannya kepada Drabia.
"Aku tidak menyangka masih bisa menikmati makanan ini" ucap Drabia saat mencicipi ketoprak dari kotaknya.
Ansel mengusap kembali kepala Drabia dari belakang." Nikmatilah apa yang ingin kamu nikmati. Mulai sekarang Nikmati hidup ini dengan memperbayak beribadah, memperbaiki diri, dan lebih mendekatkan diri pada Allah" nasehat Ansel.
Drabia menganggukkan kepalanya dengan pandangan meneduh.
Setelah di usut, atas dendam Dokter Demian terhadap Drabia. Ternyata kesalahan berasal dari istrinya itu, lebih tepatnya terjadi kesalah pahaman saat dulu Drabia menjadi pelanggan club malam.
Drabia yang mengira Dokter Demian yang mengusap bok*ngnya saat di club malam, langsung marah dan menendang junior Demian, memukuli Demian bersama teman temannya sampai terkapar, dan menginjak injak juniornya sehingga kehilangan kejantanannya. Padahal yang melakukannya bukan Demian, melainkan orang yang melintas di belakang Drabia saat sibuk berjoget joget ampun DJ.
Tapi meski begitu, Demian yang berniat melakukan pembunuhan secara perlahan dan telah merusak reputasi sebagai tenaga medis. Demian tetap di putuskan bersalah.
__ADS_1
Ke bar baran istrinya itu memang tidak di ragukan lagi dari jaman anak anak.
*Bersambung