
Keluar dari dalam kamar, Ansel dan Drabia berjalan bergandengan tangan menuruni anak tangga ke lantai bawah menuju dapur.
"Duduklah, aku akan membuat sarapan untukmu" ujar Drabia melangkah ke arah meja masak.
Bukannya duduk, Ansel malah mengikuti Drabia dari belakang."Aku akan membantumu" ucapnya.
"Gak usah Ansel, aku hanya membuat telor dadar aja" tolak Drabia.
Ansel memeluknya dari belakang, menjatuhkan dagunya di bahu istrinya itu." Aku gak suka kamu memanggil namaku" protesnya.
"Jadi sukanya di panggil apa?" Drabia memegang tangan Ansel yang melingkar di perutnya.
"Sayang" jawab Ansel.
"Hm! baiklah sayangku" Drabia menarik hidung mancung Ansel.
Satu kecupan pun mendarat di pipinya.
"Awas kalian, bukannya masak, malah mesra mesraan di dapur. Sampai pembantu di rumah ini gak berani masuk dapur."
Ocehan suara berat itu berhasil melepaskan pelukan Ansel dari tubuh Drabia.
"Hehehe..! Ini kami mau masak Yah" cengir Drabia langsung mengambil wajan yang tergantung di dinding di atas kompor.
"Seperti Ayah gak pernah pengantin baru aja" cibir Ansel.
Pak Ilham mendengus," Kalian juga bukan pengantin baru lagi" cetusnya lalu pergi.
"Pengantin baru stok lama Yah!" seru Ansel tersenyum.
Selesai memasak telur dadar di bantu oleh Ansel. Drabia pun langsung membawanya ke meja makan. Mereka pun menikmatinya bersama dengan nasi uduk.
Selesai sarapan, Ansel dan Drabia kembali ke dalam kamar. Hari ini mereka tidak kemana mana. Mereka akan menghabiskan waktu berdua saja di dalam kamar. Mereka masih keadaan shok dan bersedih dengan kehidupan yang mereka jalani sebelumnya. Mereka tidak akan bisa pokus bekerja. Dan juga mereka ingin melepas rindu setelah berpisah dua Tahun.
"Sayang!" Ansel menarik Drabia ke dalam pelukannya, mengecup pipi wanita itu dari samping.
Drabia tersenyum dengan wajah merona, saat Ansel menggigit daun telinganya. Membuat Ansel merekahkan senyumnya melihat wajah merah malu malu Drabia. Ansel mengeratkan pelukannya pada tubuh itu. Meski ada kesedihan di hatinya, namun kebahagiaan itu pun menyelimuti hatinya. Sehingga hidupnya terasa indah dan berwarna.
"Aku mencintaimu Drabia" tuturnya begitu lembut.
"Aku mencintaimu sejak lama. Cinta ini hanya untukmu Ansel. Tidak sekalipun hati ini pernah menyukai laki laki lain. Sampai hati ini sanggup terluka demi bisa mengharapkan cinta darimu" balas Drabia.
"Aku berjanji akan mengobati luka hatimu dengan cintaku. Aku tidak akan pernah menyakitimu lagi."
"Yakin?"
__ADS_1
Ansel tidak menjawab, ia pun mengangkat tubuh Drabia, menggendongnya ke arah sofa. Setelah mendudukkan tubuhnya, Ansel langsung mencium bibir Drabia yang dibiarkannya duduk di pangkuannya.
Tok tok tok!
Ciuman itu langsung terlepas mendengar ada yang mengetok pintu kamar mereka.
"Non, ada temannya datang!" seru seorang pembantu dari luar kamar.
Drabia terdiam mengarahkan pandangannya ke wajah Ansel. Yang datang itu pasti Lea. Selama ini Ansel tidak mengetahui kalau Lea dan Dafalah yang terus membantunya, dan memberi informasi tentang Ansel. Bahkan membantu Drabia untuk menghancurkan perusahaan milik Ansel. Dan Drabia lupa memberitahu Lea soal kejadian semalam, yang membuatnya harus menemui Ansel .
Drabia menelan air ludahnya bersusah payah. Kawatir Ansel akan marah dan kecewa padanya.
"Ada apa sayang?. Kenapa wajahmu tegang" tanya Ansel mengerutkan keningnya. Berpikir jika teman Drabia yang datang adalah laki laki.
"Aku ke bawah dulu menemui temanku" pamit Drabia tersenyum hambar.
Ansel menganggukkan kepalanya dan melepas pelukannya dari tubuh Drabia. Meski sebenarnya Ansel ingin ikut ke bawah menemui teman istrinya itu. Tapi Ansel menahan diri karna melihat raut wajah Drabia tak nyaman.
Drabia segera meninggalkan Ansel di dalam kamar. Turun ke bawah untuk menemui temannya yang datang.
"Lea, Dafa" ucap Drabia.
"Kami ke sini untuk memberikan berkas ini" Dafa memberikan sebuah map pada Drabia.
"Pak Ilham sudah memberitahu kami" balas Lea.
"Kalian pergilah, jangan sampai Ansel melihat kalian. Dia belum tau kalau kalianlah yang membantuku selama ini."
"Apa maksud kalian?."
Drabia, Lea dan Dafa langsung terdiam mendengar suara Ansel yang tiba tiba datang dari lantai atas rumah itu.
Ansel menatap Drabia, Lea dan Dafa secara bergantian. Apa maksudnya jangan sampai ia melihat Dafa dan Lea di rumah itu?.
Dan juga, bukankah Dafa yang di tugaskan Ansel mencari Drabia, belum mendapat kabar apa apa. Tapi kenapa sekarang, Dafa dan istrinya berada di rumah Drabia.
"Apa yang kalian sembunyikan dariku?" tanya Ansel memicingkan matanya ke aha ketiga orang itu bergantian.
"Ansel!" Drabia mendekati Ansel.
Ansel mengangkat sebelah tangannya ke arah Drabia, supaya Drabia tidak mendekatinya. Ansel sangat kecewa, ternyata selama ini dia dibodohi. Di permainkan Drabia, Dafa dan Lea.
"Ansel, aku bisa jelasin" Drabia tidak peduli penolakan Ansel. Ia pun memeluk tubuh pria itu erat.
"Jangan marah, please!. Kita baru bertemu dan berbaikan. Aku bisa jelasin semuanya. Aku yang meminta mereka menyembunyikan keberadaanku. Please sayang!" bujuk Drabia.
__ADS_1
Ansel melepas pelukan Drabia, dan langsung meninggalkan ruang tamu, kembali ke dalam kamar.
"Sebentar!" pamit Drabia menyusul Ansel.
Sampai di dalam kamar, Drabia mendekati Ansel yang berdiri menghadap dinding kaca kamar itu. Drabia memeluknya dari belakang.
"Aku menyuruh Dafa mencarimu, tapi malah dia menyenbunyikan keberadaanmu. Apa itu bukan penghianatan namanya?" ujar Ansel.
"Aku sampai gila mencarimu, tapi kamu ternyata bersembuyi di balik perlindungan sahabatku" tambah Ansel.
"Kamu tidak berubah, masih suka mengerjaiku" ketus Ansel. Ingin marah, tapi mereka baru bertemu dan baikan kembali.
Drabia mengulas senyumnya di punggung Ansel."Dia yang melindungiku dan Ayah selama ini dari wanita jahat itu" ujar Drabia untuk mengatakan Ibu Nimas. Setelah mengetahui wanita itu membuangnya saat bayi. Drabia enggan untuk memanggil tante ataupun Ibu.
Mendengar penuturan Drabia, kemarahan di dada Ansel langsung menguap. Ia pun memutar tubuhnya ke arah Drabia, membalas pelukan wanita itu.
"Hm baiklah aku memaafkan kalian." Ansel melepas pelukannya kemudian menarik Drabia kembali ke luar kamar.
Sampai di lantai bawah rumah itu, Dafa dan Lea masih berada di ruang tamu. Dan tanpa aba aba...
Bukh bakh bukh Bukh
Ansel memberikan pukulan yang bertubi tubi ke wajah sahabatnya itu. Membuat Dafa yang tidak siap menerima pukulannya, terjatuh ke lantai.
"Ansel!" seru Drabia dan Lea bersamaa.
"Selama ini aku begitu percaya sama kamu. Ternyata kamu yang menyembunyikan Drabia dan Pak Ilham. Pantas aja gak ketemu" ketus Ansel melepas kerah baju Dafa dengan kasar.
Lea mendekati Dafa, membantu suaminya itu untuk bangkin dari lantai. Begitu juga dengan Drabia, mendekati Ansel dan mengelus elus dadanya yang naik turun.
"Drabia yang memintanya, kenapa kamu marah?" bela Dafa melap cairan merah yang keluar dari sudut bibirnya.
'Aduh, bagaimana ini?. Apa Ansel akan marah setelah mengetahui kalau aku yang membeli perusahaannya?' batin Drabia.
"Kamu aja yang terlalu mudah percaya sama orang" tiba tiba Pak Ilham nongol dan mencibir Ansel.
Itulah kelemahan Ansel, dia sangat mudah percaya sama orang. Jika saja tidak ada orang orang baik di sampingnya. Mungkin dia sudah di tipu para rekan rekan bisnisnya. Perusahaannya, sudah bangkrut lebih cepat lagi.
Pandangan Ansel tiba tiba meneduh, merasa sendiri saat ini. Ternyata selama ini dia benar benar menghadapi masalah sendirian.
"Iya, Ayah benar, aku terlalu mudah percaya sama orang lain" lirihnya lantas pergi berjalan ke arah pintu rumah itu.
"Ansel!" Drabia menyusul Ansel dari belakang.
*Bersambung
__ADS_1